Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 102 - Batara Pedang Suci


"Mereka memberitahukan bahwa yang sebenarnya membantu Kaisar Ziran adalah Gunung Pohon Seribu, mengatakan lelaki itu tidak menepati janjinya, seketika hubungan baik Perguruan Gunung Pohon Seribu dengan Lembah Abadi memburuk."


"Apa isu itu terdengar sampai ke telinga kelompok jahat dari Gunung Qin?" tanya Xue Zhan. Xiang Yi Bai menarik senyum sepintas, "Tentu saja. Kecerobohan itu membuat berita terdengar sangat cepat. Tanah memiliki mata, langit memiliki telinga. Berita itu pada akhirnya menimbulkan kekacauan kedua kali dan secara langsung menyeret perguruan Gunung Pohon Seribu dalam permasalahan serius ... Sekaligus menjadi akhir sejarah dari Perguruan kami. Hingga Perguruan Gunung Pohon Seribu lenyap dari dunia persilatan."


Sejenak hanya terdengar keheningan. Xiang Yi Bai menatap lama ke langit.


Beberapa lama akhirnya Xiang Yi Bai melanjutkan.


"Kelompok misterius dari Gunung Qin turun dari gunung dan membantai satu perguruan kami dalam semalam. Aku dijebak oleh pengkhianat perguruan, mereka membuatku meninggalkan perguruanku untuk misi palsu. Saat aku kembali ..." Terdengar tawa pahit dari bibirnya.


"Guru, Tetua, Kakak Perguruan, Adik Perguruan dan semua yang kukenal telah dibunuh."


"Hanya Tetua Xiang yang tersisa dalam pembantaian itu?"


"Kami dibunuh tanpa tahu rupa mereka yang sebenarnya. Hanya aku dan temanku yang sekarat tersisa, lalu aku membawanya pergi."


Setelah rumah dan keluarganya lenyap, Xiang Yi Bai terpukul berat dan kehilangan kepercayaannya kepada manusia. Dia membenci semua orang yang menyebabkan ini terjadi, namun gurunya pernah berpesan bahwa tak ada perang yang bisa diselesaikan dengan perang. Bahkan temannya yang sekarat mengatakan hal sama.


Temannya itu begitu senang membantu orang banyak. Setelah mereka menyembunyikan Batu Elemen Penguasa Bumi tak terhitung berapa nyawa masyarakat Kekaisaran Diqiu yang terselamatkan. Tapi sebagai bayarannya mereka harus kehilangan tiga ratus murid dan penerus Gunung Pohon Seribu. Xiang Yi Bai tak mau kehilangan satu-satunya teman seperguruannya yang tersisa dan mengupayakan segala cara untuk menyelamatkannya.


Hingga akhirnya prajurit utusan Ziran Zhao datang. Ziran Zhao berpesan bahwa jika Xiang Yi Bai mau menjaga Batu Elemen Penguasa Bumi lebih lama dia akan menyerahkan satu dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia milik salah satu Perguruan di Kekaisaran Diqiu, Hutan Penyembuh Sakti.


Pusaka yang ditawarkan adalah Tujuh Metode Dewa Penyembuh yang memiliki dua kemampuan terhebat dalam penyembuhan dan ilmu obat. Salah satu kemampuan kitab itu adalah menyembuhkan tubuh yang telah mati, hancur, cacat atau penyakitan dapat dengan satu syarat, jiwa pemiliknya benar-benar menginginkan kehidupan.


Xiang Yi Bai tak berpikir dua kali untuk menerima tawaran itu. Dia membawa lari Batu Elemen Penguasa Bumi dan mayat temannya hingga akhirnya dirinya berada di dalam situasi terpojokkan.


"Ini sama seperti yang kau alami seperti saat kau jatuh ke dalam sini." Xiang Yi Bai meliriknya dengan ekor mata. "Saat itu ... Ratusan pendekar mengacungkan senjata padaku. Mereka menuduh aku ingin menguasai pusaka hebat sendirian dan kelak akan membawa bencana. Bukan hanya pendekar aliran hitam saja, bahkan mereka yang berada di jalan kebenaran ikut menyudutkanku."


Pada nyatanya mau baik atau pun jahat sama saja, mereka mementingkan keegoisan dan ingin menguasai pusaka hebat itu sendirian dengan dalih menyalahkannya berbuat kejahatan.


