Pendekar Dewa Terkutuk

Pendekar Dewa Terkutuk
168 = SABIT KEMATIAN


\=Chapter 168. SABIT KEMATIAN\=


\=


\=


Baba Yaga masih mengamuk hebat, dia sudah membunuh setengah dari kelompok Sabit Tunggal yang mengepungnya.


"Hanya seperti ini kemampuan seorang kelompok pembunuh?" ucap Baba Yaga sangat berat dan menggema.


Setelah menggunakan tubuh siluman miliknya, suara Baba Yaga sungguh berbeda dengan suara sebelumnya! Mungkin jika orang lain yang baru beberapa kali bertemu dengan Baba Yaga, mereka pasti tidak akan mengenalnya sama sekali.


Lain halnya dengan Li Yian, dia sudah tahu siapa Baba Yaga sebenarnya karena dia sudah bertemu dengan Baba Yaga saat Baba Yaga masih berada di dalam hutan kabut ilusi, sehingga dari kejauhan saja dia tahu bahwa Baba Yaga sudah menggunakan tubuh silumannya.


Baba Yaga berbicara seperti itu, karena menganggap mereka semua adalah mangsanya kali ini.


Kini semua orang yang masih hidup, tidak berani lagi menyerang Baba Yaga dengan sembarangan.


"Ketua, bagaimana ini? Kita bukan lawannya." ucap salah seorang anggota kelompok Sabit Tunggal.


Dia orang sudah pernah menyerang Baba Yaga sebelumnya, namun di hempaskan dengan muda oleh Baba Yaga. Sehingga dia tidak berani lagi maju untuk melawan Baba Yaga dengan asal serang seperti sebelumnya.


"Aku tahu, tapi aku juga tidak tahu bagaimana caranya membunuh siluman babi buas itu!" ucap orang kepercayaan pemimpin pertama kelompok Sabit Tunggal.


Baba Yaga masih berdiri dengan arogan, garukan senjata dirinya di pegang dan di letakkan di pundaknya, sedangkan tangan kirinya berkaca pinggang.


Senyum yang mengerikan terlukis di wajah Baba Yaga itu, dua taring yang mencuat tinggi bagaikan tombak alami, jika Baba Yaga membuka mulutnya lebar-lebar.


"Kalian tidak akan memiliki harapan jika aku menggunakan tubuh ini!" ucap Baba Yaga.


Setelah itu dia langsung mengeluarkan aura tekanan menggunakan energi siluman miliknya.


Wooooosss..!


Aura hitam langsung tersebar ke segala arah, orang-orang yang sedari tadi siap siaga kini langsung merasakan tekanan berat.


"Apa ini, tubuh ku terasa sangat berat?" ucap salah seorang dari mereka.


"Semuanya, kalian yang masih di bawah tingkatan pendekar atas tahap puncak segera mundur sejauh-jauhnya!" bentak ketua pasukan di sana.


Namun ucapan itu sudah terlambat, karena Baba Yaga sudah bergerak untuk menyerang mereka semua yang dalam jangkauan dirinya saat ini.


"Tidak akan berguna, kalian sudah terlambat menyadarinya!" ucap Baba Yaga mengejek mereka.


Karena dengan ini, mereka semua akan mati di alam perangkat yang Baba Yaga buat.


Wooss...!


Wooss..!


Wooss..!


Baba Yaga bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, gerakan Baba Yaga saat ini tidak bisa di ikuti oleh mata mereka semua.


Wuutt..!


Setiap gerakan Baba Yaga mengayunkan garukan senjata miliknya, di setiap Baba Yaga mengayunkan itu! Makan satu korban jatuh ke tanah dengan nyawa melayang.


Wooss..!


Triinng..!


Senjata Baba Yaga di jegal dengan sabit yang cukup besar, oleh ketua kelompok itu! Yaitu orang kepercayaan pemimpin pertama, setelah banyaknya korban yang tewas.


"Sangat berat menahan serangan monster ini." keluh orang kepercayaan pemimpin pertama kelompok Sabit Tunggal.


Padahal dirinya sudah berada di pendekar raja tahap puncak bahkan selangkah lagi sudah masuk ke pendekar suci, hampir setara dengan pemimpin ke tiga.


"Hemm, kau ternyata bergerak juga! Aku pikir kau akan mati paling terakhir, ternyata ajal kau cukup sampai di sini!" ucap Baba Yaga, dengan suara beratnya.


Karena senjatanya mereka yang saling mengait keduanya tidak akan bisa bergerak kemana-mana.


Baba Yaga kali ini sangat senang, karena dia tahu bahwa orang itu adalah ketua dalam penyerangan kali ini.


