Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 176 - Pertempuran di Malam Sunyi


Saat ini dunia sedang dalam kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pergerakan kelompok aliran hitam telah mengguncang empat Kekaisaran dan menimbulkan korban jiwa setiap saat.


Empat Kekaisaran dilanda kekacauan dan kegelapan ketika kelompok aliran hitam terus merajalela. Tak satu pun Kekaisaran yang aman dari serangan mereka dan korban jiwa terus bertambah setiap hari. Menjadi bencana yang mengguncang empat sudut dunia, merobek kedamaian dan ketenangan yang pernah ada.


Kelompok aliran hitam tersebut terus menciptakan kehancuran dan ancaman, meruntuhkan harapan dan menyebarkan ketakutan di mana pun mereka bergerak.


Guncangan dari serangan ini terus menyebar, merusak setiap lapisan masyarakat dari perguruan, penguasa hingga rakyat jelata.


Perguruan-perturuan pedang yang dulu terkenal dengan kedamaian dan kebijaksanaan kini telah terguncang akibat konflik ini. Pedang-pedang yang sebelumnya hanya digunakan untuk melindungi, kini sering digunakan untuk membunuh dan saling memusnahkan melawan musuh yang tidak ada habisnya. Begitu banyak murid-murid perguruan yang menjadi korban dari serangan yang tak berkesudahan ini.


Di malam yang sunyi, cahaya api menyala di atas atap sebuah perguruan yang terbakar habis bersama kobaran api raksasa. Awan hitam asap mengepul ke udara, mengabarkan bencana yang terjadi di dalam gedung Perguruan Naga Emas yang berada di kota pusat Kekaisaran Feng.


Orang di dalamnya berlarian di sekeliling perguruan yang terbakar, saling menyelamatkan dan berusaha memadamkan api yang terus merambat dengan cepat. Asap hitam dan bau terbakar tercium di udara, mengisi seluruh sudut perguruan yang ditimpa kemalangan.


Di dalam bangunan megah berlapis emas, api menyebar dengan ganas. Kursi, meja, dan perabotan lainnya terbakar dan meleleh, membentuk rintik-rintik cairan yang menetes ke lantai. Api berkobar di atas rak buku, menjilat-jilat halaman-halaman buku kitab yang terbakar dan membiarkan abu beterbangan di udara.


Dinding kayu mulai meleleh dan runtuh, meninggalkan ruang kosong yang penuh dengan api dan asap.


Murid perguruan tersebut masih berusaha memadamkan api dengan air, namun usaha mereka sia-sia. Api terus berkobar, merobek dinding-dinding kayu dan menyebar dengan ganas. Teriakan putus asa dan bising panik mengisi udara, seiring dengan suara gemuruh dan pecahan kaca yang pecah. Tak pernah ada yang menyangka, kehancuran akan mengetuk pintu perguruan mereka malam itu.


Perguruan Naga Emas terkenal sebagai kelompok aliran netral yang jarang terlibat konflik dengan kelompok mana pun. Mereka sering kali menutup diri dan tidak ikut campur dalam masalah yang terjadi. Berkat hal itu, perguruan ini berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Tapi siapa sangka, kejayaan itu hanya bertahan beberapa tahun. Kini mereka berada di ambang kehancuran saat pendekar yang ditakuti datang ke tempat mereka dan tidak ada yang bisa dilakukan selain berusaha menyelamatkan diri.


Di tengah kebakaran hebat tersebut, terlihat seorang wanita yang melayang di atas udara dengan senjata yang terbilang jarang sekali ditemui.


Senjata tersebut berbentuk kipas besar yang terbuat dari besi, dia memiliki mata putih yang menakutkan.


Wanita itu mengibaskan senjatanya dan tiba-tiba sebuah pedang angin tak berwujud meluncur menuju puluhan murid perguruan yang sedang berusaha menyelamatkan diri.


Mereka tak bisa menghindar dan terkena langsung oleh serangan pedang tersebut. Satu per satu murid berjatuhan dan meninggalkan genangan darah yang memenuhi lantai, mereka langsung meregang nyawa di tempat. Wanita itu melayang di atas kepulan asap, pakaian jubah putih bercahaya berkibar terhempas angin badai malam itu, rambutnya yang panjang tergerai di udara. Dia memandang ke arah murid-murid yang telah di bunuhnya dengan tatapan bengis.


"Sampah-sampah menjijikkan. Jika ada yang harus disalahkan, maka salahkan saja pemimpin kalian yang bersikeras melawan Ketua dan tidak mau menyerahkan pusaka itu!" serunya diiringi naiknya api ke atas udara. Dia melemparkan kipas raksasa yang memutari sebagian perguruan. Dalam seketika pepohonan dan pilar terbelah menjadi dua dan menimpa orang-orang di sekitarnya.


