
Fenghuang menjeda kalimatnya cukup lama sehingga Xiao Rong harus mengeluarkan suara demi mendapatkan kelanjutannya.
"Lalu?"
Fenghuang menjawab dengan getir.
"Aku sempat berbicara pada Nona Li bahwa aku sangat mempercayainya, aku akan melindunginya dengan segenap kekuatanku dan juga menyayanginya seperti aku menyayangi Tuanku. Dia bilang dia tak akan membuatku kecewa."
"Lalu hari itu tiba. Tuan Feng tewas oleh sekelompok pendekar misterius. Aku mencoba mencari tahu soal kematian Tuanku dan saat itu aku hampir menemukan jawabannya. Semuanya mengantarkan ku pada satu pelaku, Nona Li. Aku terpuruk dan masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi yang membuatku semakin yakin adalah,"
Selama puluhan tahun terjebak di Jurang Penyesalan, Fenghuang mengalami penderitaan yang tak terbayangkan. Terkurung dalam kegelapan yang dalam, dia terisolasi sepenuhnya, sendirian dengan pikiran dan rasa penyesalan yang terus menerus menghantui dirinya.
Segel Langit yang digunakan untuk mengurungnya membatasi kekuatannya dan mencegahnya keluar dari jurang tersebut. Fenghuang merasa terperangkap dalam keadaan yang tak berdaya, tak bisa mengungkapkan kematian majikannya sendiri atau mencari kebenaran dari peristiwa tragis puluhan tahun yang lalu.
Dalam kesendirian yang membelenggu, Fenghuang merenung tentang pengkhianatan Li Jia Xing, orang yang dulunya dia kagumi dan percayai. Rasa amarah dan kesedihan yang dalam membakar dalam hatinya, menjadi pemicu yang kuat untuk mencari kebenaran di balik semua itu.
Fenghuang berjuang melawan kesendirian dan kekosongan selama puluhan tahun yang lama. Dia menyelidiki petunjuk yang tersisa dalam pikirannya, mencoba memecahkan teka-teki peristiwa yang menyebabkan kejatuhan dan pengurungannya. Setiap hari, dia melacak setiap jejak dan menghubungkan benang merah yang mungkin membawanya pada kebenaran yang dia cari. Meskipun telah berlalu sangat lama dia masih mengingat jelas semua itu seperti baru terjadi kemarin.
"Nona Li mengurungku di Jurang Penyesalan dengan Segel Langit selama puluhan tahun. Aku mencari segala cara untuk naik ke atas dan beberapa kali bereinkarnasi di tempat yang sama. Kehilangan kepercayaan, harapan dan hanya berteman dengan kesepian. Ingin mencari jawaban pun percuma.
Setelah keluar dari sini aku hanya ingin mencari tahu semuanya dari Li Jia Xing. Semua itu sudah terjadi begitu lama dan petunjuk telah hilang. Aku hanya ingin mendengar jawaban dari mulutnya sendiri. Apakah Nona Li yang melakukan semua ini terhadap Tuan Feng? Jika tebakan ku salah, lantas mengapa dia mengurungku di Jurang Penyesalan?"
Xiao Rong terdiam setelah Fenghuang berhenti. Dia tahu Li Jia Xing bukanlah orang yang baik, terkadang dia mengambil keputusan jahat tanpa menjelaskan alasannya.
Dia baru tahu bahwa Li Jia Xing yang terlihat tidak peduli soal percintaan pernah memiliki sosok spesial di dalam hatinya. Dia selalu bersikap dingin terhadap laki-laki yang datang melamarnya, tidak satu pun dari mereka bisa merebut hati dingin wanita itu.
Sejak kecil Xiao Rong telah lama berada di sisi Li Jia Xing, dia mengetahui banyak hal tentang wanita itu sebagai satu-satunya orang tua yang dia miliki. Mungkin untuk kali ini dia memiliki tanggung jawab dalam urusan Li Jia Xing.
Xiao Rong tiba-tiba menunduk.
"Aku meminta maaf atas perbuatan Kaisar Li dan semua yang menimpa majikan dan dirimu di masa lalu. Aku percaya Yang Mulia mengambil keputusan dengan pertimbangan, dan jika itu adalah keputusan akhirnya maka tidak ada yang bisa diperbuat. Kau boleh membencinya dan tidak memaafkannya."
