Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 228 - Pusaka Matahari


"aku akan membunuhnya! Biarkan aku pergi dan mencari orang itu, sialan!"


"Ssst."


Suara itu seketika menghentikan teriakan melengking tadi, gema di dalam ruangan serupa aula itu terasa mencekam untuk beberapa detik.


Puluhan pasukan yang berkumpul menunduk hormat kepada sang ketua, namun salah satu dari mereka nampak tidak terima dengan apa yang terjadi dan memaksa untuk meninggalkan tugasnya di hari yang penting itu.


"Guruku tewas karena orang itu, aku harus membunuhnya-!" Tangannya yang mencengkram sebuah perhiasan es seindah berlian gemetar hebat. Tangisnya mulai terdengar di sela-sela nada bicaranya yang bergetar.


"Kau lupa kenapa Gurumu membawamu ke sini?" Laki-laki itu mempertegas kalimatnya, "jika kau lupa biar aku ingatkan sekali lagi, hidupmu untuk mematuhi ku dan menjalankan semua perintahku. Kau telah selamat dari kobaran api saat itu, berpikirlah untuk membalas kebaikan gurumu yang telah menyelamatkan nyawamu dengan mematuhi perintahku."


"Tapi--"


Lelaki itu berjalan menuruni anak-anak tangga kecil dan menuju ke tempat di mana gadis itu berdiri. Dia mengambil pelan Batu Es di tangannya, sesaat gadis itu membeku oleh aura kekuatan dan hawa pembunuh yang mencekik lehernya secara nyata. Dia menelan ludah berat sambil berusaha untuk tetap berdiri meskipun kakinya hampir kehilangan daya.


"Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Taring Merah. Mereka hanya perisai yang menyembunyikan ku dari orang luar. Kau sudah melihatnya sendiri, kan? Tidak satu pun dari anggota ku terbunuh. Sekarang kursi Para Cahaya hanya diisi oleh tiga dari mereka. Taring Merah akan hancur sebentar lagi karena mereka hanya tumbal. Mengapa kau menangisi tumbal yang jelas-jelas akan mati?"


Gadis itu baru tahu semuanya ketika itu juga. Dia berpikir laki-laki itu benar-benar akan membagi hasil atas keuntungan yang didapatkan namun pada kenyataannya sejak awal dia hanya memanfaatkan Taring Merah dan semua pihak yang berkerja sama dengannya demi kepentingannya sendiri. Dengan cara itu dia tetap aman sementara orang lain menjadi korbannya.


Keadaan berbalik dan kenyataan itu membuatnya terkejut tidak habis pikir. Dia tidak pernah menyangka akan melihat pengkhianatan sekeji ini.


Gurunya hanyalah tumbal untuk menghadapi musuh-musuh yang tidak dapat diselesaikan si topeng rubah itu. Begitu pun dengan para Cahaya yang lain.


"Tapi bukankah kau juga bagian dari Taring Merah?" Suaranya serak tenggelam, masih terkejut dengan kebenaran yang dihadirkan di depan matanya.


"Aku memang bagian dari mereka itu dulu. Kursi keempat bukanlah posisi yang kuinginkan. Lebih dari itu ... Aku menginginkan sesuatu yang lebih tinggi dari cahaya."


"Manusia sampah!"


"Kau mengatakan sampah pada orang yang memberikanmu kekuatan?"


Gadis itu mengelak. "Cahaya Pertama yang memberikan ku kekuatan ini."


"Kau tidak bertanya siapa yang menciptakan kekuatan cahaya itu?"


Senyum itu membawa kengerian yang membuat bulu kuduknya merinding.


"Jadi ... Kau ..."


Bibirnya kelu menatap lelaki dengan topeng rubah itu.


"Benar. Aku adalah orang salah dari pendiri Taring Merah. Kau baru mendengar namaku? Heh."


Tawanya yang dingin melebihi dinginnya ubin lantai aula tersebut.


