
Lembah berapi menguarkan asap yang tajam, ribuan orang menengadah menatap langit di mana seorang pendekar melayang dengan kedua tangan berisi kekuatan yang begitu dahsyat. Beberapa pendekar terhebat di Kekaisaran tersebut mulai gentar oleh tekanan besar yang melingkupi satu kota besar itu.
Terjadi sebuah kekacauan yang dimulai semenjak dua jam yang lalu.
Setelah Kaisar Guang diculik, terjadi pembunuhan yang menewaskan ratusan prajurit dan pengawal.
Kaisar, sebagai pemimpin tertinggi Kekaisaran Guang, memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga stabilitas dan kesatuan kekaisaran. Dia adalah lambang kekuasaan, hukum, dan keadilan bagi seluruh masyarakat. Kehadirannya memberikan rasa aman dan keyakinan kepada rakyat bahwa ada sosok yang menjaga kepentingan mereka.
Seorang kaisar memiliki tanggung jawab besar untuk memimpin dan mengatur kekaisaran dengan bijaksana. Dia adalah sumber inspirasi dan panutan bagi rakyatnya. Kekuasaannya membentang dari hukum, ekonomi, hingga urusan militer. Kehadiran seorang kaisar yang adil dan bijaksana mampu menciptakan harmoni dan kemakmuran dalam kekaisaran.
Kehilangan seorang kaisar, terutama akibat penculikan dan teror seperti yang dilakukan Cahaya Pertama Taring Merah, menciptakan ketakutan dan kecemasan di kalangan masyarakat. Tanpa kehadiran pemimpin yang kuat, kekaisaran berada dalam bahaya. Rakyat merasa khawatir akan kehancuran dan ketidakstabilan yang dapat mengancam kehidupan mereka.
Selain itu, kehilangan seorang kaisar juga berdampak pada keraguan dan kebingungan dalam sistem pemerintahan. Proses pengambilan keputusan yang efektif dan cepat menjadi terhambat. Kekosongan kekuasaan dapat memicu pertikaian internal dan pertarungan kekuasaan di antara kelompok-kelompok yang berambisi.
Ketakutan masyarakat akan kehilangan pemimpin mereka disebabkan pentingnya stabilitas dan ketertiban dalam sebuah kekaisaran. Mereka menyadari bahwa keberadaan seorang kaisar yang kuat dan adil adalah jaminan keamanan dan kesejahteraan bagi seluruh kekaisaran. Kehilangan seorang kaisar menghadirkan kecemasan akan masa depan dan masa sulit yang akan datang.
Masyarakat Kekaisaran Guang amat berharap agar Kaisar Guang dapat segera dibebaskan dari cengkeraman Cahaya Pertama Taring Merah. Namun nampaknya sulit mengabulkan keinginan tersebut.
Kemudian anak buah Menara Giok Hantu turun, menyerbu pusat Kekaisaran dan menjatuhkan ratusan korban jiwa.
Kota Kekaisaran Guang berada dalam kekacauan total ketika kelompok Menara Giok Hantu menyerang dengan ganas. Prajurit Kekaisaran yang setia berusaha sekuat tenaga untuk melindungi penduduk dan mempertahankan keamanan, tetapi tekanan dari serangan musuh terasa begitu besar.
Di sudut-sudut kota, terdengar suara pedang dan seruan perang yang memecah kesunyian malam.
Penerangan kota yang dulunya berpendar terang, kini retak dan padam akibat pertarungan yang hebat. Rumah-rumah warga dihancurkan oleh serangan yang mengamuk, dan jalan-jalan dipenuhi oleh puing-puing dan debu yang melayang.
Prajurit Kekaisaran berjuang dengan susah payah, melawan anggota Menara Giok Hantu yang tak kenal ampun. Pedang mereka berkelebat dalam gelapnya malam. Darah tumpah mengisi jalanan, menambah kekacauan suasana malam itu
Warga sipil yang terjebak dalam pertempuran berusaha mencari tempat berlindung, menyelamatkan diri dari teror yang melanda. Beberapa di antaranya bersembunyi di dalam rumah-rumah yang masih berdiri, sementara yang lain berlari mencari perlindungan di goa-goa dan terowongan bawah tanah.
