Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 147 - Penculikan Yin Jiao


Gadis yang menangis di pinggir sungai itu adalah Yin Jiao. Seorang pemilik kecantikan yang lugu dan juga cerdas yang merupakan cucu dari Kaisar Ziran, penguasa Kekaisaran Diqiu. Meski dirinya selalu hidup dalam kemewahan dan dilatih secara ketat untuk menjadi penerus kekaisaran. Namun, dia memiliki kekurangan yang sering dikatakan sebagai cacat bagi keluarga bangsawan, yaitu luka bakar di keningnya.


Sejak kecil Yin Jiao merasa sangat tertutup dan sering dijauhi karena luka bakar di wajahnya, meski dia selalu menutupi luka tersebut dengan rambutnya yang panjang namun tetap saja ada segelintir orang yang tahu dan menggosipkan dirinya. Dia selalu merasa tidak percaya diri dan seringkali menangis sendirian di pinggir sungai yang ada di halaman istana. Mungkin bagi sebagian orang hal ini bukanlah hal besar, tapi baginya ini adalah masalah terbesar dalam hidupnya.


Karena dalam hal apa pun, Yin Jiao selalu dituntut untuk sempurna.


Dengan datang ke tempat ini Yin Jiao berharap bahwa air yang mengalir di sungai dapat membawa jauh kesedihannya dan memperbaiki luka bakarnya.


Dia begitu mengingat jelas bagaimana dirinya hampir terbakar di dalam kediaman ketika masih kecil karena ada orang yang ingin membunuhnya. Bukan hal aneh lagi ketika anggota keluarga penting sepertinya diburu dan dijadikan sasaran pembunuhan. Saat itu Yin Jiao tidak bisa mempertahankan diri dan hanya bisa menangis di dalam kobaran api sambil menangis meminta pertolongan. Tidak ada pengawal yang selalu bersamanya dan bahkan pelayannya, semua pergi entah ke mana. Yin Jiao berpikir bahwa dia telah mati hari itu. Namun tidak disangka, dirinya berhasil diselamatkan meski mengalami luka bakar di keningnya.


Namun, ada satu hal yang selalu menjadi misteri bagi Yin Jiao hingga saat ini. Saat ia hampir mati terbakar, ada sosok anak kecil laki-laki yang misterius yang menyelamatkannya dan membawanya keluar dari ruangan yang terbakar. Sayangnya, api begitu cepat merebak dan dia tidak bisa melihat wajahnya dan bahkan tau siapa nama anak laki-laki itu. anak itu seakan lenyap begitu saja di dalam kobaran api setelah menyelamatkan Yin Jiao.


Sejak kejadian itu, Yin Jiao selalu merasa berhutang budi pada anak kecil yang telah menyelamatkannya. Dia merasa harus mencari tahu siapa anak tersebut dan berterima kasih secara langsung. Namun, mencari sosok anak kecil tersebut bukanlah hal yang mudah, apalagi setelah bertahun-tahun berlalu. Yin Jiao mencoba bertanya pada setiap orang yang dikenalnya, mencari informasi tentang siapa anak kecil tersebut, tetapi tidak ada yang mengetahui tentang keberadaannya. Bahkan yang orang-orang ketahui hari itu, Yin Jiao berhasil selamat dengan kemampuannya sendiri.


Tidak ada yang melihat siapa pun yang selamat dari ruangan tersebut selain hanya Yin Jiao.


"... Menurutmu jika kau mengalami hal yang sama sepertiku, apakah kau akan mencari siapa orang yang pernah menyelamatkanmu dulu? Aku selalu merasa seperti aku harus berterima kasih padanya."


"Tapi bukankah karena bocah laki-laki itu kau mendapatkan luka bakar itu? Dia mendorongmu hingga ke dinding dan bersamaan dengan itu sebuah kayu panas jatuh di atas kepalamu."


Yin Jiao membuka matanya, "Ba-bagaimana kau bisa tahu-?"


"Ha?" Xue Zhan menggaruk belakang lehernya dengan bingung, "Bukankah tadi kau sudah menceritakannya?"


