Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 193 - Pahlawan yang Menghilang


Setelah kota berhasil diselamatkan dari serangan Topeng Silang Hitam, para penduduk pelabuhan mulai kebingungan akan menghilangnya Sang Penyelamat-julukan yang dibuat para penduduk di sana untuk pemuda yang telah menjadi pahlawan setelah memimpin melawan komplotan Taring Merah.


Namun Xue Zhan sudah menghilang dengan cepat dan tidak diketahui ke mana dia pergi.


Kepala prajurit memerintahkan beberapa orang untuk mencarinya. Mereka melintasi jalan-jalan kecil di sekitar pelabuhan, memeriksa toko-toko dan rumah-rumah, tetapi tetap tidak menemukan jejak Xue Zhan. Usaha mereka sia-sia karena Xue Zhan benar-benar menghilang tanpa meninggalkan jejak.


Kepala prajurit sangat kecewa dan sedih sosok itu hilang tanpa jejak. Dia berniat mempersembahkan hadiah kemenangan ini sebagai penghormatan kepada Pendekar Topeng Putih yang telah memberikan pengorbanan besar bagi kota itu.


Kehilangan Xue Zhan menjadi sebuah misteri yang tidak terpecahkan bagi penduduk pelabuhan kota.


Keberanian Pendekar Topeng Putih tersebut telah menjadi buah bibir di pasar raya pelabuhan Kekaisaran Feng. Beberapa penduduk berkumpul dan berbicara tentang peristiwa yang luar biasa itu dan aksi nekadnya dalam mengalahkan Topeng Silang Hitam sendirian.


"Ku dengar dia berhasil menghabisi seratus orang sekaligus, benar-benar tanpa ampun!" seru seorang pedagang bersemangat.


"Benar, dia bertarung setenang air meskipun seribu musuh mengejarnya. Sungguh mengagumkan," sambut seorang warga lainnya.


"Pendekar topeng putih ini pasti memiliki kemampuan yang luar biasa, mungkin dia adalah murid dari salah satu guru terbaik di negeri ini," sambung seorang wanita yang sedang membeli sayuran.


Semua orang yang berkumpul di pasar itu sepakat bahwa pendekar topeng putih ini merupakan pahlawan yang patut diacungi jempol. Mereka berharap bahwa keberanian dan kepahlawanannya akan membawa perdamaian dan keselamatan bagi seluruh kekaisaran Feng.


"Aku berharap dia akan tetap tinggal di kota ini dan menunjukkan dirinya. Aku benar-benar penasaran siapa dia sebenarnya."


Dalam waktu singkat, nama Pendekar Topeng Putih menjadi topik pembicaraan di seluruh kota. Orang-orang berbicara tentangnya dan berharap untuk bertemu dengannya lagi.


Bahkan di tempat warung makan, orang-orang masih sibuk membicarakan aksi pendekar misterius tersebut. Seorang pemuda duduk bersila di depan meja pendek. Piring-piring berisi makanan di atas meja telah dingin sejak satu jam lalu tanpa tersentuh.


Sosok itu duduk di meja paling pojok dengan pandangan mata serius ke depan, pikirannya menerawang di hari di mana dia bertemu dengan pendekar ulung tersebut.


Pemilik mata hitam pekat itu adalah Xiao Rong. Mulutnya sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak pagi sekedar menanggapi rekan kerjanya yang sibuk bertanya. Dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


Sekelebat sosok bertopeng putih muncul di kepalanya, sosok itu begitu sulit enyah dari pikirannya sejak semalaman dan membuatnya kekurangan tidur.


"Sebenarnya dia siapa?" gumam Xiao Rong, laki-laki di sebelahnya terhenyak luar biasa, seperti baru saja melihat seonggok batu berbicara padanya.


"A-anda bertanya tentang siapa? Pendekar topeng putih itu?"


Tatap mata Xiao Rong mengatakan jawaban iya. Laki-laki bernama Chen Ming berdeham sambil menggelengkan kepala. "Tidak ada yang tahu tentangnya, seseorang mengatakan dia adalah salah satu pendekar dari Gunung Pohon Seribu yang telah musnah 20 tahun lalu karena melihat melihat jurusnya yang langka dan unik."


