
\=Chapter 126. KABAR MENGEJUTKAN TERUS BERDATANGAN\=
\=
\=
Bao Nam langsung tersadar dari lamunan dirinya, karena ruangan itu di gedor dengan sangat keras! Di tambah teriakkan dari luar yang sangat keras membuat dia langsung sakit kepalanya.
"Mengganggu saja!" keluh Bao Nam, dia langsung bangun dan membuka pintu ruangan itu.
Setelah di buka, seseorang langsung masuk dengan cepat membawa surat di tangannya.
"Pemimpin Bao Nam, ini berita sangat gawat!" ucap orang yang beru masuk itu.
"Berita apa lagi, aku sudah sangat pusing dengan begitu banyak berita penyerangan di sana sini!" jawab Bao Nam sangat terlihat tertekan.
"Ini gawat pemimpin, coba baca surat ini!" orang itu langsung menujukan surat yang di bawanya.
Dengan cepat Bao Nam membuka surat itu karena menurut orang kepercayaan dirinya itu sangat gawat sehingga cukup penasaran. Dia membaca surat yang baru saja di bawa itu dengan hati-hati, semakin di baca semakin berkerut keningnya.
____________________________________
Isi surat.
*
Pemimpin Keluarga Bao.
Kabar ini sangat penting.
Tetua ke lima di serang dan di larikan oleh dua orang penyerang di kota Jian Jiie, kejadian penyerangan di penginapan taring macan putih.
Karena tetua ke lima tidak ada, kami menunggu perintah selanjutnya dari pemimpin Keluarga Bao, untuk menuju ke Kekaisaran Ming atau kembali.
_____________________________________
Bao Nam langsung meremas surat itu lalu membanting dengan sangat kuat ke lantai ruangan.
Bao Nam sangat pusing, karena kabar mengejutkan terus berdatangan! Membuat dia sangat pening.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya pemimpin?" ucap orang itu.
"Kirim tetua ke 4 ke kota Jian Jiie, lalu bawa orang-orang di sana untuk menuju ke Kekaisaran Ming untuk mencari keberadaan Bao Huo!" ucap Bao Nam dengan tatapan kosong ke atas.
Dia sangat frustasi dengan kejadian seperti ini, sehingga dia ingin segera menarik kembali Bao Huo ke kediaman inti Keluarga Bao. Karena dia yang memiliki pemikiran paling bisa di andalkan.
"Baik laksanakan pemimpin!" ucap orang kepercayaan Bao Nam lalu keluar dengan cepat.
"Apa ini kerjaan kelompok Sabit Tunggal! Mereka benar-benar sudah berani sampai sejauh ini!" ucap Bao Nam setelah itu dia juga keluar untuk melakukan hal-hal penting lainnya.
*
*
*
Li Yian dan Baba Yaga, kini sedang berjalan menuju kota lainnya menggunakan kereta barang.
Karena dia membawa tubuh tetua ke lima di dalam karung yang di tumpuk bersam dengan sayuran, untuk mengelabuhi penjaga gerbang.
Penyamaran ini berhasil mengelabuhi penjaga gerbang kota Jian Jiie, setelah sudah sampai di luar kota Jian Jiie barulah Baba Yaga mengeluarkan tetua ke lima dari karung lalu di taruh di atas tumpukan sayuran.
Masih dalam keadaan terikat, Li Yian maupun Baba Yaga terus menanyai tetua ke lima di mana letak kediaman keluarga inti dari Keluarga Bao! Karena tempatnya tersembunyi sehingga Li Yian harus berusaha cukup keras.
Namun usahanya tidak mendapatkan hasil, sampai Li Yian maupun Baba Yaga bosan untuk menanyakan pada tetua ke lima.
"Ahh, aku punya ide!" ucap Baba Yaga.
Dia langsung menyerahkan tali kekang kuda pada Li Yian. Mau tidak mau akhirnya Li Yian menerima tali kekang kuda itu.
Dia menjalankan kuda itu dengan pelan di jalan penghubung antara kota Jian Jiie dengan kota lainnya.
"Orang tua, apa kau akan buka mulut untuk sekarang?" ucap Baba Yaga.
Dia duduk dengan tenang di hadapan orang tua itu yang tidak lain adalah tetua ke lima dari Keluarga Bao! Saat di tanya Baba Yaga dia sedikit menengadahkan kepalanya untuk melihat ke arah Baba Yaga.
"Keparat, sampai mati pun aku tidak akan pernah buka mulut!" ucap tetua ke lima.
