Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 94 - Sang Iblis Dosa


Rantai raksasa berayun ketika iblis itu mulai mengangkat tangan. Posisi iblis itu begitu aneh, dia seperti sedang bermeditasi dengan kaki bersila dan tangan di atas kedua lutut. Saat monster iblis itu mengeluarkan napas kepulan asap merah beterbangan di mana-mana.


Dalam keadaan tubuh tidak mampu bergerak yang dapat Xue Zhan lakukan hanya melihat apa yang iblis itu lakukan. Itu benar-benar kekuatan yang tidak pernah dilihatnya seumur hidup dan jauh berbeda dari tingkatan manusia-malah mendekati kekuatan para dewa.


Keping ingatan tadi mengambang di atas kepalanya berhenti tepat di telapak tangan iblis itu, terdengar suara berat dari monster raksasa itu.


"Kau telah salah, anak iblis."


Kedua bola mata itu terasa mengintimidasi.


"Manusia dan iblis tak seharusnya memiliki ikatan yang erat. Kita ditakdirkan untuk saling membenci dan membunuh!"


Lalu begitu saja, keping ingatan itu dipecahkan dengan tangan sang iblis yang murka. Xue Zhan menautkan alis marah. Tidak peduli sehebat apa pun Dosa itu dia tak akan membiarkannya mengubah pikirannya.


"Dendam tak akan pernah bisa diselesaikan oleh dendam. Matamu hanya bisa melihat sisi keburukan manusia, itulah yang membuat para iblis buta dan tak bisa menerima manusia, Begitupun sebaliknya!" geramnya kesal. "Kalian tidak pernah memikirkan cara untuk saling menerima dan malah memikirkan cara untuk saling membunuh. Itu hanya akan berakhir pada satu titik, kematian salah satu pihak."


Benar apa yang Xue Zhan katakan, kebencian itu berakhir pada pembantaian iblis yang menyebabkan kepunahan ras mereka di muka bumi. Karena ucapannya benarlah Sang Iblis Dosa mengamuk.


"Iblis keras kepala!" bentak lawan bicaranya lebih murka dari sebelumnya.


"Kau pikir siapa dirimu sampai pantas mengguruiku?!"


"Memangnya kau siapa, langsung bicara soal kebencian seperti kau pernah hidup di dunia saja!"


Saat itu Xue Zhan meluapkan amarahnya, dia telah kehilangan gurunya dan iblis itu malah menyinggung tentang ikatan yang dimilikinya e dengan manusia. Jika mengingat semua kebaikan Kang Jian, Xue Zhan berani mengatakan bahwa manusia itu jauh lebih baik daripada iblis.


Bahkan dari dirinya sendiri.


"Kau hanyalah bocah bodoh yang tidak tahu apa-apa. Bahkan tidak tahu soal masa lalumu sendiri. Sayangnya kau mati konyol di tangan manusia-manusia yang kau bela itu. Sungguh menggelikan."


Pemuda itu menyahut sengit. "Untunglah aku mati, jadi kau tidak punya kesempatan untuk hidup."


Iblis Dosa menggeram dan menghentakkan tangan di atas lutut sembari berteriak."Sebaiknya kau perhatikan omonganmu sebelum kubuat kau merasakan seribu kematian pedih di tempat ini."


"Cobalah kalau bisa-"


Xue Zhan mengatup mulut tiba-tiba, kedua tangannya gemetar hebat berusaha menyentuh tombak besi mendidih yang tembus di dalam perutnya.


Tetua Lembah Abadi pernah mengatakan di ruang hampa alam bawah sadar ini mereka tidak akan merasakan rasa sakit, tapi sepertinya itu semua bohong, Xue Zhan memuntahkan cairan darah hitam.


"Kau tahu mengapa kau bisa mati di tangan manusia-manusia serakah itu?"


Suara itu semakin menurun, menimbulkan hawa seram.


"Karena kau memiliki hati. Sebagai iblis kita ditakdirkan untuk hidup dengan hati di bawah pedang. Perasaan bisa membuatmu lemah seperti manusia. Itu adalah perbedaan besar antara kita dan mereka."


"Kau bercanda," sinis Xue Zhan membiarkan darah dari mulutnya mengalir, "kita? Di sini hanya kau iblis. Aku masih memiliki darah manusia di tubuhku."


"Bocah keras kepala!" Naik pitam juga Dosa itu akhirnya, dua rantai yang terlepas dari tubuhnya bergerak selayaknya ular yang merayap dan menyerang Xue Zhan.


Xue Zhan tidak mampu menghindari serangan itu karena tubuhnya di bawah kendali iblis, rantai tersebut mengenai punggungnya dan membuatnya jatuh telungkup.


Pemuda itu tertawa. Dia tidak lagi takut akan kematian, baginya ini sudah berakhir dan meski malaikat pencabut nyawa berdiri di depannya dia sama sekali tidak peduli.


Mungkin tadi Xue Zhan sempat terkejut dengan fakta bahwa semua yang dikatakan orang-orang tentang Dosa di dalam dirinya benar. Tapi saat dia tahu kenyataan tersebut, Xue Zhan semakin membenci dirinya dan juga Iblis Dosa itu.


