Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 217 - Gurun Cahaya II


"Kebetulan yang bagus kau masuk ke perangkap ini."


"Aku hanya perlu menghadapimu, cepat atau lambat kita juga akan bertemu. Entah kau atau aku yang mati," ujar Xue Zhan singkat. Laki-laki itu tertawa lepas sembari melepaskan topeng silang putih dari wajahnya, memperlihatkan sebuah wajah yang terlihat seperti berusia 30 tahun dengan dua luka garis di batang hidungnya. Kulit agak kecoklatan dan mata yang berwarna putih pucat.


"Topeng ini menghalangi pandanganku saja. Aku ingin melihat wajah lawanku secara utuh ... Oh, jadi seperti ini iblis itu. Kau masih begitu muda seperti yang dikataQluiiq ∆kan ketua."


Dia menyengir lebar memperlihatkan gigi taringnya, "Namaku Ming Dao. Cahaya Kedua Taring Merah. Kau adalah salah seorang yang beruntung karena bisa melihat wajahku secara langsung," ucapnya sedikit meninggi, Xue Zhan mencebik.


"Aku sama sekali tidak merasa beruntung."


"Oh, hahahah! Kau menjawab." Dia tertawa sedikit tersinggung. "Aku tidak biasanya melepaskan topengku, iblis muda ..." Dia melihat topengnya sembari membolak-balikkannya, berpikir sejenak. "Jika aku menunjukkan wajah dan memperkenalkan diriku, itu artinya aku menghormati mu sebagai lawanku."


Xue Zhan tidak menanggapi lagi selain terus memperhatikan energi di sekitarnya yang mulai bergerak dengan aneh. Tikus Pasir di depannya terlihat mulai mengeluarkan gerak-gerik mencurigakan. Ming Dao sedikit bercerita meski tahu lawan bicaranya enggan mendengarnya.


"Akhir-akhir kau terkenal dan menjadi objek perhatian Ketua. Dulu, kau membuat Lan Shuiyang ditangkap oleh pengawas Ujian Pendekar Menengah," ujarnya dengan suara pelan, namun perlahan tapi pasti Xue Zhan mulai melihat kumpulan kekuatan yang mengelilingi laki-laki itu. Pertarungan akan segera dimulai. Dia bersiap siaga.


"Lalu sekarang, kau telah membunuh salah satu saudara kami. Chao Mi. Kau kira ini bukanlah masalah besar? Wajahmu yang tidak berdosa itu membuatku muak. Aku sengaja meminta pada Ketua untuk memberi pelajaran untukmu. Kau sebegitu spesialnya sampai Cahaya Kedua sepertiku repot-repot mengurusi keroco sepertimu," tandasnya dengan nada dan ekspresi menyolot. Walau demikian dia mengakhiri kalimatnya menyengir.


"Tahu kau mencari tahu soalku saja sudah membuatku cukup terhormat."


"Topeng putih tidak menutup wajahmu sama sekali. Tanpa melihat pun aku sudah bisa mengetahui siapa kau sebenarnya. Kau mencari tahu soal Yue Linghe sebelumnya, kabar kematiannya juga sudah menyebar hingga ke pelosok. Kau dan gurumu sudah menjadi incaran para pembunuh sejak lama."


Mata Xue Zhan melebar. "Apa maksudmu? Guru juga diincar?"


Dia semakin melebarkan cengirannya. "Kenapa? Kau takut?" Laki-laki itu melanjutkan kembali dengan suara berat, "sedikit kabar dariku. Gurumu saat ini sedang berhadapan dengan Cahaya Ketiga kami, Ling Baoyi. Dia perempuan yang ganas dan berbahaya. Oh. Aku lupa. Dia membawa seribu orang Topeng Silang Hitam dan seorang dari Menara Giok Hantu, Hantu Mawar Duri."


Tanpa sadar dia menelan ludah mengingat pertarungan terakhir kali di saat Xiang Yi Bai berhadapan melawan Taring Merah. Seribu orang itu memiliki kekuatan setara dengan pendekar tingkat atas. Gurunya sudah pasti kewalahan menghadapi lawan seberat itu apalagi dia harus bertarung melawan Cahaya Kedua dan Hantu Mawar Duri.


