Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 223 - Antara Hidup dan Mati


Ming Dao mengangkat wajah dengan terkejut ketika lawannya tiba-tiba berada di atas kepalanya dan menarik pedang lurus hendak memotong nya menjadi dua bagian.


Lantas dia segera mengambil langkah mundur. Laki-laki itu belum sempat bertindak lanjut karena ketika musuh mendarat di atas tanah dan menancapkan pedang ke pasir, api menyebar menyerupai aliran yang menyebar ke enam sisi dan membakar gurun itu sejauh dua puluh meter.


Terlihat kekagetan di wajahnya di saat api murni membakar jubah putihnya, laki-laki itu mengibaskan pedang dan melindungi wajahnya dari semburan api.


Dalam kecepatan yang tidak terduga, gelang-gelang api menyerbu dari segala sisi.


Dengan gerakan yang dia menciptakan gelang-gelang api di sekitar tangannya. Gelang-gelang itu berputar dengan cepat, memancarkan cahaya yang membara.


Dalam satu gerakan yang gesit, topeng rubah memutar gelang-gelang api itu di sekeliling tubuhnya menciptakan lingkaran api. Kemudian dengan kecepatan yang tinggi dia melemparkan gelang-gelang api itu ke arah Ming Dao.


kecepatan yang tinggi, meninggalkan jejak cahaya di udara. Mereka membentuk pola yang sempurna saat meluncur menuju Ming Dao. Gelombang panas menerpa Ming Dao, menciptakan semburat api di sekelilingnya.


Ming Dao dengan cepat bereaksi, menggunakan kekuatan cahaya yang ada padanya untuk membentuk perisai perlindungan. Perisai itu memancarkan cahaya yang kuat, melindunginya dari serangan gelang-gelang api. Tapi beberapa gelang berhasil melintasi perisai dan mengenai tubuhnya, menyebabkan luka-luka yang dalam.


Meskipun luka-luka serius yang diderita, Ming Dao tetap melawan balik. Dia berusaha untuk mengatasi serangan-serangan api yang melanda dirinya, menggunakan kekuatan cahaya dan pedangnya untuk melawan balik.


Ming Dao menangkis dengan pedang. Namun dia tidak menyadari bahwa dari belakangnya seseorang sudah berdiri di sana selama tiga detik dengan gerakan tanpa mengeluarkan suara, mengincar nya dengan satu teknik mematikan Klan Jiazhen.


Api dengan suhu terpanas membekuk tubuh Ming Dao. Pedang yang mendidih oleh bara api menembus batang tenggorokannya begitu dalam, meretakkan dan melelehkan tulang lehernya. Ming Dao membuka mata selebar-lebarnya, dia hampir tidak percaya pemuda itu berhasil membuatnya di dalam posisi seperti ini. Laki-laki itu memberontak dan melakukan perlawanan balik di saat-saat kritisnya.


Pancaran cahaya kemerahan terpantul di mata Xue Zhan. Melihat Ming Dao mengalami kematian pedih. Dia melihat Jiazhen Yan menggorok laki-laki itu, perlahan-lahan mengiris jantungnya dan di saat yang sama membakar hidup-hidup Ming Dao. Tidak bisa tergambarkan rasa takut yang melanda dirinya.


Itu bukan teman yang selama ini dikenalnya. Orang itu sudah bukan lagi Jiazhen Yan.


Dia sama sekali tidak memiliki rasa kasihan dan tidak memiliki emosi seperti Jiazhen Yan dulu yang pemarah. Tatapannya dingin tanpa ekspresi, pemuda itu lebih mirip seperti boneka pembunuh yang berlumuran darah.


Ming Dao meregang nyawa di tangan Jiazhen Yan. Dia melihat cahaya terakhir memudar dari matanya, dan tubuhnya jatuh tanpa kekuatan. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan telak bagi Jiazhen Yan, tetapi juga dengan harga yang tinggi atas nyawa Ming Dao.


Kesepuluh Tikus Pasir perlahan mulai melemah hingga akhirnya hancur menjadi butiran pasir.


