
Bau-bau daging menyebar di seluruh tempat, aroma amis darah membangkitkan nafsu siluman ular yang sedang berkumpul di satu lubang besar. Puluhan kepala naik ke atas mencari-cari sumber bau dan menemukan dua bangkai siluman lainnya tergeletak begitu saja.
Kontan para ular itu mendesis dan langsung mengejar tumpukan bangkai tersebut, sebagian besar dari mereka teralihkan.
Xue Zhan belum merasa ini cukup untuk menarik perhatian para siluman ular itu.
Dia sempat kembali ke belakang sejauh dua ratus meter hanya untuk membunuh siluman ular jejadian berukuran sedang dengan susah payah dan membawanya ke sini untuk menarik perhatian ular-ular itu. Mereka sangat menyukai bau amis darah atau bau daging mentah.
Meskipun keadaan masih hujan deras penciuman siluman itu tak berkurang. Kini Xue Zhan mulai merasa buntu, dua bangkai mayat tadi hanya menarik belasan ular. Di dalam lubang masih ada enam lagi.
"Ayolah, mereka akan menghabisi bangkai yang sudah kubawa jauh-jauh itu, jika tidak segera bertindak ..."
Matanya menoleh ke arah tumpukan bangkai yang dikerubungi ular dan benar dugaannya hanya dalam satu menit salah satu bangkai telah habis setengah. Dia akan kehilangan kesempatan jika tidak segera bergerak, mungkin ke depannya para ular itu tak bisa dikecoh dengan cara yang sama. Itu juga berbahaya.
Tapi mau bertindak sendiri pun, Xue Zhan lagi-lagi tidak mempunyai peralatan cukup untuk mempertahankan diri. Enam ular lebih dari cukup untuk membunuhnya, belum lagi kemungkinan dirinya dikejar-kejar sepanjang jalan dan menemui lebih banyak siluman di depan.
Kekhawatiran itu membuat kakinya tertahan, maju takut mati mundur takut hilang kesempatan. Xue Zhan merogoh sakunya dan hanya ada sisa beberapa cakram besi yang selalu digunakannya selama berlatih dulu di Lembah Abadi.
Mata merah itu menatap lama cakram di tangannya dan menoleh ke arah bangkai siluman ular jejadian yang hanya tersisa satu ekor.
Dengan cepat tangannya melayangkan cakram menembus udara dan rintik hujan dengan tajam, angin tipis berputar di sekitar cakram yang terlempar agar cekung hingga sampai ke satu titik.
Siluman ular di tempat ini sendiri akan berubah beringas saat mencium bau darah. Seperti yang Xue Zhan harapkan, empat ekor siluman lainnya keluar dari sarang dan mengerubungi sumber darah dari tubuh yang telah meledak. Darah terciprat banyak mulai dari dinding, permukaan tanah berbatu sampai ke tubuh ular lainnya yang sama sekali tidak terkena efek racun dari darah mahluk tersebut. Xue Zhan sendiri harus menahan rasa gatal luar biasa saat terkena darah itu.
Setelah memastikan di bawahnya aman Xue Zhan langsung turun, menekan hawa keberadaannya seperti yang pernah diajarkan Kang Jian dan mengendap-endap di balik batu. Saat dua siluman di dalam lubang menoleh ke arah lain dia langsung berlari, sambil sesekali melihat ke belakang di mana kerumunan ular itu masih berpesta dengan darah.
Ular ini cukup berbeda dari ular biasanya, tapi Xue Zhan rasa yang membuat mereka sama adalah perilaku agresif binatang itu. Xue Zhan yang hanya tinggal selangkah lagi untuk bertemu belokan jurang yang membawanya ke jalan aman dari para siluman ular menahan langkah dan napasnya. Saat ini dia bersembunyi di balik sebuah timbunan batu yang hanya sepantaran lututnya. Sialnya posisinya sangat terancam, Ratu Ular membaca pergerakannya dan menyadari kehadirannya lagi.
Xue Zhan hendak ambil langkah seribu sebelum terlambat, sebelum itu dia menoleh dan menemukan Ratu Ular sudah berada tepat di belakang. Lidah berbisanya keluar disertai pupil mata mengecil, dia mengeluarkan suara terancam yang membuat ular-ular lain mendekat.
"Sial!!"
Xue Zhan mengumpat, dia ketahuan dan puluhan siluman itu langsung memburunya.
**
Chapternya agak pendek ya 😢 author kecapekan satu hari ini, habis isya baru tidur ga sampe setengah jam kebangun lagi gara2 inget belum update wkwk
Makasih yang masih terus membaca dan mendukung, lope sekebon❤️❤️❤️ author mau turu dulu hwehe