Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 211 - Sebuah Nama Di Balik Teror


Belasan tahun yang lalu, Kekaisaran Diqiu terlibat dalam perang dahsyat yang mengguncang seluruh wilayah.


Perang tersebut menjadi momen bersejarah yang menghancurkan hampir setengah bagian pusat Kekaisaran, merobek fondasi yang telah dibangun selama berabad-abad. Ribuan pendekar yang berani dan gagah berani kehilangan nyawa mereka dalam pertempuran, meninggalkan suasana duka yang mendalam di seluruh kekaisaran.


Perang tersebut dipicu oleh ambisi dan ketamakan mereka untuk memperoleh kekuasaan dan kendali atas sumber daya alam yang berlimpah telah memicu konflik yang tak terelakkan.


Pertempuran-pertempuran sengit pecah di medan perang, dan desa-desa terpencil hancur menjadi reruntuhan saat gelombang kekerasan menyebar ke seluruh negeri.


Dalam perang yang melanda Kekaisaran Diqiu, para pendekar menjadi pahlawan dan pengorbanan mereka dihargai oleh seluruh Kekaisaran. Tetapi juga, di balik kemenangan dan pengorbanan itu, ada duka yang tak terhitung jumlahnya. Orang-orang yang kehilangan keluarga mereka, teman yang berduka, dan hati yang hancur karena terpisah dari orang-orang yang mereka cintai.


Duka merayap di seluruh kekaisaran, mengingatkan orang-orang akan harga yang harus dibayar oleh para pahlawan dan korban tak bersalah. Monumen dan tanda peringatan didirikan untuk menghormati mereka yang berjuang dan mengorbankan diri dalam perang berdarah itu.


Kekaisaran Diqiu tidak pernah melupakan tragedi itu, dan harapan akan kedamaian terus hidup di hati rakyat yang tersisa.


Dalam bayang-bayang perang yang telah terjadi, Kekaisaran Diqiu berusaha membangun kembali, menjalin kembali ikatan yang putus, dan memulihkan kepercayaan dalam kesatuan dan perdamaian. Prosesnya mungkin panjang dan berliku dan sulit untuk menyembuhkan luka dan melanjutkan hidup tetap membakar Setelah tragedi yang tak terlupakan tersebut.


Tidak terhitung berapa ratus jiwa yang melayang, kerusakan yang merugikan dan kehancuran lain. Butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih dari insiden tersebut.


Perebutan pusaka telah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu, di saat semua orang menginginkan kekuatan yang bisa membuat mereka menjadi tak tertandingi dan bahkan menyaingi dewa. Mereka tidak ragu untuk membunuh satu sama lain. Getaran kehancuran berhembus ke seluruh wilayah.


Lalu di tahun-tahun krisis itu berdiri kelompok aliran hitam yang secara mengejutkan mengguncang seluruh Kekaisaran.


Tidak ada yang pernah mengetahui identitas kelompok rahasia tersebut. Nama pemimpinnya saja tidak pernah ada yang tahu. Mereka seperti hantu yang mengintai dalam kegelapan dan menunggu waktu yang tepat untuk memulai kehancuran.


Banyak yang berasumsi perang yang melumpuhkan Kekaisaran Diqiu belasan tahun lalu adalah campur tangan kelompok tersebut. Namun di sisi lain lagi-lagi 'Taring Merah' terlibat dalam penyerangan tersebut sehingga tidak ada yang bisa memastikan siapa dalang sebenarnya di balik teka-teki itu.


Di tengah medan perang yang terbakar oleh kobaran api perang, siluet seorang pendekar tampak berdiri dengan kokoh. Api merah menyala di sekitarnya, menyelimuti medan perang dengan panas yang membara. Dalam keadaan tersebut, pendekar itu tetap berdiri tegak, tidak gentar sedikitpun.


Angin berhembus dengan keras, mengacaukan rambut panjangnya yang berkibar-kibar di udara.


Pedangnya berkilauan di bawah sinar matahari yang masuk melalui celah awan, siap untuk menghadapi musuh-musuh yang menantang.


Dalam suasana tersebut, tidak ada tanda ketakutan atau keragu-raguan dalam gerakannya.


Laki-laki yang sama menarik senyum sembari menggelengkan kepala sembari berkata, "Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Tapi aku masih bisa merasakan panasnya perang dan pekatnya aroma pertumpahan darah." Wajah yang dulu masih muda itu kini telah berkerut. Tubuhnya yang kekar selayaknya petarung kini telah sedikit membungkuk. Dia tidak lagi berteman dengan pedang melainkan dengan kail pancing.


Di dalam kobaran api perang, Qi Zhang melihat sesosok dalam balutan jubah putih. Terdiam sendirian di tengah-tengah lalu lalang para manusia yang melarikan diri dari bencana.


Wajah yang dilihatnya saat itu adalah wajah paling mengerikan yang pernah Qi Zhang temui.


Kembali dengan pembicaraan mereka yang sedikit sunyi, Qi Zhang menghela napas berat.


