Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 155 - Festival Dewi Angin


Pada malam harinya di Istana Kekaisaran Diqiu, ribuan lampion berwarna-warni dipasang di setiap sudut kota. Lampu-lampu itu digantung di atas jalan, di bawah pohon, dan bahkan di sungai yang mengalir di tengah kota. Semua orang bersiap-siap untuk merayakan Festival Kelahiran Dewi Angin, sebuah festival yang diadakan untuk memperingati kelahiran Dewi Angin, sang pelindung.


Seiring dengan semakin dekatnya malam, suasana semakin meriah. Di alun-alun kota, ada pertunjukan seni dari para seniman wushu terbaik di kota. Para penonton terdiam saat mereka menyaksikan gerakan-gerakan yang indah dan kekuatan yang luar biasa yang ditampilkan oleh para seniman itu. Beberapa anak kecil bahkan mencoba meniru gerakan-gerakan yang mereka lihat.


Tidak jauh dari sana, sebuah upacara dilakukan di kuil terbesar kota. Para biksu berkumpul di dalam kuil, sementara masyarakat Kekaisaran Diqiu berbondong-bondong berkumpul di luar untuk menunggu jalannya upacara. Tak kurang dari seribu orang menyaksikan jalannya acara yang megah tersebut.


Setelah beberapa saat, sebuah sinar terang muncul dari dalam kuil lalu kemudian, Dewi Angin muncul di pintu kuil. Dia adalah Li Jia Xing-yang meski hanya dilihat sekilas, kecantikan di wajahnya tetap terlihat jelas. Para masyarakat berseru histeris ketika mereka melihat Dewi Angin yang cantik dan anggun itu.


Dewi Angin memimpin prosesi ke luar kuil, diikuti oleh para biksu dan orang-orang penting lainnya. Mereka semua membawa bunga-bunga dan dupa sebagai tanda penghormatan mereka kepada dewi pelindung mereka.


Masyarakat setempat menyambut dengan gembira sambil melemparkan bunga-bunga ke arah mereka.


Saat mereka berjalan menuju alun-alun, lampion-lampion yang menghiasi kota semakin terang dan semarak. Para masyarakat setempat menari dan bernyanyi di bawah cahaya lampion, sementara Dewi Angin, utusan dari Kekaisaran Feng dan para biksu duduk di panggung utama.


Malam itu, ada banyak hiburan yang disediakan, dari pertunjukan musik dan tari hingga pertandingan wushu. Orang-orang menikmati makanan dan minuman yang lezat sambil menikmati pemandangan kota yang indah.


Sesudahnya Dewi Angin kembali ke panggung utama untuk memimpin upacara terakhir, yaitu pelepasan lampion. Para masyarakat setempat mengambil lampion yang telah mereka siapkan sebelumnya dan menyalakannya dengan api lilin. Kemudian melemparkan lampion itu ke udara dan menerbangkannya. Lampion-lampion terbang tinggi di langit malam, membuat langit malam menjadi sangat indah.


Beberapa orang berteriak histeris dan bertepuk tangan saat lampion-lampion itu terbang semakin tinggi. Mereka menganggap bahwa lampion-lampion itu adalah doa yang diangkat ke surga. Mereka memohon Dewi Angin untuk melindungi dan membawa kebahagiaan dan kedamaian ke kota mereka.


Xue Zhan melihat sekitar dengan rasa kagum. Festival Kelahiran Dewi Angin di Istana Kekaisaran Diqiu memang menjadi acara yang sangat dinantikan tahun ini. Di malam hari seperti ini, seluruh kota dihiasi oleh ribuan lampion. Ada lampion berbentuk burung Phoenix, lampion ikan mas, lampion bunga, dan berbagai macam bentuk lainnya.


Saat Xue Zhan masih memegang lampion dan belum melepaskannya, dia menatap Gurunya Xiang Yi Bai dan Fenghuang. Dia merenung sejenak tentang bagaimana semuanya berlalu begitu cepat dan kini dia bisa merayakan Festival Kelahiran Dewi Angin bersama mereka dan tidak lagi merasa kesepian seperti dulu. Dia memandang lampion yang dipegangnya sejenak sambil memejamkan matanya dan berdoa di dalam hati.


