
Sejauh yang Xue Zhan ketahui dari Kitab Phoenix Surgawi, dia melihat enam jurus dari gerbang pertama tahap angin. Sementara dirinya baru mempelajari empat jurus, di antaranya Tarian Pedang Angin, Seni Kekacauan Dewi Angin, Napas Pemburu dan Cakar Phoenix Petir.
Jika seperti yang Xiang Yi Bai katakan berarti benar dugaannya, Kitab Phoenix Surgawi memiliki empat elemen. Setiap elemennya memiliki enam jurus dengan tingkat kesulitan berbeda. Satu elemen enam jurus maka jika empat elemen maka total ada 24 jurus di dalam Kitab Phoenix Surgawi.
Tahap angin yang saat ini Xue Zhan gunakan, tahap itu hanya bisa dibuka saat mencapai gerbang satu lingkaran tenaga dalam.
Sembari berlatih, Xiang Yi Bai menjelaskan beberapa hal dasar kepada Xue Zhan tentang bela diri. Pedang Bai Ye mulai bergerak menyerang Xue Zhan yang telah bersiap.
"Ada tiga gerbang tenaga dalam yang paling umum. Yang paling pertama dan saat ini kau miliki adalah Gerbang Tulang. Setelah melewati Gerbang Tulang dan mencapai tujuh lingkaran tenaga dalam serta mendapatkan pengalaman bertarung kemungkinan terbukanya gerbang selanjutnya akan lebih besar. Gerbang Kedua yaitu Gerbang Darah."
Berbeda dengan Gerbang Tulang, Gerbang Darah tiga tingkat lebih sulit. Saat Gerbang Tulangnya terbuka Xue Zhan tak merasakan apa-apa, tapi berbeda dengan Gerbang Darah, Gerbang Darah bisa menyebabkan lumpuh ketika gagal dilakukan.
Gerbang Darah bertujuan untuk mengganti sel darah lama menjadi sel darah baru, dengan pergantian ini banyak hal akan berubah di dalam tubuh. Termasuk ketahanan tubuh, kecepatan penyembuhan dan kemampuan beradaptasi dengan suhu ekstrem. Pendekar tingkat menengah yang telah mencapai 7 lingkaran tenaga dalam belum tentu sudah membuka gerbang ini.
Perkembangan tubuh dan mentalitas setiap orang berbeda, Xue Zhan salah satu di antara mereka yang belum membukanya. Xiang Yi Bai sudah pernah memeriksa nadi anak itu dan menyadarinya lebih dulu.
Xue Zhan memiliki meridian besar yang bisa menampung jumlah tenaga dalam besar, itu adalah kekuatan alami yang dimiliki anak itu. Dia memiliki bakat yang lebih besar namun terkendala dalam latihannya. Di dunia manusia, Xue Zhan diajarkan berdasarkan standar manusia dan itu pula yang menjadi penghambat berkembangnya kekuatannya.
Selanjutnya ada Gerbang Ketiga, dilambangkan sebagai warna putih, Gerbang Daging. Proses pembukaan gerbang ini bisa merenggut nyawa atau membuat orang cacat seumur hidup. Karena membuka gerbang ini jauh lebih sulit kebanyakan pendekar akan mengurung diri dua tahun sebelum mencapai tingkat ini. Gerbang Daging akan menggerogoti seluruh tubuh. Orang tersebut harus siap memulihkan diri secepat mungkin sebelum tubuhnya hancur hingga gerbang ini selesai.
Dalam buku mana pun semuanya menyebutkan bahwa hanya ada tiga gerbang tenaga dalam yang bisa dibuka manusia. Xiang Yi Bai melanjutkan omongannya.
"Tapi tahukah kau, sebenarnya ada satu tingkat lagi yang bisa dibuka oleh seseorang dengan kekuatan di atas manusia dan mendekati kekuatan langit."
Xue Zhan berputar di atas udara dan menapakkan kaki di atas air, pedang jatuh menembus ke dalam air sungai. Beruntung dia mengelak lebih cepat. "Gerbang Keempat? Aku tidak pernah mendengarnya, Guru."
"Makanya kubilang kau cuma sekolah sampai gerbang. Hahaha."
Xue Zhan membalas sengit. "Sejak kecil aku memang tidak bergabung dengan perguruan mana pun. Sekalinya bergabung malah mendapat hukuman cambuk."
"Hahahha! Bocah payah," tawa Xiang Yi Bai. Sepertinya suasana hatinya sedang baik saat ini. Langit yang begitu cerah bisa jadi pertanda badai petir. Xue Zhan memasang muka waspada.
Gerbang Keempat disebut sebagai Sepuluh Lapisan Surga. Itu adalah gerbang hitam antara hidup dan mati, kemungkinan selamat hanya 80 persen. Tidak ada yang percaya manusia benar-benar bisa sampai ke titik tersebut karena itu Gerbang Keempat tidak diakui oleh Kekaisaran mana pun.
"Tapi setelah melihat Guru sepertinya aku percaya Gerbang Keempat benar-benar ada."
Xiang Yi Bai terdiam sejenak. "Kau mengira aku sudah mencapai Gerbang Keempat?"
