
"Tidak ada yang pernah mengetahui bahwa Batu Elemen Penguasa Bumi berada di tempat ini, selain para sesepuh dan Kaisar Li. Namun ... Entah bagaimana jadinya, berita itu sampai di telinga musuh paling berbahaya yang mengancam empat negara. Menjadi ancaman serius yang tidak bisa diremehkan."
Lilin ditiup oleh angin malam, hanya itu satu-satunya penerangan yang membantu mereka saling melihat wajah satu sama lain. Sesekali terdengar suara binatang dan bunyi tonggeret dari hutan. Lelaki itu menuang minuman hangat, mempersilakan mereka minum sembari mulutnya terus bercerita.
"Tak kusangka malapetaka ini akan menimpa kami, sudah lebih dari tiga ratus orang meninggal. Anak-anak kehilangan ayah dan ibu. Dan orang tua kehilangan anak mereka ... Ini adalah duka paling menyakitkan. Aku sempat mengatakan pada Kaisar Li untuk memindahkan pusaka itu," ucapnya terpotong sebab cucunya datang dan langsung duduk di pangkuannya.
"Bukan tanpa alasan, kami mungkin tidak akan sanggup bertahan dari musuh sebesar itu. Dan wilayah ini bisa saja dihancurkan. Nyawa bisa kami pertaruhkan, tapi batu itu harus diselamatkan."
Mu Rong mengeluarkan sebuah benda dalam botol kecil yang simpan baik-baik penuh perlindungan, menggesernya ke depan Xue Zhan, Jiazhen Yan dan Kang Jian.
"Ini adalah air yang kami taruh di sekitar Batu Elemen Penguasa Bumi."
Dia membenarkan posisi duduk dengan dua tangan di atas lututnya, "Jika terkena manusia, mungkin akan mati kurang dari satu jam, terkena benda pun benda itu akan meleleh atau rusak."
"Hanya bagian terkecilnya saja sudah berbahaya ini?"
Kang Jian menatap ke tanaman yang diteteskan oleh cairan bening itu. Langsung layu tanpa ampun. Pantas saja, ini adalah masalah serius dan juga sangat sensitif di waktu bersamaan.
"Boleh aku melihatnya?" lontar Xue Zhan tiba-tiba, Mu Rong mengangguk, "Jika kau ingin kau bisa menyimpannya, tapi ingat kau harus sangat hati-hati. Itu bisa membunuhmu jika kau ceroboh."
"Aku mengerti, terima kasih."
Xue Zhan langsung mengambil botol kaca itu, Jiazhen Yan berbisik, "Kau tidak berniat meracuniku gara-gara kutampar sampai pingsan kemarin kan?"
"Rencananya."
*
Kang Jian mencari semua informasi yang bisa didapatkannya, paling penting untuk berkomunikasi secara tertutup dengan sesepuh. Mencari petunjuk dan menyiapkan rencana.
Jiazhen Yan sendiri mencari tahu lewat bukti dan bekas perang, mencium bau-bau pertumpahan darah selanjutnya akan datang. Bukan tanpa alasan. Dia melihat bekas tapak kaki yang mengering di sebuah tanah berlumpur, hujan tidak pernah datang sejak serangan terakhir sehingga masih banyak jejak yang tersisa. Sebelum datang ke sini dia melihat tapak kaki yang sama di tanah setapak di pinggiran sungai.
Mereka hanya mundur. Mungkin akan kembali lagi untuk serangan terbesar.
Sementara Xue Zhan berkata dia akan memeriksa area di pinggiran sungai.
Dia kembali ke tempat di mana dirinya melihat dua orang mencurigakan kemarin. Tidak ada siapa-siapa di sana, menunggu satu jam pun tidak ada yang terjadi, Xue Zhan tidak merasakan hawa keberadaan siapa pun.
Dengan begitu dia memutuskan untuk turun, selagi musuh tidak ada. kakinya bertumpu sebelah, tangannya menyentuh tanah bekas tapak kaki musuh.
Sejak dulu, Xue Zhan selalu bertanya-tanya mengapa hidungnya sangat sensitif, apalagi terhadap bau darah manusia yang baginya amis. Dia hanya berpikir bahwa itu adalah anugerah yang diberikan padanya, dengan penciuman tajam itu Xue Zhan tidak kesusahan saat berburu di hutan.
Sekarang dia sedang berburu manusia, manusia berbahaya yang bisa saja menikamnya detik itu juga.