Tiba-tiba Xue Zhan melihat sesuatu yang bersinar dari sisi lain kota Diqiu. Meskipun keramaian dan kegembiraan yang ada di festival membuat banyak orang tidak memperhatikan hal tersebut, namun Xue Zhan dapat merasakannya dengan jelas.


Dia memperhatikan dengan seksama dan menyadari bahwa cahaya tersebut berasal dari sebuah bangunan tua yang terletak jauh dari lokasi festival. Xue Zhan merasa ada yang tidak beres dan mencium bau pertumpahan darah yang sangat kuat.


Tanpa berpikir panjang, dia memutuskan untuk menyelidiki kejadian yang mencurigakan itu dan meninggalkan kerumunan lalu berjalan menuju ke arah bangunan tua itu. Setiap langkahnya semakin mendekatkannya pada sumber cahaya dan bau darah yang semakin kuat. Setiap detiknya Xue Zhan semakin yakin bahwa ada yang tidak beres di dalam bangunan tersebut.


Namun, dalam perjalanan menuju ke bangunan itu, Xue Zhan terpisah dari Gurunya Xiang Yi Bai di tengah keramaian yang semakin ramai. Xiang Yi Bai yang sempat mencari-cari Xue Zhan namun tidak berhasil menemukannya. Sementara itu, Xue Zhan terus berjalan hingga akhirnya dia tiba di depan bangunan tua yang dipenuhi oleh aura gelap.


Xue Zhan memutuskan untuk masuk dan mengecek keadaan di dalam bangunan secara diam-diam. Saat masuk, suasana menjadi semakin mencekam dan bau darah semakin kuat.


Sesaat Xue Zhan terkejut dan tercengang melihat pemandangan yang mengerikan. Dia melihat enam mayat terpenggal di sekelilingnya dengan beberapa bagian tubuh terkoyak. Kemudian muncul seseorang yang berdiri dengan menginjak kepala salah satu dari mereka. Orang itu terlihat menyeramkan dengan pakaiannya yang serba putih dan topeng iblis yang menutupi wajahnya. Aura negatif yang kuat terpancar dari tubuhnya, dan Xue Zhan bisa merasakan keinginan untuk membunuh yang sangat kuat darinya.


Xue Zhan tidak bisa menahan getaran yang berasal dari musuhnya itu. Orang itu terlihat seumuran dengannya namun memiliki hasrat membunuh seperti monster yang telah hidup berabad-abad. Xue Zhan melihat pedang merah yang dipakai oleh musuhnya, yang memancarkan cahaya putih. Tato bersinar terang di lengan kirinya terlihat jelas, membuat Xue Zhan semakin yakin bahwa orang itu bukanlah musuh sembarangan.


Namun, Xue Zhan tidak bisa mundur.


Dia mempersiapkan diri dengan mengeluarkan pedangnya, siap untuk bertarung kapanpun. Xue Zhan berdiri di hadapan musuhnya, tidak berniat membiarkan orang itu lepas setelah membunuh enam orang prajurit yang tidak bersalah.


Terjadi ketegangan di antara mereka berdua. Dalam posisi waspada Xue Zhan melihat seluk-beluk musuh dari atas sampai bawah. Dia seperti mengingat sesuatu di alam bawah sadarnya namun semua itu hanya timbul tenggelam. Sepertinya Xue Zhan pernah melihat sosok itu, entah di alam mimpinya, di dunia nyata atau hanya halusinasinya. Semakin dia mengingatnya, kepalanya semakin sakit.


Musuh mulai menarik pedang, nampaknya tak mau berbasa-basi dan langsung mengincar kepalanya. Dilihat dari mayat yang telah dibunuh sosok tersebut, Xue Zhan nampaknya harus berhati-hati dengan tipikal gaya bertarung yang liar dan juga memiliki kekuatan yang berat. Xue Zhan ambil sikap waspada, dia menarik pedang ke samping, melihat pergerakan musuh terlebih dahulu sebelum bergerak.