
Darah mengucur dari keningnya hingga memasuki mata pemuda itu, ketika dia mengangkat wajah dan menatap ke arah lawan, sosok itu membeku. Meski hanya melihat kedua bola mata itu lewat lubang topeng namun sangat terasa tekanan besar dari tubuhnya. Jauh berbeda dari yang sebelumnya dan itu membuatnya seperti terancam.
Xue Zhan sedikit menunduk. Lalu dalam sedetik kemudian hempasan dahysat terjadi.
Gelombang angin besar muncul di sekitar tubuhnya, Xue Zhan mengumpulkan seluruh kekuatannya pada telapak tangan dalam waktu yang begitu cepat dan sulit untuk diikuti oleh lawan.
"Tapak Dewa Penghancur!"
Gerakan ke-99 dari seratus gerakan dasar dari Gunung Pohon Seribu itu membuat semua orang terkejut bukan main, bahkan seorang Pedang Suci seperti Prajurit Naga sampai terhenyak mendapati serangan mematikan itu melintas di area yang dijaganya. Penuh tenaga dan merupakan teknik tingkat tinggi yang tidak semua orang dapat menguasainya.
Terjangan kencang itu mengenai si topeng iblis dengan telak. Tapak Dewa Penghancur menyerbunya dari arah depan dan mementalkan tubuhnya begitu keras di dinding sebuah menara besar. Hampir semua orang tercengang ketika melihat angin besar itu mencetak sebuah telapak tangan raksasa di dinding menara.
"A-apa itu? Kekuatan yang sangat menakutkan ..."
"Bu-bukankah itu salah satu teknik terakhir dari 100 gerakan dasar Perguruan Gunung Pohon Seribu? Bagaimana mungkin ... Perguruan itu sudah jatuh 20 tahun lamanya!"
"Dia tidak bercanda, 'kan? Jangan-jangan dia adalah seorang tetua dari Perguruan Gunung Pohon Seribu yang telah dibangkitkan. Melihat kekuatannya sampai sebesar ini ... "
Satu per satu dugaan melayang tiada hentinya. Mereka sudah berada dalam situasi aman setelah Pedang Suci turun tangan dan kini hanya menyisakan sisa pertarungan. Satu-satunya musuh yang tersisa hanyalah Topeng Iblis sendirian. Pedang Suci mulai mendekat untuk melihat siapa pahlawan yang sedang bertarung melawan sang musuh sendirian.
Para Pedang Suci saling menatap. Tidak satu pun dari mereka mengenal pemuda dengan topeng putih itu. Bahkan setelah mengenali kekuatan dalam tubuhnya sekalipun, mereka tetap tidak dapat menebak siapa sosok tersebut. Xue Zhan tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri semula. Lalu kembali muncul di hadapan si topeng iblis.
Pemuda itu menarik kerah jubah lawan.
"Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau melakukan semua ini? Apa yang sebenarnya kalian incar?!"
"Aku? Aku yang melakukan semua ini?" Sejenak terdengar tawa miris. "Aku hanya menjalankan perintah atasan. Kenapa melakukan ini semua? Bukankah semua manusia sama saja? Membalaskan dendam untuk menenangkan kebencian di dalam hatinya? Jangan berpura-pura suci, aku yakin kau juga pernah berpikir sama seperti ku. Membalaskan dendam untuk semua ketidakadilan yang kau rasakan."
Dia menangkis tangan Xue Zhan dan berjalan ke hadapan para Pedang Suci.
"Kalian menyebut diri kalian penegak keadilan? Cuih! Binatang berjubah emas, biadab yang berpura-pura punya tata krama! Bukannya lebih baik kalian lepaskan jubah dan gelar itu dan masuk ke hutan, berburu dan saling membunuh di alam rimba. Keluarkan sifat asli kalian, jangan ditahan-tahan, hahahah!"
"Kau-!" seru Rimba Merah sambil menunjuk si topeng iblis dengan geram, dia adalah Pedang Suci ketujuh.
Xue Zhan tetap tidak peduli, dia telah membunuh orang yang tidak terlibat sama sekali dalam semua ini, maka tidak ada ampunan baginya. Satu tinju menghantam topeng pemuda itu, Xue Zhan melepaskan kedua kali, ketiga dan sampai ke empat. Dia tidak melawan.
"Jika kau membenci satu orang, jangan libatkan seratus orang lainnya ke dalam dendam pribadimu itu!" sentak Xue Zhan, masih meninju topeng iblis yang mulai retak di pinggir.
