Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 177 - Musuh Tak Dikenal


Pemuda itu hanya tertawa sinis dan mengangkat pedangnya. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja," ucapnya dengan nada penuh kebencian.


Chao Mi dan gadis itu siap untuk menghadapi pertarungan itu, sementara angin semakin kencang dan dedaunan kuning semakin berterbangan menutupi pandangan yang temaram.


Chao Mi dan gadis itu merasa terganggu saat melihat sosok pemuda yang menunggu mereka di ujung jalan. Dia terlihat berbahaya dengan bola mata merah darahnya yang penuh kebencian.


Chao Mi tidak gentar oleh ucapannya walau hanya sedikit pun. Dia menghunus senjata kipasnya ke depan sambil berkata menantang. "Kau kira aku takut? Seharusnya yang kau takuti sekarang adalah kepalamu yang terputus sebelum mulutmu bisa mengoceh lagi."


Pemuda itu tidak bergeming. Tapi dia menatap penuh amarah ke arah Chao Mi, seperti menyimpan dendam mendalam padanya.


Sebuah kilat petir melintas di langit. Suasana menjadi mencekam saat mereka saling terdiam dengan hawa pembunuh yang semakin pekat.


Chao Mi menatap gadis di belakangnya sesaat lalu memerintah tanpa ingin dibantah. "Pergilah, bawa pusaka itu dan jangan lihat ke belakang," katanya sambil menunjuk pusaka yang sudah ada di tangan gadis itu. Dia kurang yakin gadis itu bisa menyimpan baik pusaka itu karena dia sangat ceroboh. Namun Chao Mi tidak memiliki pilihan lain. Pemuda itu mungkin saja lebih kuat daripada muridnya.


Gadis itu masih memandang ke arah pemuda tersebut, seolah enggan untuk pergi dari sana. Dengan kesal Chao Mi memaksa gadis itu pergi dengan segera sebelum rencana mereka kacau.


"Jangan banyak membantah dan pergilah, aku yang akan mengurusnya," kata Chao Mi selanjutnya.


"Tapi aku ingin bertarung dengannya!"


"Ini bukan waktunya main-main, dengarkan apa kataku dan bawa benda itu secepatnya atau aku akan memberikan hukuman berat untukmu!" geram Chao Mi yang pada akhirnya membuat gadis itu mengalah. Gadis itu sempat menoleh ke arah pemuda tersebut dengan tajam.


Hingga dia mengangguk kesal, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi dengan langkah cepat, membawa pusaka yang mereka dapatkan dari Perguruan Naga Emas.


Dia meninggalkan tempat itu segera. Sebelum pemuda itu menghalangi jalan muridnya Chao Mi lebih dulu melemparkan pisau angin dan membatasi gerak lawan dengan melemparkan puluhan serangan sekaligus. Pemuda itu melepaskan serangan tebasan tak berarti, Chao Mi menarik senyum meledek.


"Lihatlah, mengenai daun saja kau tidak bisa. Menyedihkan sekali."


Tanpa perlu melakukan banyak hal, muridnya pergi dengan mudah. Pendekar itu mulai kesal. Chao Mi tahu tujuan pendekar misterius itu mungkin adalah pusaka yang telah mereka dapatkan.


Chao Mi menatap lawannya dengan tatapan teliti. Dia mulai menyadari bahwa pertarungan itu akan menjadi berbahaya, setelah mengukur jumlah kekuatan yang mengalir dalam tubuh pemuda itu.


Chao Mi terdiam sejenak, memperhatikan bagaimana sosok pemuda yang berdiri di depannya melihatnya dengan tatapan penuh kebencian dan tangan yang menggenggam erat pedang di kanannya. Dia bisa merasakan kekuatan besar dan pekat yang biasanya dimiliki pendekar aliran hitam yang terpancar dari sosok itu, membuatnya yakin bahwa dia bukanlah pendekar sembarangan.


Meski begitu Chao Mi tidak gentar. Dia telah berhadapan dengan banyak musuh tangguh sebelumnya dan selalu mampu mengalahkan mereka dengan mudah. Dia tahu bahwa kekuatannya cukup untuk mengatasi ancaman apa pun yang muncul di hadapannya, termasuk mengalahkan pendekar misterius tersebut.


Meski begitu, Chao Mi tidak menganggap remeh pemuda itu. Dia menyadari bahwa mereka berdua memiliki kekuatan yang sama-sama dahsyat, dan pertarungan mereka mungkin akan menjadi pertarungan sengit.


Dalam hitungan detik, tiba-tiba saja kedua kubu saling bertemu. Kipas Chao Mi tertahan saat bilah pedang menahan laju senjatanya lurus. Terjadi adu kekuatan, mereka saling mengukur kemampuan masing-masing.


Dengan sinar bulan yang semakin menipis di tengah hutan belantara yang sunyi, terjadi pertarungan antara keduanya dengan sengit.


Keduanya saling menatap dengan mata yang tajam, tak bisa bergerak sedikitpun. Sedetik kemudian Chao Mi meloncat dengan gesit, melayang di udara, dan menyerang dengan senjatanya yang mematikan. Pemuda itu dengan cepat menghindar dan melancarkan serangan pedang balasan yang memburu titik vital, tetapi Chao Mi mampu mengelak dengan mudah.


