
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Hmmm… Berdiri! Kau sekarang adalah seorang Serigala liar! Jangan mudah berlutut dihadapan siapapun!" Ucap Theo. Memberi intruksi pada Zota.
Mendengar intruksi Theo, sorot mata Zota berubah tajam untuk beberapa saat. Dadanya di penuhi dengan rasa bangga. Dengan sigap, ia segera berdiri kembali.
"Jadi Zota, karena target pertama dari kelompok Bandit sudah di putuskan, sekarang jelaskan tentang gambaran kekuatan kelompok Tribe!" Tanya Theo.
"Hmmmm… Untuk kelompok Tribe, itu lebih sederhana lagi! Seperti kalian tau, seluruh Tribe di wilayah Gurun East Region bermuara pada satu kelompok, yakni Barbarian Tribe sebagai penguasa tunggal!"
"Barbarian Tribe sendiri, memberi mandat kepada lima kelompok Tribe besar untuk memimpin pemberantasan kelompok Bandit di wilayah Gurun Kematian!"
"Kelima Tribe perpanjangan tangan dari Barbarian Tribe tersebut adalah Sun Tribe, Moon Tribe, Black Rock Tribe, White Rock Tribe, dan Red Rock Tribe!"
"Kelima Tribe ini sebenarnya hanya berasal dari dua kelompok besar! Yakni Sun and Moon Tribe, serta Rock Tribe! Namun untuk mengatur kelompok Tribe yang begitu banyak di wilayah Gurun Kematian, masing-masing dari dua Tribe besar tersebut membagi kelompoknya menjadi beberapa divisi yang telah kusebutkan tadi!" Tutup Zota.
"Ahhh… Jadi begitu? Red Rock Tribe yang kapan hari membuat kekacauan di perkemahan kita, ternyata cukup punya nama besar!" Gumam Theo.
"Boss! Kalian sempat menjadi target serangan dari Red Rock Tribe?" Tanya Zota dengan ekspresi wajah khawatir.
"Itu benar!" Jawab Theo singkat.
"Boss, mereka adalah kelompok yang cukup agresif! Kurasa kita harus lebih berhati-hati dalam melancarkan langkah selanjutnya!" Ucap Zota.
Mendengar kata-kata Zota, terlebih melihat ekspresi wajahnya yang tampak sangat cemas, seluruh wakil pemimpin Bandit Serigala yang ada di dalam kemah rapat segera memandangnya dengan tatapan heran. Mengerutkan kening masing-masing.
"Kenapa kalian memandangku seperti itu?" Ucap Zota, merasa tak nyaman ketika tiba-tiba mendapat puluhan tatapan aneh terarah padanya.
"Saudaraku! Nampaknya kau terlalu cemas!" Ucap Yahuwa.
"Itu benar! Santai sedikit!" Tambah Yaseya.
"Gerakkan kepalamu keatas dan kebawah beberapa kali! Itu biasanya cukup ampuh untuk mengurangi rasa tegang!" Sahut Oscana.
"Bahhh…!!! Bagaimana gerakan konyol seperti itu bisa membuat orang menjadi tenang! Hahahhaha….!" Ucap Thomas, begitu mendengar saran asal-asalan yang di sampaikan Oscana.
Kata-kata Thomas, segera di sambut gelak tawa keras setiap orang yang saat ini berada di dalam kemah rapat.
Disisi lain, Zota yang merasa sikap orang-orang disekitarnya terlalu santai, hanya bisa memasang ekspresi wajah tertegun. Nampak seperti orang konyol yang tak bisa mengikuti selera humor kawan-kawannya.
"Hahaha…! Zota! Seperti kata mereka! Jangan terlalu tegang!" Ucap Theo.
"Tapi Boss! Kalian terlalu santai! Aku adalah orang yang telah malang melintang sebagai Boss Besar Bandit di wilayah Gurun Kematian! Dan bisa kukatakan, Red Rock Tribe memang cukup berbahaya!" Jawab Zota.
"Tenang saja! Sebenarnya, meskipun beberapa waktu yang lalu mereka memang sempat menargetkan kelompok kita, namun kebetulan aku juga sempat membantai banyak anggota Red Rock Tribe yang melakukan serangan di waktu terakhir!"
"Bahkan bisa di bilang bahwa terakhir kali mereka menyerang perkemahan, kita mendapat panen yang cukup besar!" Ucap Theo.
"Membantai? Panen besar?" Tanya Zota. Dengan ekspresi wajah tak percaya.
"B-Boss! Kau serius? Red Rock Tribe?" Gumam Zota, masih belum bisa percaya dengan kata-kata Theo.
"Yang di katakan Boss Besar sama sekali bukan bualan!" Ucap Sanir, seraya melempar token berlambang Batu merah diatas meja rapat.
Melihat token tersebut, mata Zota terbuka lebar. "Tidak mungkin! Ini adalah token yang hanya akan dimiliki oleh wakil pemimpin Red Rock Tribe!" Ucapnya.