Seharusnya Xue Zhan menertawakan dirinya sendiri, tapi melihat keadaan iblis itu tak jauh beda dengannya membuatnya bisa tertawa dengan puas.


"Tuan Iblis, sayangnya tubuhku ini sangat lemah hingga manusia itu tak membiarkan kau hidup lebih lama," ujar Xue Zhan masih dengan tombak panas di dalam tubuhnya, dia melawan kendali iblis itu dan memaksa bangkit demi bisa menatap sosok Dosa.


"Kau tahu? Kau adalah alasan mengapa aku dibenci para manusia. Karena kau hidupku sengsara, dikucilkan, dibenci dan diburu semua orang. Karena kau-" napasnya memburu kencang. Kini kedua bola mata merah Xue Zhan tak jauh beda dengan iblis di depannya.


"Aku harus menderita."


Iblis itu terdiam sesaat namun pandangannya masih tetap mengintimidasi.


"Kau menyalahkanku? Mengapa tidak menyalahkan kedua orang tuamu saja? Mereka sudah tahu akhirnya akan begini dan tetap melakukannya." Akhirnya terdengar balasan telak yang membuat Xue Zhan kembali diam membisu.


"Ayah dan ibuku? Sejak kecil aku hanya sebatang kara. Aku tidak bilang aku membenci mereka. Tapi mereka seperti tidak pernah ada dalam hidupku." Xue Zhan membuang napas, menepikan emosinya sesaat dan mencabut tombak besi dari perutnya.


"Kau tidak ingin mengetahui semua hal yang terjadi?"


Sesaat Xue Zhan berhenti.


"Tentang kedua orang tuamu dan semua yang terjadi di masa lalu. Atau soal tuduhan yang ditujukan padamu, atau kebenaran tentang kalung itu dan bahkan menemukan kembali gurumu?"


Xue Zhan terkejut, "Bagaimana kau bisa tahu semua itu?"


"Semua keping ingatanmu ..." Iblis itu mengangkat tangan kirinya, sebuah cahaya putih mengambang di atas telapak tangannya. Itu adalah keping ingatan yang tadi dihancurkan iblis itu. "Bisa kulihat dan kurasakan termasuk kepedihan dan penderitaan yang kau alami. Itulah alasan mengapa aku mengatakan kau makhluk bodoh. Manusia-manusia itu menindasmu tapi apa yang kau lakukan?!"


Nada bicaranya kembali meninggi.


"Kau membiarkan mereka menyiksamu dan memperlakukanmu seperti ba bi. Apa kau tidak merasa kesal? Benci? Jika aku menjadi kau sudah kuhabisi mereka semua!"


Selain mengintimidasi iblis itu juga mudah marah. Xue Zhan tak menyangka bahwa selama ini dia berbagi penderitaan dengan iblis itu, apa yang dia rasakan saat ini mungkin ikut membuat Iblis Dosa itu sakit hati.


"Kita satu penderitaan?" Xue Zhan menertawakannya. "kau begitu sentimental, mengingatkanku pada seorang kawanku."


"Oh, si setan rambut merah norak tukang marah-marah itu?"


"Hahahaha!!" Tawanya menggelegar, Xue Zhan memilih duduk ketika merasakan tubuhnya kembali bisa dikendalikan, dia memegang perutnya akibat keram tertawa. "Aku tak pernah menamainya sepanjang itu dan kau melakukannya. Jika dia tahu sudah dipukulinya kepalamu dengan kendi arak."


Kedua bola mata Iblis itu turun, memandang Xue Zhan yang jauh lebih kecil darinya. "Aku tidak peduli soal itu." Dia mengalihkan topik.


"Bagaimana jika aku menawarkan sebuah kesepakatan?"


"Kesepakatan?"


Xue Zhan ragu bernegosiasi dengan iblis seperti dosa ini. Sebelum dia menolak Iblis Dosa telah lebih dulu membaca pikirannya. "Tenang saja, aku tidak akan mengingkari janjiku dan tak akan memaksamu menuruti kesepakatan ini. Jika tidak mau kita berdua sama-sama mati. Itu sudah jelas."


"Tunggu. Bukankah aku memang sudah mati saat ini?"


Iblis Dosa itu menarik senyum. "Kau sedang sekarat, tubuhmu hancur sebagian saat terjatuh dari ketinggian. Keadaanmu sendiri, penglihatanmu sudah tak berfungsi, sepuluh tulang rusuk hancur, tubuh lumpuh, kehilangan pendengaran dan tak akan mungkin terselamatkan."


"Lalu untuk apa kau menawarkan kesepakatan jika aku memang tidak bisa selamat?"


"Maka dari itu dengar dulu bocah bodoh." Iblis Dosa menyahut kesal.


"Aku bisa membantumu hidup dengan tiga kekuatan. Saat ini aku baru memiliki dua kekuatan. Jika kau memang masih ingin hidup untuk menebus dosa dan penyesalanmu maka aku akan memberitahu caranya. "