Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 169 - Titik Patah Tuan Xian


Xue Zhan berjalan pelan di sebuah gang yang gelap dan sempit. Cahaya bulan malam tak lagi terlihat, menjadikan suasana semakin kelam dan pekat. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu jalan yang masih hidup disertai bunyi berisik dari angin yang meniup pepohonan.


Tiba-tiba terdengar suara ribut yang berasal dari ujung gang, memecah keheningan malam. Xue Zhan mempercepat langkahnya, mencoba untuk melihat situasi di sumber suara. Dia terhenti saat melihat sekelompok perampok sedang menghajar seorang laki-laki yang tampak sangat lusuh dan tidak terurus.


Xue Zhan sontak terkejut, ada sesuatu yang membuatnya sedikit tak percaya dengan laki-laki itu. Ketika dia mendekat, Xue Zhan melihat sosok yang begitu dikenalinya itu sedang jatuh tersungkur penuh darah. pemuda itu tidak melawan saat dia dipukuli.


Tubuh Xian Shen dipukuli hingga berdarah, jelas sekali terlihat bahwa mereka ingin memeras uang darinya. Xue Zhan tidak bisa berdiri di sana dan hanya melihat temannya disiksa begitu saja. Dia segera bertindak cepat, menyelinap ke belakang perampok dan dengan cepat memukul salah satu dari mereka dengan ujung gagang pedang hingga pingsan. Perampok yang lain terkejut dan segera mengeluarkan pisau tajam.


Lelaki itu menatap Xue Zhan dengan tatapan tajam dan bersiap untuk menyerang. Xue Zhan tak bergeming, menunggu lawan maju dan mengambil sikap bertarung.


Suasana malam yang hening dan sepi membuat sedikit bunyi dentingan pedang terdengar sangat jelas, keringat bercucuran di dahi Xian Shen yang hanya terduduk melihat pertarungan tak terduga yang terjadi di depannya. Keduanya saling berhadapan dan bersiap untuk menyerang. Tak mengulur waktu lama, Xue Zhan segera mengambil langkah dengan meluncurkan serangan ke arah kepala lelaki itu telak.


Dalam waktu singkat, perampok itu jatuh ke tanah dengan jidat berdarah. Masih ada dua kawannya yang lain, mereka segera kabur meninggalkan Xian Shen dan Xue Zhan dengan membopong teman mereka yang terluka.


"Lain kali kulihat kalian di jalan, akan kupatahkan leher kalian semua!" gertak Xue Zhan kesal, mereka menoleh ke belakang dengan ketakutan sebelum akhirnya menghilang di ujung jalan.


Xue Zhan menghampiri temannya yang terduduk di tanah, masih dalam keadaan lusuh dan terluka parah.


"Tidak apa-apa, mereka sudah pergi."


Saat Xian Shen mendengar suaranya, dia terlihat sangat terkejut dan senang di waktu yang bersamaan. Sebaliknya Xue Zhan memasang wajah sedih. Melihat ada sesuatu yang berubah besar terhadap diri temannya Xian Shen, dia tampak hilang semangat dan tidak memiliki keinginan untuk hidup.


Xue Zhan berniat membawa Xian Shen ke tempat yang lebih aman dan mencoba untuk memulihkan kondisinya. Lagipula jalan kota yang sepi terbilang rawan dan berbahaya.


Xue Zhan menyesal, karena selama ini dia tidak pernah tahu bahwa teman lamanya itu berada dalam titik patah seperti ini tanpa siapa pun yang menolongnya. Xue Zhan merasa bersalah karena telah lama tidak bertemu dengan Xian Shen dan tidak pernah tahu tentang masalah yang sedang dihadapinya.


Bibir pemuda itu seakan kelu saat berbicara.


"Kau baik-baik saja?"


Xian Shen hanya bisa melihat topengnya. Dia memang tidak bisa melihat siapa yang menyelamatkannya karena lawan bicaranya menggunakan topeng. Namun, dia bisa mengenali suara tersebut meski sudah bertahun-tahun dan ada banyak perubahan dari suaranya. Terdengar suara Xian Shen yang serak dan seperti sedang menangis.


Pundak Xian Shen naik turun. Suara itu sangat familiar baginya, dia yakin itu adalah Xue Zhan, sahabat lamanya yang pernah bersamanya dalam banyak kesulitan, dia jatuh ke dalam Jurang Penyesalan lima tahun yang lalu.