Xue Zhan memiringkan tubuh menghindari tebasan dari depan, lalu menjawab. "Berarti Guru saat ini berada di gerbang ketiga?"
"Keempat, sudah pasti."
Antara merinding dan kagum Xue Zhan dibuatnya. Dia tak akan pernah menjumpai orang sehebat Xiang Yi Bai di dunia dengan mudah. Tapi sikap tempramental dan suka seenaknya itu menutupi kharisma lelaki itu.
"Apa? Apa? Tidak percaya?"
"Bukan aku tidak percaya tapi biasanya orang hebat bersikap tenang dan santun."
"Kau mau bilang aku bar-bar seperti monyet?"
Xiang Yi Bai menyipitkan matanya yang memang sipit sampai menghilang dari peradaban.
"Bu-bukan!" Xue Zhan menunduk, pedang itu tak membiarkannya kesempatan untuk berbicara sebelum Xiang Yi Bai salah paham.
Xiang Yi Bai bangkit dari duduknya, wajahnya merah murka, siap-siap mengejar Xue Zhan. Pemuda itu menggigil.
"Guru-! Maksudku Guru lebih tegas dan berkharisma!"
"Kenapa kau panik begitu? Aku hanya ingin mengambil ikan bakar. Hahaha." Tawa Xiang Yi Bai berderai, padahal dia sengaja menakut-nakuti anak itu dan berhasil. Meskipun rupawan sekalinya dia marah setan pun lari kocar-kacir. Apalagi kalau sedang marah, dia bisa mengaum lebih keras dari singa betina.
Untuk sesaat mereka terdiam, Xue Zhan fokus menghindari pedang Bai Ye. Xiang Yi Bai memang tak mengizinkan anak itu menyerang naga kesayangannya.
Enam bulan berlatih Xue Zhan mulai menunjukkan perkembangan. Dia tipe yang bisa beradaptasi dan memahami cepat, otot dan nalarnya berkembang seimbang.
Gerakannya sendiri sudah lebih mulus dan terarah walaupun Xiang Yi Bai hanya mempraktekkan tiga gerakan tersebut sekali dua kali. Muridnya itu mengingatnya dan mempraktekkan berulang-ulang.
Saat masih muda Xiang Yi Bai juga sama sepertinya, impiannya jauh lebih keras dari tulangnya. Hal itu membuatnya tergila-gila dengan kekuatan. Xiang Yi Bai mencapai impiannya saat berumur 31 tahun menjadi Ketua Agung Dunia Persilatan. Mendapatkan banyak teman dan rumah di Gunung Pohon Seribu. Sebelum tiba di Gunung Pohon Seribu Xiang Yi Bai hanyalah pengelana tanpa rumah yang diselimuti kehampaan. Karena itu saat kembali dihadapkan dengan kehampaan dia sudah terbiasa.
Masa-masa indah pergi dengan cepat, semakin tua umurnya Xiang Yi Bai tak lagi menyesali peristiwa yang terjadi di masa lalu dan mulai belajar memaafkannya. Sesingkat apa pun kenangan, itu terlalu indah untuk disebut luka.
"Wu Guang, kau selalu menyebutku keras dan tidak berperasaan," gumamnya bercerita sendiri di saat menonton latihan Xue Zhan. "Sekarang aku menyelamatkan seorang iblis dengan suka rela, aku yakin kau pasti kaget. Aku tidak tahu apakah ini hal baik atau malah akan mendatangkan masalah seperti di masa lalu ..."
"... Tapi akhir-akhir ini aku mencium aroma darah dan bising peperangan. Berurusan dengan urusan duniawi sudah bukan lagi tugasku, tapi anak itu," Omongannya terhenti sesaat, matanya terpaku lima detik melihat gerakan kaki dan tangan Xue Zhan saat menghindari dua jurus sekaligus yang dikeluarkan Bai Ye.
Lembut namun juga tajam. Dia menarik senyum tipis. "Aku memiliki firasat dia bisa mengatasi itu semua."
Baru memujinya beberapa detik, Xue Zhan kehilangan keseimbangan dan jatuh di tepi sungai. Mata pedang Bai Ye menancap di ujung rambutnya. Xue Zhan tidak kunjung bangun, membuat Xiang Yi Bai kebingungan.
"Bocah busuk, kau kenapa?"
"Bukan apa-apa, Guru. Hanya menyatu dengan alam sebentar. Semuanya aman terkendali." Xue Zhan mengangkat jempol sambil menampakkan cengiran bodoh. Lalu setelahnya dia tak sadarkan diri.
"Bocah sialan, malah pingsan! Kalau kau kelaparan bilang!"
Walaupun Xue Zhan mengeluh kelaparan Monster Tua itu belum tentu membebaskannya dari hukuman.
Xiang Yi Bai menampar-nampar pipi Xue Zhan memaksanya bangun. Xue Zhan yang sebenarnya masih berusaha mempertahankan kesadaran malah benar-benar pingsan. Tamparan kuat itu mengingatkannya saat Jiazhen Yan khawatir dalam perjalanan misi dan menamparnya sampai pingsan.