Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 203 - Gelombang Tsu Yang


Tanah mendadak bergetar dengan kekuatan yang mengejutkan. Gemuruh di langit mengiringi hantaman gelombang air besar yang jatuh dari ketinggian, membanjiri seluruh penjuru hutan yang membentang luas. Suara ribut gemuruh air menggema di antara pepohonan yang bergoyang-goyang oleh kekuatan dahsyat.


Wanita itu menghilang dalam satu kedipan mata. Xue Zhan berguling dan berlindung di balik pohon, air bah itu mulai membentuk ratusan pedang air yang begitu bening dan tajam.


Serangan-serangan kecil berkelebat seperti kilat yang cepat melintas di antara curahan air yang turun dengan deras, menciptakan sebuah tarian penuh kecepatan di tengah hujan yang deras dan menggemparkan. Xue Zhan bergerak dengan lincah, menghindari hantaman air dan membalas dengan pukulan dan serangan yang mematikan.


Dalam waktu kurang dari sepersekian detik, seperti kilatan cahaya yang melintas dengan kecepatan yang tak terbayangkan, seluruh pedang air yang memenuhi langit tiba-tiba meluncur dengan gesitnya ke arahnya, membentuk sebuah lapisan yang menyapu dengan ganas di udara.


Jelas-jelas Xue Zhan terkepung, dia yakin meladeni semua itu tak akan ada habisnya. Sama seperti melawan para manusia ilusi di ruang dan waktu ini. Mereka bertujuan membuatnya kehabisan kekuatan. Larinya terkejar oleh kecepatan Pedang air. Xue Zhan menghentikan langkahnya tiba-tiba.


Pedang putih yang dipegangnya meluncur dengan kecepatan tinggi, memotong dengan tajam sebuah pohon besar di hadapannya. Tanpa waktu yang terbuang sia-sia, dia menambah gerakan itu dengan tendangan yang keras, mengarahkan batang kayu besar yang terlepas dari pohon mengenai pedang air yang menyerbunya, menghancurkannya dalam kecepatan tinggi.


Pedang-pedang air terus bertambah jumlahnya di atas kepalanya, membentuk lautan yang melayang di udara. Dengan gerakan yang lincah, mereka mulai mengarahkan serangan ke arah Xue Zhan, menciptakan serangkaian serangan yang mengintai dengan tajam.


Xue Zhan melihat dengan jelas saat pedang-pedang air mendekat dengan kecepatan tinggi. Dia dengan cepat mengantisipasi gerakan mereka, memperhitungkan setiap kemungkinan serangan yang dapat dilancarkan. Dalam keadaan tenang, dia menggerakkan pedang yang seketika membelah udara dengan kecepatan kilat untuk mematahkan serangan-serangan pedang air yang datang.


Namun, pedang-pedang air terus berlipat ganda, melahirkan lebih banyak bayangan yang menakutkan di langit. Mereka menyerang dalam serangkaian formasi yang rumit dan tak terduga, Xue Zhan terus berusaha menghindari setiap serangan dengan gerakan yang cepat dan gesit, bergantian melompat, melayang, dan berputar di udara untuk mengelabui pedang-pedang air tersebut.


Suara benturan logam terdengar memenuhi udara, menggema di antara hutan yang sunyi. Percikan air memenuhi ruang di sekitar tanpa henti, Xue Zhan bahkan tetap tak menemukan di mana wanita tadi bersembunyi.


Pertarungan terus berlangsung, Xue Zhan terus berusaha mempertahankan diri di tengah gelombang serangan pedang air yang semakin meningkat. Dia mengandalkan refleks yang tajam dan kecepatan yang luar biasa untuk menghindari setiap sabetan dan tusukan pedang air yang mengincarnya. Mereka bisa menjadi berbahaya jika Xue Zhan terkena setidaknya seratus pedang air.


Namun, semakin lama pertempuran berlangsung, semakin sulit bagi Xue Zhan untuk melawan serangan pedang air yang terus menerus menghujaminya. Dia mulai merasakan kelelahan merayap dalam tubuhnya, sementara tekanan yang terus-menerus dari serangan tersebut semakin membebani kekuatannya. Tujuan pedang air itu memang untuk membuatnya kelelahan sebelum nantinya musuh aslinya keluar untuk serangan terakhir. Xue Zhan sudah membacanya sejak awal.


Xue Zhan menemui tempat buntu, di depannya hanya ada sebuah tebing tinggi. Musuh masih tak menampakkan diri sementara air di sekitarnya terus-menerus menciptakan pedang dan menyerangnya dari segala sisi.


Dari arah samping satu pedang melesat dalam kecepatan yang lebih tinggi daripada yang lain, Xue Zhan nyaris tidak menangkap pergerakannya. Lingkaran angin tipis berputar di bawah kakinya dan perlahan-lahan naik ke atas menangkis beberapa serangan yang masuk.