"Aku menciptakan kelompok inti ini untuk tetap bergerak di dalam bayangan. Sementara Taring Merah hanyalah pengalihan. Aku membuat semua rumor yabg mengarah pada Taring Merah, Menara Giok Hantu, Kalajengking Ungu dan kelompok lainnya sehingga semua orang berpikir bahwa kelompok mereka yang menyebabkan masalah. Tak heran mereka diburu habis-habisan oleh pendekar empat Kekaisaran. Selain itu aku bersekutu dengan mereka untuk menemukan semua pusaka yang dibutuhkan. Semua ini sederhana. Namun kalian terlalu mudah diperdaya."


"Sebagai pengendali boneka, aku bergerak di balik tirai. Membiarkan boneka-boneka ku menari di panggung sandiwara dan menyelesaikan alur yang kurancang. Dan sekarang saatnya untuk pertunjukan terakhir. Tentu saja penonton ingin melihat siapa pengendali boneka tersebut dan memberikan tepuk tangan padanya."


"Satu boneka terakhirku akan membuat semua penonton takjub hingga ke alam baka. Bagaimana? Menarik bukan? Sudah pasti kau menanti-nantikan pertunjukan ini, hahahahah!"


Gadis itu tanpa sadar mundur.


Dia sempat mengagumi kemampuan tipu daya laki-laki itu, tapi dia tidak pernah menyangka hari ini dia menjadi korban lelaki topeng rubah itu.


"Kau manusia busuk-"


"Sejak kau setuju bergabung dengan kami kau telah menjadi manusia yang busuk. Berapa banyak yang kau bunuh hingga detik ini? Jangan munafik. Beruntung kau tidak berguna dan hanya menjadi beban kelompok sehingga kau masih hidup."


"Tidak berguna?!" Seru gadis itu melengking. "Aku yang mendapatkan batu itu, kembalikan padaku!! Aku tidak sudi bekerja sama dengan manusia licik seperti mu!"


Laki-laki itu tiba-tiba menghentakan jari telunjuk dan tengahnya ke belakang leher gadis itu. Membuatnya tersentak dan akhirnya diam.


"Ikut denganku."


"Baik, Tuan." Nada bicaranya berubah drastis, tatapan matanya yang kosong terlihat seperti tidak bernyawa. Dia serupa mayat hidup yang berjalan mengikuti lelaki itu. Menuju sebuah tempat yang dilindungi dengan keamanan tingkat tinggi serta ratusan pasukan berzirah tebal dan topeng rubah di wajah mereka. Saat lelaki itu lewat, orang-orang itu menunduk serempak.


Pintu raksasa terbentang di hadapan lelaki itu. Dia mengeluarkan sesuatu yang muncul di tangannya. Kedua batu bersinar, api dan es. Kekaisaran Guang dan Kekaisaran Bing telah jatuh dan kehilangan Batu Elemen Penguasa Bumi mereka.


Senyum seringai merekah di balik topeng tersebut dengan cara yang bengis, pantulan kedua pusaka langit di matanya terlihat. Dengan antusias dia memasuki ruangan besar dengan tinggi melebihi lima puluh meter ke atas saat pintu raksasa terbuka.


"Dengan ini aku tidak membutuhkan senjata tempur lain. Ini adalah yang paling kuat di dunia dan tidak ada yang bisa menandinginya. Kekuatan pusaka matahari ini bisa membalikkan dunia dalam sekejap. Sungguh menakjubkan. Hahaha aku hampir gila membayangkannya, benar-benar senjata tempur terbaik yang pernah ada."


Terlihat monster iblis raksasa yang telah membeku dalam cangkang serupa kristal hitam, empat matanya tertutup dalam waktu yang sangat lama. Namun kekuatan besar dalam tubuhnya tetap terasa meskipun tubuh itu telah lama membeku selama ratusan tahun. Kerangka tulang tercetak jelas di kulit dagingnya yang merah serta tanduk di kedua kepalanya. Kekuatan jahat terasa pekat di ruangan raksasa tersebut.


Dalam posisi bersila, monster itu menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Topeng Rubah mengelilingi kristal hitam raksasa yang sedikit transparan. Pandangannya beralih kepada gadis di belakangnya.


"Hancurkan bagian atas kristal itu secepatnya."