"Perang itu telah terlewati. Aku mengganti pekerjanku menjadi penjual informasi dan bertekad mengungkap siapa sosok laki-laki yang kulihat berdiri di tengah kobaran api belasan lalu ..." Qi Zhang menahan kalimatnya dengan tatapan miris.


"Namun meskipun aku mampu menemukan pecahan misteri dari pelosok dunia, aku tidak pernah bisa mengungkap siapa laki-laki yang kulihat hari itu."


Xue Zhan tertegun.


Qi Zhang sudah lebih lama melihat apa yang dilihatnya dan bahkan tetap tidak menemukan jawabannya.


Pemicu perang telah kembali terlihat dan hari kehancuran itu akan kembali melumpuhkan Kekaisaran Diqiu dan bahkan tiga Kekaisaran lain.


"Tapi kau bilang kau memiliki jawaban untuk pertanyaanku?" ulang Xue Zhan memastikan.


"Aku tidak bilang aku bisa menjawab semua pertanyaanmu. Tapi aku mengatakan aku tahu siapa dirimu."


"Kenapa?" Pertanyaan itu terlontar bersama raut wajah kebingungan. Qi Zhang menuangkan minuman kr cangkir Xue Zhan sambil tertawa singkat.


"Kau sama seperti diriku yang dulu, anak muda."


Pemuda itu semakin mengerutkan alisnya, "Maksud Anda?"


"Saat aku menjadi seorang pendekar, umurku hanya 17 tahun. Aku kehilangan keluargaku di perang itu dan melihat sosok yang kuceritakan sebelumnya. Aku bertekad menemukannya dan membalaskan dendamku. Mengganti pekerjaan dan hidup dalam penyamaran seumur hidup."


Dia meneguk minumannya sebelum kembali berbicara, "semua itu sia-sia."


Dia kembali melanjutkan. "Aku tahu banyak tentangmu karena kupikir kekuatanmu menjadi incaran anak buah mereka. Aku menjamin seratus persen kau akan bergabung dengan orang-orang itu. Tapi perkiraanku salah. Kupikir kau akan langsung bergabung dengan mereka dengan alasan balas dendam atau keserakahan yang ada di dalam hatimu."


Dia menoleh pada Xue Zhan. "Kau memilih jalan lain, bertemu dengan banyak orang dan memiliki hubungan erat dengan mereka. Kau menempuh jalan panjang untuk menemukan semua jawaban yang kau butuhkan."


Xue Zhan menatap Qi Zhang yang sedikit menunduk masih dengan menatap lurus matanya. "Bagaimana jika aku mengatakan bahwa manusia adalah penyebab musnahnya para iblis di muka bumi? Mereka juga menjadi penyebab kematian ayah dan ibumu?"


"Aku tidak mempermasalahkan apa yang terjadi sebelum kelahiranku. Aku hanya ingin menemukan ujung dari permasalahan ini dan menemukan guru serta temanku."


"Pikirkan pertanyaan apa yang ingin kau ketahui."


"Apakah guruku masih hidup?" tanya Xue Zhan langsung. Mata merah itu terlihat begitu berharap. Qi Zhang menjeda beberapa detik sebelum mengeluarkan jawaban.


"Banyak spekulasi dan rumor tentang kematiannya. Terakhir kali ada yang mengatakan mereka menemukan mayat Kang Jian di muara sungai ..."


Xue Zhan seharusnya tidak berharap lebih, matanya turun menatap meja dengan kecewa yang tidak bisa dijelaskan.


Lelaki itu menjabarkan lebih rinci tentang apa yang diselidikinya selama bertahun-tahun


Serigala itu adalah sosok yang paling licik yang pernah ada. Dia merangkai rencana jahatnya dengan kecerdikan yang tak terhingga, menggunakan tipu daya dan pemalsuan informasi sebagai senjata utamanya.


Dalam bayang-bayang kegelapan, dia merencanakan jalan menuju kekuasaan dengan menghasut konflik dan menghancurkan kepercayaan yang ada.


Dia mahir dalam memalsukan informasi, menggunakan keahliannya dalam manipulasi untuk merubah fakta dan menciptakan kisah palsu yang akan mempengaruhi pandangan orang lain. Dia tidak segan-segan untuk memanfaatkan kelemahan dan ketidaktahuan orang lain demi mencapai tujuannya yang jahat.


Musuh itu menjadi dalang di balik kematian Guru Xue Zhan dan perebutan pusaka langit. Dia menyebar desas-desus palsu, menciptakan intrik, dan mengadu domba antara para pendekar agar mereka saling berkonflik dan melemahkan diri sendiri. Dalam dunia yang penuh dengan pertarungan dan persaingan, dia bergerak dengan lincah dan tidak terlihat, mengendalikan jaringan informasi dengan keahlian yang mengerikan.


Taktiknya adalah mengaburkan batas antara kebenaran dan kebohongan, sehingga sulit bagi siapapun untuk membedakan fakta dari pemalsuan. Dia mengelabui banyak orang dengan menjadikan dirinya sebagai sumber informasi yang dipercaya, padahal sebenarnya dia hanya menciptakan alur cerita yang sesuai dengan rencananya.


