Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 156 - Musuh yang Sepadan


Xue Zhan dan musuhnya saling berhadapan, mengukur satu sama lain dengan pandangan tajam. Mereka bergerak cepat, memulai serangan dengan tangkas. Musuh menggerakkan pedangnya dengan gesit, mencoba untuk menyerang lawan sekuat tenaga tenaga. Sementara Xue Zhan menyiapkan serangan kejutan untuk menyambut di saat lawan berada di dekatnya.


Xue Zhan mengepalkan tinjunya, bersiap untuk menghadapi musuhnya. Dia memperhatikan gerakan lawannya dengan cermat, mencoba mencari celah untuk menyerang.


Sementara itu, musuhnya mulai menggerakkan pedangnya dengan kecepatan tinggi dan sulit terbaca. Dia bergerak maju, mencoba untuk menghantam Xue Zhan dengan kekuatan penuh. Namun sayangnya Xue Zhan tidak terpengaruh. Dia dengan mudah menghindari serangan itu dan dengan cepat melancarkan serangan balik.


Xue Zhan mengayunkan pedangnya mencoba untuk mengenai musuhnya. Namun lagi-lagi musuh bisa menghindari serangan itu dengan gesit. Dia terus bergerak maju, mencoba untuk menyerang Xue Zhan dari samping. Xue Zhan segera mengambil langkah mundur dan dengan cepat menyiapkan serangan kejutan.


Musuhnya tidak memiliki waktu untuk bereaksi. Dia terkejut saat merasakan pedang Xue Zhan berbelok tajam hampir menyentuh tubuhnya. Dia merasakan angin yang tajam datang merobek lengannya tipis dan dengan cepat mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan berikutnya.


Tampaknya Xue Zhan tidak memberi musuhnya kesempatan untuk pulih. Dia terus menyerang dengan serangan yang cepat tanpa jeda. Musuhnya terus-menerus untuk menghindari serangan itu, tidak percaya akan dipojokkan seperti ini.


"Aku penasaran dari perguruan mana kau berasal."


Xue Zhan mengabaikannya dan tanpa banyak bicara terus menyerang dan menangkis serangan musuh. Namun tetap saja keduanya imbang dan tidak terlihat siapa pemenangnya. Xue Zhan mundur sejenak begitu juga yang dilakukan lawannya.


Xue Zhan menatap musuhnya dengan pandangan yang tajam. Dia tahu bahwa musuhnya tidak akan mengalah begitu saja. musuhnya tidak bergerak dan masih berpikir sama sepertinya, memperhatikan gerakan satu sama lain dengan cermat. Tak lama Xue Zhan kembali mengayunkan pedangnya mengeluarkan sebuah teknik mematikan dari Kitab Phoenix Surgawi,


"Kitab Phoenix Surgawi - Enam Metode Pembunuh."


Getaran dahsyat muncul dari bawah tanah, Xue Zhan melompat di udara hendak mengenai lawan yang langsung menyadari bahaya besar itu dan mengambil jarak sejauh mungkin. Serangan itu hanya mengenai udara, Xue Zhan sudah menebaknya, lawannya sangat lincah dan cepat. Serangan terbuka tak akan mampu mengenainya.


Tiba-tiba, musuhnya melompat ke atas dan muncul dari kepulan asap, dengan cepat mengayunkan pedangnya ke arah Xue Zhan. Xue Zhan terkejut dan tidak memiliki waktu untuk bereaksi. Dia terpojokkan oleh serangan balik yang tidak terduga itu, dan hampir saja terkena pedang musuhnya.


Xue Zhan bergerak mundur beberapa langkah. Namun, musuhnya tidak memberinya kesempatan. Dia terus menyerang Xue Zhan dengan serangan bertubi-tubi mematikan.


Xue Zhan berjuang untuk menghindari setiap serangan itu, tetapi dia semakin terpojokkan. Dia melihat ke sekitarnya, mencari cara untuk mengalahkan musuhnya. Namun, dia tidak melihat celah untuk menyerang.


Xue Zhan memiringkan pedangnya menangkis bilah pedang lawan, Benturan keras terjadi menciptakan percikan bunga api. Dia mengambil langkah maju dan dengan cepat mengayunkan pedangnya ke arah musuhnya. Musuhnya terkejut dan merunduk membiarkan pedang tersebut menyilang di atasnya menembus udara kosong. Musuhnya merespons dengan sangat cepat, menghindari serangan dan membalas dengan menebas Xue Zhan dengan pedangnya. Xue Zhan berhasil menghindari serangan itu dengan bergerak ke belakang, dan kemudian kembali menyerang dengan serangan yang lebih keras. Dia terus menyerang dan menghindari, keduanya nampak seimbang bertarung satu sama lain.


