
Terjadi keheningan. Fenghuang menoleh ke arah pandang Xiang Yi Bai, tidak terlalu terkejut, tapi suasana di antara ketiganya membuatnya mulai tak nyaman.
Terdengar helaan napas dari Xiang Yi Bai, "Aku tak berniat menyembunyikannya darimu."
Xue Zhan membuka mulut ingin bicara tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, kerongkongannya kering.
"Tapi jika kau tahu semua kebenarannya dariku, mungkin kau akan langsung pergi. Lalu ... Kau akan mati sendirian di dasar jurang ini." Xiang Yi Bai berkata demikian dengan nada yang lemah.
"Aku tidak mempermasalahkannya, aku tahu Guru mengkhawatirkanku. Tapi entah mengapa, aku merasa Guru sama sekali tidak mempercayaiku. Guru bisa menceritakan ini pada Fenghuang, tapi denganku?" Kekecewaan terasa menyesakkan dadanya, harusnya Xue Zhan tidak terlalu memikirkan hal ini.
"Duduklah di sini, jangan merajuk," kata Xiang Yi Bai akhirnya. Xue Zhan masih terlihat murung, enggan menatapnya, Xiang Yi Bai menoleh ke samping sambil sedikit menunduk demi melihat wajah anak itu.
"Semakin kulihat, wajahmu dengannya semakin mirip dengannya."
Akhirnya Xue Zhan menoleh, dari kecil dia benar-benar ingin tahu tentang siapa Ayahnya, tentang bagaimana laki-laki itu menjalani hari-harinya, senyumannya dan canda tawanya. Xue Zhan tidak pernah merasakan itu sejak kecil. Ketika anak sebayanya dipangku di atas pundak ayah mereka sambil bercanda riang, dia hanya menonton sambil menangis.
Dia merindukan kedua orang tua yang tidak dia sendiri tidak tahu bagaimana rupanya.
"Aku tahu, kau sudah yatim piatu sejak kecil. Jangan menangis, kau anak yang kuat, bocah nakal." Xiang Yi Bai masih memperlakukan Xue Zhan seperti ketika mereka bertemu pertama kali, kini waktu berjalan begitu cepat dan umur iblis kecil itu telah bertambah. Kini dia seorang pemuda yang berumur 21 tahun.
"Apa yang ingin kau tanyakan tentang mereka? Aku akan menjawabnya." Xiang Yi Bai dan Fenghuang menoleh bersamaan ke arahnya. Xue Zhan berpikir sejenak, pertanyaan pertama yang ingin ditanyakannya, Xue Zhan tak tahu karena ada begitu pertanyaan yang ingin diutarakan. Satu menit menunggu akhirnya Xue Zhan kembali membuka mulut.
"Apa menurut Guru ..." Kepalanya berpaling ke arah Xiang Yi Bai sejenak. "Mereka menyayangiku?"
Fenghuang sebenarnya tidak begitu memahami hati manusia, terlalu rumit untuk dipikirkan. Di saat seorang anak terpisah dengan orang tuanya tanpa melihat wajah mereka dan kehilangan arah selama bertahun-tahun tanpa perlindungan, anak itu justru bertanya pertanyaan yang tak pernah dia pikirkan.
Lelaki berjubah putih itu juga sempat tertegun mendapatkan pertanyaan tersebut.
"Dari sekian banyaknya pertanyaan justru itu yang pertama kau keluarkan."
"Aku hanya ingin tahu."
"Pertanyaan yang bodoh. Bahkan Fenghuang pun bisa menjawabnya."
Xue Zhan menoleh ke arah Fenghuang untuk mendapatkan jawaban.
"Sudah jelas, kan? Mana ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Ibumu mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanmu dan ayahmu selalu berada di sisinya untuk menantikan kelahiranmu," jawab Fenghuang, di saat yang sama ingatan masa lalu terlintas.
"Kau adalah kekuatan mereka, jadi jangan tunjukkan wajah jelek itu lagi jika tidak mau kukipas kau sampai kulitmu terlepas."
Xue Zhan mencebik, diam-diam menarik bulu Fenghuang.
"Anak sialan!" pekiknya marah-marah, Xue Zhan tertawa sambil meringis, Fenghuang menyerangnya.
"Hahahha. Terima kasih, jawabanmu membuatku senang."
"Xue Zhan-" Xiang Yi Bai memanggil namanya, pemuda itu menoleh dan langsung memotong.