Sehingga sekarang adalah kesempatan untuk membunuhnya, dengan cepat Baba Yaga langsung menyerang dengan tangan kirinya, namun lawannya dengan cepat memblokir dengan lengannya pula.


Wooss..!


Kraakk..!


"Aaakkkhh..!" jerit ketua kelompok itu.


Namun tangan dirinya tetap remuk dan langsung terkulai lemas akibat tulang lengannya semua di buat remuk dari pangkal bahu hingga ke jaringan.


Baba Yaga dengan cepat menyerang kembali, dia mengeluarkan kuku tangannya yang seperti cakar serigala mengarah ke leher lawannya kali ini.


Wosss..!


Serangan Baba Yaga tidak mengenai sasaran, lawannya langsung menghindar dengan merelakan senjatanya yang di lepaskan dari genggamannya.


"Tak akan ku biarkan kau kabur!" ucap Baba Yaga.


Dia langsung mengejar dengan kecepatan tinggi, langsung mengayunkan garukan senjatanya.


Wuutt..!


Craass..!


"Aaakkkhh..!" jerit kembali ketua penyerangan itu, dia langsung terkapar di tanah.


Kepala dan sebagian bahunya tertancap dan terkoyak oleh senjata Baba Yaga! Dari arah kiri dan kanan Baba Yaga, melihat ketua mereka di bantai seperti itu mereka yang masih memiliki nyali kembali menyerang Baba Yaga.


Baammm..!


Braaak..!


Baba Yaga langsung menendang dan memukul mereka, mereka semua langsung terkapar dan mati.


Melihat kejadian seperti itu, orang yang masih hidup kini kehilangan keberanian mereka! Mereka langsung kabur ke segala arah.


"Sial, jangan kabur! Tak akan aku biarkan kalian semuanya pergi dengan nyawa di badan!" ucap Baba Yaga, dia cukup bingung karena mereka kabur dengan cepat.


Mereka semua tidak menghiraukan ucapan Baba Yaga itu, mereka malah semakin kencang berlari menjauhi Baba Yaga.


*


*


*


Di tempat lain, beberapa waktu lalu.


Li Yian yang sedang melawan beberapa orang lalu dia kedatangan sekelompok besar pasukan. Melihat ini Li Yian langsung tersenyum.


"Kalian akhirnya datang, aku sudah lama menunggu!" ucap Li Yian.


Orang-orang kelompok Sabit Tunggal yang tadi sedang melawan Li Yian kini langsung menghindar karena pemimpin tertinggi mereka sudah datang.


"Lihat pemimpin pertama membawa Sabit Kematian!" ucap orang yang baru saja menjauh dari Li Yian.


"Benar, tamatlah riwayat dia dengan cepat! Meskipun dia hebat tapi menghadapi pemimpin pertama dengan Sabit Kematian tidak akan memiliki harapan." jawab yang lainya.


Pemimpin pertama kelompok Sabit Tunggal datang dengan arogan dan begitu angkuh, apa lagi setelah melih Li Yian.


"Apa kalian semua mengahadapi seorang bocah ingusan itu saja tidak bisa? Benar-benar sampah, aku salah memilih kalian menjadi anggota kelompok Sabit Tunggal." ucap pemimpin pertama kelompok Sabit Tunggal kepada anak buahnya.


Dia memandang beberapa orang yang masih hidup saat melawan Li Yian dengan tatapan mata penghinaan.


"Pemimpin, dia sangat kuat!" jawab salah satu dari mereka.


Wooss..!


Slaazz..!


"Sampah seperti kau, berani memuji musuh di hadapan ku! Kau pantas mati." ucap pemimpin pertama kelompok Sabit Tunggal setelah menebas anak buahnya dengan sabit kematian.


Kematian anak buahnya yang di tebas menggunakan sabit kematian tidak menjerit kesakitan sama sekali, karena sekali tebas kepala dia langsung menggelinding ke tanah.


Bahkan kepala dan tubuhnya langsung menghitam karena sabit kematian mengandung racun mematikan.


Orang-orang yang tersisa tidak berani lagi untuk membuka suaranya, karena takut atas keberutalan pemimpin mereka.


"Ahhh, kau sampai membunuh anak buah kau sendiri! Apa kau yakin tidak membutuhkan mereka nantinya?" ucap Li Yian.


Dia cukup sengit melihat pemimpin yang tidak menghargai anak buahnya, melihat ini dirinya langsung teringat dengan Kaisar Dewa yang telah memperlakukan dirinya dengan buruk, tidak menghargai prajuritnya yang sudah berjuang untuk dirinya sama sekali.


\=


\=


...