
Bunyi desiran ombak dari laut lepas terus bergaung menimbulkan gema berulang-ulang, Mu Rong membawa mereka ke sebuah tempat di mana laut dan pegunungan bertemu. Aliran sungai juga berada tak jauh dari sana. Seorang pemilik perahu mempersilakan mereka naik dan mengantarkan ke suatu tempat yang sangat tersembunyi. Mu Rong tidak banyak berbicara kala itu. Sampai mereka tiba di sebuah pemukiman yang terletak cukup jauh dari Sungai Ning.
Rumah-rumah kayu dengan bentuk khas berjejer rapi saling berhadapan satu sama lain. Puluhan anak-anak keluar dan mengintip penasaran akan orang baru yang tiba di tempat mereka, jarang-jarang melihat manusia lain selain orang di desa tersebut bagi mereka.
Sejauh ini bala bantuan yang dikirim untuk menangani mayat yang tewas di tempat itu masih tertahan karena pihak kepala desa tidak begitu membuka diri dengan pihak luar. Mereka hanya menerima bantuan seperti makanan, pakaian dan obat-obatan. Tempat itu sendiri dilindungi sangat ketat. Angin yang berhembus saja seakan membawa duri yang bisa membunuh mereka kapan pun.
"Mereka adalah sukarelawan yang turun tangan untuk mengatasi situasi di tempat kita. Banyak orang terluka yang butuh penanganan serius. Tapi kebanyakan dari kita tidak tahu apa-apa, aku sengaja mengajak orang-orang ini dan mereka tidak memiliki sangkut-paut dengan pemerintahan."
Orang dewasa sempat ragu, tapi setelah mendapatkan penjelasan dari Mu Rong mereka langsung mengangguk. Penyambutan sekadarnya dilakukan pada malam hari. Mu Rong sempat membawa mereka berkeliling untuk melihat keadaan tempat mereka saat ini.
Letak tempat itu sendiri berada di tepian aliran Sungai Ning yang panjang. Lewat jalur hutan, ada banyak perangkap dan siluman buas yang bisa membunuh kapan saja. Lewat jalur sungai pun, dikatakan ada sejenis makhluk laut berbahaya yang bersemayam di laut Sungai Ning. Mungkin karena itulah orang-orang yang ingin masuk ke perkampungan mereka kebanyakan tidak selamat.
Di bagian barat daya pemukiman hampir dua puluh rumah rata dengan tanah. Puing-puing kayu berserakan, bahkan Xue Zhan masih sempat melihat seonggok daging manusia yang hanya tersisa setengah badan ditimpa kayu arang. Seorang anak kecil yang berusia sama dengannya. Matanya terpaku, mata merahnya terkunci ke anak kecil itu. Merinding.
Kematian memang adalah hal yang menakutkan bagi sebagian orang. Cara mereka mati dan alasannya pun menjadi misteri yang tidak ingin Xue Zhan tahu.
Kang Jian berbincang-bincang dengan Mu Rong serta beberapa kepala keluarga yang kebetulan berkumpul. Malam turun, bulan purnama nampak penuh di atas langit menyinari malam yang kelam di tanah itu. Puluhan api dinyalakan di api obor yang dipasang sepanjang jalan. Mereka membakar rusa hasil buruan, menghidangkannya pada tamu.
Saat itu, ditengah keramaian dan perbincangan di sekelilingnya, Xue Zhan sempat melihat seseorang yang menatapnya kurang lebih tiga detik bersama aura menakutkan. Lelaki itu memalingkan muka, sosoknya tertutup oleh beberapa orang yang berlalu lalang sampai dia kehilangan jejaknya. Xue Zhan berdiri. Tapi tangan Kang Jian segera menyekalnya.
"Tidak usah terburu-buru, itu hanya akan menimbulkan kecurigaan."
Esok harinya Kang Jian terlonjak saat melihat tempat di mana Xue Zhan tidur, dia raib dari sana. Tidak meninggalkan jejak atau pesan. Pikirannya mulai memburuk, takut Xue Zhan sudah lebih dulu disekap atau dibunuh.
Jiazhen Yan dan Kang Jian mencarinya ke mana-mana. Tapi di sisi lain Xue Zhan berada di tempat lain.
