
Perjamuan makan malam telah usai, Xue Zhan mengikuti Kaisar Li yang membawanya ke sebuah tempat tersembunyi dari Istana Kekaisaran Feng.
Xue Zhan tidak pernah menyangka ada sisi lain dari istana Kekaisaran Feng dengan nuansa yang bertolak belakang dari lain. Sebuah ruangan bernuansa biru laut dihiasi gantungan kerang serta permadani indah yang membuat kesan laut semakin terasa.
Li Jia Xing begitu menyukai laut, karena itu dia mendirikan ruangan pribadi untuk bersantai dan sering mengundang tamunya untuk berbicara di sana.
"Ruangan yang cukup cantik, bukan begitu?"
"Bukan cantik," sangkal Xue Zhan, membuat wanita itu berbalik badan. "Tapi sangat cantik."
Senyum terukir di bibir merah wanita itu, "duduklah."
Xue Zhan mengikuti perintah itu, beberapa pelayan gadis datang membawa minuman serta makanan di atas meja.
"Santai saja, aku hanya mengajakmu untuk mengobrol ringan."
Tapi ketika Li Jia Xing melihatnya, Xue Zhan sama sekali tidak terlihat gugup. Malah masih sibuk memerhatikan setiap inci ruangan tersebut-dia tidak pernah melihatnya dan agak terlihat kampungan. Sesaat terdengar tawa kecil dari Li Jia Xing.
"Kau sangat menyukainya?"
Xue Zhan tertegun dan menyadari, "Ahahaha, kebetulan aku jarang melihat laut. Apalagi melihat pernak-pernik seperti ini. Tidak pernah lihat sama sekali."
"Bagaimana dengan latihanmu?"
Xue Zhan menjawab antusias, "Guru mengajarkan banyak hal padaku, tapi sayangnya aku baru benar-benar menguasai satu jurus dan sedang berlatih untuk menyempurnakan jurus kedua."
"Boleh aku memeriksa kekuatanmu?"
Sesaat Xue Zhan menjawab. "Tentu saja."
Dia tidak pernah memeriksanya lagi. Ada begitu banyak misi dan latihan yang harus terus diikutinya sebagai pendekar pemula. Bahkan teman seangkatannya beberapa mengundurkan diri dan lebih memilih meneruskan kehidupan biasa dibandingkan menjadi pendekar.
Tangan nan lentik itu menempel pada denyut nadi Xue Zhan, Li Jia Xing menutup mata, merasakan kekuatan dari dalam tubuh Xue Zhan.
Gerbang I telah terbuka, itu seharusnya sudah wajar mengingat pendekar pemula minimal memiliki 0-3 lingkaran tenaga dalam. Wanita itu mulai melihat lingkaran itu.
"Tunggu. Enam lingkaran-?!" Li Jia Xing terkejut bukan main.
Kang Jian mengatakannya sendiri bahwa Xue Zhan baru membuka dua lingkaran pertama dua bulan yang lalu. Tapi bagaimana bisa lelaki jenius itu salah membacanya? Menaikkan satu tingkat lingkaran membutuhkan jerih payah yang tidak main-main, bahkan ada yang menyebutnya dengan kalimat bermandikan keringat darah.
Itu baru permulaan saja, belum ketika membuka dua gerbang setelahnya untuk mencapai tahap Pendekar Atas dan Elite.
Enam lingkaran yang dimiliki Xue Zhan saat ini sudah lebih dari cukup untuk menjadikannya sebagai Pendekar Menengah dan seharusnya dia akan membuka gerbang kedua yang disebut dengan Gerbang Darah.
"Mungkin Yang Mulia salah lihat. Guru mengatakan aku baru membuka dua. Karena itu aku harus lebih banyak latihan."
Li Jia Xing tertawa pahit, "Hahaha mungkin benar yang kau katakan," balasnya. Dia sepertinya mulai mengerti jalan pikir Kang Jian. Lelaki itu secara tak langsung memacu Xue Zhan untuk berlatih lebih keras dengan membohonginya hanya memiliki dua lingkaran tenaga dalam.
Namun kekuatan sebesar itu akan tak akan seimbang jika dia memiliki pengalaman dan keterampilan bertarung tak sebanding. Karena itu membawanya langsung ke medan tempur adalah cara yang tepat untuk membuatnya berkembang.
Li Jia Xing mengubah topik pembicaraan.
"Perlu kau ketahui bahwa Guru dari Kang Jian adalah sahabat lamaku. Aku begitu mengenal gurumu dan menganggapnya sama seperti muridku. Saat tahu dia mengangkat murid untuk pertama kali, aku sangat terkejut." Dia berkata dengan jujur, "awalnya aku sempat khawatir. Tapi sepertinya semua itu keliru. Kau mengingatkanku pada seseorang yang datang beberapa puluh tahun lalu. Wajah kalian begitu mirip. Dia membawa kedamaian di tanah kami di saat krisis sedang menghadang."