Jiazhen Yan menatap lurus ke arah Ming Dao yang hanya tersisa satu dua penggal napas. Dadanya naik turun kesusahan menyetok pasokan udara meski dia tahun umurnya sudah tidak lama lagi. Ming Dao menggemerutukkan giginya dengan mata berkilat merah penuh dendam.


"Aku akan menunggumu di neraka, kau pengkhianat sialan. Bawa Tuanmu bersamamu. Aku pasti akan membalasmu di akhirat."


Bunyi api yang memakan tulang-tulang Ming Dao terdengar, api murni terus menggerogotinya hingga ke rambut-rambutnya. Tato cahaya di tubuh laki-laki itu memudar. Kekuatan tersebut tak sanggup menyelamatkannya dari Pengganti Hukum Langit.


Jiazhen Yan tidak membalas omongan laki-laki itu melainkan memotong miring wajahnya dari ubun-ubun hingga ke rahang. Kepala Ming Dao terbelah menjadi dua sebelum akhirnya berubah menjadi abu oleh api yang membakarnya.


Pertarungan berakhir. Xue Zhan berkeringat dingin. Kali ini pemuda itu akan menghabisinya seperti yang dia lakukan kepada Ming Dao.


Bahkan musuh yang lebih kuat darinya saja berakhir mengenaskan seperti itu, bagaimana dengan dirinya?


Di sisi lain Xue Zhan begitu mengingat satu hal ketika mereka masih bocah, Xue Zhan selalu merasa tidak ingin kalah dari segi apa pun dengan Jiazhen Yan. Temannya itu selalu berada setingkat lebih unggul dibandingkan dirinya dan hal itu membuatnya harus berusaha keras untuk mengejar ketertinggalannya.


Namun kelihatannya sekarang Xue Zhan telah ketinggalan jauh. Jiazhen Yan berkembang begitu cepat.


Semua yang dikhawatirkan Xue Zhan telah terjadi dan dia mau tak mau harus menghadapinya. Bertarung melawan temannya sendiri, antara hidup dan mati.


**


Yun Mei pendekar muda jenius dari Kekaisaran Bing berdiri di hadapan patung monumen para pahlawan Kekaisaran Bing. Dia melihat ke atas, matahari yang redup menerangi wajahnya yang seputih es.


Di sekitar patung monumen, dia melangkah dengan hati-hati. Jejak kakinya meninggalkan bekas di atas salju putih yang tebal. Di sekelilingnya es menjulang tinggi, dinding-dindingnya yang terbentuk dari lapisan es yang mempesona.


Yun Mei merasakan suhu dingin yang menusuk tulang saat angin sepoi-sepoi berhembus di sekitarnya. Namun, dia sudah terbiasa dengan rasa dingin ini. Dia melangkah maju, berjalan di dalam goa es yang megah yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang


Dinding goa tertutup oleh lapisan kristal yang berkilauan. Cahaya yang redup memantul dari kristal-kristal itu, menciptakan kilauan yang cantik. Setiap sudut dan permukaan terhias oleh kristal yang memancarkan keindahan alami. Yun Mei melihat refleksi wajahnya di kristal; penuh kekhawatiran.


Meskipun udara dingin mencekik, Yun Mei dapat merasakan kehadiran para pahlawan yang berada dalam patung monumen itu, energi dari armor dan senjata yang dibentuk dalam es kristal yang tak bisa dihancurkan itu terasa begitu dekat.


Yun Mei memandangi patung Ayahnya dengan tatapan lembut. Kenangan masa lalu mereka mengalir dalam benaknya, mengisi hatinya dengan rasa haru dan kehilangan. Ayahnya adalah sosok yang pendiam namun kuat, seorang pendekar yang telah mengajarkan Yun Mei banyak hal tentang kehidupan, keberanian, dan kehormatan.


Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berlatih pedang di tengah padang rumput yang luas atau berbicara tentang nilai-nilai kehidupan di bawah pohon besar di taman kekaisaran. Ayahnya selalu memberikan nasihat bijak dan mengajaknya untuk memahami arti sejati dari menjadi seorang pendekar.


