
"Apakah karena Dosa itu sedang tumbuh hebat dalam aliran darahmu? Atau justru hasrat membunuh kian bergejolak yang tidak bisa kau lampiaskan. Membuatmu gegabah mengambil keputusan dan membunuh seorang musuh yang mendatangkan ribuan masalah?"
Sejenak Xue Zhan berusaha memahami tiap bait kata Tetua ke-45, namun cara berpikir orang tua yang telah hidup lama sepertinya sangat sulit dimengerti. Saat laki-laki itu sudah melihat langit, Xue Zhan baru bisa melihat tanah.
"Hantu-hantu itu akan mengetuk pintu rumahmu. Bukan hanya satu, melainkan seribu." Tangan Xue Zhan dingin.
"Menara Giok Hantu memiliki ribuan hantu yang bersemayam di sarang asli mereka. Hantu Penyair adalah salah satu dari tiang organisasinya. Mereka akan kembali untuk menjilat darahmu sampai ke tulang-tulang."
Peringatan tetua itu sama seperti yang disampaikan Jiazhen Yan.
"Saya tahu konsekuensinya, Tetua."
"Siapa yang mengatakan kau boleh berbicara?"
"Ma-maafkan aku."
"Cih, bocah bodoh sepertimu sangatlah labil. Aku bukan mengkhawatirkanmu, melainkan Lembah Abadi ini. Bagaimana jika Menara Giok Hantu datang membalas dendam dan mengetuk pintu perguruan ini?"
Dia menatap para murid Lembah Abadi.
"Jika itu benar-benar terjadi, semua murid berharga ini akan mati. Aku pernah melihat yang lebih parah dan berharap tidak melihatnya untuk kedua kalinya."
"Apakah sekarang saya boleh berbicara?"
"Jangan memotong dulu! Siapa juga yang menyuruhmu buka mulut? Atau harus kucekoki kitab baru kau mengunci mulutmu?!"
Xue Zhan menyerah. Dia menunduk, "Mengerti, Tetua."
"Akhir-akhir ini pergerakan Taring Merah semakin intens. Selayaknya penyakit ganas yang sedang menggerogoti korbannya. Tanpa rasa sakit, tapi membuatnya kurus kering. Memakan daging, menghancurkan setiap selnya ... Kau juga mengkhawatirkannya, bukan?"
Xue Zhan hanya diam.
"Jawab, dasar murid bodoh!"
Pemuda itu tersentak kaget dan langsung menjawab.
"Be-benar, Tetua. Saya mengkhawatirkannya."
Terdengar dengkusan kesal dari Tetua ke-45 dilanjutkan dengan omongannya. "Kau adalah salah satu dari sekian banyaknya incaran mereka. Aku masih mencoba memahaminya, apakah tujuan mereka sebenarnya?" Langkahnya perlahan mendekat ke jendela, menyingkirkan tirai putih demi bisa melihat ke luar.
"... Bahkan tua bau tanah sepertiku tak mampu membaui sumber bau yang sedang diincar sekumpulan anjin g seperti mereka."
Dalam posisi menunduk, Xue Zhan juga memikirkan semua kemungkinan dan berakhir dengan buntu. Mulutnya berucap, "Apa pun tujuan mereka, saya akan mencoba mencari tahu sebisa mungkin. Mereka melakukan sejauh ini untuk tujuan lain. Aku yakin ini bukan hanya tentang merenggut pusaka atau kekuatan. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu semua ..."
"Kau ingin berurusan dengan Taring Merah?"
Anggukan Xue Zhan mendapatkan tawaan dari Tetua ke-45.
"Kau tahu Ketua pertama Lembah Abadi siapa?"
Melihat gelengan kepala tentu saja lelaki sepuh itu kembali menertawakannya, "Tentu saja kau tidak tahu. Saat dia menjabat aku bahkan belum lahir!"
Xue Zhan sedikit merinding. Biasanya saat Tetua ke-45 tertawa sangat banyak dia akan merepet setelahnya.
"Ketua Perguruan Lembah Abadi mati di tangan Wang Xin, Tiga Pendahulu Taring Merah dan juga seorang pencetus berdirinya kelompok tersebut. Sejak dulu Lembah Abadi memiliki dendam besar terhadap Taring Merah. Begitu pun sebaliknya. Tidak pernah ada kata tenang jika menyinggung kelompok tersebut."
Xue Zhan memahami inti dari kata berbelit yang disampaikan Tetua ke-45.
Perselisihan Lembah Abadi dan Taring Merah telah terjadi sejak lama sekali, sekali saja Xue Zhan menciptakan pemicu maka api itu mungkin akan tiba-tiba membludak menghancurkannya.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Lembah Abadi. Aku akan mencari cara."
Tetua ke-45 kembali ke tempat duduknya semula tepat di hadapan Xue Zhan.
"Aku hanya ingin menyampaikan satu hal padamu, Xue Zhan."
Xue Zhan melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh Tetua ke-45, dia terus bertanya dalam hati. Mengapa begitu sulit memahami apa yang hendak disampaikan laki-laki sepuh itu secara utuh.