Saat pedang tersebut lewat di depan matanya Xue Zhan melihat perbedaan kekuatan yang besar. Dia segera melihat ke arah pedang itu berasal dan mengejarnya.


Sepasang mata merah itu mulai melihat ke arahnya, membuat sang pengendali ilusi tertegun. Dia belum sempat bereaksi ketika satu tebasan melingkar menembus pertahanan airnya.


Dalam serangan yang melambung dengan kekuatan penuh, tebasan panjang pedang Xue Zhan memecah pelindung air tak berwujud yang selama ini menyembunyikan keberadaan pemilik kekuatan yang mengendalikan air tersebut. Seperti kilatan petir yang


menyambar dalam kegelapan malam, pedang putihnya dengan ganas membelah dimensi ruang yang mengelilingi pelindung tersebut, menciptakan retakan- retakan bercahaya.


Xue Zhan langsung menarik kakinya mengenai dada wanita itu sampai termundur puluhan meter.


Pengendali ilusi terdorong, kakinya terseret ke belakang beberapa meter dalam keadaan bertekuk. Dia mengangkat wajah memperlihatkan ekspresi marah tidak main-main. "Mata itu bisa melihat sampai ke mana? Tidak ada yang pernah melihat pelindung airku selain kau ..." geramnya sambil mencengkram pasir, tak lagi berpikir untuk menghemat kekuatannya.


Wanita pengendali air itu merasa curiga terhadap Xue Zhan. Dia telah melihat tindak-tanduknya dan merasakan ada kekuatan misterius yang tersembunyi di dalam tubuh pemuda itu.


Namun, Xue Zhan pandai menyembunyikan kekuatannya dengan cermat, sehingga sulit bagi siapa pun untuk membaca sejauh mana potensi dan kekuatan yang dimilikinya.


Xiang Yi Bai mengajarkannya cara menekan kekuatan itu sebelum mereka keluar dari Jurang Penyesalan setelah mempertimbangkan banyak hal.


Dalam dunia persilatan sendiri, ada beberapa pendekar yang memiliki kemampuan hebat dalam menyembunyikan kekuatan mereka seperti halnya gurunya. Mereka telah mengasah keterampilan ini dengan sangat baik, sehingga bisa muncul seolah-olah mereka hanyalah seorang pendekar biasa tanpa kekuatan yang luar biasa.


Mereka menguasai teknik penyamaran diri yang membuat musuh sulit mengenali sejauh mana kemampuan mereka dengan cara menggunakan energi dalam tubuh mereka dengan sangat hati-hati, menjaga agar tidak terpancar secara berlebihan.


Tapi wanita pengendali air itu memiliki insting yang tajam. Dia bisa merasakan kehadiran energi yang tidak biasa dalam tubuh Xue Zhan dan dia harus mewaspadainya.


Wanita itu mengangkat kedua tangannya di sisi tubuh, memanggil kekuatan air yang lebih besar.


Gelombang kembali memancar ke atas, aliran air dari segala penjuru bergerak dan berkumpul di satu titik di mana dirinya berada. Suara wanita itu terdengar perlahan, memanggil alam semesta untuk mematuhi kehendaknya. Dalam sekejap, air yang mengelilingi mereka berubah menjadi senjata mematikan yang siap meluluhlantakkan segala yang ada di hadapannya.


Xue Zhan menengadah melihat seberapa besar kekuatan yang bisa dikeluarkan wanita itu.


Dia pantas dijadikan pelindung markas sebuah kelompok penjahat seperti Taring Merah. Wanita itu bukanlah pendekar sembarangan. Dia bisa mengontrol kekuatan elemen dalam jumlah sebanyak itu tanpa sedikitpun kesusahan.


Xue Zhan menyarungkan pedangnya, semakin lama waktu berlalu ancaman di atasnya semakin terasa. Wanita itu mengepalkan tinjunya. Air raksasa di atas langit mulai berkumpul membentuk sebuah tinju raksasa yang menuju ke arah Xue Zhan.


"Gelombang Tsu Yang!" teriak lantang itu mengagetkan Xue Zhan. Deru angin menghantam tubuhnya dan suara menggema dari langit terdengar menyeramkan untuk didengar.


Tinju tersebut semakin dekat, Xue Zhan menautkan alisnya.


"Rasakanlah jurus andalanku. Hanya dua orang yang pernah melihatnya," ucapnya sedikit congkak. "Dan dari dua orang tersebut tidak ada satu pun yang selamat."


Senyum miring di wajahnya nampak jelas, dia hampir tertawa saat melihat musuhnya tak berkutik dan mulai berpikir dia terlalu ketakutan untuk bergerak apalagi melihat tinju air sebesar itu.


"Tunjukkan kalau kau benar-benar pendekar sejati, lihat apakah pedangmu itu bisa melindungi orang lain." Dia tertawa sinis, "kau bahkan tidak mampu melindungi dirimu sendiri."


