
Helai jubah merah beterbangan, seorang gadis menapakkan kakinya dengan perlahan. Bola mata merahnya menatap tajam ke arah musuh yang kini tewas dengan leher ditancap belati.
Kehadiran gadis itu sontak membuat kaget orang-orang di sekitar.
Fenghuang memiliki jenis kekuatan yang berbeda dari manusia, bahkan pendekar tingkat pemula saja sudah bisa membedakannya. Kekuatan yang murni jauh lebih pekat dari kekuatan biasa. Tekanan di sekitar dapat membebani pundak serta pikiran orang lain. Rambut sepinggangnya bergerak mengikuti arus angin, Fenghuang lantas membalikkan badan dan menunjuk wajah Xue Zhan kesal.
"Mati saja kau, belum apa-apa sudah cari masalah!" cacinya, kalau masih dengan wujud phoenix sudah dipatuknya Xue Zhan sampai menangis.
Xue Zhan pengang mendengar omelan gadis itu yang seperti tidak ada ujungnya, bertengkar dengan enam belas pendekar rasanya jauh lebih baik daripada berdebat dengan Fenghuang.
"Lupakan soal mereka, kita lanjutkan perjalanan. Cepat!" paksanya, Xue Zhan mau menyela tapi dia segera tersadar bahaya sedang mengintai dari belakang Fenghuang.
Sebuah anak panah melesat secepat angin, Xue Zhan menarik Fenghuang secepat mungkin dan menangkap anak panah tersebut dengan tangan kosong.
"Ini ..."
Xue Zhan ceroboh, dia langsung melempar jauh-jauh panah tersebut lalu ledakan menyusul. Dia mengepalkan tangan kesal, tiga orang musuh memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarikan diri. Xue Zhan tidak tinggal diam, dia langsung mengejar mereka.
Ketiganya bisa disusul dengan cepat, Xue Zhan mencegat di depan jalan. Satu ayunan pedang dengan teknik unik terlihat, tiga orang itu masih menimbang ingin maju atau mundur karena merasa Xue Zhan masih cukup jauh.
Angin cekung yang tajam berputar di atas udara tanpa wujud, dua orang yang mengawal ketua kelompok tersebut berteriak tertahan saat sesuatu memotong leher mereka. Meski tidak sampai terpenggal sayatan itu merusak sumber masuknya udara ke paru-paru. Keduanya jatuh masih kejang-kejang menghadapi ajal, sementara satu yang tersisa mulai mundur dengan waspada.
Dari enam belas orang hanya tersisa dirinya sendiri. Pasukan pemanah dari jarak jauh tak bisa menjangkau jarak ini, mereka kehilangan kesempatan lari. Musuh terlalu cepat bereaksi dan dia juga memiliki kekuatan yang tak terduga.
Padahal lelaki itu sudah memperhitungkan semuanya. Hari ini para pendekar terhebat Kekaisaran Diqiu akan berkumpul di aula istana, sisanya bertugas untuk mengawal berlangsungnya acara festival. Pengawal di kota ini pun tidak terlalu memerhatikan jalan Fan Yuan datang.
Bisa dibilang mereka sangat sial berhadapan dengan pemuda tanpa identitas itu. Ditambah lagi dia membawa seorang gadis asing dengan kekuatan yang sama hebatnya.
"Berikan orang itu hidup-hidup dan aku akan melepaskanmu."
Lelaki itu menggemerutukkan gigi kesal, dia memang penjahat yang licik, untuk urusan yang mempertaruhkan nyawa tentu dia tidak bodoh akan menawarkan kepalanya untuk dipenggal.
"Baiklah-"
Xue Zhan menyela, "kau berharap aku berkata demikian?" ledeknya. Tempramen ketua perampok naik tiga tingkat, wajahnya memerah menahan malu yang semakin menjadi-jadi. "Kau ingin membunuhku? Silakan. Aku tak akan membiarkan orang ini hidup, jadi kita sama-sama kalah!"
Lelaki itu tidak ragu menggorok leher Fan Yuan, dia menarik pisau sambil menyeringai miring. Namun tangannya langsung berhenti di saat Fenghuang mengibaskan lengan jubahnya.
Bercak darah timbul di dada lelaki itu, tiba-tiba saja dia sudah terluka parah tepat di jantung. Angin tanpa wujud milik Fenghuang menembus ke organ vitalnya dan seketika membocorkan aliran darah di tubuh lelaki itu. Xue Zhan menoleh ke arah Fenghuang seperti ingin memprotes.
"Bar-bar sekali, aku ingin tahu dari mana dia berasal tapi kau langsung membunuhnya."
