Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 52- Akhir Babak Penyisihan II


Pengumuman poin setiap kelompok dibacakan dengan lantang di panggung besar di mana ratusan peserta mengerubungi dengan beragam emosi di wajah masing-masing. Terlihat wajah putus asa karena mereka sudah lebih tahu bahwa mereka akan gugur dalam babak penyisihan kedua. Tak sedikit yang menangis secara terang-terangan, menghadirkan situasi pilu di sekitar Xue Zhan yang kembali melihat pemandangan sama; wajah kekalahan dan putus asa.


Seperti biasa jenius-jenius kembali tampil menonjol di antara peserta lain dengan perolehan nilai yang fantastis, bukan babak penyisihan yang menyeleksi para peserta melainkan jenius-jenius itu sendiri. Mereka merenggut poin tim lain dengan serakah dan berakhir membunuh langkah tim lain sampai gagal.


Lima tim dengan nilai terbesar diumumkan. Yang paling tertinggi dan tidak masuk akal adalah Jiazhen Yan dengan total akumulasi nilai 1050, menyusul tim Yun Mei dengan nilai 950 poin, Xianlun 800 poin, Zhao Xing 750 dan terakhir tim Xue Zhan 700 poin.


Usai babak penyisihan kedua ditutup mereka kembali dibawa ke asrama untuk beristirahat dan bersiap untuk acara besar sebelum babak penyisihan terakhir dan menjadi penentu dilaksanakan. Xue Zhan mengikuti rombongan dan tiba-tiba terhenyak ketika melihat seorang pemuda tengah sibuk sendiri di tepi sungai.


Dia mengernyit melihat rambut dan gerak-gerik heboh itu, mirip seekor setan yang juga adalah temannya. Saat dia mendekat dan melihat ternyata benar dugaannya.


Jiazhen Yan sedang memasak sesuatu dengan api dari tangannya, dia sedikit menoleh setengah kaget saat menyadari Xue Zhan menciduknya.


"Apa yang kau--"


Jiazhen Yan nampak panik, dia langsung menyembunyikan barang-barangnya walaupun tidak ada gunanya. Ada beberapa ranting kayu dan tiga telur dari babak penyisihan kedua yang tengah dimasak pemuda itu. Xue Zhan tertawa miris.


"Ya ampun, gayanya sultan mentalnya orang miskin," cibirnya yang langsung menghadirkan wajah penuh kesal di depannya.


"Heh, jangan banyak omong. Jarang-jarang aku makan yang seperti ini, rupanya tidak buruk juga merasakan makanan orang miskin."


"Hahaha banyak sekali tingkahnya setan ini."


Xue Zhan menggeleng-gelengkan kepala hampir tidak percaya tapi mau dipikir bagaimana pun Jiazhen Yan ya Jiazhen Yan, kadang otaknya miring kadang otaknya tidak berfungsi. Seleranya yang tinggi sudah banting arah dari yang awalnya mewah ala-ala bangsawan makmur sekarang menjadi rakyat jelata melarat.


"Kita berhasil sampai ke sini, memang ujian yang sulit seperti Kaisar Li, aku melihat banyak peserta yang gagal setiap akhir babak dan rasanya ... Aku takut berada di sana dan menangisi kekalahanku."


"Lebih baik menangisi kekalahan daripada mati di tengah hutan. Kau kalah masih bisa ikut lagi, kalau mati kau mau ikut Ujian Pendekar Menengah di neraka?"


"Lebih baik aku mati di hutan daripada pulang membawa kekalahan dan membuat malu Guru."


"Cih, Iblis Cebol yang Ambisius."


"Oi sialan, tinggiku hanya beda sejengkal darimu, Setan Norak yang Menggemparkan."


Penyakit mereka mulai kambuh lagi, saling memberi nama aneh dan berdebat sampai berjam-jam. Mereka tidak sadar telah ketinggalan rombongan dan masih terus berada di sana sambil memakan telur gosong yang dimasak Jiazhen Yan.


Saat Jiazhen Yan mengupas kulit telur Xue Zhan terhenti sejenak dalam diam memandangi sebuah kalung dengan ukiran indah serta permata seputih salju terselip di balik jubah klannya. Jiazhen Yan menyadarinya dan menaikturunkan alis.


"Lihat apa kau seperti lihat setan saja."


"Akhirnya sadar diri."


Jiazhen Yan hampir memecahkan telur tersebut di kepala Xue Zhan.


"Kalung itu, aku baru pertama kali melihatnya. Jarang-jarang kau pakai sesuatu seperti aksesoris."


Jiazhen Yan meluruskan duduknya dan mencapit mata kalung dengan sebelah tangan, memandang lama dengan mata yang seakan-akan sedang melihat banyak kenangan di dalam benda itu. Xue Zhan menunggu cukup lama sampai akhirnya Jiazhen Yan berucap.


"Bukan apa-apa, aku hanya iseng pakai yang begini. Bangun. Ada sebuah rawa siluman di sekitar sini, bagus untuk kubuang kau di sana."