Xiao Rong mengangkat kepalanya untuk mendengarkan cemoohan dari burung merah itu.
"Aku sudah menceritakan semuanya, idiot. Kau tidak mau membantuku lepas dari sini agar aku bisa bertanya langsung pada perempuan itu?" geram Fenghuang naik tensi. Xiao Rong menjawab datar.
"Tidak bisa."
"Arrghh sialan! Kalau tahu begitu lebih baik tidak ku ceritakan saja dari awal!" Dia mengepakkan sayapnya ingin melewati kandang walaupun percuma. Dia hanya menabrak jeruji besi dan menyakiti dirinya sendiri.
"Tapi kurasa jika dia berpikir kau penting baginya, dia akan datang kemari untuk menjelaskan semuanya."
Fenghuang mengoceh tidak jelas di belakangnya sementara itu Xiao Rong mulai berpikir untuk angkat kaki dari sana sebelum sejumlah pengawal berpatroli dan melihatnya di sana.
Namun sesaat langkah kakinya urung, pemuda itu menoleh ke sebelah lalu mengeluarkan suara
"Kau menyebut soal Segel Langit tadi. Bagaimana bisa kau lepas dari segel sekuat itu? Kau tidak memiliki kemampuan untuk melepaskannya." Ucapannya langsung mengenai hati Fenghuang.
Xiao Rong tahu sedikit banyak soal Segel Langit karena dia adalah tangan Kanan Li Jia Xing.
Segel Langit adalah sebuah jurus segel tingkat tinggi yang memiliki kekuatan luar biasa. Jurus segel ini dirancang dengan cara yang kompleks dan menggunakan energi spiritual yang sangat kuat.
Tujuannya adalah untuk mengurung atau membatasi kekuatan seseorang atau entitas supranatural yang dianggap berbahaya atau tidak diinginkan.
Segel Langit memiliki beberapa karakteristik yang membuatnya sulit untuk ditembus atau dihancurkan. Pertama, jurus ini dirancang dengan menggunakan kekuatan spiritual yang sangat kuat, yang membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang aliran energi dan tata letak energi dalam tubuh dan dunia spiritual. Ini membuatnya sangat sulit bagi seseorang yang tidak memiliki pengetahuan dan keahlian yang tepat untuk memecahkan atau melawan segel tersebut.
Kedua, Segel Langit dibuat dengan menggunakan mantra atau serangkaian mantra yang kompleks dan unik.
Mantra-mantra ini membentuk pola energi yang rumit dan memperkuat kekuatan segel tersebut. Pola energi yang tercipta sangat terstruktur dan melibatkan aliran energi yang sangat khusus, sehingga membuatnya sulit untuk dipecahkan tanpa pemahaman yang tepat tentang mantra dan pola energi yang digunakan.
Selain itu, Segel Langit juga menggunakan material atau benda yang memiliki sifat khusus. Benda ini dipilih berdasarkan sifatnya yang dapat mempertahankan dan mengamankan energi yang digunakan dalam segel tersebut.
Bahan-bahan ini berasal dari alam gaib atau memiliki kekuatan magis tertentu yang membantu memperkuat keefektifan segel.
Hal terakhir yang membuat Segel Langit sulit dihancurkan adalah bahwa untuk melakukannya, seseorang harus memiliki kekuatan yang setara atau bahkan lebih tinggi. Segel tersebut didesain untuk hanya dapat dibuka oleh kekuatan yang sebanding, sehingga kekuatan yang lebih rendah tidak akan mampu mematahkannya.
Ini berarti bahwa hanya mereka yang memiliki tingkat kekuatan yang sama atau lebih tinggi yang memiliki kemampuan untuk menghancurkan atau melepas segel tersebut.
Kombinasi dari kekuatan spiritual yang kuat, mantra yang kompleks, bahan yang khusus, dan perlindungan terhadap kekuatan yang lebih rendah membuat Segel Langit menjadi jurus segel yang sangat sulit untuk ditembus atau dihancurkan.
Hanya mereka yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kekuatan yang setara atau lebih tinggi yang dapat melawan atau melepaskan segel tersebut.
