Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 135 - Kebencian di Dalam Nadi


"Tentu saja, tolong ampuni kami!"


"Aku hanya menjalankan misi, tuan pendekar, jika bukan karena terpaksa aku tak akan mau melakukan ini semua. Mereka akan membunuh kami jika menolak!"


"Batara Pedang Suci, Anda memang terkenal sebagai laki-laki dermawan, tolong bantu kami ...!"


Xiang Yi Bai beralih menatap Xue Zhan yang menatap penuh amarah ke arah kawanan musuh. Sejak awal Xue Zhan sudah membenci Taring Merah dan bersumpah akan memusnahkan mereka. Saat dia mendapatkan kesempatan, justru Xiang Yi Bai menghalaunya. Sudah tentu dia marah.


Xiang Yi Bai sendiri mengerti Xue Zhan tak ingin melepaskan musuh hanya dengan melihat tatap matanya. Tapi dia tidak bisa membiarkan muridnya tenggelam dalam sesuatu yang jahat, karena kelak dirinya yang akan mempertanggungjawabkan ini semua. Xue Zhan adalah muridnya, dia tak mau membimbing seorang penjahat di masa mendatang.


"Jika kau adalah muridku maka kau juga adalah penerus Perguruan Gunung Pohon Seribu. Perguruan kita tak mengajarkan kekerasan, melainkan kelembutan sesama manusia. Gunakan pedangmu untuk melindungi, bukan untuk hal lain."


Xue Zhan menghembuskan napas berat. Sementara Xiang Yi Bai masih memberikan nasehat.


"Saat ini bukan lagi darah yang mengalir dalam dirimu, tapi kebencian. Kau lupa? Iblis di dalam dirimu akan semakin kuat jika kebencian itu tumbuh."


Kali ini Xue Zhan menyadari perbuatannya, dia hanya ingin melindungi Xiang Yi Bai tapi tak disangka keinginan membunuh tiba-tiba memuncak. Entah sudah berapa nyawa melayang di tangannya malam ini. Pikirannya mulai jernih kembali, Xue Zhan meminta maaf.


"Maafkan aku Guru, aku benar-benar kehilangan kendali. Aku tak akan mengulanginya lagi."


Fenghuang mendarat di atas tumpukan mayat setinggi Xiang Yi Bai sembari memprotes. "Lalu sisanya kita apa kan?"


"Biarkan saja. Mau hidup atau mati bukan urusan kita."


Ke-48 orang itu pias, mereka tak akan sanggup bertahan hidup sendiri di rimba para siluman ini. Ternyata meskipun Xiang Yi Bai membantu bukan berarti dia baik. Percuma saja mereka selamat dari amukan Xue Zhan, selanjutnya mereka akan menjadi umpan siluman.


"Kalau begitu bunuh saja kami! Aku tidak mau menjadi santapan para siluman ini--"


"Sudah diselamatkan masih banyak protes." Fenghuang mengepakkan sayap yang seketika mengoyak tubuh laki-laki itu lima bagian. Darah merembes keluar, lelaki itu menjerit meminta ampun.


"A-aku tidak akan berbicara lagi! Ma-maafkan aku!" ucapnya terbata-bata.


"Bocah busuk, sebaiknya kau jelaskan dari mana kau mendapatkan burung warna-warni ini."


Fenghuang kebakaran dan langsung mengumpat. "Sekarang burung? Kemarin ayam! Manusia-manusia rendahan!"


Xue Zhan mengabaikan ayam warna-warni itu dan segera mengalihkan perhatian. "Selamatkan Bai Ye lebih dahulu."


**


Setelah satu hari penuh Xue Zhan membakar mayat dan menguburkan beberapa agar tidak menjadi penyakit. Tak disangka akan membutuhkan waktu cukup lama sehingga ketika malam kembali turun baru Xue Zhan bisa berhenti. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya.


"Hahaha anak yang rajin. Sudah lama aku kehilangan pembantu di sini, kemari cepat. Ambilkan arak di bawah pondok itu."


Xue Zhan menelan ludah kesal. Xiang Yi Bai masih hobi mabuk. Tanpa membantah omongannya Xue Zhan langsung mengambilnya dan duduk di dekat api unggun. Saat malam tiba udara menjadi dingin, lagipula Xue Zhan sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Tampaknya tempat ini sudah tidak aman lagi, Guru," ucapnya membuka percakapan. Xiang Yi Bai membuang tatapannya ke arah lain, dia juga memikirkan hal sama.


