
\=Chapter 063. CINCIN ROH BELADIRI BIRU\=
\=
\=
"Meskipun kau sudah berada di tingkat pendekar suci, aku tidak akan takut! Kau lihat baik-baik ini!" ucap pemimpin kelompok Sabit Tunggal.
"Apa yang akan kau perlihatkan, lari terbirit-birit?" ejek Cu Yao melihat lawannya begitu percaya diri.
Sebenarnya Cu Yao juga kagum, melihat lawannya tidak gentar melihat seorang pendekar tingkat suci! Meskipun masih dasar akan tetapi perbedaan pendekar raja dan pendekar suci seperti bumi dan langit.
Satu pendekar suci bisa menghadapi 3 pendekar raja puncak dengan imbang.
"Hahh..! Lihatlah baik-baik!" pemimpin kelompok orang-orang Sabit Tunggal langsung menunjukkan wajah serius.
Setelah itu aura menekan merembes keluar dari pemimpin itu, dia sedikit mengerang karena mengeluarkan kekuatan mengerikan.
Di sekitar dia langsung muncul bentuk aura berwarna bergaris biru yang tipis mengelilingi tubuhnya di bagian paling atas dan di bawah itu ada dua garis lain berwarna merah.
"Apa Cincin roh beladiri biru? Dia memiliki kekuatan yang mengerikan seperti itu, pantas saja dia tidak gentar menghadapi pendekar tingkat cuci!" ucap Cu Yao dengan sedikit kaget.
Begitu juga Cao Meng yang sudah memasuki tingkat pendekar raja, dia sangat kaget dengan keadaan itu! Karena menyerap cincin roh beladiri sangat susah sehingga dia cukup kaget apalagi lawan mempunyai tiga cincin roh beladiri.
Sedangkan di bagian anggota Sabit Tunggal mereka tertawa karena pemimpin kelompoknya sangat bisa di andalkan, awalnya mereka mendengar hanya rumor tapi setelah melihat dengan langsung baru percaya.
Di tambah sekarang mereka menang jumlah sehingga semakin besar kepada.
"Ha-ha-ha, apa kau takut Cu Yao setelah melihat koleksi kekuatan ku ini?" ucap pemimpin kelompok Sabit Tunggal itu.
Begitu juga pemimpin kelompok Sabit Tunggal dia juga langsung besar kepada karena jika pendekar raja puncak memiliki kekuatan cincin roh beladiri yang unggul dari lawannya akan memiliki peluang menang lebih banyak.
"Jangan kira, karena kau memiliki cincin roh beladiri biru bisa menang dari ku!" bentak Cu Yao.
Dia sudah bertarung dengan banyak orang hingga mencapai posisi pemimpin tertinggi sekte besar macan putih, sehingga dia tidak gentar meskipun sedikit kaget karena musuh memiliki cincin roh beladiri berwarna biru.
Cu Yao mengeluarkan senjata pedang yang melengkung ke bawah, seperti cakar dari balik jubahnya senjata itu tidak panjang namun terlihat mengerikan.
Dua tangan itu masing-masing memegang satu pedang yang melengkung ke bawah, dengan tatapan tajam Cu Yao melihat ke kelompok Sabit Tunggal.
Senjata Cu Yao hampir menyerupai sabit, namun ujungnya saja yang melengkung ke bawah sedang sabit keseluruhan melengkung.
Orang-orang kelompok Sabit Tunggal cukup kaget dengan senjata yang di pegang oleh Cu Yao itu, mereka cukup tahu tentang senjata yang mirip sabit.
"Ternyata kau menggunakan senjata yang hampir sama dengan kelompok kami yah Cu Yao?" ucap salah satu dari kelompok Sabit Tunggal.
Cu Yao memang sangat jarang menggunakan senjatanya karena sudah cukup lama dirinya tidak bertarung sangat serius dan menemukan lawan yang pantas untuk menggunakan senjata.
"Sekarang saatnya untuk pertarungan yang sesungguhnya!" ucap Cu Yao pada mereka semua.
Dia tidak memperdulikan ucapan musuhnya itu, melainkan membentak mereka dan langsung menyerang.
Wooss..
Serangan Cu Yao sangat ganas menimbulkan angin yang bersiur kencang mengarah ke pemimpin kelompok itu.
Pemimpin kelompok Sabit Tunggal masih dalam keadaan memamerkan cincin roh beladiri miliknya, dia langsung melompat menghindari karena dalam keadaan seperti itu dia di lindungi oleh aura itu sehingga tidak mengalami luka sedikitpun.
"Cincin roh beladiri memang cukup merepotkan, dia bisa melindungi dan membantu penyerangan!" keluh Cu Yao.