Sinar bulan yang pucat terhalang oleh asap dan debu yang melayang dengan atmosfer yang suram. Suara gemuruh dari ledakan dan jeritan terdengar dari kejauhan menciptakan suasana yang mencekam.
Pada setiap sudut pertempuran, prajurit Kekaisaran dan anggota Menara Giok Hantu saling berhadapan dengan kekuatan penuh.
Ditengah itu masyarakat Kekaisaran Guang bergantung pada para prajurit Kekaisaran yang berdiri di garis depan pertempuran. Mereka mempertaruhkan nyawa mereka untuk melawan serangan dan melindungi kota serta warga.
Mereka turut berdoa pertumpahan darah ini akan segera berakhir dan kedamaian akan kembali bersama Kekaisaran Guang.
Saat ini Kaisar sedang ditahan-tepatnya di atas Langit bersama laki-laki dalam Topeng Silang Putih tersebut.
Tangannya kembali naik, menandakan serangan besar lainnya akan mengguncang Kekaisaran tersebut. Benar saja, puluhan bebatuan yang dicabut dari tanah naik ke atas permukaan dan melayang tanpa bobot, semua orang berteriak.
"Mundur!!!"
Sekali batu itu jatuh menghantam bumi, tak terhitung berapa korban jiwa yang melayang. Satu pendekat Kekaisaran Guang gemetar hebat dan nyaris tidak dapat bernapas melihat kekacauan yang luar biasa di sekitarnya.
"Apa-apaan orang itu?! Dia bisa menghancurkan satu kota hanya dengan sebelah tangan, tanpa bergerak atau bahkan berkedip?!" jeritannya terdengar frustrasi.
Kehadiran pendekar topeng silang putih muncul sebagai ancaman yang nyata bagi kota Kekaisaran Guang. Kekuatan yang dimilikinya mampu menghancurkan segala yang ada di sekitarnya.
Dengan gerakan tangannya, dia mampu menggerakkan batu-batu raksasa, merobohkan bangunan dengan mudahnya. Benda-benda di sekitarnya bergetar dan terangkat, menjadi senjata mematikan yang diarahkan ke kota. Mereka meluncur dengan kecepatan tinggi, menimbulkan ledakan dahsyat saat menabrak tanah.
Serangan pendekar topeng silang putih mengguncang kota Kekaisaran Guang. Bangunan-bangunan hancur menjadi puing-puing, jalan-jalan berubah menjadi reruntuhan yang terbakar. Debu dan asap menyelimuti udara, menciptakan pemandangan yang mengerikan.
Suara gemuruh yang memekakkan telinga memenuhi udara, mengingatkan penduduk akan kekuatan mengerikan musuh yang mereka hadapi. Rasa takut dan kepanikan melanda, menyebabkan orang-orang berhamburan mencari perlindungan, berusaha melarikan diri dari kota yang terancam kehancuran.
Kekuatan pendekar topeng silang putih yang menghancurkan dan membinasakan memberikan kesan yang mendalam pada penduduk Kekaisaran Guang. Mereka merasakan ketakutan yang tak terbayangkan, menyadari betapa kecil dan rapuhnya mereka di hadapan musuh yang begitu kuat.
Kota Kekaisaran Guang yang sebelumnya indah dan ramai, kini menjadi medan pertempuran yang berubah menjadi puing-puing dan kehancuran. Warga Kekaisaran harus menyaksikan dengan ngeri bagaimana musuh mereka dengan mudah menghancurkan segala yang mereka bangun selama ini.
Kota Kekaisaran Guang berada dalam keadaan genting, terancam oleh musuh yang kejam dan tanpa belas kasihan. Penduduk merasakan betapa rapuhnya kehidupan mereka saat ini, dengan harapan agar ada yang muncul sebagai pahlawan yang dapat menghadapi dan mengalahkan kekuatan mengerikan pendekar topeng silang putih tersebut.
