Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 26 - Pahlawan dan Seorang Sampah


Rambut Jiazhen Yan seperti sedang dibakar api, amarahnya sudah di puncak ubun-ubun.


"Nanti saja berterima kasih, katanya? Cuih!"


Xue Zhan pergi ke tempat yang agak jauh dan benar saja seseorang mengikutinya. Dia berbalik badan, menghentikan lari cepatnya dan langsung berhadap-hadapan dengan musuh.


Mungkin dari luar dia terlihat seperti seorang laki-laki tapi Xue Zhan yakin dia adalah wanita. Gerak-geriknya terlihat sangat luwes dan lincah, dia petarung dengan tipe dua pedang.


"Seperti aku bisa menebak siapa kau sebenarnya."


Terukir senyum penuh arti di balik topengnya.


"Xue Zhan, benar?"


Memang Xue Zhan terkejut mengetahui sosok itu mengenalinya, tapi mengingat perkataan Kang Jian tentang Taring Merah yang memang juga mengincarnya nampaknya hal itu masuk akal.


"Tidak adil rasanya kalau hanya aku yang tahu namamu. Biar kuberitahu namaku juga, aku Qiao Qiao. Sebaiknya kau tidak meremehkanku, aku bisa membongkar usus dan jantungmu hingga hancur lebur dengan dua pedang ini. Tapi sepertinya aku akan sedikit menahan diri, mengingat kau adalah objek berharga."


Dia mulai menangkap bahwa target mereka saat ini bukan hanya Batu Elemen Penguasa Bumi saja, melainkan dirinya sendiri.


Kedua kakinya mulai bersiaga untuk mengambil langkah, musuhnya tidak akan berbasa-basi lagi.


Xue Zhan seketika membuka mata ketika wanita itu menerjang dari sisi tak terduga di samping kirinya. Wanita itu menghilang amat cepat, lalu dalam sedetik kemudian lutut Qiao Qiao berhasil menghantam tulang pelipis Xue Zhan. Pemuda itu tersentak dan goyah dalam sekali waktu.


Qiao Qiao yang masih di atas udara membuka kakinya dan berniat menendangnya dengan tendangan lingkaran penuh. Xue Zhan berjongkok, jantungnya berpacu begitu cepat saat itu. Nyaris tidak ada celah, gerakannya tadi amat sempurna. Bisa selamat saja Xue Zhan hanya mengandalkan keberuntungan dan instingnya.


Saat berpikir dirinya selamat Xue Zhan salah besar. Qiao Qiao yang mendarat hanya dengan sebelah kaki langsung menghujamkan kedua pedang, gerakannya yang mulus sulit dihindari. Kedua bilah pedang menghampiri di leher Xue Zhan kanan dan kiri. Dia menangkis yang sebelah kanan sebelum mengenai kulitnya, tapi sayang yang sebelah kiri malah bergerak dan benar-benar mengoyak lehernya.


Tetesan darah mengalir di pedang Qiao Qiao, begitu segar. Wanita itu tertawa-tawa, sangat puas melihat wajah terkejut Xue Zhan. Dia tidak akan mampu menyamai kecepatan dan kelincahannya, bahkan seperempat korban yang kehilangan nyawa dari penyerangan di tempat ini adalah hasil perbuatannya.


Xue Zhan menatap pedang di tangannya. Seketika sulit digerakkan. Bertemu musuh yang lebih kuat darinya selalu menimbulkan perasaan takut akan kekalahan, dia mencoba melawan, tapi tetap saja tangannya enggan bergerak. Tetes keringat dingin turun menembus goresan berdarah di lehernya.


Baru awal dia sudah takut begini. Xue Zhan memaki dirinya sendiri.


Ke mana perginya rasa percaya diri yang tadinya menggebu-gebu?


Apa karena setelah melihat kekuatan musuh dia mulai kehilangan itu?


Tapi musuhnya memang sangat kuat. Bagaikan seorang pembunuh yang telah dilatih membunuh sejak lahir.


Padahal dia sudah berjanji pada Kang Jian untuk berlatih agar bisa menghadapi musuh di depannya. Baru keroco-keroconya saja dia tidak mampu.


Giginya bergemerutuk hebat, Xue Zhan membenci perasaan itu. Perasaan tidak berdaya dan dipijak-pijak apalagi mendengar tawa dari Qiao Qiao.


Di tempat lain pertarungan berjalan semakin sengit. Tidak ada yang percaya bahwa keadaan dibalikkan begitu saja. Kini Kang Jian yang sedang berduel satu lawan satu melawan seorang musuh dengan caping bambu terlihat kewalahan. Musuhnya hanya pengguna pedang biasa,tapi keterampilannya memainkan pedang yang seolah-olah adalah bagian dari tubuhnya sendiri membuat lelaki itu berulang kali terpukul mundur.