Dari pengetahuan Xiao Rong tentang Segel Langit, terdapat satu pusaka yang sangat berharga dan dilindungi oleh Segel Langit. Pusaka tersebut memiliki kekuatan yang luar biasa dan menjadi incaran semua orang, memicu pertempuran dan pertumpahan darah di antara mereka yang ingin mendapatkannya.
Meskipun banyak nyawa yang hilang dalam pertarungan tersebut, hanya satu orang yang berhasil bertahan hingga akhir. Orang tersebut merasa bahwa dia adalah yang terpilih dan memiliki kekuatan yang cukup untuk membuka Segel Langit dan menguasai pusaka tersebut.
Namun, ketika saat yang ditunggu-tunggu tiba dan orang tersebut mencoba membuka segel, dia mendapati dirinya tidak dapat melakukannya. Meskipun telah mengalahkan semua lawan dan bertahan hidup dengan segala usahanya, kekuatannya tidak cukup untuk mengatasi kekuatan Segel Langit yang melindungi pusaka itu.
Kenyataan tersebut menjadi pahit. Semua nyawa yang telah melayang sia-sia dalam pertarungan itu, semua upaya dan perjuangan yang dilakukan, semua berakhir tanpa hasil. Segel Langit yang kuat dan tak terkalahkan tetap kokoh, menjaga pusaka tersebut terkunci dan terlindungi.
"Aku memang tidak sekuat itu untuk melepaskan sebuah segel tingkat tinggi. Namun aku memiliki seorang teman yang kuat dengan seorang bocah bodoh bersamanya. Aku membantu mereka dan mereka membantuku keluar. Sederhana."
Mata hitamnya sedikit melebar.
Sekelebat bayangan masa lalu terlintas di ingatannya, di saat Jiazhen Yan melepaskan tangan Xue Zhan hingga temannya itu jatuh ke dalam Jurang Penyesalan.
Pertemanan itu memang terbilang singkat. Namun bagi Xiao Rong, hanya itu satu-satunya pertemanan erat yang pernah dimilikinya. Xue Zhan sudah seperti saudara kembarnya, dia merasakan penderitaan yang sama sepertinya. Karena itu pula dia begitu menghargai Xue Zhan bahkan setelah lima tahun berlalu usai kematiannya.
"Siapa nama bocah bodoh itu?"
"Bukan urusanmu! Pergi sana! Aku mau menyendiri."
"Beritahu aku nama orang itu-!" teriak Xiao Rong sembari mendekat hingga ke besi kurungan dan membuat Fenghuang mundur sejauh mungkin akibat kaget. Tak menyangka pemuda seperti balok es itu tiba-tiba menyerobotnya seenak jidat.
"Hei ada apa ini?!" Seorang penjaga buru-buru datang membawa tombak, menyorot wajah Xiao Rong yang sedikit terkejut akan hadirnya tiga orang di tempat itu.
"Oh, Anda ternyata. Tuan Xiao. Aku pikir penyusup. Maafkan keteledoranku." Dia menunduk meminta maaf, Xiao Rong membuang napas pelan.
"Aku hanya memeriksa sebentar. Tidak usah terlalu dipikirkan."
Mereka bertiga menoleh ke arah Fenghuang, salah satunya berbicara. "Tuan sebaiknya segera kembali ke ruangan Anda karena besok Phoenix ini akan segera diinterogasi."
Xiao Rong sedikit enggan untuk pergi dari sana, matanya menoleh dua kali pada Fenghuang yang membuang pandangan acuh. Kelihatan tidak peduli dengan apa yang menimpanya besok.
"Baiklah," suara Xiao Rong tipis dan langsung berlalu melewati tiga orang tersebut. Hingga akhirnya pintu ruang bawah tanah tertutup barulah Fenghuang kembali meluruskan pandangannya.
"Kenapa juga dia mencari-cari tahu soal si bodoh Xue Zhan?" gumam Fenghuang sedikit gondok saat menyebut nama pemuda usil itu.
"Si bodoh Xue Zhan-?!" Suaranya tercekat di tenggorokan, dia hampir tidak bisa bernapas lagi detik itu.
