
Pagi harinya Xiang Yi Bai membawanya ke sebuah tempat terpisah di dalam Jurang Penyesalan, tempat yang tak pernah terpikirkan oleh Xue Zhan sedetik pun.
Di dasar Jurang Penyesalan terdapat satu tempat tersembunyi berupa goa es yang dilindungi oleh sekelompok naga putih ciptaan Xiang Yi Bai. Pemakaman itu tampak indah oleh ukiran es yang tidak pernah mencair sekalipun udara begitu panas di dasar jurang. Setelah menjadi murid Xiang Yi Bai, Xue Zhan meminta untuk mengunjungi makam teman baik lelaki itu dan Xiang Yi Bai mengiyakannya.
Dingin di goa itu membuat Xue Zhan serasa membeku, untuk mencapai ke tempat di mana teman Xiang Yi Bai dikuburkan membutuhkan jarak agak lama dan berliku.
Hingga akhirnya mereka sampai di bagian terdalam Goa Es, Xue Zhan terpana melihat satu-satunya makam dengan batu peringatan terbuat dari es kristal bening. Terukir nama seseorang di sana, Wu Guang.
Xiang Yi Bai mengeluarkan suara.
"Jika dia masih hidup, kau bisa memanggilnya Paman Guru. Sayangnya dia sudah tenang di alam sana."
Xue Zhan menekuk lutut. "Paman Guru, namaku Xue Zhan, hari ini aku telah menjadi murid Guru Xiang Yi Bai. Walaupun kita belum pernah saling bertatap muka tapi dari cerita Guru Xiang kau pasti orang yang sangat baik."
Dia menempelkan kening ke atas salju. "Beristirahatlah dengan tenang, Paman Guru."
Kemudian Xiang Yi Bai berbicara, "Setelah menjadi muridku kau akan mewarisi ilmu dan menjadi satu-satunya penerus Perguruan Gunung Pohon Seribu. Kau harus siap menanggung tanggung jawab ini. Jika tidak, Paman Guru yang kau bilang baik itu akan mengorek liang kuburnya untuk memakimu."
"Ba-baik, aku akan berusaha yang terbaik!" Xue Zhan benar-benar gugup di hadapan makam Wu Guang, ada aura tersendiri yang tidak bisa diabaikannya. Xiang Yi Bai tertawa sejenak, wajah marah-marahnya menghilang ketika mereka berada di makam sahabatnya.
"Apakah kehilangan seorang sahabat semenyakitkan itu?"
Tanpa diduga pertanyaan tiba-tiba itu membuat raut muka Xiang Yi Bai sedikit serius, dia menatap Xue Zhan lamat-lamat sampai pemuda itu mulai berpikir dirinya salah bertanya dan langsung meralat.
"Lupakan pertanyaanku, Guru. Aku keceplosan."
Xiang Yi Bai melemparkan pandangan ke batu nisan Wu Guang sambil berucap. "Kehilangan satu-satunya orang yang kau percayai adalah pukulan yang menyakitkan bagi siapa pun."
Dalam beberapa detik giliran Xue Zhan berubah serius, mengingat seseorang yang terakhir kali begitu marah padanya dan di waktu yang sama menginginkan dirinya tetap hidup. Terakhir kali, dia mengatakan Xue Zhan adalah satu-satunya orang yang paling dia percayai.
Apa yang terjadi pada Jiazhen Yan setelah tahu kematiannya? Melihat Xiang Yi Bai terpuruk seperti ini, dia khawatir setan itu juga merasakan hal yang sama dan menyalahkan dirinya sendiri. Bayangan ketika dia melihat Jiazhen Yan memegang pedang penuh darah dan mata hampa terlintas.
"Ketika kau bersama orang-orang yang kau percayai, kau begitu mencintai dunia dan seisinya. Sebaliknya saat kau kehilangan mereka, kau mengutuk seisi bumi karena penderitaanmu. Hidup sama halnya dengan cuaca, dapat diramal, namun seringkali mendapatkan hasil yang berbeda. Aku pernah berpikir akan menghabiskan sisa hidupku dengan tenang di Gunung Pohon Seribu, tapi takdir berkata lain."
Nada bicaranya terdengar miris. "Aku justru menghabiskan sisa hidupku di jurang seperti gembel dan meratapi kematian rekanku sambil meminum arak. Satu-satunya yang tidak direnggut dariku hanyalah kewarasan."
