
\=Chapter 135. TETUA PERTAMA TERKENA RACUN\=
\=
\=
Jin Fei yang merasa tekanan berat di tubuhnya langsung mengeluarkan hampir seluruh tenaga dalam miliknya, dia langsung melompat mundur! Setelah terbebas, dia langsung menyerang tetua pertama Keluarga Bao.
Wooss..!
Jin Fei langsung menghilang dari tempat berdirinya saat ini, dia tiba-tiba muncul di belakang tubuh tetua pertama, dengan sabit besar miliknya mengarah ke leher tetua pertama.
Trinng..!
Sabit besar dan tongkat besi hitam berbenturan, gelombang kejut langsung berhembus ke seantero halaman depan kediaman keluarga Bao.
Karena di serang begitu kuat, tetua pertama kehilangan momentum aura cincin roh beladiri miliknya, sehingga orang yang tadinya di tekanan kini terbebas.
Namun karena tadi gerakan melambat! Mereka terkena serangan fatal, seperti tendangan di rusuk mereka, pukulan di wajah dan dada mereka.
Bahkan ada yang kehilangan salah satu tangannya, namun mereka belum ada yang mati! Tapi karena mereka sudah mulai terluka orang-orang keluarga Bao mulai terdesak.
Jin Fei terpental jauh ke belakang, sedangkan tetua pertama hanya bergeser beberapa langkah ke samping saja.
"Dia sangat kuat!" gumam Jin Fei.
Tetua pertama berbalik lalu mengejar Jin Fei yang terpental ke belakang, tongkat besi hitam milik tetua pertama menderu ke arah batok kelapa Jin Fei.
Trinng..
Baammm..!
Punggung Jin Fei menghantam tanah dengan sangat telak, dia langsung memuntahkan darah seger cukup banyak.
Sedangkan dua tangannya memegang menahan sabit besar miliknya, untuk membendung pukulan tongkat hitam milik tetua pertama.
Tetua pertama, langsung mengangkat kembali tongkatnya! Lalu memukul kembali dengan cepat.
Baammm..!
Pukulkan tetua kedua, mengenai tanah! Hingga tanah itu langsung berlubang besar, Jin Fei langsung berguling ke samping.
Dia langsung bangkit kembali, tapi dari arah samping dirinya ada pedang yang mengarah ke lehernya. Pedang itu milik Bao Lung.
Bao Lung bergerak ke arah Jin Fei dengan cepat, karena tahu Jin Fei sudah terpojok, sehingga dia ingin membantu tetua pertama.
Trinng..!
Pedang dan sabit besar saling beradu, tapi kali ini Bao Lung yang mundur beberapa langkah. Sedangkan Jin Fei tetap di tempatnya.
Ini menandakan kekuatan mereka berbeda level, sehingga Jin Fei langsung menendang Bao Lung cukup keras.
Baammm..!
Dia terpental dan jatuh ke tanah, lalu langsung bergumam.
"Sejarah awal melawan ku, dia menyembunyikan kekuatan aslinya!"
Tetua pertama langsung menghalangi mereka berdua, dengan tatapan tenang dia melihat ke arah Bao Lung.
"Bao Lung, kau lawan saja lainnya! Biarkan dia urusan ku!" ucap tetua pertama.
Dia langsung memutar tongkat besi hitam di tangannya dengan cepat, menggunakan dua tangan.
Angin menderu sangat besar membuat konsentrasi orang-orang yang sedang bertarung langsung terganggu.
Wooooosss..!
Tetua pertama menghilang, dia langsung muncul di depan Jin Fei. Karena debu yang cukup banyak membuat Jin Fei tidak terlalu melihatnya.
Kraakk..!
"Aaakkkhh..!"
Keluh Jin Fei, karena dua tulang rusuknya patah di hantam pukulan tongkat dari tetua pertama. Jin Fei langsung melemparkan tiga jarum kecil dari balik jubahnya menggunakan tangan kirinya.
Trinng..!
Syuut..!
Satu jarum dapat di tangkis dengan mudah oleh tetua pertama, tapi dua jarum lainnya menembus dan menancap di bagian perut tetua pertama.
Tetua pertama langsung mundur cukup jauh, dia lalu mencabut dua jarum itu lalu mencium aromanya.
"Apa ini terdapat racun?" ucap tetua pertama di benaknya.
Karena khawatir ada racunnya, dia langsung mengalirkan tenaga dalam miliknya di bagian yang terkena jarum itu untuk menghentikan darah yang keluar, juga efek racun agar tidak menyebar dengan cepat.
Jin Fei, masih tergeletak memegangi pinggang bagian kanannya, dia merasakan sangat sakit! Tapi dia langsung tersenyum, sambil kesakitan.