Orang itu pasti telah membunuh seseorang dengan pedangnya, memutuskan denyut nadi dan membiarkan korban mengeluarkan darah banyak. Sehingga saat dia meninggalkan korbannya, lelaki itu tak sengaja menginjak bekas darah.
Xue Zhan berpikir beberapa detik.
"Aroma darah ini bisa mengantarkanku ke kandang asli mereka."
Tanpa takut atau ragu Xue Zhan segera beranjak mengikuti bau darah tersebut, bahkan ketika jejak tapak kaki mereka menghilang Xue Zhan masih bisa merasakan ke mana bau darah itu pergi.
Cukup jauh dia berjalan, mungkin melewati dua jam perjalanan hingga masuk ke hutan bambu tersembunyi, kembali pun Xue Zhan sudah tidak ingat lagi dari mana dia datang.
Langkahnya semakin pelan ketika merasakan hawa keberadaan lain tak jauh darinya. Matanya menyipit, di tengah hutan bambu tersembunyi bisa-bisanya masih ada sebuah rumah berukuran sedang berdiri bahkan lengkap dengan kolam ikan koi dan bunga teratai.
Tengkuknya dingin, tapi di situasi itu dia tidak mempunyai siapa pun untuk membantu. Jika dia pergi begitu saja Xue Zhan pasti akan kehilangan banyak informasi. Itu pun belum tentu dia bisa pulang tanpa ketahuan.
Terlanjur datang, Xue Zhan mengendap-endap ke rumah itu. Dia terhenyak ketika seseorang dengan tombak runcing di tangan berlalu, Xue Zhan merapat ke tumpukan karung berisi padi dan umbi-umbian.
Tiba-tiba saja tiga pria menyebar, hanya orang biasa yang diperlengkapi senjata tajam, meski begitu mereka tetap berbahaya. Xue Zhan beruntung dia sempat masuk sebelum orang itu keluar dari rumah.
Dengan adanya tiga orang di depan Xue Zhan tidak bisa ke mana-mana, tempat yang hanya ditutup atap dan dinding itu bisa saja didatangi orang lain. Xue Zhan harus segera mencari cara.
Xue Zhan refleks mundur dari karung yang isinya telah membusuk. Seekor lipan berwarna hitam merayap keluar. Dia mengamatinya dan seorang pria, berpikir hanya itu satu-satunya cara.
"Hei, kawan. Aku minta tolong sedikit boleh? Kau temanku, kan? Kalau begitu musuh kita ada di depan." Dia berbisik kecil, lipan itu berhenti di bawah karung.
"Bantu aku."
Xue Zhan tahu kalau dia tidak cepat-cepat lipan itu akan menyerangnya. Dia mengambil ekor dan melemparkannya. Tepat masuk lewat kerah baju lelaki di depannya. Laki-laki itu hanya diam, tidak terlalu peduli sampai bisa dari lipan mulai membuatnya kesakitan bukan main.
Dia menjerit-jerit sambil berlari ke tempat lain, dua temannya yang khawatir mengikuti. Xue Zhan melihat kanan-kiri, "Dengan begini aku aman."
Dia mengambil beberapa batu untuk berjaga-jaga, menatap ke atas, atap mungkin tempat paling aman untuk mengintai. Tanpa banyak berpikir dia segera memanjat sebuah tonggak, naik sedikit demi sedikit, lalu berhasil berada di atap.
Xue Zhan mengintip lewat atap yang sedikit terbuka, lima orang sedang terlibat pembicaraan serius di dalam ruangan yang agak temaram. Tatapannya terkunci pada dua orang yang sama dengan yang dilihatnya di hutan. Dia mendengarkan pembicaraan tersebut. Hingga akhirnya mereka bubar.
Matanya memerah nyala.
Bunyi pecahan kaca seketika membuyarkan kelima orang di rumah tersebut. Mereka kembali untuk melihat situasi. Melihat sebuah cawan jatuh dari atas meja, karena memang ruangan itu sedikit lebih gelap tanpa jendela atau penerangan mereka hanya bisa memastikan itu ulah tikus yang memang lumayan banyak di rumah yang tidak terurus ini, apalagi mereka berdekatan dengan hutan bambu.
"Bukan apa-apa. Tetap lakukan sesuai rencana. Kita akan menyerang besok. Beruntung orang itu memberitahu kita tentang tiga mata-mata ini, dengan begini bisa langsung kita sikat tanpa ampun. Tanpa jejak, hingga tak bersisa bersama mereka yang tersisa."
Lelaki di balik topeng aneh menyeringai, "Menyebar!"