Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 199 - Balasan Setimpal


Dalam keheningan mencekam, pasukan Serigala Pembunuh tiba di depan desa dengan penuh kepercayaan diri. Namun ketika mereka melangkah maju, diam-diam ribuan panah berapi dilumuri minyak tanah bersiap meluncur ke arah mereka.


Tang Yun yang berada di sisi selatan bersorak dari ketinggian.


"Serang!!!"


Panah-panah itu bergerak dengan kecepatan tinggi, membentuk garis lurus yang memutuskan udara dan menuju pasukan Serigala Pembunuh.


Suara siulan angin bergabung dengan kerumunan panah berapi yang terbakar. Percikan cahaya menyilaukan memenuhi langit malam saat panah-panah itu berterbangan melintasi langit dan menyapu pasukan yang terkejut. Pasukan Serigala Pembunuh berteriak dan berusaha menghindari serangan mendadak ini.


Tak lama kemudian, suara ledakan mengguncang jalan-jalan kota. ratusan panah berapi yang dilumuri minyak tanah menghambur ke arah pasukan Serigala Pembunuh. Percikan cahaya tersebut disertai ledakan dari tong minyak yang meledak di sisi-sisi jalan.


Ledakan dahsyat memenuhi udara ketika tong minyak yang tersembunyi meledak di sisi-sisi jalan. Api melompat dan menyala dengan ganas, membakar kayu dan gerobak. Cahaya yang membara menerangi wajah-wajah penduduk desa yang mengerubungi pasukan Serigala Pembunuh.


Teriakan perang bergema di udara, menyatu dengan percikan api dan asap. Pertempuran yang membara dan tak terduga pun dimulai.


Beberapa laki-laki pengawal Serigala Pembunuh sempat mundur kaget tak menyangka hari ini rakyat-rakyat penakut itu melakukan perlawanan besar-besaran. Kini mereka terkejut dan bingung, berusaha melindungi diri dari panah-panah berapi yang terus menerus menghujani mereka.


"Biar kutunjukkan padamu sebuah pertunjukan festival api yang menarik. Jarang-jarang bukan kami memberikanmu hiburan yang menarik?"


Senyum terkembang di balik topeng putih tersebut.


Serigala Pembunuh membalikkan kepalanya ke belakang dengan sedikit merinding. Baru beberapa detik selepas memalingkan mukanya, puluhan meriam yang dipasang di sisi rumah lantai dua mulai mengeluarkan suara berisik. Beberapa orang yang menjaganya serempak melepaskan sesuatu yang tidak mudah diikuti dengan kecepatan matanya.


Lalu dalam sekejap mata sebuah kilatan cahaya menerjang ke satu titik secara bersamaan. Hempasan angin kuat bergejolak, ledakan tak terhindarkan sama sekali. Udara panas disertai kemarahan para pasukan Serigala Pembunuh bercampur aduk. Beberapa dari mereka berhasil bertahan dengan baju pelindung besi yang memang dibuat untuk tahan panas. Meski demikian tetap saja mereka terluka.


Namun Serigala Pembunuh berhasil terlindungi berkat orang-orangnya, dia menarik seringai disertai tatap mata ingin membunuh.


"Berani-beraninya ...!" geramnya sembari mengepalkan kedua tangan.


Serangan itu menjadi pembukaan pertamanya, Xue Zhan kembali bersuara.


"Hati-hati, pertunjukan ini sedikit gila. Pastikan tubuhmu tetap utuh sampai akhir acara ..."


Suara yang tidak jelas berasal dari mana itu membuat beberapa orang curiga. Beberapa penduduk yang dilengkapi zirah dari sisi jalan lain mulai bergerak maju ke arah mereka. Bawahan Serigala Pembunuh bersiap.


Salah satu yang berdiri di paling depan mengangkat sebelah tangannya, melemparkan pedang ke arah Serigala Pembunuh dengan ceroboh.


Pedang itu hanya menancap di atas tanah. Serangannya meleset dan sama sekali tidak menyentuh sasaran.


Kontan melihat hal itu Serigala Pembunuh tertawa mengejek, merasa orang-orang yang merencanakan hal ini melakukan hal yang sia-sia dan malah mempermalukan diri sendiri.