"Kau marah-marah terus seperti ibu tiri." Xue Zhan akhirnya protes, dia tidak bisa membalas banyak karena Fenghuang seorang perempuan. Sekarang Xue Zhan akui kalau dia harus kalah berdebat dengan Fenghuang.
Setelah jadi manusia dia bertambah lebih menyebalkan, Xue Zhan hampir menghantamkan kepalanya ke dinding karena begitu frustrasi.
"Monster Tua!" panggil Fenghuang kepada Xiang Yi Bai, laki-laki itu menautkan alis seperti terganggu. Meskipun demikian dia segera menyusul keduanya sambil melihat sekitar, puluhan jasad tergeletak di sepanjang jalan. Beberapa prajurit yang baru datang mulai mengamankan situasi dan memanggil bala bantuan. Terjadi keriuhan, beberapa orang menanyai Xue Zhan tentang para perampok itu.
Fan Yuan masih gemetar hebat, dia ditemani beberapa orang pendekar Kekaisaran Diqiu berjalan mendekati Xue Zhan.
"Te-terima kasih ... Kau sudah menolongku. Aku berhutang kepadamu."
"Tidak perlu sungkan."
"Nona cantik, Anda juga telah menyelamatkanku. Aku tidak punya apa-apa selain imbalan." Fan Yuan menoleh ke belakang untuk meminta uang imbalan dari para pengawal. "Terimalah pemberianku."
Xiang Yi Bai menyatukan kedua tangan memberikan hormat. "Muridku masih membutuhkan banyak latihan, terlalu berlebihan memberikannya imbalan. Kuharap kau menghargai keputusanku."
Fan Yuan dan orang-orang yang mengerubungi mereka bertiga terkejut, laki-laki yang sedari tadi sibuk mengemil gula-gula ternyata adalah Guru dari pemuda bertopeng putih tersebut.
"Ja-jadi Anda Gurunya? Sa-saya sangat berterima kasih. Jika bukan karena kalian entah bagaimana nasibku saat ini ..."
Setelah menyadarinya Xiang Yi Bai memiliki wibawa yang besar, meskipun hanya terpaut satu meter saja Fan Yuan dapat merasakan aura bersinar yang menakjubkan dari sosok laki-laki itu. Dia langsung percaya bahwa lelaki berjubah putih adalah Guru pemuda tersebut. Fan Yuan membungkukkan badannya sembari berterima kasih tiga kali.
"Kami harus segera melanjutkan perjalanan," pamit Xiang Yi Bai. Fan Yuan menahan ketiganya.
"Tunggu, aku merasa tidak enak tak memberikan apa pun kepada kalian. Maukah kalian menunggu sampai pengawal datang, aku ingin mengundang kalian bertiga ke asrama tamu. Kita bisa makan bersama saat malam festival Kelahiran Dewi Angin."
Xue Zhan hanya menyimak percakapan di antara keduanya, dia tidak menyangka Xiang Yi Bai akan menerima tawaran Fan Yuan tanpa berpikir dua kali.
"Tentu. Dengan senang hati."
Fan Yuan luntang-lantung melihat ke sekitar, laki-laki itu adalah tipe orang yang sangat menghargai orang lain. Selain itu Fan Yuan memiliki posisi yang lumayan berpengaruh sehingga mudah untuknya menyiapkan ruangan khusus untuk tamunya di kediaman yang akan ditinggalinya selama festival Dewi Angin.
Keramaian belum kunjung mereda, dalam sekejap pertarungan di kota itu menjadi topik pembicaraan yang terus menyebar. Pihak Kekaisaran sudah berjanji akan menyelidiki siapa dalang atau pun kelompok yang terlibat dalam penyerangan kali ini serta menghukum petugas mereka yang lalai menjalankan tugas. Pesan itu disampaikan kepala prajurit dengan penuh penyesalan di hadapan semua masyarakat yang kecewa.
Ada banyak korban jiwa yang jatuh, tak disangka sosok pemuda bertopeng yang tak mau menyebutkan namanya datang dan bertarung melawan musuh. Kepala prajurit datang ke arah Xue Zhan yang sebentar lagi akan mengikuti rombongan Fan Yuan. Suaranya yang berat terdengar menyiratkan kehormatan besar.
"Terima kasih atas bantuanmu, Tuan Pendekar. Kami sangat menghargai kebaikanmu."
Xue Zhan mengangguk. Kemudian setelahnya kereta kuda milik Fan Yuan kembali berjalan, kali ini dengan dikawal dua puluh orang prajurit, Xue Zhan, Fenghuang dan Xiang Yi Bai.