Pendekar Dewa Terkutuk

Pendekar Dewa Terkutuk
104 = HUTAN LARANGAN


\=Chapter 104. HUTAN LARANGAN\=


\=


\=


Kepala perampok masih memandangi salah satu anak buahnya dengan tatapan tajam, dia sangat kesal dengan salah satu anak buahnya itu!.


"Kenapa kau tidak selidiki dulu siapa mereka?" bentak kepal perampok itu sangat marah.


Semau anak buahnya hanya bisa diam dan tertunduk takut.


Bagaimana tidak marah, karena anak buah itu yang merekomendasikan untuk menyerang dua orang yang tidak lain adalah Li Yian dan Baba Yaga.


Jika saja mereka semua lebih hati-hati, maka kejadian ini bisa di hindari!.


"Sial golok hitam senjata peninggalan itu sudah patah menjadi dua bagian!" keluh kepala perampok setelah membentak anak buahnya.


Cukup lama mereka terdiam diri di sana, akhirnya mereka semua memilih untuk segera masuk ke dalam hutan kembali.


*


*


*


Di tempat lain.


"Apa masih jauh saudara Li, hutan larangan itu?" tanya Baba Yaga.


"Dari petunjuknya seharusnya sebentar lagi sampai!" jawab Li Yian sambil berlari kencang.


"Sial aku sudah cukup lelah!" keluh Baba Yaga.


"Apa hanya sebatas ini pahlawan yang akan menyelamatkan para gadis-gadis muda dan cantik itu?" tanya Li Yian kembali.


"Jelas tidak, aku hanya ingin cepat menyelamatkan mereka! Agar aku dapat pujian dari mereka semua!" Baba Yaga berbicara sambil menghayal.


________________________


Dalam khayalan Baba Yaga.


Di bayangan dirinya, dia naik kuda putih dan menyelamatkan segerombolan putri dari kerajaan yang sedang di sandra oleh sekelompok orang jahat.


Lalu dengan gagah dia langsung menarik tali kekang kuda putih yang sedang di naiki, kuda itu seketika langsung berhenti dan mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi, sambil meringkik keras.


Baba Yaga tersenyum dengan tenang dan terlihat begitu gagah, pesona dirinya langsung menyebar ke seantero wanita dari istana yang sedang di sekap.


"Semuanya! Kalian tidak perlu khawatir penyelamat sejati sudah datang!" ucap Baba Yaga di khayalan dirinya saat ini.


Namun...!


____________________________


Saat sedang asyik menghayal, suara Li Yian langsung merusak suasana yang sedang romantis-romantisnya.


"Sedang menghayal apa kau, itu air liur kau berceceran keluar ke mana-mana!" ucap Li Yian.


Seketika, ucapan itu langsung merusak momen yang paling di nanti Baba Yaga, karena sebentar lagi dia beraksi dan mendapatkan ciuman mesra dari seseorang sebagai ucapan terimakasih.


"Sial kau sudara Li Yian, mengganggu orang yang sedang senang saja!" keluh Baba Yaga cukup kesal.


Setelah beberapa saat, suara Li Yian kembali lagi terdengar kali ini memperingati Baba Yaga untuk segera berhenti berlari.


"Teman, berhenti!" ucap Li Yian.


"Apa lagi?" bentak Baba Yaga, masih sangat kesal.


"Kita akhirnya sampai di hutan larangan!" jawab Li Yian yang tidak menanggapi kemarahan Baba Yaga.


Baba Yaga dan Li Yian memandang ke depan, dia sana ada hutan yang cukup luas dan masih sangat asri dan hijau.


Tumbuhan di sana cukup rimbun pantas saja orang-orang menyebut hutan belantara, karena hutan ini seperti tidak di sentuh manusia.


"Sial, hutan ini cukup besar juga, apa benar di dalamnya ada penghuni dan markas keluarga Bao?" ucap Baba Yaga.


"Apa maksudmu, aku memang bodoh tapi tidak sebodoh itu?" jawab Baba Yaga masih kesal.


"Kau sendiri, membuat markas di tengah-tengah hutan kabut ilusi, kenapa di sini kau sebut tidak mungkin ada yang menempati?" jawab Li Yian.


