Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 146 - Sosok yang Tidak Asing


Siapa sangka kediaman sementara Fan Yuan begitu megah. Dia adalah tamu khusus yang diperlakukan istimewa, tapi semua fasilitas yang diberikan padanya jauh lebih dari itu. Tempat itu berupa sebuah bangunan dengan dua lantai yang di depannya dihiasi oleh kolam ikan, bunga hias, patung dan air mancur.


Xue Zhan masih bungkam tidak memahami apa maksud Xiang Yi Bai melibatkan diri dengan pria ini, lagipula Xue Zhan sendiri yang pertama kali mencampuri urusan Fan Yuan. Dia hanya bisa mengikuti sambil bertanya, "Guru, kenapa kita harus mengikutinya?" bisiknya sangat pelan.


Xiang Yi Bai membalas sekenanya. "Dia mungkin memiliki petunjuk tentang apa yang kau cari. Kapan lagi bisa melihat lebih dekat?"


Jawabannya singkat dan padat. Setelah itu Xue Zhan berpikir dalam diam. Jika dilihat-lihat Fan Yuan memang memiliki pengaruh besar. Xue Zhan membutuhkan akses untuk memperoleh informasi terkait isu yang berada di dalam Kekaisaran. Berbaur dengan kelompok seperti mereka yang memiliki informasi lebih banyak jauh lebih menguntungkan. Tak disangka Xiang Yi Bai langsung membaca situasinya. Xue Zhan mengangguk paham.


Kini mereka sampai ke dalam kediaman Fan Yuan, pria itu menjelaskan pada pelayan dan pengawal tentang Xue Zhan dan yang lain serta meminta mereka untuk melayani ketiganya dengan baik.


"Maafkan aku, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan tuan-tuan dan nona. Tinggallah selama tiga hari di sini sampai upacara pemberian Anugerah Dewi Angin tiba. Aku akan menjamin kalian tidak akan menyesal. Ini adalah acara yang tak akan kalian lupakan." Dia menjelaskan sambil tersenyum ramah, seperti biasa Xiang Yi Bai membalas dengan cara yang sama.


Monster Tua itu kalau bertemu dengan manusia atas, tata kramanya langsung dipakai. Xue Zhan mendongkol, dengannya saja Xiang Yi Bai suka marah-marah tidak jelas. Apalagi Fenghuang, mereka berdua selalu membuat kupingnya menjerit.


"Ah iya! Apakah kalian lapar? Pelayanku akan menyiapkan makanan sebentar lagi. Duduklah, duduklah."


Xue Zhan melihat ke arah Xiang Yi Bai, laki-laki itu memaksa dia dan Fenghuang menurut.


"Terima kasih, anda sangat baik hati."


Fan Yuan tertawa senang. "Seharusnya aku yang berterima kasih pada kalian bertiga. Sungguh kejadian yang tidak terduga. Katanya prajurit Kekaisaran sedang menyelidiki kejadian ini dan kalian bisa tenang karena di luar kediaman ini kita dikawal ketat. Takkan terulang lagi kejadian yang sama."


Dia sedikit meringis mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, seperti baru saja ditolak ke jurang maut. Sekarang dia bisa menarik napas dengan tenang.


"Benar juga. Aku belum memberitahu namaku ya? Namaku Fan Yuan, salah satu utusan dari Kekaisaran Feng untuk memeriahkan acara festival Kelahiran Dewi Angin. Senang bertemu dengan kalian."


Xiang Yi Bai mengangguk.


Fan Yuan menyatukan kesepuluh jarinya di atas meja sambil menggerakkannya, terlihat penuh tanya. "Hm ... Boleh aku tahu nama kalian?"


Detik itu ketiganya tidak ada yang menjawab membuat Fan Yuan sedikit merasa bersalah, "Ah, kurasa aku terlalu bersemangat. Kalian pasti sangat tertutup akan hal seperti ini, maafkan kelancanganku."


Fan Yuan tersenyum sekali lagi. Mengingat lelaki berjubah putih dan pemuda itu mengenakan topeng, kemungkinan memang benar dugaannya bahwa mereka menutup identitas. Namun gadis cantik itu, Fan Yuan sempat terpana melihat rupanya. Hingga tiba-tiba gadis itu mendelik sinis dan menggertak dirinya diam-diam. Fan Yuan langsung memalingkan muka sambil membatin.


'Gadis yang menyeramkan. Tatapan matanya saja bisa membuatku serangan jantung.'


Selagi pelayan menyiapkan makan siang mereka berbincang-bincang, Xue Zhan dan Fenghuang hanya diam menyimak basa-basi yang memang basi itu.