Beberapa pahlawan Kekaisaran Guang mulai mengejar laki-laki itu, namun yang membuat penduduk semakin terkejut adalah kenyataan bahwa pendekar andalan mereka langsung berubah menjadi pecahan tubuh sebelum sampai ke tempat laki-laki itu.
Ketakutan menjalar seperti api. Tak terelakkan lagi kekacauan yang akan mereka hadapi.
"Perang semakin dekat, bukankah kalian seharusnya bersiap untuk kehancuran kedua? Di saat seperti ini masih sempat-sempatnya menyelamatkan laki-laki tidak berguna ini." Suaranya menggema sangat jelas di atas langit.
Lelaki dengan kekuatan perpindahan ruang itu menoleh ke samping, di mana Kaisar Guang mengambang di atas udara dalam keadaan lumpuh total. Sekujur tubuhnya berdarah dan tak dapat digerakkan.
Ditambah lagi, tidak ada yang bisa menyelamatkan laki-laki itu. Orang tersebut membawanya hingga ratusan meter di atas permukaan tanah.
"Perang dua puluh tahun lalu itu akan terjadi?" Seorang pendekar yang telah uzur membuka matanya lebar-lebar dan mengingat semua masa lalu kelam itu. Seketika bulu kuduknya merinding tanpa henti.
Perang dua puluh tahun yang lalu melupakan bayangannya dalam sejarah, menjadi perang yang terburuk sepanjang masa. Tidak ada kata yang dapat mengungkapkan betapa mengerikannya pertempuran tersebut. Setiap sudut dari empat Kekaisaran terkena dampaknya yang mematikan.
Ribuan prajurit berlumuran darah saling berhadapan di medan tempur, sementara senjata-senjata mematikan memekikkan kematian di setiap hembusan angin. Nyawa melayang tanpa ampun, tak terhitung lagi berapa ratus ribu jiwa yang terenggut dalam konflik ini.
Keempat Kekaisaran berubah menjadi medan kehancuran yang merenyuhkan hati setiap orang yang mengalaminya. Kota-kota indah, yang sebelumnya dipenuhi dengan kehidupan, kini menjadi puing-puing yang meratap. Bangunan-bangunan yang megah roboh, jalan-jalan yang dulu ramai sekarang sunyi dan hancur.
Kali ini, Taring Merah mengambil alih bagian Iblis dari Gunung Qin di masa lalu. Semuanya adalah tentang perebutan pusaka langit.
Selama bertahun-tahun yang telah berlalu, Taring Merah dan Iblis Gunung Qin telah menjadi pemicu perang yang tak terelakkan dalam upaya merebut empat pusaka langit yang paling kuat, Batu Elemen Penguasa Bumi. Pertempuran yang melibatkan kedua kekuatan tersebut telah mengguncang dunia persilatan dengan kekuatan dan kehancuran yang tak terbayangkan.
Perguruan-perturuan terkenal yang sebelumnya dihormati dan dipandang tinggi, takluk di bawah gempuran Taring Merah dan Iblis Gunung Qin. Pecahnya pertempuran ini merobek hubungan antar perguruan yang pernah bersaudara, dan mengubah para pendekar hebat menjadi saksi bisu atas kehancuran yang melanda.
Pendekar-pendekar paling berbakat dan terampil dari berbagai perguruan bersatu dalam perjuangan yang berdarah-darah. Namun, bahkan kepiawaian mereka tidak mampu melawan kekuatan yang tak terbendung dari Taring Merah dan Iblis Gunung Qin. Para pendekar jatuh satu per satu, menyerahkan nyawa mereka demi menjaga keutuhan Batu Elemen Penguasa Bumi.
Kehilangan yang dirasakan dunia persilatan sangatlah besar. Para pendekar yang menjadi tiang penopang keadilan dan kedamaian terpangkas dengan cepat oleh serangan dahsyat musuh. Perguruan-perturuan yang berusia ratusan tahun runtuh, dan kejayaan yang mereka peroleh seiring dengan perjuangan yang tak kenal lelah kini sirna begitu saja.
