Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 59 - Tarung Dini Hari


Malam yang sunyi di hutan membawa berita buruk, tempat mereka diserang saat ketiganya terlelap. Jiazhen Yan terbangun menyadari Xue Zhan telah menghilang. Tidak ada bekas, tidak ada jejak. Semua bersih. Xian Shen diguncang-guncang seperti diserang gempa.


Dari mereka berdua tidak ada satu pun yang terluka. Hanya Xue Zhan yang diambil, Jiazhen Yan mengambil kesimpulan bahwa ini penculikan bukan penyerangan biasa.


"Sialan!"


*


Bunyi ketukan tombak di atas lantai kayu terhenti ketika pemuda yang diikat di kursi tersadar. Menyadari seorang sedang menatapnya dari atas ke bawah, sumber suara ketukan itu berasal darinya.


Xue Zhan memuntahkan darah. Dia sempat berontak sebelum dibawa ke tempat ini dan berakhir tak sadarkan diri, ketika dirinya melihat sekitar yang nampak adalah sebuah kediaman pendekar yang telah ditinggalkan. Cukup megah untuk seukuran kota tersebut, selayaknya rumah pada umumnya rumah itu penuh dengan meja, kursi, ruang baca yang dipisah dengan pintu geser. Sejauh tangkapannya mereka hanya berdua di sana.


"Siapa lagi kau?"


"Tak butuh dua menit untuk langsung menebak siapa aku, huh?" Dia takjub, Xue Zhan menyambut.


"Kau pasti temannya gadis itu."


"Kau benar." Sejurus tampak senyum miring menghiasi wajahnya. "Tapi aku tak akan membiarkan kau lepas seperti yang dilakukan gadis dungu itu."


Xue Zhan melihat topeng di wajah lelaki itu dan baru menyadari ancaman yang sejak awal mengintai dirinya.


Taring Merah menyelusup ke dalam Ujian Pendekar Menengah dan menyerang di balik kegelapan, memanfaatkan kesempatan ini untuk membunuhnya dengan memakai dalih dirinya tewas saat mengikuti ujian tersebut. Lebih masuk akal daripada harus berurusan dengan Kekaisaran Diqiu secara langsung.


"Sudah tahu situasi yang sedang kau hadapi?"


Xue Zhan bersiap ketika laki-laki itu mulai angkat senjata, memerhatikan sekeliling dan mendapati pedangnya diletakkan di ruang depan. Tombak Suci milik lelaki bernama Lan Shuiyang berputar-putar di atas kepalanya, waktu semakin mencekik, Xue Zhan menggunakan jurusnya.


"Tarian Pedang Angin."


Lingkaran angin tipis berputar di kaki kursi, angin tajam memotong tali-tali yang mengikat tubuhnya. Xue Zhan berguling di lantai dan menghindar ketika puing-puing kursi kayu terbelah oleh hantaman Lan Shuiyang. Musuh menatapnya dan hendak menangkap, Xue Zhan berlari secepat mungkin sesekali melihat ke belakang di mana lawannya terus memutar senjata dan menjatuhkannya ke lantai yang langsung membuatnya terbelah beberapa meter.


"Berlarilah seperti pengecut! Hahahah!"


Xue Zhan tiba-tiba berhenti, decitan tapak kakinya terdengar cukup lama dan tangannya segera menggenggam pedang miliknya.


"Hei, kau tahu? Di luar sana orang-orang mulai mencari kepala, mata, tangan, tanduk, darah dan semua organ tubuhmu. Kau menjadi bahan perdagangan yang sedang diperebutkan. Tapi tenang saja, aku tak akan membiarkanmu menderita karena aku akan langsung menghabisimu di sini!"


Xue Zhan berniat menangkis tapi hantaman keras itu membuat tubuhnya terpental menabrak pilar ruangan, dia menghindar ke kiri dengan cepat karena tombak musuh datang dan nyaris memotong kepalanya menjadi dua bagian.


Xue Zhan enggan memikirkan omongan lelaki itu, dia fokus pada pertarungan karena bukan tidak mungkin dia tak akan selamat. Gadis kemarin saja membuatnya babak belur tiada ampun. Kali ini Xue Zhan tidak akan ceroboh dan menggunakan kewaspadaan tertinggi.


"Tidak akan kuperlihatkan celahku."


Lawan membuka topengnya karena gerah juga pandangannya menjadi terbatas hanya melihat lewat lubang kecil. Xue Zhan bisa melihat wajah laki-laki paruh baya itu.