Hentakan dahsyat menyusul, wanita itu menoleh ke sisi lain.


Gadis dengan topeng silang putih tiba-tiba muncul dari langit dengan kilat yang menyilaukan, memantul di sekeliling perguruan yang terbakar. Semua orang yang masih hidup dalam perguruan terkejut dan gemetar.


"Apa-apaan kekuatan monster itu ... Gadis itu lebih mengerikan dari kabar yang beredar!" seru murid yang paling muda dengan gemetar. Pedang yang dipegang di tangannya tak hentinya bergetar.


"Selamatkan yang tersisa dan tinggalkan tempat ini!" perintah senior mereka tegas.


Namun sayangnya tidak ada yang bisa selamat dari serangan itu. Karena serangan susulan kembali terjadi, gadis itu mengeluarkan jurus yang jarang dilihat orang.


Semua orang yang melihat kejadian ini merasa terdiam dalam ketakutan saat kekuatan jurus Tinju Cahaya yang dimilikinya membuat perguruan itu terbelah menjadi dua bagian. Langit berubah menjadi merah akibat api yang membakar, disertai semburat cahaya yang menyilaukan menghujani tanah.


Suara dentuman yang dahsyat menggetarkan bumi, menyebabkan tiang bangunan hancur dan gedung-gedung runtuh ke tanah.


Di tempat lain wanita dengan senjata kipas-Chao Mi mencengkram kerah baju Pemimpin Perguruan yang tergantung di udara, kakinya tidak menyentuh tanah. Dengan suara sinis dan dingin, dia memaksa pemimpin tersebut untuk memberikan salah satu dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia yang disembunyikan di perguruan itu.


"Kau pasti tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak memenuhi permintaanku," ucap Chao Mi sambil mencekik leher Pemimpin Perguruan dengan tangannya yang lentik dan kuat. Pemimpin Perguruan mengerang kesakitan sambil mencoba membebaskan diri, tetapi tidak ada gunanya.


Dia melihat semua saudara dan keluarganya yang menderita akibat keputusannya untuk melindungi pusaka tersebut. Pusaka yang diturunkan oleh leluhurnya untuk dijaga bersama perguruan Naga Emas.


"Jangan sampai kau salah mengambil keputusan," lanjut Chao Mi sambil mengibaskan senjata kipas. "kau bisa melihat sendiri apa yang terjadi pada perguruan ini jika aku marah."


Dalam keputusasaan, Pemimpin Perguruan pada akhirnya memberikan satu Pusaka Keajaiban Dunia dan memberikannya kepada Chao Mi. Wanita itu tersenyum sinis.


Chao Mi meraih Pusaka Keajaiban Dunia yang telah lama ia buru dengan senyum sinis di wajahnya. Namun, ketika Pemimpin Perguruan memberikannya, Chao Mi tetap membunuhnya. Dengan senjata kipas raksasanya, angin tipis muncul dari belakang leher lelaki itu dan dalam seketika kepalanya menggelinding di atas tanah. Masih dengan mata melotot tak percaya akan nasib buruk yang menimpa dirinya dan Perguruannya.


Chao Mi melihat sekeliling dan cukup puas dengan apa yang telah dia lakukan. Dia kemudian menoleh ke arah gadis yang datang bersamanya mengunjungi perguruan ini. "Saatnya kita pergi," kata Chao Mi sambil mengangkat senjatanya yang besar.


Gadis itu mengangguk dan mengikuti Chao Mi keluar dari bangunan yang terbakar. Mereka berjalan menuju ke arah hutan di timur perguruan.


Chao Mi dan gadis itu melintasi jalan penuh dengan dedaunan gugur kuning cepat. Sampai tiba-tiba terlihat siluet bayangan seorang pemuda di ujung jalan, menenteng pedang di tangan kanannya dan wajah ditutupi topeng. Mata pemuda itu memancarkan aura kebencian dengan sepasang bola mata merah darah.


Angin kencang menerbangkan dedaunan kuning di tengah-tengah mereka. Terjadi keheningan yang mencekam di malam yang sunyi itu.


Chao Mi menggenggam senjata kipasnya dengan erat. Gadis itu sendiri menatap sosok di depannya dengan mata menyelidiki.


"Aku tidak merasa punya urusan denganmu. Tinggalkan jalan ini sekarang, atau kau akan mati," ancam Chao Mi dengan suara mengecam dan tegas.