"Saat Taring Merah mengincar sesuatu, mereka tak akan segan melakukan hal gila sekalipun. Taring Merah saat ini terkenal sebagai salah satu organisasi gelap terkuat yang mengguncang keempat Kekaisaran."


"Terakhir kali dua ratus orang di Kekaisaran Feng dibantai, mereka mengincar Batu Angin. Sayangnya tidak dapat, aku yakin mereka akan terus menyerang sebelum mendapatkan apa yang diinginkan."


Detik demi detik berlalu sampai akhirnya Xiang Yi Bai membuka suara memberikan solusi. "Kita akan mencari tempat baru yang tak bisa mereka jangkau."


Bukan itu jawaban yang ingin Xue Zhan dengar. "Mereka memiliki seribu satu cara untuk mengetahui keberadaan Batu Elemen Penguasa Bumi jika kita terus menetap di satu tempat."


"Kau mau keluar dari Jurang Penyesalan ini?" gerutu Xiang Yi Bai agak kesal, Xue Zhan menatap Fenghuang bergantian.


"Benar, Guru."


"Pergilah sana sendiri."


"Tapi Guru dalam bahaya ..."


"Apalagi yang kau khawatirkan? Baru belajar enam gerakan sudah merasa puas dan langsung ingin kembali ke alam manusia. Mereka bisa membunuhmu hanya dengan satu gerakan."


Xiang Yi Bai benar, Xue Zhan tak bisa menyangkal sama sekali namun di satu sisi dia yakin tak lama lagi Taring Merah akan mengutus pasukan lebih besar dan menyerang mereka kembali.


"Maafkan aku, Guru. Aku menjadi tidak sabaran."


"Dengar, bocah nakal. Aku sudah puluhan kali melihat kelompok seperti mereka. Mereka tak akan gegabah setelah kehilangan tiga ratus pasukan dan bahkan burung-burung siluman. Selain itu masih ada tiga Batu Elemen Penguasa Bumi yang lebih mudah dijangkau dibandingkan batu di tanganku."


Dia melanjutkan, "Akan membutuhkan waktu banyak untuk mempersiapkan kembali serangan. Kita masih memiliki satu atau dua tahun," ucapnya.


"Lalu jika saat itu tiba?" Xue Zhan menatap Xiang Yi Bai yang seakan tidak peduli pada keadaan.


"Aku akan bertarung sampai titik darah penghabisan."


"Enak saja. Sudah jauh-jauh kuantar manusia rendahan ini tapi kau memilih mati. Sialan."


Xiang Yi Bai kontan menoleh terkejut ke arah Fenghuang, dia hampir melupakan soal siluman phoenix itu. Serangannya begitu dahsyat dan dapat membunuh ratusan manusia dalam waktu singkat. Jika menebaknya, Phoenix itu telah berumur lebih dari seratus ribu tahun. Energi di tubuhnya lebih pekat dan murni. Xiang Yi Bai pernah sekali melihatnya, meskipun tidak begitu ingat.


"Si bodoh ini mengatakan kau mungkin memiliki cara untuk mematahkan Segel Langit."


"Karena itu kau mau membantunya pulang?" potong Xiang Yi Bai sembari menatap sinis ke arah Xue Zhan, muridnya menyengir bodoh. "Aku lupa jalan pulang, Guru."


"Tentu saja," jawab Fenghuang ketus. Xiang Yi Bai memijit pelipisnya pusing.


"Baiklah," tandasnya. "Dalam satu tahun jika kau bisa menguasai seratus gerakan dasar dari Gunung Pohon Seribu, aku akan mematahkan Segel Langit itu untuk phoenix ini sebagai balas budi."


Fenghuang berbinar-binar dan langsung memburu Xue Zhan dengan semangat. "Hei bocah, aku bergantung padamu!"


"Yang benar saja. Enam gerakan saja aku butuh waktu satu tahun. Tapi ini 94 gerakan?!" Xue Zhan hampir pingsan membayangkannya. Xiang Yi Bai mengejek.


"Murid Gunung Pohon Seribu harus semangat demi membantu temannya. Senang berkenalan denganmu, Tuan Phoenix. Dengan begini muridku akan lebih giat berlatih."


Fenghuang dan Xiang Yi Bai ternyata bisa kompak. Kompak menyiksanya.