Sementara itu musuh terus menyerang Xue Zhan dengan kecepatan dan kekuatan yang semakin meningkat. Xue Zhan terus bergerak maju dan mundur, mencoba untuk menyerang musuhnya dengan sekuat tenaga namun juga memperhatikan pertahanan diri.


Yang Xue Zhan pahami saat itu, musuh sangat terampil dalam menggunakan pedang. Setiap gerakan pedangnya tampak teratur dan mematikan. Xue Zhan tahu bahwa musuhnya memakai teknik pedang yang sangat rumit dan terorganisir dengan baik. Sulit untuk menemukan celah darinya.


Dia terus berusaha dan bergerak dengan lincah, mengikuti setiap gerakan musuhnya. Setelah beberapa saat, Xue Zhan berhasil menemukan celah dan melancarkan serangan yang berhasil mengenai musuhnya meski tidak fatal.


Pertarungan antara Xue Zhan dan musuhnya terus berlanjut dengan intensitas yang semakin meningkat. Keduanya saling serang dan bertahan. Darah terus mengalir di wajah, pedang, dan pakaian mereka, menciptakan suasana yang semakin mencekam.


Dalam satu serangan tendangan yang kuat, Xue Zhan berhasil menghempaskan musuh hingga menabrak dinding dengan sangat keras.


Setelah Xue Zhan menendang musuh hingga terlempar keluar, bangunan tua itu menjadi berantakan. Debu dan asap mengepul dari runtuhan dinding kayu dan genteng yang roboh. Orang-orang yang tadinya merayakan festival kini panik dan berusaha untuk menyelamatkan diri. Beberapa di antaranya terjatuh dan terinjak-injak oleh kerumunan yang berlari. Ada yang menjerit ketakutan, sementara yang lain berusaha untuk menenangkan diri dan mencari jalan keluar dari kerumunan yang semakin membesar.


Di tengah kekacauan itu, Xue Zhan berdiri dengan napas tersengal-sengal. Dia mengamati musuhnya yang kini bangkit kembali dan kembali menyerang dengan pedang merahnya yang memancarkan cahaya putih. Dia melompat dan meluncurkan serangan pedang yang cepat dan mematikan.


Tapi musuhnya terlalu tangkas dan berhasil menghindari serangan itu dengan gesit. Keduanya saling menyerang dan bertahan tanpa keinginan untuk memberi jeda. Pertarungan mematikan terjadi begitu saja dan mulai merambah ke tempat-tempat yang dipenuhi pengunjung.


Xue Zhan tidak bisa menghentikannya, orang ini sangat kuat dan sepadan dengannya. Secara mengejutkan pula, keduanya seperti sama-sama memahami gaya bertarung masing-masing. Kengerian dalam pertarungan itu membuat kerumunan semakin takut dan berusaha menjauh dari sana.


Musuh membalas balik serangannya dengan terjangan tak terduga, walaupun serangan lurus itu terlihat sangat jelas, Xue Zhan tetap tidak bisa menghindarinya. Sebaliknya Xue Zhan menggunakan teknik pedang yang berlawanan dengan musuhnya, menciptakan kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan dan menghasilkan dentuman keras saat dua pedang bertabrakan. Keduanya memiliki kekuatan yang seimbang dan terus saling serang dengan taktik dan teknik masing-masing.


"Sepertinya akan sulit menentukan siapa pemenangnya." Terdengar gumam yang kecil dari mulut musuhnya.


Ketika keduanya menahan serangan masing-masing lawan, keduanya dapat melihat lebih dekat musuh di hadapan mereka saat ini.


"Kau menutupi identitasmu seperti pengecut."


Xue Zhan membalas sengit. "Kau sedang mengatai dirimu sendiri?"


"Heh." Dia mendecih sinis. "Sebenarnya aku penasaran tentang siapa kau, kau bisa bertarung setara denganku. Sangat sulit menemukan musuh yang bisa membaca alur seranganku dengan secepat ini, padahal ini kali pertamanya kita bertarung."


"Sayangnya aku sama sekali tidak tertarik memperlihatkannya padamu, sialan."


Musuh tertawa singkat. "Anggap saja sebuah kehormatan kau bisa mati dengan pedang yang telah memakan ribuan nyawa ini." Nada bicaranya terdengar congkak, namun nampaknya dia tidak sedang membual. Xue Zhan bisa merasakannya. Pedang itu memiliki hawa berbeda.