"Aku membenci semua hal di dunia ini! Peduli apa kau?! Mereka merenggut banyak hal yang kupunya. Memang kau tahu apa yang kurasakan? Kenapa kau sangat menyebalkan seperti kau tahu semua apa yang kualami? Mati saja sana!"
Satu tinju berikutnya membuat pemuda itu terbaring di atas tanah, Xue Zhan duduk di dadanya dan lebih leluasa untuk menghabisi orang itu.
"Jika ada yang harus disalahkan itu adalah kau sendiri yang tidak berguna, kenapa kau tidak bisa melindunginya sendirian dan malah merengek ketakutan saat bahaya mengambilnya darimu? Salahkan dirimu yang lemah itu, baj*ngan!!"
Teriakan itu menjadi tontonan semua orang yang menyaksikan pertengkaran keduanya. Xiang Yi Bai juga termasuk di antara penonton itu. Melihat muridnya berteriak tidak seperti biasanya, dia benar-benar meluapkan amarahnya. Xue Zhan bukan berteriak pada musuhnya melainkan pada dirinya sendiri. Semua kata-kata itu adalah kata-kata yang selalu dia ulangi pada dirinya sendiri.
"Kau ..." Suara si topeng iblis berubah. "... Mengingatkanku pada seseorang ..."
Tinju terakhir berhasil meretakkan bagian samping topeng iblis, Xue Zhan melihat sebuah anting bergantung di telinga pemuda itu. Anting sebening berlian dan bercahaya terang dengan pantulan yang amat indah. Dia sempat terbungkam untuk beberapa detik.
"Permata itu ...?"
Karena sangat terkejut Xue Zhan sampai kehilangan kata-katanya, di saat yang sama Pedang Suci maju dan mulai melepaskan berbagai serangan untuk menangkap pemuda itu. Satu-satunya sumber informasi yang bisa mereka korek untuk mendapatkan penjelasan atas semua penyerangan malam ini.
Tentu saja penyerangan di malam Festival Kelahiran Dewi Angin adalah insiden paling fatal yang pernah terjadi di Kekaisaran Diqiu dalam 10 tahun terakhir. ratusan nyawa melayang dan puluhan bangunan hancur terbakar. Kerugian yang amat besar ini akan menjadi perbincangan di seluruh penjuru.
Lagi-lagi Taring Merah menunjukkan taringnya setelah beberapa lama tidak menunjukkan pergerakan, dilihat dari topeng para mayat hidup itu, mereka semua mengenakan topeng silang merah. Sudah jelas siapa pelakunya. Namun masih dibutuhkan informasi yang lebih akurat. Tapi bisa diakui, datang sendirian dengan hanya membawa 200 pasukan adalah tindakan gila, identitas si topeng iblis itu perlu diungkap. Mungkin saja dia adalah salah satu petinggi Taring Merah.
Ancaman dari berbagai sisi membuat si topeng iblis terancam dan langsung ambil tindakan. Dia tidak mungkin bisa lepas dari delapan Pedang Suci sekaligus.
Dengan keadaan penuh luka si topeng iblis melarikan diri.
Para Pedang Suci mengejar orang itu, dia lewat begitu saja di sebelah Xue Zhan yang hanya terdiam.
Padahal saat itu Pedang Suci berharap Xue Zhan menangkap musuh, tapi yang justru dia lakukan adalah membiarkannya pergi. Hal itu sempat membuat yang lain terkejut dan mau tak mau mengejar musuh yang telah menjauh.
Xiang Yi Bai mendekat ke arah Xue Zhan sambil menyodorkan kertas berisi kacang polong.
"Oh, jadi linglung. Kesurupan apa kau sampai diam mematung begitu?"
Xue Zhan menoleh ke arahnya perlahan-lahan. "Aku seperti mengenalnya sangat dekat."
"Oh! Itu gejala penyakit!" Dia menepuk pundak muridnya sampai hampir terjungkal.
"A-apa? Penyakit? Jadi, dugaanku salah?"
"Aku sudah hidup berabad-abad, idiot. Kau mau tahu nama penyakitmu apa?"
Xue Zhan nampak serius menanggapinya.
"Mohon beritahu padaku, Guru."
"Penyakit sok kenal sok dekat!"
Xiang Yi Bai hampir tergelak melihat lubang hidung muridnya kembang kempis. "Oi, oi, kendalikan bulu hidungmu. Mereka seperti mau keluar untuk menamparku. Hahaha. Bocah, bocah. Pertarungan tadi cukup menghibur. Kenapa kau melepaskannya? Lihatlah, para Pedang Suci sebentar lagi akan mengomelimu."
Xue Zhan membalikkan badan dan menyadari perkataan Xiang Yi Bai benar.