Wen Tian terluka parah dan sedang diburu oleh seorang pendekar yang pernah menjadi musuh terkuat mereka sebelumnya, dan Wen Qing sendiri mencoba menyelamatkannya.


Tujuh musuh yang tersisa membuas ganas. Tiada ampun diberikan.


Atau sebenarnya orang-orang itu sengaja mengumpankan korban yang lemah agar mereka lengah lalu menggencarkan serangan membabibuta. Itu sulit dipercaya, tapi dugaan itu masuk akal.


"Ingin menyerah? Sayangnya, aku tidak akan menanyakan hal itu padamu." Qiao Qiao meluruskan kedua tangannya, dengan mata pedang menuju ke arah Xue Zhan.


"Lawan aku sampai kau kehilangan semuanya. Nyali, kekuatan dan tekad sampahmu itu. Seorang iblis sepertimu lebih cocok menjadi penjahat daripada seorang pendekar lembek yang menjijikkan."


Tidak mendengar tanggapan dari Xue Zhan mulutnya semakin enteng mengatai.


"Memangnya apa yang kau harapkan dari manusia-manusia ini? Mereka hanya terus mengejekmu, mengasingkanmu, dan bahkan terang-terangan ingin menghapuskan keberadaanmu. Kau kira kau memiliki tempat di antara mereka? Selamanya, tidak akan. Iblis adalah muara kebencian tanpa ujung yang tak akan pernah terputus alirannya. Kau tidak akan bisa mengubah apa pun meski menjadi seorang pahlawan."


Kepalan tangan Xue Zhan semakin erat. Hati dan telinganya panas.


"Pahlawan hanyalah sampah."


"Sampah, katamu?" Suaranya tertahan, Xue Zhan mengangkat wajah dengan raut wajah disertai amarah.


"Bagaimana sampah sepertimu menilah seorang pahlawan sampah?" Xue Zhan menambahkan dengan kata-kata menusuk, "Kau itu seperti lalat, meski pun kubilang berlian lebih indah dibanding kotoran, kau tetap akan bergumul dengan kotoran itu."


"Lalat?" Perlahan mata Qiao Qiao membelalak, dari suaranya saja Xue Zhan bisa merasakan getaran emosinya mulai meluap.


"Dan juga siapa yang mengatakan ingin menyerah? Kau yang mengatakannya sendiri."


"Dan satu lagi, aku tidak peduli dengan orang-orang yang membenciku. Tujuanku adalah untuk memutuskan tali kebencian antara manusia dan iblis. Tapi khusus untukmu, iblis ini akan membunuhmu seperti yang terjadi sejak dulu."


"Sebaiknya kau yang berhati-hati, Nyonya Berkulit Besar," tandas Xue Zhan membalas ucapan Qiao Qiao seribu kali lipat lebih menyakitkan. Wanita itu sampai terdiam.


Terkejut, marah dan malu.


"Biasanya aku mendengarkan kata-kata tajam itu dari ibu tiriku. Ternyata mulutmu lebih kejam dari lidah ibu tiri, ya?"


Tanpa peduli apa pun lagi Qiao Qiao menyerang. Duel terjadi lebih mengerikan dari sebelumnya, kecepatan keduanya meningkat setiap menit. Saling bersaing dan mengungguli.


Bahkan saat berlatih dengan Xue Zhan, pemuda itu bisa jauh lebih cepat dan tangkas dibandingkan Qiao Qiao. Xue Zhan sedikit terbiasa dan mulai membaca pola serangannya. Hingga pedangnya berhasil masuk di tengah-tengah, hampir menusuk ke dada Qiao Qiao yang termundur dengan sebagian bajunya terkoyak.


Xue Zhan melihat ke pertarungan lain, masih begitu sulit menentukan siapa yang lebih unggul sekarang. Jiazhen Yan sendiri tidak kunjung bisa melepaskan diri dari musuhnya sekarang.


"Sepertinya di antara semua temanmu kau yang paling lemah. Apalagi perempuan."


"A-apa kau bilang ...?" Suaranya bergetar menahan kesal. Apalagi dirinya baru saja terkena serangan.


"Biar kutebak. Kau pasti si Hong Yen, bukan? Dia bukan petarung aslinya, dan kekuatannya mungkin setara denganmu."


Wanita itu menghentak.


"Mana mungkin kau samakan aku dengan orang yang bahkan tak mampu memegang tombak dengan benar!"


Detik itu Xue Zhan tersenyum sembari menatap satu musuh lain. Qiao Qiao membulatkan mata, terkejut dengan ucapannya sendiri.