Pendekar Dewa Terkutuk

Pendekar Dewa Terkutuk
114 = JAMUAN MAKAN MALAM


\=Chapter 114. JAMUAN MAKAN MALAM\=


\=


\=


Kini khafilah rombongan pedagang berhenti di tempat yang luas, tempat itu tepat di pinggir jalan utama dekat dengan sebuah pohon yang besar.


Mereka berhenti karena hari sudah mulai malam, di tambah mereka belum memakan bekal makanan yang di bawa sebelumnya.


Pemimpin rombongan pedagang langsung turun, mereka menginstruksikan kepada semua anggotanya untuk segera mendirikan tenda.


Mereka memutuskan untuk menginap di sana malam ini. Li Yian dan Baba Yaga ikut turun dari kereta kuda yang di tumpangi.


Setelah ikut berkumpul di sana Baba Yaga langsung berucap.


"Apa jamuan makan malam segera di mulai?"


Li Yian langsung menengok ke pada Baba Yaga, di langsung menegur temannya itu.


"Kau bikin malu saja teman! Apa perut buncit mu itu tidak bisa menahan sedikit lebih lama?"


Li Yian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menengok pada semua orang terutama pemimpin rombongan pedagang.


Li Yian tersenyum canggung, karena setelah ucapan Baba Yaga dan dirinya itu suasana langsung menjadi sepi.


"Aahh, benar kita adakan jamuan makan malam di sini! Cepat nyalakan api unggun, kita siapkan perbekalan makan kita yang terbaik, terutama arak yang sudah kita siapkan!" pemimpin rombongan langsung memecahkan kesunyian.


"Benar, kita pesat kemenangan malam ini! Tidak perlu takut dengan rampok lagi di sini ada dua pendekar muda!" ucap salah seorang pedagang.


Dia sangat senang lalu berlari menuju ke kereta barang miliknya, dia langsung mengeluarkan daging yang masih segar dan arak miliknya yang selalu iya simpan untuk koleksi.


Setelah sampai kembali di rombongan, dia langsung membuka bawaan dirinya itu.


"Aku memiliki arak yang paling enak, lalu daging seger! Mari kita bikin pesta meriah malam ini!" ucapnya.


Semua orang langsung setuju dengan usulannya, lalu masing-masing dari mereka juga berlalu dari sana, karena akan mengambil makan terbaik miliki masing-masing yang sudah di bekali dari rumah, oleh istri dan anaknya.


Mereka di bekali karena rombongan di sini semuanya adalah laki-laki yang sudah cukup berumur! Mereka berjuang untuk keluarga mereka di rumah.


Setelah instruksi dari pemimpin rombongan, mereka langsung membuat api unggun! Sedangkan yang ahli masak langsung memasak makanan yang tersedia dengan peralatan lengkap miliknya.


Baba Yaga langsung tersenyum senang sambil mengelus perutnya yang sudah mulai lapar, karena tercium harum makanan yang menyebar luas.


"Paman, apa setiap rombongan yang paman pimpin menyebrang ke kota Kekaisaran Tang selalu seperti ini?" ucap Li Yian yang ingin tahu.


"Tidak pendekar muda, ini pertama kali kami melakukannya! Mungkin kawan-kawan yang lain ingin mengucapkan terimakasih yang mendalam untuk pendekar muda!" jawab pemimpin rombongan itu.


"Setahu aku, setiap saudagar kaya, para pebisnis dan keluarga bangsawan, jika menyebrang antar Kekaisaran selalu menggunakan jasa pengawalan! Kenapa kelompok paman tidak menggunakan itu, padahal ini kelompok yang begitu besar loh!" tanya Li Yian kembali.


"Huufff..!" pemimpin rombongan pedagang langsung membuang nafas pelan.


"Begini pendekar muda! Setahun terakhir ini, banyak berita bahwa menyebrang ke Kekaisaran Tang sangat sulit karena adanya perampok singa padang savana! Karena berita itu beredar, kami berhenti selam hampir satu tahun ini untuk menyebrang! Tapi harga di Kekaisaran Ming terus merosot sehingga kami nekat menyebrang. Inilah pertama kali kita melakukan setelah ada berita itu!"


Dia menjelaskan dengan raut wajah yang sayu, sehingga Li Yian ikut mendalam perasaan itu.