"Hmmmm… Baiklah! Cukup dengan gurauannya! Sekarang karena semua informasi tentang peta kekuatan Gurun Kematian telah di dapatkan, waktunya menyusun rencana!" Ucap Theo.
Kata-kata Theo, segera membuat beberapa orang wakil pemimpin yang sebelumnya tampak masih bercanda satu sama lain, kini dengan sigap menutup mulut. Memperhatikan dengan seksama kearah Theo. Tak ingin melewatkan satu kecap katapun dari mulutnya.
"Target pertama kita adalah kelompok Bandit Langit Hitam! Namun, karena kita sempat bersinggungan dengan salah satu kelompok Tribe besar di wilayah Gurun Kematian, meskipun mereka saat ini tak melakukan pergerakan sama sekali, itu tak akan sama dan bertahan selamanya!"
"Terlebih lagi, ketika kita sudah mulai melakukan pergerakan! Aku yakin mata yang mereka pasang untuk mengawasi kita, akan segera memberi kabar!"
"Bisa kupastikan kali ini tak hanya Red Rock Tribe yang menargetkan kelompok Bandit Serigala! Belajar dari pengalaman sebelumnya, mereka tak akan cukup bodoh untuk kembali bergerak sendiri!"
"Setidaknya, satu dari dua Kelompok Rock Tribe lain akan ikut membantu! Situasi paling buruk, bisa saja ketiganya akan bersatu untuk memberi kita masalah!"
"Jadi, kita perlu satu pengalih perhatian dimana membuat fokus dan mata dari kelompok Tribe, tak terarah pada kelompok kita untuk sementara waktu!"
"Kita buat mereka sibuk dengan satu ikan besar, sedangkan kita, akan mulai melancarkan invasi kedalam wilayah Gurun Kematian! Mencoba menaklukan Kelompok Bandit Besar pertama! Yakni Bandit Langit Hitam!" Tutup Theo.
"Hmmmm… Boss! Rencana yang cukup bagus! Namun ikan besar apa yang kita miliki dimana akan cukup besar untuk menarik perhatian Kelompok Tribe?" Tanya Sanir.
"Ohhhh… Bukankah kalian sudah melihat ikan besar ini sepanjang waktu?" Tanya Theo, kini mulai melihat kearah pintu keluar kemah rapat. Menatap keatas salah satu sudut langit.
Melihat reaksi Theo, seluruh wakil pemimpin Bandit Serigala segera mengikuti kemana tatapan Boss Besarnya terarah.
"Ahhhh….! Boss! Kalau itu bukan ikan besar lagi! Jelas-jelas itu adalah ikan raksasa!" Ucap Thomas.
***
(Wilayah Gurun Kematian, beberapa hari kemudian)
*Wunggggg….!!!
Satu dengungan keras terdengar diatas langit padang pasir yang sangat terik.
"Tetua! Lihatlah! Itu fenomena misterius yang sebelumnya kumaksud!" Ucap seorang yang memakai pakaian khas Kelompok Tribe. Berjubah tudung.
"Hmmmm…! Riak-riak energi yang sangat luar biasa!" Ucap pria sepuh yang di panggil tetua oleh orang sebelumnnya.
Pria sepuh ini memimpin puluhan Knight berkelas King tahap Langit. Mereka bergerombol di belakang tetuanya tersebut. Menatap keatas langit dimana suara-suara dengungan keras terdengar beberapa kali. Diiringi dengan pancaran riak energi yang terasa sangat kuat setiap kali dengungannya terdengar.
*Wunggggg….!
Saat setiap orang masih menatap keatas langit, dengungan keras kembali terdengar, namun kali ini bukan hanya dengungan, melainkan disertai dengan retakan ruang yang mulai terpancar diatas langit. Sebelum beberapa saat kemudian, suatu portal terbuka secara misterius.
Dari dalam portal, Istana Emas terbang keluar dengan gerakan perlahan. Memancarkan kemilau sinar yang begitu terang.
"Ahhhh….! Ini adalah pertemuan kebetulan! Istana Emas itu pastilah milik satu leluhur dari jaman kuno! Sumberdaya yang tersimpan di dalamnya, jelas tidak akan sembarangan!" Ucap pria sepuh pemimpin kelompok Tribe, dengan raut wajah antusias.
"Black Rock Tribe! Segera hubungi dua Rock Tribe lainnya! Suruh mereka membawa seluruh anggotanya untuk membantu kita melakukan penjelajahan di dalam Istana tersebut!" Ucap sang tetua.
"Kita bagi kelompok menjadi dua, satu kelompok kecil menghubungi Rock Tribe lain, sementara kelompok yang lebih besar, segera lakukan penyisiran di wilayah sekitar! Jangan biarkan ada satupun orang yang mendekat kewilayah ini!" Tutup sang tetua.