
Tubuhnya terasa sakit. Xue Zhan memegang sebelah bahu dan berjalan sedikit terpincang, sesaat matanya bergulir memastikan keadaan katak kecil di bahunya. Hewan kecil ity masuk ke dalam kerah baju belakang Xue Zhan karena ketakutan dengan aura jahat dari mayat hidup tersebut.
Keduanya saling berhadap-hadapan. Musuh memiliki sebuah senjata tombak dengan ujung besi tajam, cukup besar dan memiliki jarak serangan luas.
Debu yang berjatuhan dari langit-langit goa terbias oleh cahaya bulan purnama. Wajah laki-laki itu tertutup bayangan gelap, tatap matanya sangat mengerikan. Mengingat dia adalah manusia yang telah mati, Xue Zhan tak habis pikir bagaimana mayat ini masih bisa berdiri dan menatapnya dengan emosi layaknya manusia biasa.
Di sisi lain Xue Zhan mau tak mau harus melewati pertarungan ini. Dia membutuhkan makanan dan apa pun itu untuk memulihkan kembali kekuatannya guna menetralisir racun di dalam tubuh, satu-satunya yang bisa menyelamatkannya adalah pil yang berada di dalam tempat ini.
Katak kecil mengantarkannya pada obat-obatan itu dan juga seorang iblis mati yang bersemayam di dalamnya.
Musuh mulai bereaksi, mata putih pucat miliknya memerah bagaikan buah iblis. Dia mengangkat tombak dengan kedua tangan di atas kepala sembari berteriak, gemaan suara itu memiliki tenaga hingga sampai ke luar jurang. Xue Zhan bersiap mengeluarkan pedang yang terselip di pinggang, setengah berjongkok mewaspadai pergerakan lawan.
Detik-detik mencekam berlalu. Sedikit demi sedikit arah pergerakan musuh mulai terlihat, dengan kemampuan bertarung yang terbatas Xue Zhan hanya memikirkan cara agar tidak mati dari mayat hidup ini.
Setelah amukan pertama kini lelaki tersebut memutar-mutar senjatanya di atas kepala, membuat pilar nyaris terpotong, beberapa benda hancur berserakan lalu dia melompat mengejar Xue Zhan.
Xue Zhan kabur untuk mencari ruangan berukuran kecil dan menarik lawan ke sana, dengan senjata panjang seperti itu ruangan kecil akan menjadi kelemahannya dan membuat musuh kesusahan menggerakkan senjata. Musuh mengikutinya sambil menghancurkan benda-benda yang dia temui sepanjang jalan.
Siapa sangka semakin jauh memasuki ruangan di goa itu Xue Zhan merasa semakin ganjil. Ada satu ruangan kecil yang diisi oleh ratusan lilin yang masih menyala. Padahal tidak ada yang hidup di dalamnya, entah api itu abadi atau Xue Zhan terlalu banyak berpikir. Dia menunduk segera ketika senjata panjang musuh menebas sejajar tinggi kepalanya dari arah belakang.
Wei Li-nama laki-laki sepuh tersebut semasa hidup, mendarat di atas sebuah meja tumpukan lilin. Dia membelah ratusan lilin itu menjadi dua dan membuatnya terbang di atas udara menciptakan kelap-kelip merah yang sesaat menerangi goa tersebut.
Rambut putih laki-laki itu beterbangan kencang mengikuti deru angin yang tajam akibat pusaran kekuatan dari tubuhnya. Ketika Xue Zhan menoleh ke belakang mata merah itu mengintainya dengan cara yang beringas. Dia tidak seperti manusia. Caranya bertarung yang kasar dan hanya menuruti nafsu membunuh telah menjelaskan bahwa laki-laki itu telah kehilangan ruh dan yang mengendalikannya sekarang adalah kekuatan jahat.
Lilin-lilin yang berjatuhan di atas batu mulai menjalar dan membakar karung gandum, menciptakan kobaran api di goa dan akan semakin meluas seiring berjalannya waktu. Xue Zhan mengepalkan tangan, dia tidak bisa membiarkan sumber daya di ruang peti mati tadi terbakar begitu saja, itu sangat berharga.
Wei Li memulai serangan lurus, dia memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa dan membuatnya seolah-olah terbang walau hanya berlari. Xue Zhan tak yakin bisa menangkis serangan tajam itu, dia memutar tubuhnya. Dalam posisi berputar dengan kaki di atas dan kepala di bawah, persis di depan matanya Xue Zhan dapat melihat pantulan wajahnya sendiri di bilah besi tombak musuh.
