Pendekar Dewa Terkutuk

Pendekar Dewa Terkutuk
324 = XU WUZAO MENYERAH


\=Chapter 324. XU WUZAO MENYERAH\=


\=


\=


Dengan aura kuat yang di keluarkan oleh Long Chu, Huo Ling dan Shui Ling mundur dua langkah jauhnya. Mereka berdua merasakan tekanan cukup berat.


Sedangkan Li Yian tadi mundur sama sekali, karena Li Yian masih bisa menahan serangan kecil itu! Menurut Li Yian, serangan seperti itu belum bisa menundukkan dia ke bawah.


Jangankan Li Yian, dua roh elemen saja masih kuat berdiri.


Melihat gertakan miliknya tidak mempan, Long Chu sangat marah! Karena itu adalah gertakan terkuat yang di miliki saat ini, dia jadi mengutuk dirinya sendiri karena dulu pernah memberikan setengah dari kekuatan dirinya agar bisa bangkit, namun jiwanya tidak bangkit sama sekali karena tubuh yang membangkitkan tidak cocok dengan jiwa miliknya.


'Jika saja dulu aku tidak terburu-buru, kejadian seperti ini tidak akan terjadi! Sial..' ucap Long Chu di benaknya.


Dia sangat menyesal, karena telah berbuat gegabah! Apa lagi saat dulu yang di berikan adalah kekuatan murni miliknya, malah tidak kembali terhadap dirinya, sehingga kekuatan diri sekarang seperti puzzle yang terbagi-bagi ke berbagai tempat dan alam.


Mengingat ini kembali, berarti dia benar-benar sudah di kalahkan! Keren sebelum dirinya mati dan di segel jiwanya, lawan dirinya berpesan tujuan mereka adalah membagi kekuatan miliknya ke berbagai alam dan benda sehingga mustahil untuk bangkit, jika saja bangkit maka tidak akan seutuhnya.


Ternyata ucapan kala itu benar, dia tidak bisa bangkit seutuhnya! Dengan cara mengumpulkan semua kepingin itulah dia akan bangkit seutuhnya.


Wooooosss..!


Triiinnng..!


Li Yian bergerak dengan kecepatan kilat, untuk menyerang Long Chu dengan pedang bayangan yang di lapisi Energi Qi cukup besar.


Pedang bayangan memantulkan bayangan hitam, seperti pedang itu membesar dan memanjang lalu di gunakan untuk menebas aura hitam yang ada di tubuh Baba Yaga.


Aura hitam itu berbenturan dan menimbulkan suara seperti logam yang saling beradu, aura hitam yang melindungi Baba Yaga membentuk tombak besar dengan ujung pedang yang melengkung lalu menangkis serangan Li Yian dengan sempurna.


Setelah bayangan pedang dan tombak aura saling bersentuhan, bayangan pedang menghisap tombak itu begitu kuat. Hingga akhirnya tombak itu di serap habis oleh pedang bayangan.


Tap..Tap..!


Baba Yaga mundur dua langkah cukup jauh, dia merasakan tekanan kuat dari pedang bayangan milik Li Yian.


"Sial, akan ini tahu apa kelamaan aura milik sekarang! Jika saja kekuatan ku mencapai setengah lebih, maka pedang itu tidak akan berkutik lagi." gumam Long Chu cukup kesal.


Dia mundur jauh, karena jiwa dirinya sudah menyatu dengan Baba Yaga untuk sekarang! Dia melihat ke ruang penyimpanan milik Baba Yaga dan melihat ada beberapa senjata.


Sudut mulut Baba Yaga terangkat, tanda dia cukup senang lalu mengeluarkan tombak besar yang dulu pernah Li Yian berikan.


Long Chu memanfaatkan tombak besar itu agar tidak bersentuhan langsung dengan pedang bayangan milik Li Yian. Dia mengambilnya dan dengan cepat di pegang oleh aura hitam yang mengelilingi Baba Yaga.


Li Yian melihat Long Chu menggunakan senjata senyuman diri memudar, karena akan cukup sulit kedepannya.


"Apa kau kira aku ini bodoh bocah! Sebelum kau ada, Yang mulia ini sudah malang melintang untuk membuat kekacauan di semua alam, hanya dengan kekuatan dan pedang yang kau miliki, kau kira bisa menang? Yang mulai tidak mudah untuk di kalahkan." ucap Long Chu sangat bangga.


"Baiklah, mari kita lihat...." ucap Li Yian.


Dia cukup bersemangat, dia tidak akan menahan kekuatan miliknya! Karena di dimensi ini dia mutlak berkuasa.


Sehingga dia akan mengamuk dengan sangat brutal untuk dapat menolong Baba Yaga dan juga sekaligus dirinya berlatih.


Wooooosss..!


Triiinnng..!


Baaammm..!


Adu kekuatan di antara Li Yian dan Long Chu langsung terjadi, tebasan tekanan berat dan serangan cepat Li Yian gunakan.


Long Chu juga demikian, dia menikmati serangan Li Yian kali ini! Karena adanya tombak besar aura miliknya tidak di hisap secara langsung oleh pedang bayangan.