Suara lain di dalam ruang ruangan membuang Fenghuang kaget setengah mati. Dia melihat Xiao Rong masih di tempat yang sama, tidak berpindah.
"Kau? Lalu siapa yang tadi berjalan bersama tiga pengawal itu?" tanya Fenghuang ikut kaget.
Hanya satu yang bisa menjelaskannya. Pemuda itu memiliki kekuatan bayangan yang dapat meniru tubuh manusia.
"Katakan padaku, apakah dia selamat dari Jurang Penyesalan? Di mana sekarang dia berada?" serbu Xiao Rong yang lagi-lagi seperti sebelumnya, berdiri mencengkeram jeruji besi tempat Fenghuang dikurung. Phoenix itu mundur. Tidak mau membuka paruhnya. Meskipun Xue Zhan menyebalkan, dia tidak akan membongkar identitas Xue Zhan pada siapa pun.
Menyadari sikapnya terlalu mencurigakan, Xiao Rong mulai menjelaskan dari awal.
"Aku adalah salah satu sahabatnya. Temanku, Xue Zhan, jatuh ke Jurang Penyesalan lima tahun yang lalu dan semua orang termasuk aku mengira dia telah tiada. Aku benar-benar membutuhkan informasi tentangnya untuk mencarinya."
"Oh, kau sahabatnya ..." Fenghuang berpikir. "sepertinya si bodoh pernah bercerita tentang kalian. Sayangnya aku tak mau memberitahukannya percuma. Apa bayaran yang bisa kudapatkan darimu?" tawar Fenghuang. Xiao Rong yang menenteng pedang di kirinya mengeratkan pegangannya, berusaha meyakinkan Fenghuang.
"Aku akan membebaskan mu dari sini dan membantu mu mendapatkan jawaban yang kau cari."
"Itu kalimat yang ingin kudengar sejak tadi, manusia bodoh." Tanggap Fenghuang puas.
**
Gadis dengan topeng silang putih duduk di tepi danau sendirian, memerhatikan batu es di tangannya. Ekspresi wajahnya penuh kerinduan dan keinginan untuk memberikan batu tersebut kepada Chao Mi. Namun, anggota kelompok lainnya memberitahunya bahwa jasad wanita itu tidak ditemukan karena tertimbun reruntuhan.
Dia ingin mengamuk seperti sebelumnya namun setelah mendapatkan kecaman dan peringatan gadis itu kini hanya bisa terdiam di tempat di mana dia sering menghabiskan waktu bersama Chao Mi. Dulu dia sama sekali tidak menghargai keberadaan wanita itu.
Meski Chao Mi bukanlah orang yang baik namun dia merasakan ikatan yang erat, wanita itu menyelamatkannya dari kobaran api di saat saudaranya meninggalkannya. Tetes air mata jatuh perlahan-lahan dari matanya membasahi punggung tangannya di atas paha.
Gadis itu merasakan kehilangan yang mendalam. Reruntuhan mungkin telah mengubur tubuh Chao Mi, sehingga dia tidak dapat menemukannya atau memberikan batu es itu padanya. Perasaan sedih dan frustrasi menghampiri gadis itu, dan dia duduk di tepi danau dengan perasaan sedih.
Meskipun Chao Mi sudah pergi, gadis itu terus duduk di tepi danau menunggu sewaktu-waktu wanita itu kembali, dia menghabiskan waktu dalam kesepian yang berlarut-larut, merenungkan kenangan mereka bersama dan memikirkan masa depan yang tidak akan pernah mereka bagi bersama lagi.
Rasa kehilangan mengisi hatinya. Gadis itu teringat saat Chao Mi, menyelamatkannya dari kebakaran yang menghancurkan desanya. Saat itu, dia merasa terpuruk dan terlantar setelah saudaranya meninggalkannya begitu saja. Namun Chao Mi datang seperti malaikat penolong dan membantu gadis itu keluar dari bahaya.
Dia merawatnya, memberinya tempat tinggal, dan menjadi sahabat yang setia. Chao Mi tidak hanya menyelamatkannya, tetapi juga memberikan alasan dan kekuatan untuk melanjutkan hidup.
