Pendekar Dewa Terkutuk

Pendekar Dewa Terkutuk
151 = SIASAT YIN ZANG


\=Chapter 151. SIASAT YIN ZANG\=


\=


\=


Dua hari sudah berlalu setelah Li Yian membeli pisau kubota dari toko senjata perkasa, selama dua hari ini. Baba Yaga banyak menghabiskan di tempat hiburan malam, bersama wanita-wanita cantik.


Karena di sana dirinya merasakan kenaikan energi miliknya yang cukup pesat, sehingga selagi merasakan yang enak-enak Baba Yaga anggap itu sebagai latihan tambahan.


Meskipun tidak sepesat saat dirinya bermeditasi tapi dengan cara meditasi tidak memiliki hal kesenangan seperti berdekatan dengan para wanita cantik.


Sedangkan Li Yian lebih melihat meningkatkan dirinya dengan memahami banyak dari teknik pernafasan matahari miliki, di tambah dia banyak meningkatkan pelatihan dirinya dengan bermeditasi.


Kini Li Yian baru membuka matanya, dia bermeditasi di pinggir danau buatan yang lumayan besar! Danau itu milik penginapan besar di kota Kekaisaran Tang pusat.


Li Yian sengaja memilih penginapan yang besar agar mendapatkan kamar terpisah dan memiliki taman pribadi seperti saat ini, karena dia tidak ingin bermeditasi di tempat tertutup lagi.


Namun sudah bermeditasi selama dua hari pelatihan Li Yian tidak naik tingkat ke tingkat pendekar suci! Padahal Li Yian sudah sangat mendalami teknik pernafasan matahari di tambah mengkonsumsi herbal.


"Ternyata naik tingkat ke tingkat pendekar suci itu cukup sulit! Padahal sudah mengonsumsi herbal langka. Sayang sekali padahal tinggal sedikit lagi aku naik ke pendekar suci, jika tidak ada hal penting dan janji aku akan terus berlatih di sini." keluh Li Yian.


Dia langsung berdiri, lalu merenggangkan ototnya yang cukup kaku di pagi hari itu, dia sambil memikirkan di mana Baba Yaga sekarang.


*


*


*


Di kota Kekaisaran Tang bagian timur.


Tepatnya di kediaman besar keluarga Yin, di sana sedang di adakan makan bersama di pagi hari. Yin Zang yang sudah datang satu hari lalu dia juga ikut makan kali ini.


Yin Zang duduk di meja paling muka dekat dengan kepala keluarga, di makan seperti tidak nafsu sehingga di perhatikan oleh paman dirinya yang menjabat sebagai tetua pertama.


"Yin Zang, ada apa dengan kau hari ini? Kenapa setelah pulang dari toko senjata perkasa kau seperti tidak memiliki semangat!" tanya tetua pertama.


Yin Zang yang sedang melamun sedikit tersentak karena pertanyaan pamannya itu hingga sumpit yang di pegang dirinya jatuh ke dalam mangkuk nasi.


"Aah, iya paman ada apa?" ucap Yin Zang langsung bertanya.


"Kau kenapa hari ini, coba cerita kepada kami!" ucap tetua pertama kembali.


Karena obrolan mereka berdua yang cukup serius, akhirnya mereka yang ada di sana menengok dan ingin mengetahui permasalahan yang sedang di obrolkan.


Termasuk kepala keluarga Yin, dia juga ingin tahu. Karena Yin Zang di anggap jenius muda di keluarga Yin.


"Sebenarnya, saat di toko senjata perkasa keluarga Yin aku di permalukan oleh dua bajingan kecil, entah teknik apa yang dia gunakan sampai bisa mematahkan tulang jari-jari ku ini!" ucap Yin Zang.


Dia segera menujukan lengan kirinya yang masih di balut perban akibat patah, karena selama satu hari ini dia sudah di rawat penuh oleh tabib ahli keluarga Yin sehingga cepat membaik.


"Siapa mereka, benar-benar berani mempermalukan Keluarga Yin di tempatnya sendiri?" ucap tetua pertama.


Kepala keluarga Yin, yang sudah menganggap Yin Zang sebagai anaknya langsung bersimpati dia bertanya dengan tenang.


"Dari keluarga besar mana mereka berasal, bagaimana bisa mempermalukan kau semudah itu Zang'er?"


Dia memandang tajam ke arah Yin Zang, karena di tidak memiliki anak sehingga menganggap Yin Zang sebagai anaknya, itu karena kemampuan dia tidak buruk.


Kepala keluarga Yin, beranggapan bahwa Yin Zang akan menjadi kepala keluarga Yin di masa depan.


"Maaf aku, paman ketua keluarga! Itu karena aku lengah terhadap mereka, karena mereka pendekar pengelana rendahan dari Kekaisaran Ming!" Yin Zang menjelaskan.