"Lindungi apa yang harus kau lindungi, jangan sampai mereka merenggutnya darimu—"
Saat Xue Zhan kembali menoleh ke arah Tetua ke-45, bahu laki-laki itu terangkat sesaat. Tiba-tiba saja wajahnya tertekuk. Dalam keadaan duduk itu, Tetua ke-45 mengembuskan napas terakhirnya.
"Tetua, Tetua, a-apa yang terjadi? Ja-jawab aku!" Xue Zhan terlalu panik dan langsung menggoyangkan bahu lelaki itu, tubuh itu tiba-tiba huyung ke samping begitu saja. Lantas Xue Zhan menangkap tubuh tetua tersebut, napasnya tersengal-sengal dan begitu ketakutan.
Apa yang baru saja terjadi?
Xue Zhan hanya memalingkan wajah darinya kurang tiga detik dan dalam sekejap mata lelaki itu telah tiada. Tidak ada darah ataupun bau racun dari napasnya.
"Tetua, tidak-"
Di saat itu seorang murid membuka pintu hendak memanggil Tetua ke-45, tubuhnya mundur ketakutan. Xue Zhan memangku Tetua ke-45 yang tak bernyawa, tatap mata kosong Xue Zhan membuatnya terlihat seperti seorang pembunuh berdarah dingin.
Murid itu terjatuh menyeret tubuhnya ke belakang sambil berteriak, "Pembunuh! Pembunuh! Seseorang membunuh Tetua ke-45! Iblis telah membunuh seorang Tetua!"
Sontak puluhan murid berkumpul di depan Aula Leluhur Abadi. Tak percaya dengan apa yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri.
Di dalam ruangan itu Xue Zhan memangku tubuh Tetua ke-45 yang telah tak bernyawa.
Xue Zhan yang saat itu dilanda kekalutan mulai kehilangan kemampuannya untuk mencerna apa yang sedang terjadi dan tidak bisa bersuara sama sekali.
"Si-siapa yang telah melakukan ini-?" Napas Xue Zhan tercekat. Tidak ada siapa pun di tempat itu tadi. Lalu, bagaimana caranya lelaki itu mati tiba-tiba?
'Apa maksudnya ... Lindungi apa yang harus kau lindungi?' ucapan Tetua ke-45 mulai menggema di telinganya.
Xue Zhan melihat ke dinding ruangan yang ditutupi oleh ukiran bunga serta bangau. Sejauh ingatannya, tidak ada satu pun corak warna merah di dinding tersebut.
"Tangkap dia!"
*
"... Maafkan aku, Guru."
Xue Zhan menerima belasan luka setelah dihajar sepihak oleh murid-murid Lembah Abadi. Tamparan dan makian terus menghujaninya seperti batu tajam yang merobek kulitnya.
Empat puluh delapan tetua mengerubungi halaman Lembah Abadi dengan jubah putih, di tempat itu berdiri beberapa monumen biru tinggi bertuliskan peraturan di perguruan.
Tempat itu adalah tempat eksekusi bagi seseorang melakukan pelanggaran berat.
Dan sekarang dia dipaksa bertelanjang dada dengan kedua tangan diikat pada tali rantai yang direkatkan ke dua pilar setinggi dada.
"Tidak bisa dimaafkan, binatang!"
Baru beberapa jam setelah kematian Tetua ke-45, kini Xue Zhan akan mengalami kematian pedih yang tak pernah dibayangkannya.
"Iblis tidak tahu diri! Tempat ini sudah menerimamu seperti keluarga dan kau menginjaknya dengan hina! Tidak ada kematian yang lebih pantas untukmu selain dikuliti tiga hari!"
"Tetua ke-45 adalah teladan dengan kebajikan yang patut dipuji, dia tidak pernah mempunyai musuh sepanjang hidupnya! Tak kusangka ... Hari ini kau memangsanya, kau harus mati seribu kali lebih menyakitkan dari ini."
Lalu puluhan suara terus menggema di telinganya. Semua begitu cepat terjadi, Xue Zhan yang tadinya melihat sebuah rumah penuh dengan keluarga berubah serupa kandang singa yang dipenuhi musuhnya.
"Apa yang kalian ributkan? Bukankah sebaiknya bertanya dulu pada satu-satunya saksi yang melihat sendiri bagaimana kematian Tetua ke-45?"
Suara itu menjadi satu-satunya penyelamat di saat putus asa melandanya.
"Guru Kang-?" Xue Zhan terlalu malu untuk menatap wajah itu. Dia selalu saja membuat laki-laki itu kecewa dan mendapatkan cemoohan. Xue Zhan membenci kenyataan itu.
Di antara keramaian yang begitu bising, seseorang membalikkan badan meninggalkan rombongan murid yang terus melemparkan makian dan hinaan, dia berbisik pelan.
"Itu baru seberapa, nikmatilah penderitaanmu, iblis."
Sosok tersebut menurunkan caping bambu, helaian kain tipis menutup sebagian wajahnya. Tampak senyum tipis di wajah tampan itu mengembang lebar.