Dengan pedang yang masih disarungkan Xue Zhan menangkis serangan satu per satu, mengikuti tempo pertarungan lawan yang cepat dan berbahaya.


Lan Shuiyang memasukkan serangan dari arah bahu, dada, pinggang dan kaki. Xue Zhan melompat tinggi, menghindari semua serangan dengan konsentrasi tertingginya. Setelah melihat pertarungan pemuda itu dan gadis sebelumnya perbedaan besar terasa. Kali ini Xue Zhan lebih siap dan mungkin sudah mempersiapkan diri untuk pertarungan ini kembali.


Terdengar tidak begitu efektif tapi Lan Shuiyang masih percaya diri, Xue Zhan bukanlah lawan sepadan untuknya. Kaki Lan Shuiyang menendang satu kursi ke atas dan menendangnya ke arah Xue Zhan yang masih melompat di udara.


Kursi itu terbelah dua. Lan Shuiyang memekik girang sekaligus membabi buta, mengeluarkan serangan beruntun yang tidak masuk akal hingga Xue Zhan mulai kewalahan menangani.


"Mata itu akan menjadi milikku! Mata yang indah itu ... Lebih indah kalau dipasangkan untukku!"


Rupanya itu tujuan laki-laki itu, yaitu mata Xue Zhan. Tidak bisa dibohongi bahwa kemampuan mata Xue Zhan dua kali lebih hebat dari mata manusia. Ketajamannya begitu membantu dalam pertarungan mana pun. Itulah yang diidamkan Lan Shuiyang. Bukan hanya matanya, tapi semua hal yang Xue Zhan miliki.


Di tengah serangan bertubi-tubi Xue Zhan berhasil menghunuskan pedangnya ke mulut musuh, pedang itu terlepas dari sarungnya ketika Lan Shuiyang menggigit dan membuang ke samping.


Terlihat bilah tajam pedang yang menawan di tangan Xue Zhan.


Lan Shuiyang mendecih, "Pedang itu tidak buruk juga. Walaupun harganya lebih kecil daripada matamu."


Dia mengejar Xue Zhan yang lari ke lantai satu, langkahnya terhenti sesaat ketika tanpa disadari satu mangkuk besi terlempar ke bagian matanya.


"Biadab!"


Dari samping Lan Shuiyang menebaskan tombak panjangnya, membelah tiang ruangan seperti kertas dan seketika atap berderak akan runtuh jika pertarungan dilanjutkan. namun nampaknya Lan Shuiyang tidak peduli, langkahnya maju menyudutkan Xue Zhan. Kayu tombak menahan lurus pedang Xue Zhan, keduanya adu kekuatan.


Xue Zhan termundur sampai ke pembatas di mana dia bisa jatuh dari lantai dua ke bagian tengah lantai satu. Lawan menendangnya begitu saja, Xue Zhan mencoba melemparkan sesuatu tapi gagal mengenai Lan Shuiyang yang sudah lebih dulu melompat ke arahnya dengan mengangkat tombak dan hendak melakukan hal yang sama- membelah tubuh Xue Zhan menjadi dua.


Xue Zhan mendarat di meja panjang dan langsung berguling ke samping, kayu di sampingnya hancur menimbulkan bunyi cukup keras oleh tombak besar milik lawan. Tanpa diduga tangan kekar Lan Shuiyang berhasil menangkap Xue Zhan dan langsung mengangkatnya hingga tidak bisa menapak.


"Mudah sekali menangkap satu tikus sepertimu."


Xue Zhan yang tadi berusaha melepaskan cengkraman tangan musuh tiba-tiba menunjuk ke atas.


Lan Shuiyang lantas kaget melepaskannya dan mengeluarkan pedang, besi yang digantung menggunakan kawat tipis jatuh menimpa ke arahnya.


Lan Shuiyang terkena sebagian dan meja tempatnya berdiri tak berbentuk lagi. Xue Zhan terbatuk-batuk, cengkraman bertenaga tadi membuatnya tak bisa bernapas sampai beberapa detik.


Lan Shuiyang baru teringat saat dia turun dan mengayunkan tombaknya Xue Zhan melempar senjata tajam kecil sejenis cakram, sengaja tidak mengenainya sebagai pengecoh dan rupanya digunakan untuk memutuskan kawat besi yang tergantung di atas mereka.


"Lain kali tidak akan kubiarkan kau lolos, bocah cerdik." Kata-katanya menyiratkan ancaman, dia menyingkirkan darah yang keluar dari sudut bibir, pertarungan ini semakin menarik baginya.