"Saudara Zhan ... Apakah ini benar kau? Apa aku sedang bermimpi? Aku yakin itu kau..." suara Xian Shen makin terdengar serak karena merasa bahagia melihat Xue Zhan. Dia terharu dan senang bahwa temannya itu masih hidup sampai sekarang.


Xue Zhan menarik senyum lemah, tidak bisa berkata-kata. "Kau tahu aku akan kembali, Tuan Xian. Aku yakin kau selalu mengunjungi makamku dan mendoakanku yang terbaik. Seharusnya aku yang berterima kasih."


Keadaan teman lamanya yang sekarang seperti mayat hidup. Dia merasa bersalah karena tidak bisa membantu Xian Shen lebih cepat sebelum kejadian buruk menimpanya.


Darah bercucuran dari hidung Xian Shen. Karena khawatir pemuda itu kehilangan lebih banyak darah Xue Zhan berniat mengantarkan Xian Shen kembali ke kediamannya,


Xue Zhan membawa temannya itu ke kediaman pamannya. Keluarga Xue menerima kedatangan mereka dengan kekhawatiran. Xian Shen tampak lemah dan hampir tidak sadarkan diri ketika mereka memasuki ruangan.


Bibinya segera mempersiapkan obat-obatan dan bahan-bahan alami untuk membantu Xian Shen pulih dari luka-lukanya.


Saat Xian Shen sedikit merasa lebih baik, dia memandang ke arah Xue Zhan. "Saudara Zhan," katanya dengan suara lemah. "Kau telah menyelamatkanku lagi. Terima kasih untuk itu."


Xue Zhan hanya tersenyum dan mengangguk, tidak merasa perlu untuk membalas ucapan terima kasih. Sudah seharusnya dia melakukan itu karena Xian Shen adalah teman baiknya. Apalagi melihat keadaannya saat ini, Xue Zhan mulai tidak tega.


Setelah duduk di ruang keluarga, Xue Zhan menatap Xian Shen dengan perhatian. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Tuan Xian? Maksudku ... Keadaanmu sampai seburuk ini."


Xian Shen menghela nafas dan menatap lantai, "Beberapa tahun lalu, keluargaku dibantai oleh pendekar misterius yang tak pernah diketahui siapa. Aku selamat


karena waktu itu aku sedang pergi keluar kota demi sebuah misi. Ketika aku kembali, aku menemukan semua orang yang aku sayangi sudah tak bernyawa lagi," ucapnya dengan suara lirih.


Xue Zhan menatap Xian Shen kasihan, "Aku sangat menyesal mendengar itu. Apa ada petunjuk tentang siapa pelaku nya?"


Xian Shen menggelengkan kepala, "Tidak ada sama sekali. Mereka semua meninggal tanpa alasan yang jelas." Dia menghela nafas lagi, "Lalu aku kehilangan arah. Aku merasa tak punya tempat yang pantas untukku. Aku merasa hampa dan tak berarti."


"Dan kemudian?" tanya Xue Zhan.


Xian Shen menatap Xue Zhan sembari melanjutkan. "Lalu suatu malam, aku hampir dibunuh oleh orang yang sama. Dia adalah pendekar dengan kekuatan tingkat tinggi. Aku masih hidup karena hanya mendapatkan luka kecil, tapi dia tak pernah terlihat lagi setelah itu."


Suasana menjadi hening, Xue Zhan dan Xian Shen sama-sama merenung. Usai itu Xian Shen terus bercerita tentang kejadian-kejadian lain yang terjadi selama bertahun-tahun terakhir.


Dalam keheningan tersebut, terdengar suara obat ditumbuk halus dan air mendidih dipanaskan untuk diseduh sebagai obat untuk Xian Shen. Hembusan angin malam meniup lembut di luar, dan langit gelap penuh dengan bintang.


Xue Zhan mengangguk. Dia merasa semakin ganjil dengan peristiwa yang dialami Xian Shen dan ingin bertanya lebih banyak lagi tentang kejadian sama yang menimpa keluarga bangsawan lainnya tapi Xue Zhan mengurungkan niat, Xian Shen sedang tertekan saat ini dan suasananya sedang tidak pas.


Xian Shen berkata, "Tapi Saudara Zhan, aku senang akhirnya kau di sini. Aku yakin kau akan kembali dan ternyata firasatku benar. Kau masih hidup. Apa yang kau lakukan di jurang itu? Kekuatanmu juga jauh lebih meningkat dibanding yang dulu."


Xue Zhan tertawa tipis. "kau benar-benar langsung mengenaliku, Tuan Xian. "