Dia juga mempunyai cincin roh beladiri namun dia hanya mempunyai satu saja, itupun hanya berwarna merah.
"Serangan pendekar suci memang sangat mengerikan!" ucap pemimpin kelompok Sabit Tunggal meskipun dia menggunakan cincin roh beladiri masih cukup takut terluka parah.
Dia juga sudah mengeluarkan sabit panjang miliknya, lalu dengan sigap berdiri di hadapan Cu Yao.
Cu Yao menyerang kembali dengan kekuatan besar yang dia miliki, tenaga dalamnya cukup kuat setelah mencapai tingkat pendekar suci.
Wooss..
Tring..
Tring..
Beradunya senjata tajam terus menggema di udara, lalu di susul dengan suara jendela yang di dobrak dari luar.
Kini 3 orang lain masuk melalui jendela, padahal itu lantai 2 namun bagi tetua sekte macan putih itu bukanlah masalah besar, karena jurus meringankan tubuh mereka sudah sangat sempurna.
Kini Cao Meng yang di keroyok tiga orang langsung senang karena mendapatkan bantuan dari tetua lainnya.
"Sial, kenapa kalian begitu lambat!" keluh Cao Meng.
"Sedikit saja kalian terlambat, tamat sudah riwayat ku!" lanjut Cao Meng mengeluh pada kawannya.
"Sudahlah, jangan banyak mengeluh tetua Meng! Kita sudah berusaha dengan cepat!" jawab salah satu dari mereka.
Karena situasi yang begitu tiba-tiba di dalam penginapan dan pertempuran yang sangat cepat, orang-orang yang ada di bawah langsung masuk dengan cepat karena mereka khawatir dan merasakan tekanan berat namun tetap terlambat.
Cu Yao masih bertarung dengan sangat ganas, dia mengeluarkan jurus-jurus andalan dirinya untuk memojokkan lawan.
"Gawat, aku kira mereka hanya berdua, jika seperti ini tamat sudah riwayat ku!" keluh pemimpin kelompok Sabit Tunggal.
Dia sangat serius bertarung dengan Cu Yao, sehingga tidak menyadari ada serangan dari belakang oleh tetua sekte lembah tengkorak yang dirinya tawan.
"Kesempatan bagus untuk merebut penawar racun itu darinya!" gumam tetua sekte lembah tengkorak.
Dia dengan diam-diam langsung melancarkan serangannya dari titik buta pemimpin kelompok Sabit Tunggal, karena gerakan itu sangat cepat pukulan tetua sekte lembah tengkorak langsung terpelanting maju.
Secara bersamaan Cu Yao menyerang dengan dua tebasan yang menyilang ke arah leher pemimpin kelompok Sabit Tunggal yang sedang terpental ke arahnya.
Slaazz..
Tebasan menyilang menebas leher pemimpin kelompok Sabit Tunggal hingga putus.
"Bagaimana mungkin?" ucap pemimpin kelompok Sabit Tunggal sebelum dia tewas.
Cu Yao sangat kaget dirinya juga tidak menyangka bahwa serangan itu langsung membunuh pemimpin kelompok Sabit Tunggal.
"Ha-ha-ha-ha-ha..!"
Tetua sekte lembah tengkorak langsung tertawa sejadi-jadinya, setelah dia menemukan penawar racun dari tubuh pemimpin kelompok Sabit Tunggal.
Dengan cepat dia langsung menelan penawar racun itu, setelah menelan dia memilih tempat aman mengambil posisi duduk untuk bermeditasi agar penawar racun bekerja dengan maksimal.
Cu Yao membatu Cao Meng melawan sisa dari kelompok Sabit Tunggal setelah berhasil membunuh pemimpin kelompok Sabit Tunggal dia tidak memperdulikan tetu dari sekte lembah tengkorak, karena dia tidak memiliki urusan dengannya.
Setelah di bantu oleh Cu Yao sisa dari kelompok Sabit Tunggal langsung terdesak hebat, karena bantuan Cu Yao yang merupakan pendekar suci.
"Sial, pemimpin sudah kalah!" gumam salah satu dari mereka dia melemparkan pisau terbang ke arah Cao Meng.
Wooss..
Tring..
Cao Meng menangkis dengan mudah pisau terbang itu, sedang orang yang tadi melempar pisau terbang langsung berbalik pergi menerobos jendela dan kabur.
Sedangkan dua lainnya langsung di bunuh karena di keroyok oleh Cu Yao dan tetua sekte macan putih lainnya sehingga tidak bisa kabur.
"Sial aku lengah, dia berhasil kabur!" geram Cao Meng sangat marah.
\=
\=
...