Ming Dao yang melihat reaksi pemuda itu merasa puas, dia yakin seratus persen Xue Zhan tak akan bisa bertarung dengan serius lagi. Pikirannya kacau. Dia hanya memikirkan gurunya dan itu membuat perasannya cemas tak karuan.


Mungkin karena pergerakan mereka yang gegabah musuh mulai membaca jejak dan mengantisipasi keberadaan mereka. Sekarang keduanya terpisah dan harus bertarung melawan Para Cahaya dari Taring Merah.


"Seperti kataku sebelumnya, kau tak akan selamat kali ini. Tidak ada keberuntungan yang dapat menyelamatkan mu.""


Pancaran kekuatan cahaya dalam satu kedipan mata meluncur ke arahnya, Tikus Pasir melepaskan kekuatan yang tidak main-main. Gulungan badai pasir telah berada hanya sepuluh meter di depannya. Xue Zhan mencebik, ini akan menjadi pertarungan yang sulit baginya mengingat dia bertarung di medan perang musuh.


Sejengkal sebelum badai pasir menutupi pandangannya, sesuatu melompat ke atas dan membuatnya terdorong belasan meter di atas pasir.


Ekor Tikus Pasir menghantamnya tepat di dada, Ming Dao muncul dari arah berbeda bersama beberapa kertas mantra yang terselip di antara sela-sela jarinya. Kertas itu melayang tanpa mempedulikan angin kencang, berkejaran ke arah Xue Zhan yang mulai kelimpungan menghadapi ancaman dari segala sisi.


Dia berputar mundur, melompat saat ekor tikus besar berputar di atas gurun. Pedangnya berayun cepat hingga dalam tiba-tiba satu dari kertas mantra itu tersangkut di bilah pedang. Kertas itu sama sekali tidak mau terpotong dan justru mulai aktif ketika tersentuh. Xue Zhan terlambat untuk mundur. Ukiran kalimat di kertas mantra itu bercahaya dan dalam seketika ledakan besar mengenainya.


Xue Zhan sudah berusaha menghindar dan melindungi diri tapi ledakan itu jauh lebih cepat terjadi. Kakinya sempat kehilangan keseimbangan, badai pasir terus menggulung dataran itu dan mengaburkan pandangan. Pemuda itu menarik napas dalam, memperhatikan di balik topengnya setiap gerakan yang akan muncul.


Dia mendengar suara persis di sebelahnya, Xue Zhan melompat ke atas.


Ada yang lebih besar dari itu. Ming Dao menyerangnya dari samping, Xue Zhan sadar itu hanyalah umpan untuk mengecohnya karena kembali merasakan kekuatan Tikus Pasir di bawah kakinya seperti sebelumnya.


Dugaannya benar. Xue Zhan melompat tinggi ke atas dan tepat di bawah kakinya cakar Tikus Pasir berusaha meraihnya untuk mencabik-cabik pemuda itu. Beruntung Xue Zhan lebih cepat bertindak. Tapi tak habis sampai di situ, Tikus Pasir melepaskan kertas mantra yang tertempel di tubuhnya. Mereka segera bergerak mengikuti Xue Zhan.


Di atas udara Xue Zhan tidak bisa berbuat banyak. Dari tebalnya badai pasir yang menghalau Pandangannya, Xue Zhan samar-samar melihat sesosok laki-laki berlari cepat di atas tubuh Tikus Pasir menuju ke arahnya.


Dalam sekejap mata cahaya terang benderang menghalau pandangannya hingga buta total. Xue Zhan tetap mempertahankan pedang di depan wajahnya, lalu merasakan hantaman dashyat yang dengan mudah membuatnya terlempar jauh. Ming Dao mendorong tubuhnya yang terlempar di udara dengan kekuatan cahaya di tangannya.


Kekuatan itu sama seperti kekuatan yang dimiliki murid Chao Mi. Xue Zhan merasakan benturan keras menyentak seluruh tulangnya ketika dia terlempar di atas gurun pasir. Badai pasir membuatnya tertimbun di dalam pasir tersebut. Xue Zhan meraba ke sekitarnya, pedangnya terlepas dan terlempar cukup jauh.