"Ah, benar juga!" jawab Baba Yaga lalu tertawa terbahak-bahak.


Dia langsung merasa bodoh atas jawaban Li Yian barusan, sampai beberapa menit mereka berdua masih memandangi hutan itu.


*


Memang benar, hutan larangan ini adalah hutan terbesar di wilayah Kekaisaran Ming! Konon di kabarkan di masyarakat umum dalam hutan ini beberapa ratus tahun lalu telah terjadi kutukan dari sebuah dewa, sehingga memancing kemarahan dari para siluman.


Lambat laun hutan ini di juluki hutan larangan, karena di larang untuk di dekati! Bila mereka tidak ingin di kutuk oleh kemarahan dari dewa.


Di tambah, hutan ini sangat banyak hewan buas! Bahkan hewan buas yang sudah berevolusi menjadi siluman, karena saking banyaknya membunuh makhluk hidup.


Membunuh makhluk hidup dari sesama hewan maupun manusia yang sengaja masuk ke dalam hutan ini.


"Cepat masuk!" ucap Li Yian.


"Baik..!" jawab Baba Yaga.


Mereka berdua langsung melompat masuk ke dalam hutan, karena tidak adanya jalan yang mudah di lewati, akhirnya mereka berdua melompat ke dalam dahan pohon satu ke pohon lainnya.


Mereka baru saja masuk sedalam 800 meter dalamnya, di sana sudah melihat dua hewan buas yang saling bertarung satu sama lain.


"Pantas saja, hutan ini di namakan hutan larangan! Benar-benar berbahaya bagi manusia biasa!" ucap Li Yian berucap pada Baba Yaga yang ada di cabang pohon lain.


"Cukup menarik juga di dalam hutan ini!" ucap Baba Yaga, dia tersenyum tenang.


Mereka berdua melihat sebentar pertarungan dua hewan buas itu, namun karena tujuan lain akhirnya Li Yian langsung pergi dengan cepat! Di ikuti Baba Yaga dari belakangnya.


Semakin dalam semakin banyak pertempuran saling membunuh dari hewan buas, karena penasaran Li Yian langsung merasakan dengan tenang dalam miliknya.


Setelah merasakan Li Yian cukup tertegun, karena di area dalam semakin banyak hewan buas yang berlalu lalang.


Sambil melompat satu pohon ke pohon lain, Li Yian terus mengawasi.


Sampai seketika, dari bawah ada serangan serigala petir langsung mengarah ke arah Li Yian! Serigala itu langsung membuka mulutnya lebar-lebar.


Taring yang tajam langsung mencuat dengan di barengi kuku-kuku kaki depan yang siap menerkam dan mengoyak Li Yian.


Baammm..!.


Pukulkan Li Yian menghantam kepala dari serigala petir itu dengan telak, seketika serigala itu jatuh dari atas pohon sudah tidak bernyawa lagi.


Kepala yang keras itu pecah di hantam pukulan maut Li Yian.


"Tidak sopan, kau cukup memangsa yang di bawah saja! Kenapa yang di atas kau serang juga?" ucap Li Yian setelah memukul serigala petir itu hingga mati.


"Kau kejam seperti biasanya!" ucap Baba Yaga yang ada di sebrang sana.


Li Yian tidak menjawab melainkan masih terus memantau lebih dalam lagi ke hutan larangan.


"Aku menjadi ingat saat kita menyerang serigala tanduk perak!" ucap Baba Yaga setelahnya.


"Sudahlah, ayo kita pergi lebih dalam!" ucap Li Yian.


Mereka berdua akhirnya terus maju, ada serangan dari beberapa hewan buas! Namun cukup mudah di hadapi oleh mereka berdua.


Sampai seketika, mereka berdua sampai di tengah-tengah hutan, yang memiliki pohon besar di tengah-tengah tanah yang luas.


"Sial, seperti apa yang ku duga!" ucap Li Yian.


Baba Yaga juga terpesona melihat keadaan di tengah hutan belantara itu.


"Ha-ha-ha, ucapan kau benar saudara Li Yian! Ternyata di dalam hutan belantara ini tidak buruk juga!" Baba Yaga menimpali ucapan Li Yian.


\=


\=


..