Xue Zhan baru ingin menyemangati laki-laki itu agar tidak terus-menerus bersedih, sejak mengungkit tentang masa lalunya Xiang Yi Bai jadi jarang marah-marah. Baru saja berpikir untuk menghiburnya, Xue Zhan langsung mengurungkan niat. Memang dasarnya Xiang Yi Bai, tiada hari tanpa menjulid.
"Tapi sekarang ujung sumbu kewarasanku terbakar ketika bocah busuk ini datang. Hei, Wu Guang. Kau lihat betapa bodohnya murid baruku ini. Udang saja lebih pintar daripada dia. Menguasai satu gerakan saja tidak mampu."
Xue Zhan menahan dongkol setengah mati, bisa-bisanya Xiang Yi Bai mengejeknya di depan makam Wu Guang.
"Tapi kalian memiliki kemiripan, melihat muka bebal anak ini mengingatkanku padamu."
Xiang Yi Bai menoleh ke arah Xue Zhan dan hampir tergelak melihat wajah kesal muridnya itu. Dia memegang kepala Xue Zhan dan memaksanya menunduk.
"Itu ... Guru-" sahutnya. "Guru tidak memberitahu sebenarnya gerakan apa yang kupelajari selama satu Minggu ini."
"Oh! Mau tahu nama gerakannya?"
Xue Zhan menjawab antusias. "Tentu!"
"Gerakan Menangkap Kelinci!" jawabnya lempeng.
Mulut Xue Zhan terbuka, Xiang Yi Bai tidak bercanda. Kalau mengingat-ingat bagaimana gerakannya dia memang seperti sedang menangkap sesuatu.
Hanya menangkap kelinci saja ada gerakannya dan harus dilatih ribuan kali? Xue Zhan bisa pingsan.
"Nah, nah, sudah kubilang kau akan mati dua kali. Keras kepala!"
Hari ini Xue Zhan baru dijungkirbalikkan sekali, masih ada sisa 19 kali. Harap-harap saja mukanya tidak menjelma menjadi bebek benjol.
Xue Zhan meringis, mereka keluar dari Goa Es. Pintu es menutup dengan sendirinya. Sesaat Xiang Yi Bai menatap pintu tersebut dan berpaling ke arah Xue Zhan di sampingnya. "Kau tadi bertanya apakah kehilangan seorang teman semenyakitkan itu? Kenapa tidak kau bayangkan saat teman terdekatmu mengalami apa yang kau alami sekarang?"
Lalu Xiang Yi Bai pergi lebih dulu darinya, menyisakan Xue Zhan dalam diam.
*
Deru napas saling berkejaran dengan langkah kaki seorang laki-laki di dalam sebuah hutan rimba, senjata berat di genggaman tangannya menumbangkan pepohonan. Pertarungan di malam berdarah itu berlangsung sengit. Seseorang dalam pakaian Menara Giok Hantu melesat turun dari dahan pohon dan menusuk jantung lawan. ke
Keduanya berdiri saling bersisian, Hantu Penggerogot membuka mata lebar-lebar dan seketika darah hitam keluar banyak dari mulutnya. Seseorang dalam pakaian Menara Giok Hantu menarik kembali pedangnya. Kilat merah muncul di balik lubang bagian mata topeng, Hantu Penggerogot terbata-bata.
Seorang misterius yang menggunakan nama Menara Giok Hantu dan menciptakan kekacauan di Kekaisaran Diqiu telah datang menemukan Hantu Penggerogot yang bersembunyi di markas rahasia. Langsung mengambil nyawanya tanpa ampun. Namun di detik sebelum kematiannya Hantu Penggerogot berbicara.
"Siapa kau sebenarnya-?!"
"Pengganti Hukum Langit."
Hantu Penggerogot ambruk sekaligus kejang-kejang, tak menyangka ini akan menjadi akhir hidupnya. Sosok itu membuka topeng perlahan, Hantu Penggerogot melihat wajah itu dalam keterkejutan.
"Kau—?!" pekiknya hingga tak berapa lama nyawanya melayang.
Sebuah kertas yang diukir tulisan dengan darah Hantu Penggerogot tergeletak di atas mayat lelaki itu.
Pagi menjelang Hantu dari Utara dan Hantu Sebelas Jari datang terburu-buru sebelum menemukan satu rekan mereka telah menjadi mayat yang dingin dan dibunuh sadis, sontak mereka kaget setengah mati dan gemetar saat membaca kertas yang ditinggalkan di mayat teman mereka berisi kalimat ancaman,
'Selanjutnya adalah Kau!'