"Kami tidak memiliki uang untuk menyewa pendekar bayaran untuk melindungi perjalanan kali ini, karena mereka meminta bayaran tinggi! Tapi berkat bantuan pendekar muda kami semua selamat! Makan dari itu aku pribadi ingin mengucapkan terimakasih!"


Dia langsung membungkuk saat sedang duduk di tikar jerami yang sekarang sedang di hamparkan di atas rumput.


"Tidak perlu seperti itu paman, kami paham! Kami juga mengucapkan terimakasih kereta sudah di izinkan menumpang, lalu di jamu seperti ini!" ucap Li Yian.


Mereka terus mengobrol, tak terasa semua masakan sudah matang! Lalu mereka mulai menghidangkan.


Meskipun masih panas, Baba Yaga langsung saja memakan itu dengan lahapnya! Semau orang tertawa melihat kelakuan Baba Yaga itu.


Sedangkan Li Yian hanya bisa tersenyum malu, karena kelakuan Baba Yaga susah untuk di hilangkan jika sudah melihat makanan lezat.


Jamuan makan malam itu terus berlanjut, mereka mengobrol dan bercanda! Suasana malam itu begitu meriah di temani dengan api unggun cukup besar.


Di tempat lain, di bagian Padang Savana.


Ada rumah bambu di sekitaran pohon pinus di atas bukit yang tidak begitu tinggi, ada beberapa orang sedang mengobrol dengan suara sangat keras, ada yang duduk tenang tapi tangan sibuk bermain di mana saja.


Mereka meminum arak, sambil memeluk wanita masing-masing dengan tubuh telanjang bulat! Wanita itu seakan sangat takut terlihat dari sorot matanya, tapi tetap melayani dengan patuh.


Bahkan ada lelaki yang terang-terangan melakukan hubungan badan dengan wanitanya! Tapi sambil asik mengobrol bersam 4 kawan lainnya, tanpa merasa risih sedikitpun.


Yang bikin aneh, kelima orang itu memiliki kepala yang plontos namun di sisi kanan kepala masing-masing terukir tato bergambar kepala singa.


Sedangkan, dari bawah bukit ada orang berpakaian serba hitam sedang berlari kencang memanjat bukit menuju rumah satu-satunya di atas bukit itu.


Dengan sangat tergesa-gesa, dia terus memanjat bukit itu, meskipun nafas dirinya hampir terputus.


Setelah sampai di depan rumah itu, orang yang berpakaian serba hitam langsung menggedor-gedor pintu depan. Sambil berteriak kencang.


"Pemimpin, pemimpin, berita gawat!" ucap orang berpakaian serba hitam itu.


"Bedebah..!" bentak salah satu orang yang sedari tadi berbicara.


Praanng..!


Sebuah kendi arak di banting di atas lantai, wanita yang ada di pelukan laki-laki itu langsung menegang dan wajah berwarna merah, badan sedikit bergetar.


Begitu juga dengan wanita yang lainya, mereka juga merasakan takut.


"Berani masuk, ku tebas kepala kau!" bentak orang yang sedang melakukan hubungan badan.


Wanitanya yang sedang di ajah kuda-kudaan hanya bisa teler, karena tidak kuat menahan beban yang di terimanya.


"Kau cepat temui bedebah keparat itu!" bentar orang yang paling besar badannya, menunjuk kepada orang yang sedang main kuda-kudaan.


"Kaka, lagi tanggung! Belum keluar!" ucapnya ingin menolak.


"Persetan dengan kelakuan kau!" bentak laki-laki yang berbadan besar itu kembali.


Karena tidak ingin membangkang perkataan Kaka seperjuangannya, dia akhirnya dengan jengkel dan tidak rela langsung mencabut pedang miliknya dengan kasar.


"Plop..!"


Suara pedang di cabut dari sarungnya.


Dengan berat hati dan perasaan yang sangat murka, dia langsung berjalan keluar sambil menyambar pakaian dirinya lalu di kenakan dengan cepat.


"Kau berani mampus, membuat aku susah saja!" geram dia di benaknya.


Setelah itu dia langsung membuka pintu depan rumah bambu itu sangat kasar.


"Kraaak..!" pintu di buka cukup keras.


"Baammm..!" dia langsung menendang dengan keras, tanpa aba-aba sedikit pun.


"Mampus saja kau bedebah..!"


\=


\=


...