"Benarkah ... Ah, sepertinya aku lupa." Yin Jiao tertawa canggung. Dia kembali mengarahkan pandangannya pada sosok pemuda yang berdiri di ujung jembatan sembari menikmati alunan irama air sungai yang begitu menenangkan. Yin Jiao juga menyukai hal itu, ketika di dalam kesendiriannya alam mencoba menghiburnya dengan irama indah dari angin dan air.


Yin Jiao juga tidak tahu mengapa dia sampai menceritakan semua hal tentang dirinya pada orang yang bahkan baru ditemuinya kurang dari satu jam tersebut. Sosok itu hanya bertanya, apakah dia baik-baik, sekarang Yin Jiao menyesal mengapa dirinya terlalu terbuka dengan orang asing. Dia mulai menyadari hal itu dan berniat pergi secepat mungkin sambil menahan rasa malu.


Sebelum dia pergi pemuda itu mengatakan sesuatu.


Yin Jiao yang sedang berlari setengah perjalanan terhenti sejenak, langkahnya terjeda dan kedua matanya berusaha menoleh kembali ke belakang.


Saat dia berbalik badan sosok pemuda bertopeng putih itu telah menghilang. Gelombang kecil di permukaan sungai muncul hingga akhirnya menghilang bersama sosok misterius tersebut, Yin Jiao menahan napas dan mulai mengutuk diri.


'Kenapa aku selalu lupa bertanya nama seseorang?'


Padahal dia punya waktu banyak bercerita panjang lebar tapi untuk mengetahui nama pemuda itu saja dirinya bisa sampai lupa. Yin Jiao mendecak, masih mencari ke sekeliling siapa tahu pemuda itu masih ada di sana. Hasilnya nihil, hanya ada dirinya sendiri di sana.


Untuk sesaat Yin Jiao berpikir sejenak, orang-orang yang berada di tempat ini pastinya bukan sembarang orang. Pemuda itu terlihat asing di matanya, lantas mungkin saja dia adalah tamu Kekaisaran lain. Itu lebih masuk di akal.


"Kalau benar dia adalah tamu bukankah dia akan menghadiri upacara Kelahiran Dewi Angin tiga hari lagi?" pikirnya. Yin Jiao menggeleng-gelengkan kepala.


"Kenapa aku jadi penasaran begini, tidak boleh, tidak boleh. Aku harus fokus berlatih lebih keras. Lagipula aku-"


Sedetik kemudian Yin Jiao berubah pikiran. "Sebaiknya aku datang saja."


Dia melanjutkan perjalanan kembali ke kediaman pribadinya, Yin Jiao terlalu sibuk memikirkan banyak hal sampai tidak menyangka bahwa saat itu dia sedang diikuti oleh sekelompok penjahat dengan wajah tertutup topeng.


Satu jam menjelang sore, Kaisar Ziran dikejutkan oleh sebuah kabar dari prajurit yang mengatakan bahwa Yin Jiao menghilang saat sedang berada di tepi sungai. Di tempat itu terlihat bekas pertarungan sengit, Yin Jiao berusaha mempertahankan diri dan berhasil membunuh dua pria yang seluruh pakaian dan benda berisi informasi telah dilucuti sehingga tidak bisa diselediki. Tidak ada yang bisa menebak siapa gerangan yang menjadi dalang di balik ini semua.


Akhir-akhir ini penyusup merajalela, Kaisar Ziran gusar dan air mukanya langsung keruh bercampur panik. Cucu kesayangannya sedang berada dalam bahaya, seorang penyelidik mengatakan bahwa gadis itu mengalami luka berat akibat pertarungan. Kemungkinan dia dikeroyok tujuh sampai sepuluh orang sekaligus.


Ziran Zhao memerintahkan seluruh prajurit untuk menemukan Yin Jiao segera. Seluruh prajurit berbaris untuk menerima arahan darinya.


"Berpencar dan cari tahu siapa penculik ini, selamatkan Yin Jiao secepat mungkin!"