Gerakan tombak berubah sangat cepat, gagangnya mengincar tubuh Xue Zhan dan berhasil memukul pemuda itu tepat di tulang punggung. Xue Zhan terlempar dan segera ambil posisi untuk mendarat setengah berjongkok dengan pedang menancap di atas batu. Dia memuntahkan darah, racun di dalam tubuhnya mulai kambuh. Xue Zhan hanya memiliki sisa waktu sedikit sebelum racun itu membekuk tubuhnya. Jika tidak segera bermeditasi Xue Zhan akan mengalami kelumpuhan dan mati.
Xue Zhan melihat plakat khusus di pakaian laki-laki itu bertuliskan sebuah nama, Wei Li. Dia pasti adalah salah satu orang keturunan Kekaisaran lain dilihat dari bentuk wajah dan warna kulitnya.
Seketika Wei Li berhenti berputar, Xue Zhan melompat tinggi sebelum tebasan tombak lainnya datang. Benar saja sesuai dugaannya Wei Li melepaskan serangan. Kaki Xue Zhan menapak di atas bilah pedang. Mata merah itu mendongak ke arah Xue Zhan terlihat semakin dibutakan oleh amarah.
Xue Zhan belum mengambil tindakan untuk menyerang karena tahu jika dia salah langkah sedikit saja bukan musuh yang terluka, tapi dirinya. Dengan keadaan tubuh digerogoti racun dan terluka, dia harus bertarung ekstra hati-hati dan menunggu satu kesempatan untuk menyerang.
Kobaran api menyebar, Xue Zhan melompat di atas rak yang sedang dilalap api. Butiran cahaya terbang ketika tombak musuh membelah rak itu menjadi dua. Xue Zhan menghilang. Wei Li mengejar bayangannya menggunakan ekor mata dan melihat pemuda itu berlari ke ruangan lain.
Satu-satunya tempat yang tersisa adalah sebuah ruangan luas yang mirip aula istana. Ada banyak buku, kitab, senjata dan bahkan armor besi berbahan mahal. Lalu sebuah panggung batu dengan tinggi sekitar tiga anak tangga berlambang Yin Yang di tengah ruangan luas itu. Xue Zhan naik ke atasnya setengah ngos-ngosan.
Musuh mendarat di atas panggung batu tersebut. Keduanya kembali berhadap-hadapan diiringi suara reruntuhan dari beberapa ruangan yang hancur dimakan kobaran api. Getaran di atas bumi terasa di kaki. Wei Li menatap Xue Zhan lurus dan sama sekali tidak berkedip.
Kilau cahaya api merah terpantul di bola mata Xue Zhan. Percikan bunga api berjatuhan dari kayu yang dilalap api, terlihat seperti ribuan kunang-kunang yang terperangkap dalam ruangan Yin Yang raksasa.
Xue Zhan akhirnya mengeluarkan pedang. Kali ini dia sudah menghafal pola gerakan lawan sehingga mengurangi kemungkinan untuk terluka serius.
Kedua kubu bertemu di tengah panggung Yin Yang dengan pedang saling bertemu, menciptakan percikan bunga api bersama suara jeritan senjata. Xue Zhan kembali melihat pantulan wajahnya di senjata tombak lawan yang berkilap. Kedua senjata saling bertahan, Xue Zhan berniat memaksa mundur Wei Li dengan mendorongnya tapi tak disangka musuh tiba-tiba berputar dan melepaskan serangan dari sisi berbeda.
Meskipun hanya terkena gagang pedang tetap saja Xue Zhan jatuh tersungkur, Wei Li melepaskan serangan berupa hantaman lurus dari atas yang menyerbu kepalanya. Xue Zhan menahan dengan pedang. Kedua alisnya bertaut, suhu panas membuat keringat mengucur deras.
Di saat Wei Li nyaris berhasil membuat Xue Zhan tersudutkan tiba-tiba saja pemuda itu berhenti menahan senjata dan melepaskannya begitu saja membuat Wei Li hampir terjatuh kehilangan keseimbangan. Sebaliknya pemuda itu menyerang dengan kaki, dia memutar kakinya dan menyandung Wei Li membuat laki-laki itu terpaksa mundur.
Xue Zhan melepehkan darah dari mulutnya.
"Sudah mati pun masih membuat masalah. Bagaimana kalau masih hidup," cecar Xue Zhan kesal. Dia mulai gelisah karena suara guncangan itu semakin besar dan mungkin akan membakar semua sumber daya yang ingin diambilnya.
**