Darah dari mulutnya langsung meleleh keluar, karena sudah babak belur sebelumnya.
"Heemm, kau orang tua yang keras kepala! Jika tidak mau akan ku buat kau menjadi kasim. Tapi yang paling parah akan ku lumpuhkan pelatihan pendekar mu itu!" ucap Baba Yaga membisikkan di telinganya.
Jederr..!
Seperti sambaran petir di malam hari, pikiran tetua ke lima langkah kosong! Dia tidak begitu peduli tentang dirinya akan di buat menjadi kasim, namun di lumpuhkan pelatihan pendekarnya dia sangat ketakutan.
Karena menurut legenda yang ada, ada beberapa orang terdahulu yang bisa melumpuhkan pelatihan pendekar! Mendengar itu tetua ke lima Keluarga Bao langsung kaget bukan main.
Dia kaget karena dia kan lumpuh menjadi orang cacat, di tambah dia sangat tidak percaya, siapa sebenarnya dua orang pemuda itu.
"Siapa kalian sebenarnya? Aku tidak begitu yakin kalian bisa melumpuhkan pelatihan pendekar!" ucap pemimpin ke lima.
"Kau tidak percaya, apa pengetahuan kau sedangkal itu tentang pendekar di dunia persilatan ini?" ucap Baba Yaga.
"Ya aku tahu ada, tapi aku tidak percaya anak muda seperti kalian bisa apa? Karena itu adalah kekuatan yang di miliki oleh legenda!" ucap tetua ke lima dengan sangat yakin.
"Kau menantang ku ternyata orang tua! Pertama aku akan menarik kekuatan cincin roh beladiri yang kau miliki." ucap Baba Yaga.
Tetua ke lima dari Keluarga Bao masih tidak percaya, karena kekuatan itu tidak akan bisa di tarik meskipun sudah mati sekalipun, kekuatan itu akan menghilang dari dunia ini.
Baba Yaga dengan cepat menempelkan tangannya ke perut tetua ke lima, setelah itu Baba Yaga langsung menggunakan kekuatan siluman miliknya untuk menarik aura itu.
Tangan Baba Yaga langsung berubah menghitam, setelah itu warna merah dari dalam perut dan sekitar dada tetua ke lima Keluarga Bao sedikit terangkat lalu keluar dan masuk ke tangan Baba Yaga.
"Aaakkkhh..!" jerit tetua ke lima dari Keluarga Bao itu dengan sangat keras.
Setelah itu, Baba Yaga langsung menarik penuh aura cincin roh beladiri dari tubuh tetua ke lima.
Suutt..!
Sura seperti sesuatu lepas dari raganya! Baba Yaga langsung bernafas tersengal-sengal. Karena proses itu sangat berat bagi Baba Yaga.
Karena dua kekuatan siluman harus di satukan, jika berhasil maka kekuatan Baba Yaga akan meningkat tinggi jika tidak maka nyawa Baba Yaga terancam.
Baba Yaga langsung duduk bersila, mengatur kekuatan itu untuk bisa bersatu dengan tubuhnya. Sedangkan ketua ke lima langkah jatuh tidak sadarkan diri.
Karena pencabutan cincin roh beladiri sangat menyakitkan, bahkan 5 kali lipat sakitnya saat menyerap cincin roh beladiri.
Li Yian sangat kaget dengan ide Baba Yaga, dia langsung menengok ke belakang! Lalu langsung berucap.
"Bodoh, kau sangat bodoh teman! Mempertaruhkan nyawa sendiri hanya untuk informasi seperti itu!"
Dia cukup khawatir dengan keadaan Baba Yaga, namun terus saja melajukan kereta barang itu dengan perlahan! Setelah beberapa jam kemudian Li Yian menghentikan kereta itu di pinggir pohon yang rindang.
Sudah hampir lima jam, Baba Yaga seperti itu tapi belum kunjung juga sadar, akhirnya Li Yian memilih berhenti sejenak! Begitu juga tetua ke lima belum juga sadar dari pingsannya.
Setelah satu jam lagi, akhirnya Baba Yaga membuka matanya! Lalu langsung menghembuskan nafas berat.
"Huufff..! Sangat mengerikan!" ucap Baba Yaga.
"Kau bodoh teman!" Li Yian menepuk pundak Baba Yaga, namun dia cukup lege karena Baba Yaga masih hidup.
\=
\=
Hari Minggu, author crazy up! Yuk dukung terus novel ini.
Dengan cara vote, like dan komentar! Terimakasih.
...