Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 230 - Cahaya Pertama dan Dewi Pelindung


Dalam keadaan yang penuh dengan kehancuran dan kekacauan, Cahaya Pertama, Xiao Han, berada di tepi kota yang bersebelahan dengan pusat Kekaisaran Feng. Dalam sekejap kekuatan perpindahan nya yang menakutkan terasa memenuhi Langit Kekaisaran Feng Dengan tatapan dingin, Xiao Han mengangkat tangan kanannya perlahan-lahan.


Tiba-tiba, getaran energi yang dahsyat mengalir melalui tubuhnya, menciptakan lingkaran cahaya yang memancarkan kilatan keemasan. Saat itu kekuatan perpindahannya yang luar biasa mulai aktif dan akan menghancurkan kota tersebut seperti yang terjadi di Kekaisaran Guang. Tanah di bawah sana bergetar, bangunan di sekitarnya berguncang, dan udara di penuhi abu.


Dengan gerakan tangan ke atas, Xiao Han mulai menggerakkan batu-batu ke atas langit.


Batu-batu besar dan reruntuhan bangunan mulai terangkat dari akar tanah.


Mereka melayang di udara, terdorong oleh kekuatan besar yang tak terbendung. Dalam sekejap, batu-batu itu dilemparkan dengan kecepatan tinggi ke arah kota yang terletak persis di depannya.


Batu-batu besar menerjang dan menghantam bangunan-bangunan tinggi Kekaisaran Feng, merobohkan dinding-dinding benteng kota, dan memicu ledakan serta reruntuhan yang mengguncangkan seluruh kota. Debu dan serpihan bangunan terbang ke segala arah, menciptakan pemandangan kacau yang tak terbayangkan sebelumnya.


Kota yang sebelumnya indah dan penuh warna sekarang berubah menjadi tumpukan reruntuhan dan kehancuran. di bawah sana masyarakat yang menyaksikan aksi ini terguncang ketakutan, melihat betapa dahsyatnya kekuatan Cahaya Pertama.


Gempuran Xiao Han hanya dengan menggerakkan tangannya menjelaskan betapa mematikannya kekuatan yang dimilikinya. Reputasinya sebagai salah satu pendekar terkuat dengan kekuatan cahaya dan perpindahan mutlak membuatnya menjadi sosok yang ditakuti oleh para pendekar aliran hitam.


Xiao Han mencari Wen Ning yang membawa Batu Angin incarannya. Dia melintasi reruntuhan kota, menembus reruntuhan bangunan dengan kekuatan perpindahannya yang dahsyat.


Begitu dia menemukan bangunan yang menghalangi pandangannya, Xiao Han mengangkat tangannya tanpa ragu, kekuatan cahaya memancar dari tapak tangannya, membuat jalan Kekaisaran Feng berada di tengah kehancuran saat ledakan kekuatan terjadi. Dalam sekejap, bangunan-bangunan di sekitar terguncang hebat bersama gempa.


Batu-batu besar terbelah, dinding runtuh, dan reruntuhan bertebaran ke sisi-sisi. Xiao Han menembus kota yang kacau tersebut, mengikuti jejak-jejak Wen Ning yang tersisa di antara reruntuhan, memanfaatkan kekuatannya untuk membuka jalan dan mencarinya di mana pun sampai dapat.


Dalam kegelapan dan debu yang menyelimuti kota yang hancur, Xiao Han semakin mendekati Wen Ning. Dia dapat merasakan getaran Batu Angin yang dibawa oleh pemuda itu, sebuah sinyal yang menggema bersama kekuatan alam di dalamnya.


Tujuannya adalah menemukan Wen Ning dan merebut kembali Batu Angin. Xiao Han terus maju mengabaikan kerusakan yang dia ciptakan di sekitarnya, hanya berfokus pada misinya yang lebih besar dan memenuhi perintah dari sosok topeng rubah.


Hanya butuh waktu singkat Xiao Han berhasil menemukan Wen Ning di tengah puing-puing dan reruntuhan. Dia menatap pemuda itu dengan mata dingin, bersiap dengan kekuatan cahaya untuk merebut Batu Angin.


Saat Xiao Han hampir menggapai Wen Ning yang bersembunyi di dalam menara lonceng kecil, tiba-tiba angin berhembus dengan kekuatan yang luar biasa.


Angin itu menerpa mereka dengan dahsyat, menghalangi langkah Xiao Han dan membuatnya terdorong mundur.


Wen Ning yang hampir terjatuh ke dalam cengkeraman Xiao Han, merasakan angin yang tiba-tiba itu sebagai penyelamat tak terduga. Dia mengambil kesempatan itu dan dengan cepat melompat ke sisi lain menara, melepaskan diri dari cengkeraman Xiao Han.


Angin kencang membelah ruang di antara mereka, menciptakan jarak yang cukup untuk Wen Ning untuk melarikan diri sekali lagi. Dia berlari menjauh dari menara lonceng, menyelinap di antara reruntuhan kota yang hancur untuk menyelamatkan diri.


Xiao Han mengumpat dan masih mencari keberadaan Wen Ning, tak berniat untuk melepaskannya. dia melihat Wen Ning melarikan diri, dan melepaskan tembakan kekuatan cahaya dari tangannya untuk menghentikan Wen Ning. Namun angin yang tajam terus berputar di sekitarnya, mengacaukan jurusnya dan membuatnya sulit untuk mengejar Wen Ning dengan cepat.