"Mengerti, Tuan." Dia menjawab kaku, lalu setelahnya kekuatan cahaya dengan kekuatan terbesar yang dimilikinya keluar. Lelaki itu memperhatikan seksama saat gadis tersebut melesat di udara sembari mengepalkan tinju.


Tinju itu menghantam bagian tengah kristal di mana bagian mulut monster iblis. Lelaki itu menyusul cepat dan berada di atas jari-jari iblis yang terkungkung cangkang kristal. Dia menunjukkan dua permata langit ke depan wajah monster itu


"Ini yang kau tunggu-tunggu, kan? Aku bisa mendengar suaramu memanggil ku. Mulai sekarang aku adalah Tuanmu dan tugasmu adalah mengikuti perintahku."


Lalu dalam beberapa saat setelahnya, dua dari empat mata makhluk itu terbuka lebar.


"HAHAHAH!"


*


Lelaki Topeng Rubah berdiri di tepi jurang yang menghadap langsung ke arah lembah dengan kabut tebal. Ribuan pengikutnya yang mengenakan Topeng Rubah menyusul bersama derap langkah kaki menggema hingga ke langit.


Salah seorang dari bawahannya mendekat ke pada laki-laki itu dan berbisik.


"Ketua. Dia belum kembali sejak menerima perintah untuk menemukan pendekar topeng putih. Bagaimana ini ketua?"


"Tetap jalankan rencana, ada atau tidaknya dia tak akan mempengaruhi apa pun ... Lagipula aku sudah mendapatkan senjata yang lebih menarik daripada dia." Mata di balik topeng rubah itu menatap ambisius ke depannya. Di mana di balik lembah-lembah itu mereka akan langsung turun ke kota Kekaisaran Guang.


Dunia menertawakannya dan sekarang adalah kesempatannya untuk menertawakan mereka balik. Kepuasan mengisi setiap rongga tubuhnya hingga membuat laki-laki itu begitu bahagia. Hari yang dinantikannya telah tiba. Tidak ada yang lebih baik daripada semua ini.


"Cahaya Pertama mengeluarkan perintah, mereka juga bergerak hari ini. Sekitar dua ratus ribu pasukan telah disiapkan dan sepuluh ribu anggota akan diturunkan." Bisik orang itu lagi.


"Bagus. Tetap pada rencana ku."


***


Kekaisaran Feng mulai terombang-ambing.


Pagi yang berkabut membawa angin buruk yang berhembus melalui celah-celah perumahan. Istana Kaisar tampak sunyi senyap. Lalu dalam detik yang menegangkan terdengar ribuan derap langkah kaki yang menggetarkan tanah dan seluruh tempat.


Kaca-kaca di langit istana bergetar keras. Li Jia Xing duduk di singgasananya dengan menghadap ke barat daya, menatap satu jendela begitu lama sehingga membuat pengawal dan pelayannya ngeri karena tahu ada maksud dari sikap tersebut, ekspresi seriusnya telah berada di sana sejak dua belas jam yang lalu dan kini keseriusan itu menjadi ketakutan besar.


Perang itu kembali datang menyapu seluruh daratan. Tak bisa berbohong, orang setinggi dirinya juga merasakan getaran ketakutan yang membuatnya lemas.


Di luar istana para warga menengadah ke atas langit melihat cuaca mendung yang terlihat aneh. Para wanita mengangkat anak laki-laki mereka untuk segera kembali ke rumah sedangkan para laki-laki bergegas dari pekerjaannya. Semua orang sudah mengetahui kabar tentang perang yang akan kembali berkecamuk dan semuanya tidak terelakkan.


Musuh lama telah datang untuk menyelesaikan perang yang sebelumnya tertunda.


Angin tajam menyapu debu di kota, gemerincing lonceng dari kuil menjadi satu-satunya suara yang memenuhi tempat tersebut. Puluhan orang berdoa dan memohon akan keselamatan mereka dari bencana dan marabahaya sambil menangis dan bersimpuh.


Beberapa warga melarikan diri sejauh mungkin ketika melihat langit gelap yang semakin mendekat.