Beberapa lama bertarung, pemuda itu menebaskan pedangnya dengan kekuatan yang lumayan besar, sedangkan Chao Mi menciptakan senjata tak terlihat yang ketajamannya sama seperti pedang sendiri.


Mereka terus bertarung, tidak ada yang mau mundur atau menyerah. Setiap serangan yang dilancarkan dengan cepat ditangkis atau dihindari. Tidak ada suara yang terdengar selain suara pedang dan kipas yang saling bertubrukan.


Tiba-tiba, Chao Mi mengeluarkan hempasan yang sangat kuat dengan senjatanya. Pemuda itu dengan cepat menghindar, tetapi jangkauan serangan Chao Mi itu begitu luas sehingga melukai tangan kirinya. Chao Mi memanfaatkan keuntungan ini untuk menyerang lagi, namun kali ini pemuda itu berhasil menangkis dengan sebelah tangan.


Mereka terus bertarung, kali ini pemuda itu hanya menggunakan sebelah tangannya yang menggenggam pedang namun dia mampu mengendalikan pertarungan dan melepaskan teknik mematikan untuk menyerang lawannya. Tidak hanya itu, dia juga memiliki kecepatan dan ketangkasan yang tidak bisa diremehkan sama sekali.


Melihat hal itu, Chao Mi mendecak kasar. Dia mengumpulkan kekuatan sambil melayang di atas udara lalu mengeluarkan serangan terakhirnya dengan melepaskan angin tajam yang menghancurkan satu pilar raksasa di belakang lawan. Pemuda itu berhasil menghindar sekali lagi dan itu membuat Chao Mi semakin kehilangan kesabaran.


Pertarungan semakin intens dan alot, keduanya saling menyerang dan menghindar dengan cepat. Sementara itu, angin yang dikeluarkan oleh Chao Mi terus berputar menjadi seperti topan dan menghancurkan apa pun yang dilaluinya.


Secara tak terduga, dengan gerakan tipuan yang sangat cepat, pemuda itu berhasil menyerang Chao Mi dari belakang dan melumpuhkannya. Chao Mi jatuh ke tanah, sementara pemuda itu berdiri di belakangnya menenteng senjata, menatapnya dengan pandangan yang dingin dan penuh kebencian.


Meski terjatuh Chao Mi masih bisa melepaskan serangan balasan ke pada sosok itu, Dia meluncur maju dengan kecepatan tercepatnya, mengayunkan kipas dengan liar, mencoba menebas pemuda itu dengan sekali hantaman.


Namun, pemuda itu menghindar dan memukul pergelangan tangannya, membalas menyerang beruntun. Begitu pun dengan wanita itu. Berbagai adu jurus dan serangan dikeluarkan namun tetap tidak ada yang mau mengalah.


Pertarungan mereka memicu guncangan hebat yang meruntuhkan bangunan-bangunan di sekitar mereka lumayan luas. Orang sekitar yang terkejut dengan pertarungan ini berlari tunggang-langgang mencari tempat aman dan meminta bantuan prajurit kota.


Chao Mi terus menyerang dengan segala kekuatannya, namun pendekar pemuda itu mampu menghindari serangan-serangan Chao Mi dengan gerakan yang mulus.


Setiap serangannya yang kuat menimbulkan suara yang menggetarkan. Tapi selalu saja pemuda itu menghindarinya.


Mereka mundur sejenak, membaca lawan masing-masing dan menyiapkan langkah berikutnya.


Dalam keheningan yang mencekam, keduanya saling menatap dengan nafas tersengal-sengal.


Malam semakin pekat. Daun-daun gugur berterbangan di sekitar mereka, terbawa angin malam sedingin es. Baik Chao Mi mau pun musuhnya mulai kehabisan tenaga setelah beberapa jam bertarung sengit, tampaknya kali ini akan menjadi penentu kemenangan.


Tak lama pemuda itu mulai bergerak dan melancarkan serangan besar dengan Tapak Dewa Penghancur. Chao Mi sudah membaca pergerakannya tapi sialnya dia tidak bisa membaca dari mana serangan itu datang. Musuh tiba-tiba hilang dari pandangan dan muncul dari arah tak terduga.


Tapak Dewa Penghancur menyentuh dada Chao Mi, mengeluarkan suara keras saat sebagian tulang rusuknya hancur terkena serangan tersebut.


Serangan itu tepat mengenai dada Chao Mi, membuatnya terpental mundur beberapa langkah.


Chao Mi memuntahkan darah segar. Dia menggunakan kesempatan itu untuk kembali melancarkan serangannya dengan kipas. Serangan itu menyayat dalam dada pemuda itu, menyilang dari bahu hingga ke perut. Pemuda itu mundur beberapa langkah, mengeluarkan darah dari mulutnya. Keduanya sama-sama terengah, setelah pertarungan yang panjang dan sengit, keduanya mundur ke belakang.


"Sialan, tidak kusangka akan selama ini hanya bertarung denganmu. Kuakui kau memang musuh yang lumayan tangguh," gumam Chao Mi menyingkirkan darah dari sudut bibirnya. Dia sama babak belurnya dengan lawan di hadapannya.