"Salah satunya yang lebih muda dari ku bernama Li Yian, sedangkan yang melawan ku entah siapa! Aku tidak tahu dengan pasti."


Lalu dia melanjutkan ucapan yang banyak, bahkan melebih-lebihkan bahwa Li Yian sudah meremehkan keluarga Yin.


"Tetua pertama, selidiki bocah yang bernama Li Yian dan temannya itu! Beri mereka pelajaran bahwa keluarga Yin tidak boleh di remehkan seperti itu!" perintah kepala keluarga Yin.


"Baik, kepala keluarga!" jawab tetua pertama dengan menangkupkan tangannya di depan dada karena siap melaksanakan.


Mendengar ini Yin Zang sangat senang karena sudah bisa memprovokasi keluarga besarnya untuk membuat Li Yian dan Baba Yaga sengsara.


"Lihat saja kau bocah miskin, sampai di mana batas kemampuan mu itu menghadapi keluarga Yin yang sangat besar dan kuat." ucap Yin Zang di benaknya.


Dia langsung tersenyum puas setelah itu, karena siasat dirinya berhasil.


*


*


*


Di kota Kekaisaran Tang bagian pusat.


Li Yian kini sedang keluar dari penginapan yang di sewa dirinya beberapa hari ini, dia mencari keberadaan Baba Yaga.


"Sial di mana dia bersembunyi?" keluh Li Yian.


Dia berjalan menyusuri jalan utama yang besar dan ramai di pagi hari, segala sesuatu aktivitas ada di sana.


Dari kendaraan kuda pribadi, kereta barang dan kereta kuda pengangkut orang, banyak berlalu lalang! Bahkan ada yang menggunakan keledai untuk menarik gerobak barang mereka karena tidak memiliki kuda.


Li Yian berhenti di sebuah persimpangan jalan, dia menengok ke kanan dan ke kiri entah hendak ke mana karena bingung, ingin rasanya mencari keberadaan Baba Yaga menggunakan aura miliknya, dengan merasakan keberadaan Baba Yaga.


Tapi di kota pusat Kekaisaran Tang begitu banyak orang, sehingga Li Yian hanya mengalami kesulitan saja! Apalagi aura siluman Baba Yaga benar-benar sudah hilang sehingga lebih sulit untuk di cari karena hampir tidak bisa di bedakan.


"Kakak, ada yang bisa saya bantu, kau terlihat bingung. Apa sedang tersesat?" ucap gadis remaja berusia sekitar 15 tahun, meskipun berusia remaja seperti itu tapi tubuh mungilnya membuat dia terlihat seperti berumur 13 tahun.


Li Yian langsung memalingkan wajahnya ke arah gadis mungil itu, gadis itu menenteng keranjang berisi beberapa manisan! Ada tanghulu dan ada kiamboi.


Parasnya cantik dengan rambut kuncir kuda membuat dia terlihat seperti gadis periang, setelah sadar Li Yian bertanya.


"Kakak, berapa umur mu?" tanya Li Yian.


"Umur ku, 15 tahun! Kakak sendiri berapa?" gadis mungil itu bertanya kembali.


"Ahh, 15 tahun panggil saja aku Li Yian kita seumuran!" jawab Li Yian sedikit kaget.


"Sial ternyata dia lebih tua sedikit dari ku?" keluhnya di benak Li Yian.


"Kita seumuran, tapi kakak terlihat berumur 17 tahun, apa benar kita seumuran? Kalau boleh tau Li Yian ini sedang mencari apa? Karena terlihat begitu kebingungan." ucap gadis mungil itu.


"Aku sedang mencari teman, tapi entah di mana dia sekarang! Aku sangat kebingungan mencarinya." Li Yian masih terus menengok ke segala arah.


"Jika mencari seseorang, maka carilah di setiap penginapan atau tempat hiburan! Jika mereka bukan penduduk asli. Bagaimana ciri-ciri orang yang kau cari?"


"Benar kami pendatang, orang yang aku cari kira-kira lebih tua 3 tahun, kulit kuning langsat tingginya hampir sama dengan ku. Dia memiliki rambut panjang sampai ke punggung, wajah lumayan tampan dan mengenakan pakaian yang sama dengan ku! Yang paling utama sorot matanya terlihat mesum!"


Li Yian mencoba menjelaskan dengan rinci, agar gadis itu bisa sedikit tahu tentang Baba Yaga.


Gadis mungil itu melihat ke arah Li Yian memperhatikan tinggi dan bajunya. "Sepertinya aku pernah melihat dia, cepat ikut aku!" ajak gadis itu.


"Benarkah?" Li Yian sedikit berharap.


Mereka berdua segera pergi dari persimpangan jalan itu, Li Yian mengikuti kemana gadis mungil itu pergi.


\=


\=


...