
Xue Zhan berdiri tegak dan siap menantang ratusan pendekar Topeng Silang Hitam yang memenuhi tepi pelabuhan. Sebuah keheningan tercipta di antara kerumunan orang ketika Xue Zhan mengangkat pedangnya dan memasuki lingkaran pertarungan.
Beberapa pendekar bergerak maju untuk menyerang Xue Zhan, dalam satu detik saja tiga serangan masuk dan dia mampu menghindari serangan mereka dengan gerakan cepat. Pedangnya berputar membiaskan pantulan cahaya matahari, tanpa keraguan dia melancarkan serangan dengan teknik gerakan dasar milik Gunung Pohon Seribu.
Dentingan pedang terdengar jelas dari tempat para kerumunan masyarakat yang berdiri menonton dalam kecemasan, terlihat Xue Zhan mampu membunuh. beberapa musuh dengan cepat.
Namun, serangan terus datang dari segala arah. Xue Zhan harus bergerak cepat dan menggunakan teknik tipuan untuk mengalahkan lawan-lawannya. Dia melompat ke udara dan memutar pedangnya dengan cepat menciptakan cahaya lingkaran selama dua detik yang menebas tiga kepala sekaligus.
Dalam keadaan yang semakin membuatnya terjebak dalam rombongan musuh, Xue Zhan mengangkat kedua tangannya sejajar dada seraya memusatkan tenaga dalam di kedua telapak tangan.
"Tapak Dewa Penghancur!"
Dalam sekejap hempasan yang amat kuat mementalkan puluhan pria sekaligus hingga jatuh ke dalam laut. Laut yang semula biru mulai berubah menjadi merah darah semakin banyaknya korban berjatuhan.
Melihat serangan itu pendekar-pendekar Topeng Silang Hitam itu semakin semarak menyerangnya, Xue Zhan bergerak dengan gesit dan menghindari serangan mereka. Dia kemudian melepaskan tendangan ke arah salah satu pendekar, dan pendekar itu terlempar beberapa meter jauh karena terkena pukulan yang mematikan.
Namun semakin banyak pendekar yang bergabung dalam pertarungan, membuat situasi semakin rumit dan sulit untuk diatasi oleh Xue Zhan. Serangan-serangan datang dari segala arah, dan dia hampir tak mampu menghindarinya.
Xue Zhan sempat kehilangan keseimbangan dan mulai merasakan sakit yang menusuk ketika sebuah kapak besar mengenai bahunya. Dia hampir terjatuh, tapi dengan cepat dia bangkit dan menghindari serangan selanjutnya yang dilancarkan oleh pendekar Topeng Silang Hitam. Xue Zhan mencoba untuk tetap fokus meski tubuhnya sudah terluka dan nyeri mulai terasa.
Dia berusaha menyembuhkan lukanya meskipun sambil menghadapi pertarungan di depan mata, Xue Zhan menerjang ke depan dan menyerang dengan gerakan pedang yang tajam. Besi tajam itu melintasi udara, memotong apa pun yang dilewatinya.
Serangan-serangan Xue Zhan yang intens membuat para pendekar Topeng Silang Hitam sulit untuk mengantisipasinya. Mereka saling beradu pedang, namun gerakan Xue Zhan malah semakin terlihat tajam dan mematikan seiring berjalannya waktu.
Saat itu, tiba-tiba muncul teknik serangan tipuan yang dilancarkan oleh salah satu pendekar Topeng Silang Hitam. Serangan itu berhasil mengelabui Xue Zhan, dan Xue Zhan hampir saja terkena serangan telak dari lawannya. Dia berhasil menahan dan menghindari serangan itu dengan gerakan melompat ke samping.
Dalam waktu singkat, pertarungan semakin memanas. Xue Zhan dan para pendekar Topeng Silang Hitam sama-sama berusaha untuk menang, dan mereka saling bertukar serangan yang semakin sulit dan cepat. Xue Zhan terus menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya dan membalasnya dengan serangan-serangan lain yang lebih mematikan.
Satu demi satu tubuh terkapar di bawah kakinya. Tangannya berlumuran darah begitu juga dengan pakaiannya. Sekali lagi Xue Zhan memenggal lawan berikutnya, leher pria itu mencuatkan darah merah segar seperti air terjun dan mengenai pemuda itu.
Pertarungan masih berlanjut sengit.
Dalam pertarungan yang menegangkan itu, Xue Zhan hampir saja kehilangan nyawanya.