"Seseorang pernah bertanya, saat an jing menggigitmu, apakah kau akan menggigitnya balik?" Dia menjawab pertanyaannya sendiri, "Aku tidak akan membalas mereka melainkan hanya menunggu mereka mati saling membunuh. Biarkan mereka saling menggigit, aku tidak mau bergabung menjadi salah satu anjin g gila seperti mereka."


Lalu setelahnya Xiang Yi Bai tertawa sembari meminum arak. Cukup lama Xiang Yi Bai menertawakan keadaannya saat itu, dia menggelengkan kepala beberapa kali, meski dia tertawa kesedihan masih terlihat di kedua matanya. Xiang Yi Bai menenggak arak dalam kendi sampai tidak tersisa setetes pun.


"Aku mulai membenci segala hal tentang dunia dan akhirnya memutuskan meninggalkan kedudukanku sebagai Ketua Agung Dunia Persilatan, menelantarkan Perguruan Gunung Pohon Seribu yang berada di ambang kehancuran, membuat namaku ternoda sebagai seorang buronan. Setelah rumah dan keluargaku hancur tidak ada yang ingin kulakukan lagi di dunia."


Cukup miris, semua kepedihan itu dirasakannya akibat ketamakan manusia. Xiang Yi Bai tidak pernah mencari masalah dengan sengaja. Tapi yang membuat Xue Zhan tak habis pikir adalah bagaimana Ziran Zhao dengan mudahnya melimpahkan masalah ini pada seseorang terhormat seperti Xiang Yi Bai. Lelaki itu kehilangan segalanya, teman, guru dan murid hanya untuk membantunya. Tidak sama sekali membela Batara Pedang Suci itu di hadapan orang lain hingga semua orang menganggap Xiang Yi Bai sebagai pengkhianat.


Mungkin ada maksud lain yang dicapai Ziran Zhao. Dengan disimpannya Batu Elemen Penguasa Bumi di tangan Xiang Yi Bai, batu itu akan selamanya aman tanpa tersentuh tangan-tangan kotor. Berkat itu Xiang Yi Bai menelan semua penderitaan sendirian, dan mengejutkannya laki-laki itu tak melawan.


"Kenapa Tetua Xiang tidak membela diri? Atau paling tidak mengembalikan batu itu dan kembali membangun Perguruan Gunung Pohon Seribu?"


Pertanyaan itu membuatnya tertawa sekilas, "Jika aku sudah berjanji, tak akan kuingkari sampai mati. Kaisar Ziran memberiku Kitab Tujuh Metode Dewa Penyembuh, aku menjaga Batu Elemen Penguasa Bumi selama yang kubisa."


Beberapa menit kesunyian Xue Zhan memperhatikan lekat-lekat Xiang Yi Bai. Dunia tidak berlaku adil padanya. Dia ingin meluruskan semua ini dengan bertemu Ziran Zhao karena di sini Xiang Yi Bai tak bersalah sedikitpun. Dalam kekosongan menanggung kematian saudara perguruannya. Xue Zhan tahu sekuat apa pun Xiang Yi Bai pasti ada penyesalan dan kesedihan yang tidak pernah hilang di hati laki-laki itu.


Ketika orang jahat melakukan kejahatan dia masih bisa dimaafkan untuk berubah. Namun saat orang baik melakukan kesalahan semua orang menghakiminya dan langsung membunuhnya. Aturan di dunia ini tidak adil.


Setelah jatuh ke dalam Jurang Penyesalan orang-orang menganggapnya telah mati di dasar Jurang yang dinamakan Jurang Penyesalan. Di lain sisi terdengar rumor bahwa Ziran Zhao menyebarkan berita tentang seorang pendekar terhebat yang telah mati bunuh diri di Jurang Penyesalan. Mengancam siapa pun yang jatuh ke dalam jurang itu akan mati dengan cara misterius.


Berita itu semakin dilebih-lebihkan oleh rumor lain yang mengatakan monster mengerikan bersemayam di Jurang Penyesalan.


Xiang Yi Bai sendiri berusaha mati-matian menyelamatkan temannya dengan kitab pusaka langit Tujuh Metode Dewa Penyembuh. Selama berbulan-bulan mencoba menyelamatkan sahabatnya, akhirnya usahanya sia-sia.


Xiang Yi Bai tidak dapat menyelamatkan sahabatnya hanya karena satu hal, temannya itu tak lagi memiliki keinginan untuk hidup. Berbeda dengan saat menyembuhkan Xue Zhan, pemuda itu memiliki keinginan hidup yang kuat, karena itu pula Xiang Yi Bai masih bisa menyelamatkannya.