*


Kekaisaran Diqiu tidak pernah sekacau seperti yang sekarang terjadi. Ratusan murid dengan jubah perguruan berlari tunggang langgang menyelamatkan diri, para warga keluar dari rumah mereka masing-masing demi melihat sebuah fenomena mengerikan yang membuat sekujur tubuh mereka merinding ngeri.


Sekilas dari kejauhan langit terlihat seperti dipenuhi oleh awan hitam pekat yang bergerak mengikuti angin kencang. Namun saat awan itu mendekat baru mereka menyadari bahwa itu adalah ribuan burung gagak yang memenuhi seluruh langit Kekaisaran Diqiu. Semakin dekat kepulan hitam di langit, angin berhembus kian kencang.


Orang-orang berdoa sambil memeluk keluarganya pasrah. Tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka bahkan pemimpin mereka sendiri belum tentu bisa selamat dari malapetaka ini.


Batu Elemen Penguasa Bumi, Batu Es dan Batu Api telah jatuh ke tangan musuh. Apalagi yang bisa membuat mereka berpikir bisa selamat dari perang itu?


*


Pusat Kekaisaran Guang hancur lebur setelah serangan Cahaya Pertama yang meluluh lantakkan seisi kota. Dia sendiri telah menyebabkan kehancuran yang tidak kira-kira dan sampai detik itu masih banyak mayat-mayat sisa pertarungan yang terbaring tak bernyawa di jalanan. Sementara itu para warga berusaha menyelamatkan diri, menginjak mayat-mayat tersebut dan mencari keluarga mereka.


Nasib Kaisar Guang, An Gu Ming dikatakan berakhir naas. Dia dibunuh oleh Cahaya Pertama setelah memberikan Batu Api. Kekacauan terjadi di setiap sudut Kekaisaran Guang dan kericuhan itu seketika sirna saat bayangan gelap raksasa dari atas langit muncul dan membuat semuanya terdiam membisu selama beberapa detik.


"Kiamat sudah ..."


"Kita semua akan mati hari ini-"


"Berhenti bicara, kau menakuti yang lain!"


"Tanpa ku takuti juga semua orang sudah ketakutan, lihatlah di sekelilingmu. Apa semuanya terlihat tenang?!"


Pertengkaran keluar dari mulut-mulut mereka.


Sama halnya seperti yang terjadi di Kekaisaran Bing.


Para laki-laki dan wanita berbaju tebal saling terduduk di atas es yang telah mengeras. Memeluk satu sama lainnya takut kehilangan. Tangis anak kecil menggema dan membuat suasana pilu tak berujung


Sementara itu Kaisar Kekaisaran Bing, Mo Daiyo terlihat panik di kursinya sembari membolak-balikkan setiap lembaran berkas.


Telunjuknya berhenti di satu peta, tepatnya di tempat di mana Kekaisaran Guang berada.


Jika dilihat jelas, Kekaisaran Guang terletak paling pojok di antara tiga Kekaisaran lain. Terdapat satu garis lurus yang dapat melintasi empat Kekaisaran itu secara bersamaan. Mo Daiyo mengabaikan suara-suara di sekitarnya yang meminta tindakannya segera. Dia keluar dan melihat ke arah di mana Kekaisaran Guang seharusnya berada.


Matanya keruhnya membelalak lebar-lebar saat sebuah cahaya merah membelah langit dan daratan menjadi dua.


Jeritan menggema di waktu yang sama bersama dentuman dahsyat yang membuat Mo Daiyo kehilangan keseimbangan dan terjatuh terduduk di atas es. Kedua tangannya gemetar hebat melihat jurang raksasa berapi yang diciptakan oleh cahaya merah itu.


"Itu ... Adalah Pusaka Matahari yang dikatakan. Kekuatan yang dapat membalikkan bumi dalam satu detik." Matanya tidak berkedip sama sekali demi menyaksikan lubang raksasa yang meleleh bersama api di dalamnya. Ketakutan terbesar dalam hidupnya benar-benar terjadi hari ini.


Dunia akan hancur.