Dia tidak mendapatkan pedang itu, melainkan menyentuh kaki seseorang yang berdiri tepat di sampingnya.


"Masih mau menyelamatkan diri? Kau sudah pasti mati hari ini. Menyerah akan membuat semuanya mudah. Kau tidak perlu remuk sekujur tubuh. Menyerahlah." Suara Ming Dao terdengar tenggelam di antara bunyi siulan angin dan deru pasir di sekitarnya.


Xue Zhan ditangkap oleh Tikus Pasir menggunakan sebelah tangannya yang tajam. Kuku itu bisa menembus Tubuhnya dan mengoyaknya dengan mudah.


Pemuda itu memuntahkan darah, raut wajahnya perlahan kesal mendengar omongan Ming Dao terus-menerus.


"Menyerah dari apa? Dari tikus mainan dan pemain kertas anak-anak sepertimu? Jangan mimpi."


**


Sosok dengan topeng rubah tak menyesali keputusannya untuk membunuh Yan Shumei. Dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya dan kini tiba saatnya untuk membangkitkan orang-orang yang akan mengambil salah satu peran penting dalam rencananya.


Dalam keheningan yang mencekam, tubuh lemah Yan Shumei terbaring di lantai. Darah mengalir dari luka di lehernya, menciptakan noda merah yang kontras dengan warna dingin ruangan itu. Topeng rubah yang kini kembali menduduki singgasananya, memandang botol berisi darah iblis dengan tatapan penuh kepuasan.


"Kita akan memanggil petarung-petarung terhebat kita setelah ini," gumam topeng rubah dengan suara yang terdengar merdu dalam keheningan ruangan. Tawa jahatnya pun memenuhi udara, menciptakan getaran yang mengguncang hati para pengawalnya yang setia. Mereka hanya diam menyerupai boneka, bahkan lebih diam dari mayat Yan Shumei sendiri.


Sementara itu, sekelompok pelayan setia dengan topeng rubah memasuki ruangan. Mereka menghampiri tubuh tak bernyawa Yan Shumei dengan perasaan campur aduk. Raut wajah mereka tetap dingin, tak terungkapkan. Dengan hati-hati, mereka mengangkat tubuh Yan Shumei dan membawanya ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Di saat yang sama, topeng rubah menatap pelayan-pelayan itu dengan penuh perintah. "Kuburkan dia dengan hormat di tempat yang sudah disediakan untuk temanku tercinta, tugasnya sudah selesai. Sayangnya dia harus istirahat tenang setelah belasan tahun bekerja keras, hahahah," ucapnya dengan tanpa dosa.


Pelayan-pelayan itu mengangguk, menunjukkan kepatuhan mereka kepada topeng rubah.


Topeng rubah merenung sejenak, memikirkan rencananya yang akan datang. Dia mengingat semua petarung hebat yang telah dia persiapkan untuk pertempuran mendatang.


Keyakinannya semakin kuat, dan dia yakin bahwa dengan kekuatan darah iblis, dia akan mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya.


Lelaki topeng rubah berdiri dari singgasananya dan keluar dari ruangan itu. Langkahnya membuat langit-langit ruangan bergema, semua orang menunduk hormat sekaligus takut akan pada dirinya.


Tak mengherankan, Topeng rubah yang kini menjadi penguasa kelompok tersebut sama sekali tidak pandang bulu bahkan ke temannya sendiri.


Dia adalah otak di balik rencana jahat dan ambisius mereka. Dalam kegelapan, rencananya semakin dekat dengan tujuannya, dan petarung-petarung terhebat mereka telah dipersiapkan untuk menghadapi perang akan menjadi tumbalnya selanjutnya termasuk orang-orang yang berada di ruangan itu sendiri.


Lelaki dengan topeng rubah melangkah wibawa melalui keramaian di luar istana yang terhubung langsung dengan markas kelompok mereka. Terdengar hiruk pikuk yang terorganisir dan dilaksanakan dengan sempurna oleh anggotanya.


Setiap orang menjalankan tugasnya dengan tekun, setia pada perintah dan kehendak pemimpin mereka.