Laki-laki itu memutar pandangan ke satu tempat asal dari mana angin itu muncul.


Li Jia Xing, Kaisar Kekaisaran Feng, muncul di tengah kekacauan perang yang melanda Kekaisaran. Dengan sosoknya yang serius tak kenal takut serta tatapan yang penuh keberanian, dia berdiri di hadapan Cahaya Pertama tanpa setitik pun ketakutan.


Li Jia Xing telah memutuskan untuk melindungi Batu Angin dari jatuh ke tangan yang salah. Sebagai Dewi Pelindung Kekaisaran Feng, dia siap menghadapi Xiao Han dan menghentikannya dengan segala kekuatan yang dimilikinya.


Dengan kedua tangan terentang, Li Jia Xing memanggil kekuatan alam yang ada di sekitarnya.


Cahaya Pertama sedikit terkesan oleh kehadiran Dewi Pelindung dalam sesaat, kekuatan wanita itu memang telah menjadi legenda, tapi dia sama sekali tidak gentar. Dia menatap Li Jia Xing menantang, senyum singkat di balik topengnya dapat dibaca oleh Li Jia Xing, tak menyangka musuh yang dikirimkan langsung sehebat itu dan pertarungan yang akan terjadi akan menjadi pertarungan sengit.


Ketika pertempuran dimulai, serangan dan pertahanan berganti dengan cepat. Li Jia Xing memanfaatkan kekuatan angin tingkat tinggi dan menggabungkannya dengan kekuatan alam yang berada di sekitarnya, membuatnya semakin tak tertandingi dengan kekuatan tanpa batas.


Gerakannya lincah tetapi juga bertenaga, wanita itu mampu menghindari serangan Cahaya Pertama sambil melakukan serangan balasan yang cepat dan mematikan.


Namun, Cahaya Pertama bukanlah lawan yang mudah ditaklukkan. Dengan kekuatan perpindahan yang dimilikinya, dia mampu menghindari serangan Li Jia Xing dengan kecepatan yang mengejutkan. Lelaki itu menggerakkan tangannya dengan cepat, menciptakan gelombang energi yang meluncur menuju Kaisar Feng.


Pertempuran antara Kaisar Feng dan Cahaya Pertama berlangsung, irama pertarungan semakin meningkat setiap detiknya. Gemuruh dan letupan energi menggema di sekitar mereka, menghancurkan bangunan di sekitar pertempuran.


Walaupun Kaisar Feng mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Batu Angin, bukan berarti dia mengorbankan nyawa. dia tak akan mati meskipun harus babak belur melindungi Batu Angin, keberanian memancar di kedua bola mata wanita itu dengan nyalang.


Sebagai Kaisar sudah tugasnya melindungi kekaisaran dan menjaga pusaka berharga itu dari orang-orang jahat yang berusaha merebutnya.


Pertarungan antara Li Jia Xing dan Cahaya Pertama menciptakan sinar cahaya yang menembus langit dan menarik perhatian semua orang yang menyaksikannya. Para masyarakat yang khawatir akan keselamatan Li Jia Xing sempat terdiam beberapa detik melihat pemimpin mereka bertarung di atas sana.


sesaat kekuatan kedua kubu bertabrakan dengan kekuatan yang luar biasa, menciptakan riak-riak energi yang memenuhi udara.


Cahaya Pertama, mulai menggerakkan batu-batu besar dan benda-benda di sekitarnya dengan kecepatan tinggi. Dia melemparkan batu-batu itu ke arah Li Jia Xing dengan kekuatan dahsyat, menciptakan dentuman yang mengguncang bumi.


Li Jia Xing tidak mundur. Dengan kekuatan Dewi Pelindung, dia mengendalikan angin dan menyatukannya menjadi perisai yang kuat. Batu-batu itu hanya mengenai udara tanpa wujud yang menghentikan pergerakan nya.


Hembusan angin yang kuat membelah batu-batu yang dilemparkan Cahaya Pertama, menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kecil.


Melihat serangannya gagal Cahaya Pertama bergerak dengan lincah dan cepat, melompat ke udara sambil menghindari serangan angin yang menghantam ke arahnya bertubi-tubi tanpa jeda. Dia melemparkan keras-keras batu-batu raksasa yang berkumpul di atas langit untuk menghantam Li Jia Xing.


Li Jia Xing menggerakkan tangannya dengan sangat cepat, menciptakan putaran angin yang melingkupi tubuhnya. Angin itu melindunginya dari serangan Cahaya Pertama, mampu menahan kekuatan lawannya dengan mudah.


Arena pertempuran menjadi medan yang hancur dan berantakan akibat serangan yang tak henti-hentinya.


Keduanya masih saling beradu serangan, menggabungkan kekuatan dan keterampilan untuk mendominasi pertempuran. Batu-batu besar terpental ke udara, diikuti oleh angin yang melintas dan membelahnya menjadi pecahan-pecahan yang kecil.


Getaran di udara di bawah sana terasa. Para warga ketakutan.


"Yang Mulia tidak punya pilihan lain ... Dia melindungi kita semua dengan turun tangan dalam medan tempur."


Mereka kembali menengadah saat suara ribut dan ledakan memenuhi udara, Cahaya yang membara dan hembusan angin yang kencang melintasi daratan kota dan menciptakan pemandangan yang luar biasa mencekam.


**


#author note. chapter ini masih draft dan harus direvisi, akan author revisi secepatnya sebelum siang. thanks