Jiazhen Yan kelihatan seperti sedang memaksakan diri untuk bersikap biasa saja, tapi Xue Zhan sudah mengetahui beberapa kebiasaan anak itu termasuk saat dia berbohong dan tiba-tiba tak mau menatapnya.


Yang Xue Zhan tahu saat Jiazhen Yan menatap kalung tersebut dia terlihat sedih.


*


Acara api unggun besar-besaran diadakan dengan begitu meriahnya bahkan para pemain musik turut hadir memeriahkan acara pada malam hari itu.


Terlihat para peserta bercampur baur dengan para panitia serta beberapa orang penting lainnya di halaman luas tersebut, Xue Zhan dan Jiazhen Yan ikut ke dalamnya karena dipaksa dan berakhir masuk kumpulan manusia ribet seperti Lun Ning, Xian Shen, Lao Bao Li dan masih banyak lagi.


Seperti biasanya Xue Zhan membaur dengan teman-teman barunya meskipun sebelumnya sempat bertarung sama lain baik di arena atau lokasi ujian tapi di waktu santai mereka berdamai.


Sejak sore setelah Xue Zhan mengungkit tentang kalung miliknya Jiazhen Yan lebih murung, ini tidak seperti pemuda itu biasanya.


Terhanyut dalam sunyi di sekitarnya Jiazhen Yan dapat mendengar tapak kaki yang mendekat dan memilih tak menoleh karena tahu siapa satu-satunya orang yang mau datang dan duduk di sebelahnya.


"Kau baik-baik saja bangsat-" dia meralat, "maksudku sahabatku?"


Tidak terdengar jawaban.


Prihatin di wajah Xue Zhan mulai terlihat, dia mencoba lagi demi membuat setan itu berbicara.


"Oi kau tidak sedang merajuk kan gara-gara kupanggil Setan Norak yang Menggemparkan?"


Masih tidak ada jawaban tapi Xue Zhan tak mau menyerah.


"Sekarang kau yang mengacangiku. Ah, aku berteman dengan batu saja lah." Dia mengambil batu dan mulai berpikir menimpuk temannya itu.


"Kalau kau ada masalah bilang bodoh. Tidak boleh diam-diam begitu, nanti kau kerasukan. Kasihan setannya." Dia menyerobot kesal. "Masih mogok bicara kutimpuk kau dengan batu." Dia mengangkat batu bersiap-siap.


"Dilarang melarang."


Xue Zhan sedikit lega.


"Nah bicara juga."


Dia berubah serius.


"Ada apa?"


Jiazhen Yan menatap langit yang kelabu samar, bintang kecil ditutupi oleh arak-arakan awan tipis kemudian terdengar suaranya berucap,


"Hari ini adalah hari kematian ibuku, tepat setelah dua tahun kepergiannya."


Xue Zhan tercenung dan merasa bersalah di waktu bersamaan.


" ... Dan kalung ini adalah pemberian terakhir darinya," ujarnya dibarengi senyum pahit. Suaranya serak berantakan.


"Aku turut berduka atas ibumu. Tapi boleh aku tahu kenapa beliau wafat?"


Jiazhen Yan mendengkus lemah, "Perang. Perang sepuluh tahun lalu merenggut nyawanya ... Dia mati karena melindungiku."


Mendengarnya Xue Zhan tidak bisa berkata-kata, mata Jiazhen Yan sekilas terlihat basah.


"Aku berlatih menjadi yang terkuat untuk membalaskan kematian ibuku tapi aku sendiri tidak tahu siapa yang telah membunuhnya. Perang itu seharusnya tidak pernah ada-dan dia seharusnya masih ada. Dan aku tidak perlu merasakan rasa bersalah ini. Dia melindungiku dan kehilangan nyawanya walaupun selama hidupnya aku selalu mengatakan bahwa aku membencinya ..." Dia menggenggam kalung di tangannya erat.


"Tak ada perang yang akan bisa mengakhiri perang lain, kematian tetaplah kematian. Jangan jadikan rasa bersalah itu sebagai belenggu yang menyiksamu, ibumu mengorbankan nyawa untukmu agar kau hidup dengan bahagia."


Jiazhen Yan tidak bereaksi, hanya menunduk dalam hingga akhirnya kembali dia berbicara parau.


"Aku ingin sendiri. Pergi sana jauh-jauh, kau merusak suasana."


Xue Zhan tersenyum lemah, meninggalkan Jiazhen Yan sembari berharap dia dapat membantu temannya menemukan pembunuh yang merenggut nyawa ibunya.


Sebenarnya apa yang terjadi 10 tahun yang lalu? Xue Zhan hanya melihat abu-abu yang diselimuti kabut merah, bayangan mayat yang bertumpuk-tumpuk dan genangan darah yang berbau busuk.


Tangannya terkepal. Jika semua ini bermuara pada Taring Merah maka tekadnya semakin kuat, dia tidak lagi berpikir bertambah kuat agar bisa menghadapi mereka saat serangan besar datang.


Namun bertambah kuat untuk memusnahkan Taring Merah dan menghindari lebih banyak orang seperti Jiazhen Yan yang kehilangan keluarganya karena mereka.