Dia memperkuat serangannya menjadi lima kali lipat sambil berteriak mengejek Xue Zhan. Serangannya akan jatuh ke tanah dalam sepersekian detik lagi.


Namun sesuatu seketika mengganggu ketenangannya.


"Tapak Dewa Penghancur!"


Matanya terbuka lebar. Tapak Dewa Penghancur menembus bagian tengah tinju tersebut, jurus itu menuju ke arahnya dalam kecepatan yang sangat tinggi. Lalu dalam seketika, dia terhempas di atas udara, darah mengucur dari kepala dan mulutnya begitu saja. Serangan itu mengenainya telak.


Nasib sama terjadi pada Xue Zhan.


Dia tidak bisa menghindari seluruh serangan tersebut. Satu-satunya cara terbaik adalah memberikan serangan balik. Tapak Dewa Penghancur tak sampai setengah dari ukuran tinju air raksasa wanita itu. Beberapa bagian dari tinju tersebut tetap jatuh ke tanah dan menghantamnya.


Xue Zhan memuntahkan darah, dia terjatuh ke dalam sebuah lubang besar yang menghancurkan aliran air sungai hingga ratusan meter ke dalam.


Kekuatan gelombang air yang dilontarkan oleh wanita pengendali air itu begitu dahsyat sehingga membuat segala sesuatu di sekitarnya hancur berkeping-keping tanpa ampun. Tiap serangannya membawa kekuatan yang tak terbayangkan, gelombang air membanjiri langit dan bumi.


Tanah di sekitarnya bergetar hebat, menciptakan retakan yang menjalar dengan panjang yang tak terhingga. Suara gemuruh bergema di udara saat tanah terpecah dan pecahan-pecahan batu berterbangan menghujani sekeliling. Sementara itu, gelombang air yang ganas terus menggempur sekeliling. Air melonjak dan mengamuk menerjang segala yang ada di hadapannya dengan kekuatan yang tak terbendung. Pohon-pohon seketika terguling.


Gelombang air yang tinggi dan mengamuk menghasilkan suara berkelebat seperti ledakan yang memecah keheningan. Setiap kali serangan dilancarkan, aliran air yang kuat berkelebat dengan kecepatan yang mengejutkan, menciptakan kilatan-kilatan yang melintas di antara curahan air yang deras.


Dalam kekacauan itu, Xue Zhan berusaha bertahan dengan segala kekuatan yang dimilikinya.


Belum terlepas tiga detik dari serangan terakhir, Xue Zhan tiba-tiba merasakan seseorang mencekiknya sangat kuat.


Wanita itu bangkit, seluruh wajahnya dilumuri darah dan aliran darah terus mengalir di hidungnya. Matanya melotot begitu kuat seperti ingin membunuh Xue Zhan hanya dengan mencekiknya saja.


"Seharusnya dari awal aku tidak menganggapmu seperti seorang bocah bodoh."


"Heh, baru tahu kekuatan bocah bodoh?"


"Kau lebih bodoh dari yang kukira!"


"Apa-"


Wanita itu menggunakan tinju mentah yang segera mengenai perut Xue Zhan, lagi-lagi darah keluar dari mulutnya. Lawannya tak lagi meremehkannya, hal itu malah membuatnya berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.


Kerah bajunya ditarik, Xue Zhan menggantung di udara. Tubuhnya kehilangan kendali secara tiba-tiba sehingga tidak dapat digerakkan. Saat ini yang bisa dilakukannya hanya membalas balik tatapan nyalang wanita di depannya.


Mata itu seketika membuatnya terhipnotis. Hanya ada warna hitam di dalam kelopak matanya. Xue Zhan sama sekali tidak dapat memalingkan muka dalam keadaan seperti ini. Dia akan semakin tenggelam dalam jurus ilusi yang diciptakan musuhnya yang bisa berakibat dia terbunuh.


Xue Zhan tahu mengapa bisa tubuhnya kehilangan kendali, dia telah menatap mata wanita itu dan dikatakan tidak ada jalan keluar untuk terlepas dari ilusi tersebut selain dengan bantuan orang lain. Sedangkan Xue Zhan datang ke tempat ini sendirian.


"Tatap saja sambil merasakan detak jantungmu berhenti."


Seringai lebar terkembang bengis di wajah wanita itu, sepasang mata di balik topeng mulai memucat. Otot tubuh Xue Zhan perlahan lemas, dia tak dapat melawan sama sekali.


"Rasakan pembalasanku, sialan."


Tanpa bisa melakukan perlawanan tubuhnya terpental, sebelah tangan wanita itu mengenai bagian vital di dadanya. Xue Zhan menahan sakit luar biasa, namun yang bsia dilakukannnya hanya terbaring tak berdaya di atas tanah.


Langkah kaki mendekat ke tempatnya, kaki wanita itu menginjak kepalanya sambil tertawa.


"Tempatmu di antara tulang belulang itu."