Pagi itu Xue Zhan melatih pernapasannya, ada empat tingkat dengan masing-masing kemampuan. Semakin tinggi maka semakin hebat orang tersebut dalam mengendalikan tenaga dalamnya. Saat ini Xue Zhan baru menyentuh pernapasan tingkat kedua. Itu pun setelah dia berlatih keras siang malam tanpa henti. Mencapai pernapasan tingkat tiga jauh lebih sulit dari yang dia bayangkan.
Di tengah rimba berbahaya, Xue Zhan duduk bersila di atas batu besar. Sebelah matanya terbuka ketika mendengarkan suara berisik dari hutan. Matanya yang jauh lebih tajam dari mata manusia biasa perlahan mulai melihat sebuah energi berwarna biru yang merupakan aliran kekuatan manusia. Itu adalah caranya melihat keberadaan musuh meski dalam jarak jauh sekalipun.
Yang membuatnya terkejut adalah salah satu di antara mereka memiliki aura yang mirip dengan sosok yang menatapnya penuh kebencian semalam. Xue Zhan memutuskan pergi mengendap-endap, mendekat dalam jarak aman.
Dia mendengarkan pembicaraan.
"Orang kiriman? Tentu saja mereka sangat mencurigakan. Kita amati dulu pergerakan mereka, jangan berbuat gegabah apalagi berniat meninggalkan tempat ini."
"Cih, harga yang kalian bayar tidak akan setimpal dengan harga nyawaku. Secepatnya aku ingin meninggalkan tempat ini, buat sebuah kabar seperti aku diculik atau dibunuh."
"Bagaimana kalau aku membunuhmu betulan?"
Sosok dalam balutan jubah hitam mundur sambil bergidik ngeri, dia mengangkat tangan menahan sekutunya yang mulai memanas.
"Baiklah, aku paham. Aku hanya meminta kalian menghentikan mereka segera sebelum semuanya terbongkar."
Dia masih memantau tapi tidak bisa melihat satu pun identitas di balik sosok yang berbicara dengan orang berjubah hitam. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh pakaian dan topeng aneh. Saat sedang sibuk menyimak, lelaki dengan topeng melemparkan pedangnya.
Xue Zhan terhenyak. Jantungnya seperti akan lepas dari tempat.
"Aku tahu kau sedang menguntit kami."
Serangan barusan menembus semak-semak di sebelah Xue Zhan, pemuda itu merangkak dan menjauh. Padahal jarak ini sudah cukup aman dari jangkauan penglihatan musuh. Xue Zhan mengumpat dalam hati.
Dua orang itu mulai mendekat dengan waspada, Xue Zhan mengambil sebuah batu besar. Saat mereka sedang menoleh ke arah lain dia melemparkan batu itu ke tempat lain.
Beruntungnya mereka langsung pergi mengecek ke sumber suara. Xue Zhan mengambil langkah seribu dan langsung pergi dari sana.
Dia harus segera memberitahukan ini semua pada Kang Jian.
Sesampainya di rumah Mu Rong-tempat mereka menginap beberapa hari, Kang Jian dan Jiazhen Yan sudah gaduh sejak satu jam yang lalu.
"Guru!"
"Zhan'er? Dari mana saja kau?"
"Anak iblis ini bikin panik saja." Jiazhen Yan ikut bersuara.
Xue Zhan berbisik sangat kecil, "Aku melihat dua orang mencurigakan tengah berbicara di hutan. Satu orang berjubah yang satu lagi menggunakan topeng. Mereka membahas tentang tamu yang datang ke sini dan mengatakan akan membunuhnya."
"Membunuh tamu? Maksud mereka, kita?" Jiazhen Yan perlahan serius.
"Kau yakin, Zhan'er?"
"Aku sangat yakin Guru."
Kang Jian kembali bertanya, "Orang berjubah yang kau maksud itu sama dengan orang yang semalam melihatmu itu?"
Xue Zhan mengangguk, "Tidak salah lagi Guru."
Kang Jian membuang napas, tampak bingung mewarnai riak wajahnya.
"Namun orang itu bukanlah incaran kita, Xue Zhan. Dia bukanlah Hong Yen, Sang Perantara yang dimaksudkan Kaisar Li."
Xue Zhan terhenyak.
"Jadi siapa dia sebenarnya?"