"Kau terkena racun ku orang tua, racun tanpa warna dan aroma!" ucap Jin Fei senang.
"Memang kalian kelompok terkutuk!" bentak tetua pertama.
Dia langsung mengamuk dengan hebat, setelah terkena racun itu dia tidak ingin sisa tenaga maupun hidupnya tidak berguna.
*
*
*
Di waktu hampir bersamaan.
Li Yian yang sudah selesai mandi memilih keluar dari kamar itu, dia kini berada di balkon penginapan.
Sambil merenggangkan otot-otot, dia melakukan pemanasan kecil! Untuk melenturkan ototnya karena sudah bermeditasi.
"Huff, segarnya!" ucap Li Yian.
Dia mengambil nafas panjang, udara malam menjelang pagi sangat segar bila di gunakan untuk olah raga kecil.
Sambil terus menggerakkan tangannya dan bagian tubuh lainnya, Li Yian sambil berpikir.
"Benar-benar, Baba Yaga tidak kembali malam ini! Apa jika aku berkata tiga hari dia benar-benar akan tiga hari lamanya menghilang." ucap Li Yian di benaknya.
Dia akhirnya memilih duduk di kursi yang ada di sana, lalu merenung kembali.
"Bagaimana caranya aku membuat Bao Lu menjadi pemimpin keluarga Bao seperti ide Baba Yaga yah! Kenapa sekarang aku jadi bingung, padahal saat dia berucap demikian aku cukup yakin bisa!" keluh Li Yian.
Setelah di pikir ulang ide dari Baba Yaga cukup mustahil, karena dia tidak terlalu tahu kekuatan dari seluruh keluarga Bao seperti apa.
Banyak yang di pikirkan Li Yian di benaknya, dia bersandar di kursi itu lalu sedikit menjulurkan kakinya, dia memejamkan matanya.
Lalu tak terasa akhirnya tertidur dalam posisi duduk.
*
*
*
Di tempat lain.
Kota Kekaisaran Tang bagian pusat sangat ramai, saking ramainya. Seperti tidak pernah tidur kota itu.
Di sebuah hiburan malam, Baba Yaga sedang duduk di meja catur melawan pria paruh baya, yang terlihat sama-sama mesum.
Dia sedang main catur memperebutkan wanita penghibur paling cantik di tempat hiburan malam itu.
Meskipun sudah ada dua wanita yang bergelantungan di leher Baba Yaga dan laki-laki paruh baya itu, karena wanita yang satu ini tidak bisa hanya di beli dengan uang saja! Tapi dengan taruhan bermain catur.
Hampir semalaman Baba Yaga bermain catur melawan beberapa orang, tapi selalu menang! Namun kali ini ada laki-laki paruh baya, Baba Yaga di buat bingung.
"Cepat jalankan bidak catur mu!" ucap laki-laki paruh baya itu.
Setelah berucap dia langsung mencium mesra wanita yang sedang menempel di pundaknya! Melihat ini Baba Yaga menjadi geram.
"Sial, keadaan ini sangat menjebak!" ucap Baba Yaga.
"Ha-ha-ha, siap suruh melawan ahli strategi militer seperti ku!" jawab laki-laki itu.
"Cih, ahli strategi militer kentut mu!" jawab Baba Yaga cukup kasar.
Dia juga ikut mencium wanita yang ada di sampingnya, hingga wanita itu tersipu malu.
"Tuan nakal, tidak ingin kalah dengan panglima perang Kekaisaran Tang!" ucap wanita itu.
Sepertinya wanita itu cukup mengenal baik dengan lawan Baba Yaga saat ini, dia adalah panggilan perang Kekaisaran Tang! Dia ahli strategi militer, sehingga dalam bidang catur seperti ini dia sangat mahir.
"Jadi dia benar-benar panglima perang Kekaisaran Tang?" ucap Baba Yaga.
"Hei, kau terlalu merendahkan ku!" ucap laki-laki paruh baya itu, sambil pura-pura marah.
Meskipun paruh baya, dia terlihat gagah! Namun sikapnya yang mesum membuat dia jarang tinggal di area istana Kekaisaran Tang.
"Tidak seperti itu kawan! Aku hanya tidak begitu percaya saja, orang mesum seperti mu laku juga bekerja di bawah naungan Kekaisaran Tang!" jawab Baba Yaga.
"Sial, kau juga mesum! Ngatain orang mesum!"
Braaakk..!
Laki-laki paruh baya itu menggebrak meja yang terhubung dengan papan catur itu, sehingga bidak berhamburan.
Baba Yaga hanya melongo melihat itu, lalu tertawa di benaknya.
\=
\=
...