Xue Zhan hampir terjatuh di lingkaran musuh saat serangan kapak besar lagi-lagi datang dan mengenai topeng putihnya dan membuat topengnya tergores di pipi.
Pendekar Topeng Silang Hitam menyerang Xue Zhan dengan ganas, memasang jebakan dan teknik serangan tipuan untuk membingungkannya. Dengan mudah Xue Zhan berhasil menghindari dan membalas serangan. Pedangnya berdenting dengan kapak dan pedang musuh lima musuh sekaligus, menimbulkan suara yang keras dan berisik.
Xue Zhan mengeluarkan serangkaian serangan pedang yang cepat dan berbahaya, mengalahkan musuh-musuhnya satu per satu. Dia menggunakan teknik pedang yang diajarkan Xiang Yi Bai dan teknik itu sangat ampuh untuk mengecoh musuh dan melemparkan serangan fatal, membuat lawan-lawannya tak mampu mengikuti gerakan pedangnya.
Meskipun demikian terdapat beberapa musuh yang sangat tangguh, bahkan mampu menahan serangan-serangan Xue Zhan. Mereka menggunakan teknik pertahanan yang kuat bahkan membentuk formasi, memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, dan mampu membalas serangan Xue Zhan dengan lebih ganas.
Xue Zhan terus bertarung meski telah terluka dan mulai kehilangan fokus. Dia tahu bahwa satu kesalahan kecil saja bisa membuatnya tewas. Dia menggunakan teknik Ombak Tujuh Lapis untuk melindungi dirinya dari serangan-serangan musuh, sementara terus mencari celah untuk mengalahkan mereka satu per satu.
Pertarungan semakin terlihat mencekam, Xue Zhan terus melawan ratusan pendekar Topeng Silang Hitam dengan tak habis-habisnya mengayunkan pedangnya dan mengeluarkan jurus yang memakan banyak tenaga dalam. Dia tidak berniat menyerah untuk melindungi orang-orang di pelabuhan tersebut.
Xue Zhan menutup matanya sejenak, mengumpulkan kekuatan untuk mengeluarkan sebuah teknik Kitab Phoenix Surgawi.
"Kitab Phoenix Surgawi - Cakar Phoenix Petir," ucapnya dengan tegas.
Dalam sekejap, enam cahaya phoenix muncul di sekitarnya, berputar-putar sebelum membelah diri menjadi dua belas phoenix lainnya yang semakin memperbesar kekuatan serangannya.
Para pendekar Topeng Silang Hitam terkejut melihat serangan tersebut dan berusaha menghindar, namun tak ada yang berhasil melepaskan diri dari serangan penuh kekuatan tersebut.
Saat phoenix-phenix itu mendarat, mereka mengeluarkan serangan dari paruh mereka yang amat kuat. Puluhan pria terkapar tak berdaya, beberapa di antaranya dengan luka parah di seluruh tubuhnya. Namun, Xue Zhan sadar bahwa ini belum cukup, masih banyak musuh yang selamat di depannya.
Dengan kecepatan kilat, Xue Zhan mengambil pedangnya dan memutar tubuhnya, menghindari serangan lawan dan melepaskan ayunan pedangnya pada setiap celah yang ditemukannya. Dentingan pedang terdengar di sekitar lingkaran pertarungan, dan beberapa pendekar Topeng Silang Hitam termundur dengan luka-luka parah.
Xue Zhan kembali merangsek maju membelah kerumunan musuh , menyerang dengan cepat dan tanpa henti, membuat para musuhnya harus terus bergerak mundur untuk menghindarinya.
Dalam waktu singkat, Xue Zhan berhasil melumpuhkan tiga puluh musuh dan para pendekar Topeng Silang Hitam terus terdesak mundur.
Kepala prajurit kota yang menyaksikannya di benteng yang tak jauh dari pelabuhan merasa heran melihat aksi nekad seorang pemuda yang melawan ratusan pendekar Topeng Silang Hitam sendirian.
Kemampuan Xue Zhan membuatnya semakin penasaran siapa sebenarnya pemuda itu dan dari mana asalnya.
Kepala prajurit kota itu tidak bisa hanya berdiam diri dan menyaksikan pertarungan itu tanpa melakukan apa-apa. Dia merasa bertanggung jawab untuk menjaga keamanan kota dan rakyatnya dan harus bertindak secepatnya.