Dalam gelombang kehancuran ini, banyak nama-nama legendaris yang menghiasi sejarah persilatan menjadi bagian dari kenangan. Perguruan-perguruan yang dulu menyinari jalan kebaikan dan keadilan sekarang hanya ada dalam catatan sejarah.
Dua puluh tahun telah berlalu sejak perang yang mengguncang empat Kekaisaran. Dalam jeda tersebut, suasana yang belum sepenuhnya pulih dan kerugian yang terjadi menyisakan luka yang dalam bagi setiap kekaisaran. Kekuatan persilatan yang pernah berdiri teguh kini terpecah belah dan terpengaruh oleh perang yang dahsyat.
Perguruan-perguruan yang dulu merupakan simbol kekuatan dan keadilan sekarang terancam oleh ketidakstabilan dan kehilangan pendekar-pendekar hebat yang telah gugur dalam pertempuran. Tanpa mereka, kekaisaran-kekaisaran itu menjadi lebih rentan terhadap ancaman dari luar maupun dalam.
Ketakutan merayap di hati setiap warga kekaisaran. Mereka melihat dengan jelas betapa rapuhnya perdamaian yang mereka bangun selama bertahun-tahun. Keberadaan para pendekar hebat yang dapat melindungi kekaisaran dari ancaman telah berkurang secara drastis. Rasa aman yang pernah mereka nikmati kini digantikan oleh ketidakpastian dan kecemasan.
Dalam situasi yang belum stabil ini, empat kekaisaran berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Perpecahan dan ketidakpercayaan antar perguruan dan kekaisaran masih sulit untuk membuat mereka saling bersatu melawan kelompok tersebut.
Satu-satunya cara adalah bersatu dan bergerak bersama jika ingin menghadapi ancaman yang akan datang. Namun, pertanyaannya adalah apakah mereka dapat melepaskan ego dan perbedaan mereka untuk mencapai tujuan bersama.
Proses penyembuhan dan rekonstruksi membutuhkan waktu dan upaya yang tak terhitung.
Mata putih itu baru saja melihat sepintas ingatan masa berperang 20 tahun lalu, mata pucatnya kembali menatap ke atas langit, dia mulai sedikit rabun namun dirinya dapat mengenali kekuatan yang amat besar itu. Kekuatan yang pernah ditakuti oleh seluruh pendekar mana pun.
"Dia-?" Laki-laki uzur itu terlalu terkejut sampai jatuh berlutut, beberapa rekannya memapah dalam tanda tanya besar. Menunggu laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya.
"Dia siapa?"
"Cahaya Pertama ... Xiao Han. Manusia yang kekuatannya hampir menandingi langit."
Xiao Han, yang dikenal sebagai Cahaya Pertama, merupakan sosok yang memiliki kekuatan yang hampir menandingi langit. Jurus perpindahannya yang mutlak dan berskala besar memungkinkannya untuk menggerakkan benda-benda berat ke atas langit, menghantam tanah dengan kekuatan dahsyat, bahkan mampu menghancurkan sebuah kota dalam sekejap.
Kekuatan Xiao Han ini bekerja dengan memanipulasi energi dan kekuatan alam. Dengan keahliannya dalam mengendalikan energi, dia mampu mengubah medan gravitasi sekitarnya, memberinya kemampuan untuk mengangkat benda-benda besar dan menggerakkannya ke arah yang diinginkan. Dia dapat menghantam benda tersebut dengan kekuatan yang luar biasa, menciptakan ledakan dahsyat yang meruntuhkan struktur dan mengakibatkan kehancuran di sekitarnya.
Reputasi Xiao Han di dunia persilatan sangatlah menakutkan. Kekuatannya yang luar biasa dan kehancuran yang ia timbulkan membuatnya menjadi musuh yang ditakuti oleh banyak orang. Kisah-kisah tentang kemampuannya yang menghancurkan telah menyebar di empat Kekaisaran, mengukir reputasi sebagai salah satu tokoh paling kuat dan berbahaya dalam dunia persilatan.