Yun Mei teringat akan saat-saat canda tawa mereka berdua. Mereka bermain-main di sungai yang mengalir di desa, mengejar kupu-kupu di perbukitan, dan menyaksikan langit berwarna jingga saat matahari terbenam. Ayahnya selalu memiliki senyuman hangat yang menghiasi wajahnya, memberikan kehangatan dan ketenangan kepada Yun Mei.


Namun, di tengah kebahagiaan itu, Ayahnya pernah berkata dengan serius, "Yun Mei, ingatlah bahwa kehidupan kita sebagai pendekar tidak selalu damai. Perang bisa kembali terjadi, dan saat itu tiba, kamu harus siap mempertahankan Kekaisaran Bing. Meskipun harus menghadapi bahaya, kamu harus berani dan tegas seperti aku, meskipun itu berarti mengorbankan nyawa."


Kata-kata itu terus menghantui Yun Mei. Dia merasa tanggung jawab besar sebagai anak seorang pendekar yang telah gugur. Namun, dia juga merasa terhormat dengan pesan tersebut. Ayahnya percaya padanya, dan dia tidak ingin mengecewakannya.


Dalam goa yang dingin dan misterius di sekitar patung Ayahnya, Yun Mei merenungkan arti dari semua itu. Dia melihat lapisan-lapisan kristal es yang memantulkan cahaya, mencerminkan kecantikan alam yang rapuh namun kuat. Seperti es yang tetap bertahan di tengah suhu yang tak manusiawi, dia ingin menjadi pendekar yang tegar dan tak tergoyahkan dalam menghadapi tantangan kehidupan.


Yun Mei mengambil nafas dalam-dalam dan melangkah maju. Dia tahu bahwa keberanian dan kekuatan tidak hanya ditunjukkan melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Dia bersumpah untuk menjaga warisan Ayahnya dengan baik, menjadi pendekar yang berani, adil, dan setia kepada kehormatan Kekaisaran Bing.


Ketika angin sepoi-sepoi berhembus di sekitarnya, membawa aroma es dan kesegaran kehidupan, Yun Mei merasakan kehadiran Ayahnya. Dia merasa semangatnya terus hidup dalam dirinya, memberikan kekuatan dan ketenangan di saat-saat sulit.


Dalam pandangan Yun Mei, patung Ayahnya adalah simbol keberanian dan pengorbanan. Yun Mei bertekad untuk menjaga dan menghormati warisan Ayahnya dengan segenap kekuatannya. Dia memahami bahwa menjadi seorang pendekar tidak hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang integritas, keberanian, dan kebijaksanaan.


Dalam perjalanan hidupnya, Yun Mei telah belajar banyak dari Ayahnya. Dia telah melihat bagaimana Ayahnya memberikan contoh sebagai seorang pahlawan yang tulus. Semua pengajaran itu terpatri dalam dirinya, menjadi pilar yang memandu langkahnya di medan perang yang tak terduga.


Melihat patung Ayahnya di depannya, Yun Mei merasakan semangat juang yang membara di dalam dirinya. Dia merenung tentang perjuangan yang telah dilakukan Ayahnya, tentang keteguhan hatinya dalam melindungi Kekaisaran Bing. Yun Mei berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan meneruskan perjuangan itu, tidak hanya untuk Ayahnya, tetapi juga untuk kehormatan dan keamanan Kekaisaran Bing yang dia cintai.


Dia memutuskan untuk menghadapi masa depan dengan kepala tegak, tanpa ragu atau keraguan. Perang mungkin akan kembali bergolak dan dia siap kapan saja untuk menghadapinya.


Yun Mei melangkah maju, meninggalkan goa es.


Dan percaya bahwa dengan semangat yang membara dan kehormatan yang dia junjung tinggi, dia akan menjadi pahlawan yang Ayahnya selalu harapkan.


Dalam goa es yang seakan-akan menyaksikan janji dan tekadnya, Yun Mei mengucapkan dalam hati, "Ayah, aku berjanji bahwa aku akan menjadi pendekar yang tangguh dan teguh. Aku akan mempertahankan Kekaisaran Bing dengan keberanian dan kehormatan yang kau ajarkan padaku. Aku yakin kau membimbingku dalam setiap langkahku. Aku tidak akan pernah melupakanmu, dan aku akan menjaga warisanmu dengan segenap kekuatanku."