Saat gadis itu duduk di tepi danau dengan batu es di tangannya, kenangan itu memenuhi pikirannya. Dia merasa berterima kasih dan berhutang budi kepada Chao Mi atas segala bantuan yang telah diberikan kepadanya. Gadis itu berharap dia bisa memberikan batu es itu sebagai simbol terima kasih dan penghargaannya kepada Chao Mi walau sebelumnya dia tidak pernah menghargai Gurunya itu.
Namun, dengan kabar bahwa jasad Chao Mi tidak ditemukan, gadis itu harus menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa memberikan batu es itu secara langsung.
Gadis itu tenggelam dalam ingatan bersama Chao Mi, membiarkan kenangan mereka menghampiri pikirannya dengan penuh emosi. Namun, tiba-tiba seseorang bersuara dan duduk di sebelahnya di atas rumput.
Ekspresi wajah gadis itu berubah menjadi ketakutan saat dia menyadari bahwa orang yang duduk di sampingnya adalah ketua kelompok yang bekerjasama dengan Taring Merah dan memiliki kuasa tertinggi di antara mereka.
Sosok Topeng Rubah itu bertanya, "Kau murid Chao Mi, bukan? Siapa namamu? Lin Yu Mei? Li Mei?"
Gadis itu menarik napas dalam-dalam, memperhatikan sosok yang duduk di sampingnya yang mengenakan Topeng Rubah. Setelah sejenak ragu, dia memutuskan untuk memberikan jawaban yang jujur.
"Ya, aku adalah murid Chao Mi," jawabnya dengan hati-hati. "Panggil aku Li Mei." Dia mempertegas cepat, tak mau mengakui nama lamanya ke siapa pun selain Chao Mi.
Li Mei merasa harus untuk melindungi identitasnya dari orang asing ini. Hanya Chao Mi yang tahu tentang masa lalunya dan nama sebenarnya, dan dia ingin mempertahankan privasi itu. Dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh sosok ini dengan pertanyaannya, dan dia berhati-hati untuk tidak mengungkapkan terlalu banyak informasi tentang dirinya.
Sejenak Li Mei merasa hati-hati dan curiga terhadap sosok tersebut. Dia tidak sepenuhnya percaya padanya.
Lelaki itu tertawa singkat. Membuat Li Mei risih.
Laki-laki itu mulai menceritakan masa lalu, di saat sebuah perang pecah dan mengakibatkan kehancuran yang dahsyat. Lalu keluarganya juga menjadi korban di dalamnya.
Laki-laki itu memulai ceritanya dengan masa lalu yang kelam, di mana suatu perang meletus dan berdampak sangat besar. Konflik tersebut menyebabkan kehancuran yang tak terbayangkan dan menyengsarakan banyak orang. Keluarganya sendiri tidak luput dari dampak buruk yang ditimbulkan oleh perang tersebut.
Peristiwa itu mengakibatkan keadaan yang sangat memprihatinkan bagi masyarakat. Perang membawa penderitaan dan kerugian yang tak terhitung jumlahnya. Kehancuran dan kesengsaraan melanda di mana-mana.
Rumah-rumah hancur, desa-desa terbakar, dan kehidupan terhenti. Orang-orang terluka, kehilangan anggota keluarga, dan merasakan kehilangan yang mendalam.
Suara-suara putus asa, tangisan, dan kesedihan mengisi udara. Masyarakat hidup dalam ketakutan dan trauma akibat kekerasan dan kehilangan yang mereka hadapi. Pemandangan yang menyayat hati dan kehidupan yang hancur itu menyatu dalam ingatannya selamanya.
Li Mei mulai menangkap pembicaraan mereka, lalu lelaki itu berkata, "Chao Mi menceritakan tentang mu padaku. Aku tahu saat itu kau menolak saat aku ingin menghapuskan ingatanmu. Kau ingin tetap mengingat saudaramu yang telah mencampakkanmu. Aku juga sama. Aku tidak akan melupakan orang-orang yang telah mengkhianati kepercayaan ku dan membuat ku terpuruk."
Mereka berdua memiliki kenangan yang sulit untuk dilupakan dan telah merasakan kekecewaan akibat pengkhianatan. Mereka berdua mengalami luka yang sama terhadap orang-orang yang telah mengkhianati kepercayaan mereka.