Kehadirannya sendiri sudah cukup untuk menggetarkan hati para pendekar dan membuat mereka berhati-hati. Kehebatan dan kekuatannya yang hampir menandingi langit, dikombinasikan dengan ambisi yang gelap, menjadikannya sebagai salah satu musuh terbesar empat Kekaisaran.
Suaranya dalam ketakutan, dia langsung bangkit dan berlari ke mana pun asal dirinya bisa jauh dari laki-laki yang disebutnya. Orang-orang yang tadinya memapah pendekar uzur itu saling bertatapan dengan kebingungan. Atasan memerintahkan mereka untuk tetap tinggal dan menunggu perintah tapi sikap lelaki tua itu membuat mereka mulai ragu dan ingin ikut pergi dari sana.
"Berikan aku Batu Api, jika kalian masih ingin melihat Kaisar kalian selamat." Mata di balik topeng silang itu menatap tajam. "Dan tempat kalian selamat dari kehancuran."
**
"Bai Ye ..."
Napas Xiang Yi Bai terhenti sesaat.
Pedang itu adalah satu-satunya peninggalan yang dimilikinya atas kematian muridnya. Ukiran nama Raja Muda Perang terbelah. Dan kekuatan naga kesayangannya Bai Ye perlahan melemah.
Ling Baoyi, Cahaya Ketiga yang telah mematahkan pedangnya menarik senyum tipis. Dia memutar senjata di atas kepala dan berteriak lantang.
"Kau bersedih, Monster Tua?!"
Xiang Yi Bai menahan serangan hanya dengan setengah pedang. Kedua alisnya bersatu, tidak pernah semarah ini sebelumnya.
"Kau akan kehilangan lebih banyak lagi karena mempertahankan pusaka itu."
Darahnya mendidih. Ling Baoyi memiliki kekuatan yang sangat besar, dia menerima 'hadiah' berupa kekuatan cahaya dari Taring Merah dan bukan hal sulit untuk menyamai kekuatan Xiang Yi Bai dengan kekuatan cahaya tersebut.
Xiang Yi Bai tak pernah menyangka Taring Merah akan tumbuh pesat seperti ini. Dia pernah mendengar Taring Merah memiliki sebuah senjata pusaka langit yang bisa memberikan kekuatan dalam jumlah besar dengan beberapa persyaratan.
Cahaya Pertama memberikan kekuatan itu kepada anggota Taring Merah, namun jika mereka berpaling dari kelompok dan meninggalkan Taring Merah mereka akan mendapatkan kutukan.
Selama tiga tahun setelah meninggalkan Taring Merah, mereka perlahan-lahan akan kehilangan indera pendengaran, penciuman, penglihatan dan seterusnya. Bersama dengan hancurnya meridian yang membuat mereka harus meninggalkan dunia persilatan. Lalu dengan keadaan kritis itu mereka akhirnya akan mati di tahun ketiga.
Maka dari itu jarang terdengar anggota Taring Merah meninggalkan kelompok, jika ada pun sudah pasti mereka mati lebih dulu karena tidak sanggup menahan kutukan.
Xiang Yi Bai menarik napas kesal.
"Tidak kusangka kau benar-benar bergabung dengan Taring Merah."
Ling Baoyi, yang tenggelam dalam ketamakan dan ambisi, tertawa lebar-lebar. Tawa itu berdengung di sekitar mereka, kegilaannya sudah tak terbendung. Dia menatap Xiang Yi Bai dengan tatapan tajam.
"Mereka telah membuka mataku terhadap kekuatan dan kekayaan yang tak terhingga. Aku telah menemukan kemampuan yang lebih besar dari yang pernah ku impikan, dan tidak akan mengorbankan itu demi apa pun."