Lelaki dengan topeng rubah tiba di sebuah tempat yang tertutup rapat oleh gelap gulita. Suasana tempat itu terasa begitu hening dan terlindungi oleh banyak mantra dan rantai yang tidak biasa. Tempat itu adalah makam yang hanya diketahui oleh sedikit orang.


Dengan hati-hati, lelaki dengan topeng rubah membuka pintu gerbang tempat itu. Suara gemerincing mantra dan gemeretak rantai mengisi udara, menciptakan atmosfer suram yang mengerikan. Cahaya samar menyinari lorong-lorong gelap yang terdapat di dalamnya.


Mengikuti lorong yang berliku-liku, lelaki dengan topeng rubah melanjutkan perjalanannya. Seiring langkahnya yang terus melintasi jalan berbatu, suara langkah kaki di lantai menjadi semakin jelas. Dia bisa merasakan getaran kuat energi yang mengalir melalui tempat ini.


Tak lama lelaki dengan topeng rubah mencapai ruangan inti tempat itu. Ruangan itu terang benderang dengan sinar lilin yang lembut, menerangi ratusan pusaka kuno dan artefak magis yang tersusun rapi di rak-rak kayu. Aroma harum ramuan dan aroma kuno memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang khas di dalam ruangan tersebut.


Dia membuka beberapa halaman kitab membaca mantra-mantra kuno, dan memperhatikan ramuan-ramuan langka yang tercantum di dalamnya dan semua catatan yang ditinggalkan Yan Shumei sebelum kematiannya.


Lelaki dengan topeng rubah mengangkat pandangannya dari buku yang sedang dia baca dan memandang tiga peti mayat yang terletak di hadapannya. Peti-peti tersebut terbuat dari kayu hitam yang mengkilap, dan terikat bersama dengan rantai yang dirantai dengan mantra Segel Langit. Tulisan di depan setiap peti tersebut menjelaskan identitas jasad yang ada di dalamnya.


Nama-nama jasad itu adalah Mo Shuiyang, Dai Zhen, dan Wang Xin. Tiga nama yang memang dikenal dalam lingkaran Taring Merah sebagai petarung terhebat mereka. Mereka adalah anggota elit yang telah meninggal dalam pertempuran melawan musuh-musuh berbahaya.


Lelaki dengan topeng rubah mengulurkan tangannya dan dengan lembut menjalankan jarinya di sepanjang permukaan peti mayat. Dia merasakan energi yang kuat dan gelap yang memancar dari dalamnya, mengisyaratkan kekuatan yang tersimpan di dalam jasad-jasad itu.


Mereka adalah pahlawan yang telah berkorban untuk tujuan yang sama seperti dirinya: membangkitkan kekuatan Pusaka Matahari dan sekarang impian mereka hampir tercapai. Tentu dia ingin menunjukkan semua itu pada mereka.


Meskipun jika mereka bangkit nanti, jiwa mereka tidak sepenuhnya adalah jiwa yang asli melainkan bercampur dengan kekuatan iblis yang dahsyat dan tak terkalahkan.


Lelaki dengan topeng rubah kembali mengembalikan pandangannya pada buku-buku dan pusaka yang ada di sekitarnya. "Aku sudah sejauh ini, hahaha. Tak kusangka semuanya kan berakhir sebentar lagi. Bagaimana, adikku tersayang? Aku yakin kau pasti masih di sana melihat semua rencana yang kulakukan sambil menggigit jari dan menggigil ketakutan."


Dia telah merencanakan langkah berikutnya dengan persiapan matang. Berikutnya adalah membangkitkan ketiga mayat tersebut dengan menggunakan darah sang iblis yang telah diuji coba oleh Yan Shumei.


Darah iblis itu memiliki kekuatan dahsyat yang dapat memulihkan kehidupan yang telah tiada.


Namun, proses ini bukanlah tugas yang mudah. Lelaki dengan topeng rubah membutuhkan bantuan dari pusaka langit yang langka dan kuat, yaitu Baja Penyatu Jiwa.


Baja Penyatu Jiwa adalah salah satu dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia, sebuah pusaka yang memiliki kekuatan luar biasa untuk menghubungkan roh dengan tubuh yang telah mati.