Serigala licik ini merencanakan setiap langkahnya dengan hati-hati, menjaga kerahasiaan identitasnya dan memastikan bahwa tidak ada yang bisa mengungkap jati dirinya. Dia bergerak di balik tirai, mengendalikan benang-benang tak terlihat dari kekuasaan dan menjadikan semua orang seperti pion dalam permainannya yang mematikan.


Kekejaman dan ketidakpercayaan yang dihasilkan dari pemalsuan informasi ini memunculkan kekacauan dan konflik yang melanda dunia persilatan. Orang-orang menjadi curiga dan saling mencurigai, persahabatan hancur, dan kekuatan yang seharusnya bersatu terpecah belah. Serigala itu memanfaatkan situasi ini untuk mencapai ambisi jahatnya, mengendalikan permainan dengan otak liciknya.


Dia adalah musuh yang paling licik dan berbahaya, mampu mengguncangkan dan memutarbalikkan dunia persilatan dengan kekuatan tipu dayanya. Semua yang berhubungan dengan rencananya akan dipalsukan, membingungkan para pendekar yang berusaha untuk mengungkap kebenaran.


Hanya dengan pemikiran dan kecerdasan yang sama, Xue Zhan dapat mengungkap siapa dalang sebenarnya di balik semua ini.


Qi Zhang terlihat yakin saat menuturkan kalimat berikutnya.


"Namun aku bisa menjamin sembilan puluh sembilan persen Gurumu masih hidup. Dalang di balik semua ini adalah serigala paling licik yang pernah hidup. Dia akan memalsukan informasi atas semua hal yang berkaitan dengan rencananya."


Xue Zhan mengangkat wajahnya tiba-tiba, ekspresinya sedikit lebih cerah ketika mendengar bahwa firasatnya benar.


"Guru masih hidup? Ini benar-benar kabar baik, terima kasih. Terima kasih sudah memberitahuku." Xue Zhan begitu bersyukur.


"Kau tahu di mana Guru Kang berada?"


"Tidak tahu. Jika dia masih hidup aku yakin dia tak akan tinggal berlama-lama di satu tempat karena telah menjadi buronan," jawab Qi Zhang dengan jelas.


Xue Zhan mengangguk. "pernyataan selanjutnya ... Tentang Jiazhen Yan. Kau tahu tentang dia?"


"Sudah kukatakan, aku memiliki semua informasi dari ujung Kekaisaran Bing hingga ujung Kekaisaran Diqiu."


Xue Zhan mengangguk. "Di mana dia sekarang? Apa dia masih hidup? Dan jika dia masih hidup, apa yang dia lakukan sehingga harus menghilang dari Kekaisaran Diqiu?"


Qi Zhang menjawab. "Dia masih hidup. Dan jawaban kali ini mungkin akan menjadi kabar buruk untukmu."


Setelah sebelumnya mendengar kabar baik, Xue Zhan harus mendapatkan kabar buruk tentang temannya.


Beberapa detik mencerna Xue Zhan akhirnya mengangguk. "Katakan saja."


"Jiazhen Yan bergabung dengan kelompok penjahat dari Gunung Qin dan menjadi bawahan langsung ketua mereka, selama lima tahun ini telah membantai setidaknya puluhan ribu orang. Dia sudah menjadi pembunuh berdarah dingin yang diincar di seluruh benua, kepalanya dihargai dengan harga yang sangat tinggi. Dan mereka menyebut temanmu dengan nama 'Pengganti Hukum Langit'."


Jantung Xue Zhan berhenti berdetak untuk sesaat.


Qi Zhang memang sudah bilang ini adalah kabar buruk, tapi Xue Zhan tidak pernah menyangka akan seburuk ini. Lebih dari perkiraannya dan seketika membuat seluruh tulangnya lemas.


Bagaimana bisa dia menjelaskan pada Jiazhen Wu tentang apa yang terjadi pada anaknya sekarang?


Xue Zhan memastikan tidak percaya. "Bagaimana kau bisa tahu hal ini?"


"Bukankah sudah jelas? Dia adalah satu-satunya penerus kekuatan api murni dari klan Jiazhen. Jika kau melihat lebih rinci di tempat pembantaiannya, kau akan menemukan api murni itu."


Xue Zhan tidak bisa berkata-kata karena sepertinya dia merasa omongan Qi Zhang benar. Tangannya dingin.


Jiazhen Yan bersekutu dengan musuh tanpa alasan yang jelas. Ini menjelaskan mengapa Xue Zhan melihat pemuda itu terlihat menyeramkan di dalam mimpinya. Dia telah berubah menjadi pembunuh yang mengerikan hingga meneror seluruh Kekaisaran.


Xue Zhan terlalu sering mendengar kabar pembantaian yang dilakukan Pengganti Hukum Langit itu. Dan tidak pernah menyangka nama temannya sendiri yang berada di balik sebutan itu.


Bagaimana suatu saat nanti mereka bertemu dan Xue Zhan harus membunuh temannya sendiri?