"Seekor tikus got kau suruh memegang senjata? Tidak salah? Mereka lebih cocok disuruh merayap di kolong parit daripada berdiri di hadapan ku!" serunya memekik. "Siapa pun kau, aku tak akan membiarkan kau lolos hidup-hidup kali ini! Tunjukkan dirimu sekarang juga, sialan!"


Lagi-lagi suara itu terdengar.


"Daripada itu pertama-tama pikirkan cara untuk lolos dari serangan di depanmu dulu."


Serigala Pembunuh menoleh ke sisi kanan dan kiri dan tidak mendapati satu hal mencurigakan. Sampai percikan api terdengar dari pedang yang menancap tanah di belakangnya. Benda itu menancap di sebuah serbuk peledak yang ditanam di dalam tanah.


Sontak ledakan kembali menggentarkan tanah jalan desa, pasukan itu terkepung dari berbagai sisi dan masuk dalam perangkap yang disiapkan Xue Zhan. Sang ketua mengumpat sejadi-jadinya.


"Bajingan!!" urat-urat di leher dan keningnya bermunculan. Kemarahan besar tercetak di wajahnya yang dipenuhi keringat. "Bunuh semua orang di sini!"


Tidak terdengar lagi suara misterius itu namun Serigala Pembunuh yakin dia masih mengintai mereka. Dia mengantispasi gerakan dari segala sisi dan melihat meriam itu kembali mengeluarkan serangan yang mencurigakan.


Dia menangkap dengan mata kepalanya sendiri, meriam itu tidak mengeluarkan api biasa. Namun sebuah kekuatan yang sekilas terlihat seperti burung phoenix dan meledakkan tempat di mana mereka berada.


Panah berapi menghujani mereka kembali. Orang-orangnya bertahan sambil terus memajukan diri untuk menghabisi pasukan penduduk bersenjata di depan.


Saat mereka hanya terpaut lima meter, penduduk itu mulai mundur ketakutan.


Angin berdesir, hawa pembunuh mulai terasa di sekitar beserta kekuatan pekat. Pada akhirnya sosok itu memunculkan diri di hadapan Serigala Pembunuh.


"Kau sudah tahu, bawa saja informasi itu ke kuburanmu."


Nyali mereka mulai menciut untuk beberapa detik, angin tipis melewati kulit leher Serigala Pembunuh yang saat itu dilindungi lima orang berbadan kekar. Tentu saja laki-laki itu merasa curiga, jantungnya berdetak kencang.


"Mau tau acara terakhirnya apa?" Pemuda yang berdiri beberapa meter di hadapan mereka kembali memasukkan pedang ke sarungnya yang entah sejak kapan ditariknya dari sana. Bawahan Serigala Pembunuh mewanti-wanti serangan sejak tadi dan merapatkan barisan untuk menghalangi Xue Zhan.


"Pameran kepala Serigala Pembunuh di alun-alun kota."


Sayatan tajam memotong miring kepala Serigala Pembunuh, mata laki-laki itu terbuka lebar saat kepalanya melayang di atas udara. Lehernya mengeluarkan darah yang mencuat cepat hingga tubuhnya tergeletak masih bergerak-gerak kejang.


Serigala Pembunuh melihat tubuhnya yang tanpa kepala, merasakan darah mulai berhenti mengalir di kepalanya dan rasa sakit yang mematikan.


Mulutnya terbuka tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun sampai dia melihat seseorang memungut kepalanya.


"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Serigala. Acara sudah berakhir. Semoga kau menikmati hadiah kami, tiket gratis ke neraka selamanya."


Orang-orang yang tersisa sebagai Bawahan Serigala Pembunuh tercengang bahkan pemuda itu sudah lebih dulu bergerak sebelum mereka melihat ke belakang di mana ketua mereka telah dihabisi dalam satu tebasan tanpa wujud.


Tepuk tangan meriah membuncah disertai teriakan penuh kemenangan. Para wanita bersorak dan laki-laki langsung mengelilingi Xue Zhan sambil merangkulnya.


"Sialan, rencanamu benar-benar gila!" Tang Yun memuklul pundaknya terkesima. Dia menggeleng tidak habis pikir. Gegap gempita memenuhi seluruh desa yang biasanya sunyi mencekam.