"Aku cukup dengan pertanyaan itu, Guru. Jika mereka menyayangiku maka tugasku adalah menjalani hidupku dengan baik. Siapa pun mereka tidak masalah. Aku akan selalu menyayangi mereka."
"Aku akan beristirahat dengan cukup sebelum pergi besok. Fenghuang, bukankah sebaiknya kau beristirahat juga?"
"Kau mengaturku?" Ayam warna-warni itu menggerutu sambil berjalan, dia mengepakkan sayap dan langsung bertengger di dahan pohon tempatnya tidur. Xue Zhan menoleh sedikit sebelum kembali ke pondok.
"Selamat malam, Guru."
Namun langkahnya terjeda ketika Xiang Yi Bai bergumam.
"Jika aku tidak ada, apa kau akan baik-baik saja?"
Xue Zhan segera membalikkan badan meskipun dia juga hanya diam menyimak apa yang ingin disampaikan lelaki itu, Xiang Yi Bai menyimpan kekhawatiran dan kegelisahan yang selama ini ditutupinya.
"Aku baru memikirkannya. Kau sama sepertinya. Sama-sama ceroboh dan mudah diperdaya. Selalu digentayangi yang namanya kesialan. Walaupun aku yakin kau pantang menyerah dan mampu menghadapinya ...."
Mengingat betapa seringnya Xue Zhan bertingkah ceroboh dan berakhir fatal, Xiang Yi Bai gusar. Omongan Fenghuang membuatnya menyadari sesuatu.
Di sisi lain Xue Zhan tahu bahwa Xiang Yi Bai akan selalu melindunginya dari marabahaya di Jurang Penyesalan. Dia tak pernah meminta untuk dilindungi, tapi lelaki itu melakukannya tanpa berpikir dua kali.
Bagi Xiang Yi Bai, Xue Zhan sudah seperti anaknya sendiri. Dia tidak bisa membiarkan bocah nakal itu lepas ke dunia atas dan berakhir sama; dibunuh manusia. Namun tidak ada yang bisa diperbuatnya jika dirinya terus berada di Jurang Penyesalan.
"Guru mengkhawatirkan apa? Aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku sudah berlatih keras untuk bertambah kuat."
Nada bicara lelaki itu turun, dia terlihat seperti sedang bicara pada dirinya sendiri.
"Aku takut kejadian yang sama terulang kembali. Saat aku kembali ke dunia atas, yang kudengar hanyalah kabar kematianmu. Aku akan merasakan penyesalan yang berkali-kali lipat."
Penyesalan yang lama saja belum benar-benar menghilang dan kini akan bertambah semakin menyakitkan. Xiang Yi Bai akan menghabiskan ratusan tahun umurnya hanya untuk meratapi kepedihan itu.
"Aku tidak bisa melindunginya, lalu membiarkan anak satu-satunya tewas dengan cara yang sama."
Masih terdengar suaranya berucap, "sebelum perang terjadi ayahmu pernah memintaku untuk kelak menjaga anaknya dengan baik. Aku baru mengingatnya ... Saat Fenghuang mengatakan bahwa mereka berdua sangat menyayangimu. Kurasa takdir yang mempertemukan kita berdua bukan hanya kebetulan."
"Tapi merupakan doa dari mereka berdua."
Akhir kalimat itu diiringi dengan hembusan angin malam yang lembut, Xue Zhan terpaku di tempatnya berdiri dan mengingat kedua orangtuanya. Dia tahu dirinya bisa mencari tahu soal mereka dari Xiang Yi Bai, tapi ketika Xue Zhan mengungkit tentang kedua orang tuanya Xiang Yi Bai selalu menampakkan wajah penuh rasa bersalah.
Dia hanya tak ingin mengorek luka lama hanya karena rasa ingin tahunya. Xue Zhan tidak mau bersikap egois.
"Apa Guru akan ikut bersamaku?" tanya Xue Zhan di detik berikutnya, sesaat Xiang Yi Bai menatap lama ke arah sungai. Berpikir keras sambil menimbang banyak hal.
"Aku pernah bersumpah untuk tidak pernah meninggalkan tempat ini kecuali untuk satu hal, jika tempat sudah tidak aman dan keberadaan Batu Elemen Penguasa Bumi terancam aku akan keluar."
Xue Zhan nyaris tak percaya pada akhirnya laki-laki itu berubah pikiran, dia sudah mati-matian membujuknya dan lelaki itu menolaknya.
"Be-benarkah? Guru akan ikut?!" soraknya antusias. Xiang Yi Bai tersenyum.
"Besok temani aku ke makam Paman Gurumu untuk mengatakan perpisahan padanya."