Dalam keadaan tersembunyi, Baja Penyatu Jiwa telah lama menjadi pusaka yang dijaga ketat oleh laki-laki itu dan hari di mana dia menggunakan pusaka itu kini tiba.


Dengan hati-hati, lelaki dengan topeng rubah membuka kotak khusus yang berisi Baja Penyatu Jiwa. Kilatan cahaya berwarna biru menerangi ruangan saat pusaka itu keluar. Lelaki itu memegangnya dengan hati-hati, merasakan kekuatan yang terpancar darinya.


Tidak ada kata-kata yang terucap saat lelaki dengan topeng rubah mempersiapkan ritual bangkitnya ketiga mayat tersebut. Dia menyusun bahan-bahan yang dibutuhkan, mengatur mantra dan simbol-simbol yang diperlukan.


Setelah semua persiapan selesai, lelaki dengan topeng rubah mengambil botol berisi darah iblis yang telah diuji coba oleh Yan Shumei. Dia dengan hati-hati meneteskan darah itu ke tubuh mayat pertama, Mo Shuiyang tepat di dadanya di mana dia meletakkan Baja Penyatu Jiwa.


Cahaya kebiruan segera menyelimuti tubuh yang sudah lama mati itu.


Ketika cahaya mereda, lelaki dengan topeng rubah bisa melihat matanya yang dulunya kosong kini memancarkan cahaya merah menyala serupa iblis. Mo Shuiyang telah bangkit kembali, dipulihkan oleh darah iblis dan kekuatan Baja Penyatu Jiwa.


Tidak terdengar sepatah kata pun selain ekspresi kosong tanpa jiwa namun dia memiliki kekuatan setara atau bahkan di atas dari kekuatannya di masa lalu.


Ritual itu berlanjut dengan mayat kedua, Dai Zhen. Kembali cahaya kebiruan menyelimuti tubuhnya saat darah iblis diteteskan. Mata Dai Zhen yang mati kini bersinar dengan kehidupan yang baru. Dia juga telah kembali dari alam kematian, siap untuk memenuhi panggilan lelaki dengan topeng rubah.


Tinggal satu mayat lagi yang harus dibangkitkan. Lelaki dengan topeng rubah menghampiri peti mayat terakhir, Wang Xin. Dengan penuh ketenangan, dia meneteskan darah iblis ke tubuhnya. Cahaya yang berkilauan dan energi magis melingkupi tubuh Wang Xin.


Ketika cahaya berputar-putar di sekitar tubuh Wang Xin, lelaki dengan topeng rubah merasa kekuatan yang menggetarkan ruangan. Seperti dua kekuatan yang bertentangan, kehidupan dan kematian saling bertarung di dalam diri Wang Xin.


Tak lama cahaya mereda dan Wang Xin membuka matanya yang seolah-olah terjaga dari tidur panjang.


Tiga mayat yang dulunya mati kini berdiri di hadapan lelaki dengan topeng rubah, menjadi senjata baru favoritnya yang akan digunakan untuk mencapai tujuannya.


Namun, meskipun mereka telah bangkit kembali, cahaya yang ada di mata mereka tetap pucat dan tak secerah sebelumnya. Mereka tidak lagi memiliki jiwa dan emosi yang sesungguhnya. Mereka hanya sekadar wujud hidup tanpa perasaan.


Dengan suara yang dingin dan tanpa ekspresi, petarung-petarung yang telah bangkit kembali hanya menatap lurus ke depan, tanpa ada reaksi atau emosi yang terpancar dari wajah mereka. Mereka hanya menunggu perintah selanjutnya dari lelaki dengan topeng rubah, siapa pun dia sebenarnya.


Dalam kegelapan yang mengelilingi mereka, lelaki dengan topeng rubah memandang para petarung yang telah bangkit kembali dengan tatapan penuh puas. Dia tahu bahwa kekuatan yang dia miliki sekarang lebih besar dengan kehadiran mereka. Dalam diam, dia bersiap untuk melancarkan serangannya yang tak terelakkan.


Dunia akan segera menyaksikan kedatangannya kembali untuk menghancurkan semua orang.


Apakah ada yang mampu menghentikan mereka? Hanya waktu yang akan menjawabnya.