Xue Zhan berhasil mengalahkan kelompok Serigala Pembunuh dan membebaskan desa dari cengkeraman mereka, suasana di desa itu berubah secara drastis. Penduduk desa yang sebelumnya meragukan dan menuduh Xue Zhan, kini menyaksikan keberhasilannya dengan kagum dan rasa terima kasih.


Gembira dan terharu, penduduk desa berhamburan keluar dari rumah mereka untuk menyambut Xue Zhan.


Mereka mengucapkan terima kasih dan memuji keberanian serta kepemimpinan Xue Zhan yang telah membawa kemenangan bagi mereka. Sorak-sorai kegembiraan memenuhi udara.


Tang Yin dan Tang Yun, dua penduduk desa yang sejak awal mendukung Xue Zhan, juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Mereka bergabung dalam keramaian, tersenyum lebar dan bersorak bersama penduduk desa lainnya. Mereka merasa bangga bahwa mereka telah mempercayai Xue Zhan sejak awal, dan kepercayaan mereka kini terbayar dengan hasil yang gemilang.


Lelaki sepuh yang telah menjaga desa itu selama bertahun-tahun juga tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia melangkah maju dengan langkah gemulai dan senyum lebar di wajahnya. Penduduk desa memberikan hormat dan penghormatan kepadanya, mengakui peran pentingnya dalam memelihara desa dan membimbing mereka melalui masa-masa sulit. Mereka merasa beruntung memiliki seseorang yang bijaksana dan berpengalaman seperti dia.


Pada saat itu, di tengah sorakan dan kebahagiaan, Xue Zhan berbicara kepada penduduk desa dengan rendah hati. Dia mengatakan bahwa kemenangan tersebut adalah hasil dari kerja sama dan keberanian mereka semua. Dia memuji kekuatan dan semangat juang penduduk desa yang tak tergoyahkan, serta rasa solidaritas yang telah mereka bangun bersama.


Penduduk desa mendengarkan kata-kata Xue Zhan dengan penuh rasa hormat dan rasa syukur. Mereka menyadari bahwa keberhasilan ini bukan hanya berkat Xue Zhan, tetapi juga karena mereka bersatu sebagai satu kesatuan yang kuat. Semangat perlawanan dan ketahanan yang mereka tunjukkan telah membuktikan bahwa mereka bisa menghadapi segala tantangan bersama-sama.


Di sisi lain puluhan bawahan Serigala Pembunuh bersujud meminta ampunan dan berjanji akan mengembalikan semua uang hasil rampasan ke pada penduduk. Xue Zhan menanggapi serius.


Dia menghentikan perayaan sejenak dan memandang mereka dengan tajam.


Xue Zhan menyadari bahwa mereka adalah orang-orang yang telah terlibat dalam tindakan kejam dan penindasan terhadap penduduk desa. Meskipun mereka sekarang memohon ampun, Xue Zhan tahu bahwa kata-kata mereka harus didukung oleh tindakan nyata untuk membuktikan niat mereka untuk berubah.


Dengan suara yang tegas, Xue Zhan berbicara, "Setelah bertahun-tahun melakukan tindakan keji dan membunuh orang-orang, hanya kata maaf yang bisa kau berikan?"


Dia menampakkan sikap marah.


"Nyawamu tak akan setimpal untuk mengganti semua ini."


Dia menekankan bahwa mereka harus membuktikan keseriusan dan keinginan mereka untuk berubah dengan tindakan nyata, yaitu salah satunya mengembalikan semua uang yang mereka rampas dengan segera.


Namun orang-orang itu mengatakan bahwa hanya ketua mereka yang tahu di mana semua harta itu disimpan.


Xue Zhan bertanya kepada lelaki sepuh untuk tindakan selanjutnya yang diambil terhadap bawahan Serigala Pembunuh.


Lelaki itu menatap orang-orang itu dengan bingung, dia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Sesaat lelaki itu berpaling dari dua musuh dan menatap Xue Zhan.


"Kurasa kau lebih bijak menentukan bagaimana nasib orang-orang ini."


Xue Zhan mengangguk sejenak. Menatap orang-orang di hadapannya dalam hitungan detik yang terasa lama dan mencekam, suasana sunyi membuat orang-orang Serigala Pembunuh mulai cemas.


"Aku akan menyisakan dua di antara mereka untuk menyelidiki sesuatu. Sisanya, aku serahkan pada kalian. Terserah mau diapakan."