Xue Zhan menanggapinya dengan takjub. "Wah pasti kebetulan. Dia orang yang seperti apa?"
"Sangat berwibawa tapi ramah di waktu bersamaan. Aku melihat wujud seorang pahlawan pertama kali dari dirinya."
"Aku pernah menawarkan sebuah hadiah pedang padanya dan dia menolak."
Sebuah kotak persegi panjang hitam diletakkan di atas meja. Xue Zhan takjub ketika melihat tatahan permata hijau bertabur di atasnya bagaikan bintang di langit malam. Wanita itu membuka tutup kotak, menampakkan sebuah pedang yang dibalut oleh kain putih.
Tampak indah berkilau, tipis namun juga berbobot, setiap inci benda tersebut dibuat dengan teliti oleh ahli pedang terbaik Kekaisaran Feng yang telah wafat.
"Maukah kau menerimanya? Anggap saja pemberian dari seorang Guru dari Gurumu sendiri."
Xue Zhan tidak sampai hati menolak. Apalagi setelah mendengar cerita Li Jia Xing.
"Dengan senang hati Yang Mulia. Hadiah ini sangat berharga bagiku. Aku akan merawatnya sebaik mungkin."
"Syukurlah, kau bisa kembali sekarang jika kau mau. Atau ingin melihat-lihat ruangan ini terlebih dahulu?"
"Jika Yang Mulia mengizinkan," jawab Xue Zhan lantas mengundang senyum tipis di wajah Li Jia Xing. Wanita itu ternyata sosok yang ramah dan hangat-tentu ketika sudah mengenalnya. Mereka berbincang-bincang lebih jauh lagi, tentang Kekaisaran Feng dan Kekaisaran Diqiu. Bahkan sempat menyinggung soal Ujian Pendekar Menengah yang akan dilangsungkan tak lama lagi.
Li Jia Xing menjelaskan, "Ujian Pendekar Menengah lebih meriah daripada Ujian Pendekar Pemula."
Dia meneruskannya.
"Ujian Pendekar Menengah akan dilangsungkan di satu Kekaisaran dan dihadiri oleh ribuan perwakilan dari Kekaisaran lain. Tentu tujuannya untuk mempererat hubungan di antara keempat kekaisaran juga agar para pendekar muda mengenal rekan mereka dari belahan wilayah lain. Seleksinya jauh lebih ketat. Kau harus tahu akan hal itu," ujarnya panjang lebar. Dia menekankan satu hal.
"Kekuatanmu yang sekarang belum tentu mampu menandingi peserta dari Kekaisaran lain yang begitu hebat. Contohnya pendekar dari Kekaisaran Bing, Nona Yun Mei si Pengendali Es termuda dan terbaik sepanjang seratus tahun terakhir. Aku dengar dia akan ikut serta. Ujian Pendekar Menengah kali ini sangat ditunggu-tunggu."
"Bagaimana dengan Kekaisaran Feng? Aku yakin ada seseorang yang menandingi kekuatan Nona Yun Mei itu,"
"Aku sendiri tidak yakin ..." Tawanya berderai, "Tapi ada satu calon yang mungkin setara dengannya. Jauh lebih muda dari Nona Yun dan dirimu. Jenis kekuatannya juga adalah yang paling langka."
"Siapa dia?"
"Xiao Rong."
Xue Zhan akan mengingat dua nama itu. Yun Mei dan Xiao Rong, untuk murid jenius dari Kekaisaran Diqiu sendiri dia sudah tahu siapa. Antara cucu Kaisar Ziran atau Jiazhen Yan. Keduanya sama-sama hebat.
"Kau akan kembali besok, kan? Sebaiknya kau tidur cepat. Perjalanan pulang juga melelahkan."
"Apa Badai Dewi Angin juga akan mengejar kami?"
"Kemungkinan, aku tidak bisa menjamin."
Xue Zhan ingin mengutarakan pertanyaan, tapi dia sendiri bingung harus bertanya bagaimana.
"Yang Mulia, apa Anda pernah melihat seorang gadis kecil di perbatasan Kekaisaran Feng? Dia seperti peri angin yang tidak bersayap-"
Li Jia Xing sempat berhenti berjalan, berpikir sejenak, "Ah, kau juga mencari tahu mitos di Kekaisaran Feng, ya? Apa Kang Jian yang memberitahu?"
Xue Zhan tambah kebingungan.
"Aku juga sejak dulu ingin melihat peri angin itu, seumur hidup aku tidak pernah melihatnya dan hanya mendengar dongengnya dari leluhur kami."
"Begitu ya."
Entah yang dilihatnya benar-benar peri angin atau dirinya sedang berhalusinasi saat itu, Xue Zhan mengenyahkan pikiran tersebut. Pamit pada Kaisar Li dan kembali ke kamarnya.