Hal itu membuatnya semakin membenci segala sesuatu tentang duniawi. Semenjak saat itu Xiang Yi Bai tak pernah lagi menunjukkan diri di dunia persilatan dan tetap menepati janjinya kepada Kaisar Ziran hingga dia mati. Dia mempelajari satu ilmu terhebat dari Tujuh Metode Dewa Penyembuh yang membuat pusaka itu diperebutkan, yaitu cara untuk hidup abadi dan tetap awet muda.


Dua puluh tahun lamanya tinggal sendirian di Jurang Penyesalan, sisi manusiawi Xiang Yi Bai tergerus. Ada satu makam di jurang itu yang merupakan makam rekan perguruannya di mana dia sering bercerita sendiri di saat merasa kesepian. Xiang Yi Bai melewati kekosongan selama 20 tahun dan setiap malam mengenang semua saudara seperguruannya dari Perguruan Gunung Pohon Seribu yang telah mati.


Menertawakan takdirnya sendiri, hanya satu masalah saja mampu membuatnya berakhir menyedihkan seperti ini.


Kehilangan harta, kedudukan, keluarga dan rumah. Yang dapat dia lakukan adalah menerima dan menanggung penyesalan tanpa penyelesaian. Xiang Yi Bai tersenyum pahit, dia bercerita sampai memasuki dini hari, Xue Zhan masih menyimak ceritanya dengan fokus.


"Tetua Xiang menanggung penderitaan yang lebih berat dariku dan bisa bersikap setenang ini, Tetua Xiang memang mengagumkan."


"Aku lebih mirip orang gila saat terjebak sendirian di sini dibandingkan kau."


Xue Zhan menunduk.


"Jadi ... Tetua Xiang tidak akan kembali ke dunia luar dan akan tetap tinggal di sini selamanya?"


"Kemungkinan besar."


Xiang Yi Bai segera berdiri, tak mau memberikan kesempatan bocah itu bertanya lebih lanjut dan langsung memotong.


"Tidur sana, besok kau harus berlatih gerakan yang sama seribu kali lagi."


Xue Zhan mengepalkan kedua tangannya di atas paha, dia mengangkat wajah menatap punggung Xiang Yi Bai yang mulai berjalan menjauh darinya.


"Tetua Xiang, izinkan aku menjadi muridmu!"


Xiang Yi Bai tersentak dan segera membalikkan badan melihat bocah itu sudah bersujud di belakangnya.


"Aku ingin berlatih di bawah bimbinganmu!"


Xiang Yi Bai mengernyit setelahnya. "kau bisa mati dua kali, bocah busuk. Aku tidak menjamin kau selamat."


"Tidak masalah, mau mati atau tidak aku akan berusaha yang terbaik untuk menjadi yang terkuat dan menebus penyesalanku selama di dunia ... Termasuk penyesalanmu, Tetua Xiang."


Xiang Yi Bai sanksi. "Penyesalanku?"


Xue Zhan mengangguk. "aku ingin mengembalikan nama baik Tetua Xiang. Bukan sebagai penjahat, melainkan sebagai penyelamat."


Dia melanjutkan yakin, "Apa pun caranya, aku akan mencari cara. Kita merasakan penderitaan yang hampir sama dan aku tak mau membiarkan Tetua Xiang menanggung ini semua hingga akhir hayat."


Tatapan pemuda itu menatap lekat pada mata sipit Xiang Yi Bai. "Kau mengatakan sendiri tak akan keluar dari sini. Karena itu setelah aku bertambah kuat, aku akan keluar dan membuktikan bahwa Tetua Xiang tidak bersalah dan membuat Kaisar Ziran Zhao mengakui apa yang sebenarnya terjadi 20 tahun yang lalu!"


Xiang Yi Bai tersenyum, kulit kakunya tampak palsu tapi Xue Zhan merasakan kehangatan saat itu.


"Baiklah jika kau memang bersikeras mengembalikan nama baikku, aku menghargainya."


Xue Zhan mengangkat kepala tidak percaya. "Ja-jadi? Tetua Xiang menerimaku sebagai murid?"


"Mulai sekarang panggil aku Guru dengan sopan dan jangan membangkang kalau tidak mau kupatahkan tulang lehermu."


"B-baik, terima kasih Guru!"