Para wanita masuk ke dalam ruangan membawakan aneka jenis makanan. Fan Yuan langsung mempersilahkan mereka makan terutama pada Xue Zhan dan Fenghuang yang kelihatannya sangat canggung.


Xue Zhan berniat langsung makan tanpa malu, hampir membuat Xiang Yi Bai memukul leher belakangnya. Pemuda itu mau melepaskan topeng dengan seenaknya.


Fan Yuan segera membaca situasi dan pamit, tampaknya dia juga sangat sibuk dan harus mempersiapkan ini itu. Setelah kepergian Fan Yuan dan para pengawal barulah Xiang Yi Bai mengizinkannya membuka topeng.


"Kalau kau perlihatkan wajahmu itu mungkin dia langsung pingsan berdiri. Kurang-kurangi cerobohmu bocah idiot." Kesal sekali Xiang Yi Bai nampaknya. Xue Zhan membalas lempeng.


"Kalau sudah lapar mana ada lagi yang namanya otak. Benar kan, Fenghuang?" Dia menyenggol Fenghuang di sebelahnya yang hanya menatapi semua makanan di atas meja.


"Huh! Aku tidak selera makan."


"Nanti kalau kelaparan jangan menerkam tikus. Membuat malu saja." Xiang Yi Bai mendecak. Fenghuang memalingkan muka kesal, sementara itu Xue Zhan memasang muka usil.


"Kasihan sekali. Kau pasti lapar tapi tidak terbiasa dengan makanan manusia. Aku tahu kau harus apa," ucapnya simpatik.


Fenghuang menoleh kepadanya.


"Apa?"


"Makan hati."


Ribut seketika. Fenghuang menggunakan lengan jubah panjangnya untuk menampar wajah Xue Zhan pas kena mata, pemuda itu menjerit dan menyenggol cangkir kaca sampai pecah. Xiang Yi Bai masih menyantap ayam sambil menarik napas berulang kali. Nampaknya Xue Zhan memang sangat ahli membuat orang lain kesal.


"Katakan lagi?!" Fenghuang menarik kerah baju Xue Zhan sampai kaki pemuda itu tidak bisa menyentuh lantai.


"A-ampun, galak sekali. Aku hanya bercanda."


"Bercandamu dari hati!"


"Tahu saja."


Fenghuang mengangkat sebelah tangannya mengumpulkan kekuatan, Xue Zhan panik. "Maafkan aku, Nyonya. Aku minta maaf."


"Fenghuang, lepaskan. Pengawal di luar mengira kita kenapa-kenapa, kalian sangat ribut."


Fenghuang melepaskan Xue Zhan kesal, dia melengos pergi langsung ke kamarnya yang ditunjukkan oleh pelayan wanita di dalam kediaman. Setelah makan siang mereka memiliki banyak waktu luang sehingga Xue Zhan memutuskan untuk mencari angin di luar.


Angin berhembus kencang ketika matahari mulai turun. Kediaman Fan Yuan hanya terlihat kecil dari tempat Xue Zhan duduk sekarang. Dia sedang bermalas-malasan di dahan pohon yang menghadap langsung ke arah sungai berwarna hijau jernih.


Xue Zhan terlalu tenggelam dengan lamunan sampai dia baru menyadari bahwa dirinya tidak sendirian. Di jembatan kecil yang berdekatan dengan pohon, seorang gadis sedang duduk sendirian. Terdengar isakan pelan dari mulutnya, dia menahan tangis berulang kali hingga membuat kedua pundaknya bergetar.


Xue Zhan memperhatikan lebih jelas dan merasa familiar hanya dengan melihat punggung gadis itu.


Gadis itu menatap pantulan wajahnya di cermin dan menyingkirkan anak rambut di dahinya, bibirnya bergetar disertai air mata yang terus mengalir di kedua pipi putihnya.


Dia terhenyak saat melihat seseorang dengan topeng putih menyaksikan tangisnya di tempat yang sunyi itu. Lantas gadis itu berdiri, mundur hingga ke ujung sungai.


"Ka-kau siapa?" Napasnya tersendat.


Xue Zhan tersenyum di balik topengnya, pantas saja dia selalu merasa tidak asing dengan gadis itu. Di matanya kini, dia melihat sepintas seorang gadis kecil yang berjongkok menyendiri di taman. Gadis kecil itu sering diganggu bocah laki-laki sampai menangis, tidak punya teman sama sepertinya.


"Kau baik-baik saja?"


Pertanyaan itu membuat mata gadis itu kembali menghangat, dia merasa asing namun sosok itu terasa sangat dekat dengannya.