Sehingga serangan Long Chu semakin lama semakin mengganas, melihat itu Huo Ling dan Shui Ling juga turut membantu Li Yian meskipun tidak di berikan perintah namun kedua tetap membantu Li Yian melawan Long Chu.


*


*


*


Xu Wuzao mendesah pelan, dia sudah menggunakan semua kekuatan yang di miliki saat ini untuk melacak di mana Li Yian berada, namun tidak bisa menemukan.


Akhirnya Xu Wuzao hanya bisa menyerah untuk mencari keberadaan Li Yian, sampai kapan pun dan sehebat apapun Xu Wuzao nantinya, jika Li Yian tidak ada di alam Daulu tidak akan pernah di temukan.


Karena Li Yian sekarang berada di dimensi jiwa miliknya sedang bertarung mati-matian demi Long Chu yang menggunakan tubuh Baba Yaga untuk bangkit kembali di alam ini.


Akhirnya Xu Wuzao hanya bisa pasrah dan berdiri, dirinya akan memberikan keterangan kepada Li Yian lain kali saja jika bertemu kembali dengan Li Yian.


Xu Wuzao berdiri dari posisi duduknya, lalu melangkah masuk ke rumah pelelangan anggrek putih karena beberapa hari lagi akan di mulai pelelangan ke 3 dari rumah pelelangan anggrek putih.


...****************...


Tiga hari yang lalu.


Sebelum Xu Wuzao datang ke kota Wuhan.


Kapal layar yang sangat besar berlabuh di pelabuhan sebelah Utara Kekaisaran Ming, mereka membawa 500 anak buahnya untuk menemukan pelelangan anggrek putih.


Karena sangat terkenal dengan herbal dan barang yang sangat langka dan susah di cari sehingga memancing kekuatan besar.


Seseorang duduk di kursi geladak utama kapal, di sana terbentang ruangan yang luas. Terdapat beberapa meja dan kursi besar, lalu ada kursi yang memisah dan sedikit lebih tinggi. Seseorang duduk di sana sambil mengisi rokok yang besar.


Dua orang duduk di kursi yang mengapit meja dan kursi besar itu, dengan kepala menunduk tidak berani langsung memandang wajah orang itu yang terlihat seram.


"Apa kita sudah tiba di tempat yang kita tuju?" ucap orang itu.


"Sudah ketua, kita berada di pelabuhan Kekaisaran Ming daratan matahari terbit!" ucap salah satu dari dua yang duduk di sana.


"Daratan matahari terbit yah, sepertinya aku sedikit mengingat tentang daratan ini!" ucap orang yang di sebut ketua.


"Segera telusuri semua tempat, aku tidak menginginkan kata gagal keluar dari mulut kalian!" lanjut berucap orang yang di sebut ketua.


"Baik ketua! Kita akan segera melakukan tugas ini!" jawab keduanya serempak.


Setelah menjawab, keduanya memberikan hormat lalu pergi dari sana secepatnya! Karena tugas yang di berikan kepada keduanya cukup berat, yaitu melacak keberadaan rumah pelelangan anggrek putih yang belum mereka tahu di mana tempatnya.


"Sepertinya aku ke daratan ini tidak akan sia-sia, karena akan bertemu dengan seseorang yang bisa mengalahkan kelompok Sabit Tunggal." gumam orang yang di panggil ketua.


Dia memejamkan matanya lalu sedikit menyender ke dalam kursi yang empuk yang sekarang sedang didudukinya.


*


Di pelabuhan sebelah Utara Kekaisaran Ming sangat ramai, namun setelah kapal layar itu mendarat mereka semua terdiam dan memandangi kapal layar yang baru saja berlabuh itu.


Di pelabuhan sebelah Utara Kekaisaran Ming tidak banyak memiliki pendekar mereka lebih banyak pekerja kasar yang mengurus kapal penyebrangan ke daratan lain, ada juga nelayan kecil dan yang lainya banyak adalah kuli panggul yang sering membongkar muatan kapal yang akan di pindahkan ke kereta barang.


Setelah kepal layar besar yang berbentuk cukup menyeramkan berhenti di sana, aktivitas di pelabuhan terhenti sementara.


Para pekerja dan beberapa pedagang maupun saudagar kaya melihat ke arah kapal dengan cukup curiga.


Dari dalam kapal keluar banyak orang-orang yang memiliki kemapuan tinggi.


Wooooosss..!


Wooooosss..!


Wooooosss..!


Tap..Tap..Tap..!


Orang- orang berlesatan keluar dari Kapal layar yang besar dan tinggi, membuat pemandangan yang tadinya mencekam kini tambah mengerikan.


Dapat di lihat bahwa gerakan orang-orang yang keluar dari kapal adalah pendekar, karena mereka semua yang ada di sana. Beberapa kali melihat pendekar, sehingga tidak begitu awam.


"Kalian semua, katakan di mana tempat yang di namakan rumah pelelangan anggrek putih?" bentak salah satu orang yang keluar dari kapal kepada orang-orang di pelabuhan.


\=


\=


...