Xiao Rong mendengarkan dengan serius, matanya terus memandang ke arah jendela. Ada sesuatu yang membuat hatinya tak tenang, suatu perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Dia merasa ada yang tidak beres dan sepertinya ada sesuatu yang tidak diketahui orang lain tentang pendekar topeng putih itu.


"Tapi bagaimana dia bisa melakukan semua itu?" tanya Xiao Rong yang kembali membuat Chen Ming keheranan. Jarang melihatnya mau berbicara lebih dari tiga kata. Sepertinya dunia hampir kiamat. Xiao Rong melanjutkan sambil menatap serius Chen Ming. "Membantai seratus orang Topeng Silang Hitam bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh sembarang pendekar. Ada kekuatan dan kemampuan di balik itu semua. Tapi saat melihat kekuatannya ... Dia sungguh berbeda. Tidak bisa dikenali. Apakah mungkin ada sesuatu yang ganjil di balik semua ini?"


Chen Ming mengangguk setuju, "Saya juga berpikir hal yang sama. Terlebih, ada rumor bahwa Gunung Pohon Seribu tidak pernah ditinggali oleh pendekar seperti dia, tapi kita tidak tahu apa arti ini semua."


Xiao Rong terdiam dalam lamunannya, perasaannya semakin yakin bahwa pendekar topeng putih itu tidaklah semudah itu dijelaskan. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan di balik semua itu, dan dia harus mencari tahu apa itu. Karena kekuatan yang dimiliki pendekar topeng putih itu menyimpan tanda tanya besar.


Ada yang menyebut pemuda itu sebagai harapan terakhir mereka dalam menghadapi ancaman kejahatan yang terus muncul di Kekaisaran Feng. Bagi beberapa orang, pendekar topeng putih adalah tanda perdamaian dan keadilan yang lama dinanti-nantikan. Xiao Rong memang tidak membaca setitik pun niat jahat dari pemuda itu.


Namun di saat yang sama, dia sempat merasakan kekuatan besar yang kejam dari tubuhnya.


Dia makin yakin dengan firasatnya, ada sesuatu yang disembunyikan dan dia harus mencari tahu apa itu.


Terdengar bising dari arah para pendekar yang sibuk bersulang arak, mereka berteriak, "Kemenangan untuk Pendekar Topeng Putih!"


Xiao Rong berniat pergi bersama Chen Ming, namun dari belakang terdengar perdebatan di antara pelayan dan pembeli.


Si pembeli tampaknya tidak memiliki uang untuk membayar makanannya sendiri. Dia terlihat kewalahan menghadapi laki-laki di depannya yang terus memaki. Lalu Xiao Rong mendekati keduanya lalu menatap kedua orang itu bergantian.


Tatapannya seolah terlihat terganggu dengan keributan tersebut.


Pembeli itu sangat-sangat terkejut dan langsung menurunkan caping bambu di kepalanya, helai kain hitam di tepian caping menutup sebagian wajahnya. "Maaf telah menimbulkan keributan. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini secepatnya."


Chen Ming dibelakang Xiao Rong menyelutuk, "Apa kau sedang sakit? Mengapa suaramu begitu?"


Pembeli itu menunduk, terlihat seperti orang pemalu. Dia mengeluarkan satu perhiasan emas dari jubahnya. "Aku lupa uangku tertinggal di suatu tempat dan hanya memiliki ini. Dengan begini masalah sudah selesai, kan?" tanyanya, pelayan itu terkejut dan langsung meraih perhiasan emas dengan rakus. Memastikannya bahwa benda itu asli dan langsung sumringah.


"Aku akan mengembalikan kembaliannya-"


"Aku buru-buru. Simpan saja kembaliannya."


Ketika sosok itu melewati Xiao Rong, seolah angin tipis menyapa di antara keduanya. Xiao Rong membalikkan badan tergesa-gesa, matanya sedikit melebar, yang dilihatnya di warung itu hanya sekumpulan laki-laki sibuk bergosip.


Sosok dengan caping bambu itu menghilang kurang dari sedetik semenjak Xiao Rong berpaling darinya.