"Setelah membunuh kedua orangtuamu dan menjadi buronan Kekaisaran kau memilih bersembunyi di bawah lindungan para sampah."
Ling Baoyi dulunya dikenal sebagai seorang pendekar yang patuh dan sangat disegani di dunia persilatan. Dia memiliki reputasi yang baik sebagai seorang pejuang yang tangguh dan memiliki prinsip yang kuat. Banyak orang menganggapnya sebagai teladan dalam kesetiaan, keberanian, dan keterampilan bela diri.
Namun, takdir Ling Baoyi berubah secara tragis. Di tengah perjalanannya dalam mencari kekuatan yang lebih besar, ambisi dan ketamakan merasuki hatinya. Dia terjerumus ke dalam jalan yang gelap dan menyimpang, meninggalkan prinsip-prinsipnya yang dulu teguh.
Puncak dari perubahan drastis Ling Baoyi terjadi ketika dia menggila dan melakukan tindakan yang tak terbayangkan. Dalam aksi kegilaannya yang mengerikan, dia membunuh kedua orangtuanya sendiri, menguburkan kebaikan dan kemanusiaannya yang dulu begitu terhormat.
Setelah tindakan mengerikan itu terungkap, Ling Baoyi menjadi buronan, dikejar oleh banyak pihak yang ingin menegakkan keadilan dan menghentikan kengeriannya. Reputasinya yang dulu begitu terhormat hancur seketika, digantikan oleh gelar buronan dan kemarahan orang-orang yang mengenalnya.
"Hahahaha, tidak peduli kau sebut mereka apa. Tapi dengan mereka, aku mendapatkan apa yang kuinginkan!"
Dia mengepalkan tangan dan menariknya ke belakang, silau cahaya di tangannya membutakan dalam beberapa detik.
Xiang Yi Bai menangkap mentah-mentah tinju itu, angin dahsyat berkibar di tengah keduanya. Beberapa musuh termundur, merasakan dua energi besar saling bertabrakan.
"Tidak ada yang bisa kulakukan, kau sudah memilih jalanmu. Tugasku adalah menghentikanmu."
"Menghentikanku?" Dia mengulang dengan wajah mengolok seraya mengambil langkah mundur.
"Meskipun aku tidak mendapatkan batu itu darimu, ketua sudah pasti akan mendapatkannya. Kau tidak bisa menghentikan kami semua." Ling Baoyi menekankan kalimat terakhirnya sembari memelototkan mata.
Xiang Yi Bai berdiri tegap. Menjatuhkan pedangnya.
Sikap itu membuat semua orang mulai kebingungan, termasuk Ling Baoyi. Dia mengerutkan alis, sedikit curiga dengan apa yang akan dilakukan laki-laki tua itu.
"Kau menginginkan batu ini bukan?"
Dia memperlihatkan Batu Tanah dengan cuma-cuma.
Batu Tanah Kekaisaran Diqiu, sebagai salah satu Batu Elemen Penguasa Bumi, adalah pusaka yang memancarkan kekuatan dahsyat yang terhubung langsung dengan unsur tanah. Dalam tampilannya, batu ini memiliki warna kecokelatan yang dalam dan permukaan yang terlihat berlekuk-lekuk seperti peta medan yang rumit. Setiap lekukannya mencerminkan kekuatan dan potensi kehancuran yang terkandung di dalamnya.
Kekuatan Batu Tanah ini sangatlah mengesankan. Saat dikeluarkan dan dimanfaatkan dengan benar, batu ini mampu menggetarkan tanah secara drastis. Getaran tersebut dapat menciptakan gempa bumi hebat, melibatkan pergeseran lempeng tektonik yang dapat mengakibatkan kerusakan massal. Bahkan, dalam beberapa kasus ekstrem, kekuatan Batu Tanah bisa menghancurkan bangunan, gunung, dan bahkan mengubah bentuk medan secara permanen.
Kekuatan Batu Tanah Kekaisaran Diqiu menjadi incaran banyak pihak. Perebutannya menjadi sorotan dalam persilatan, menyebabkan ketegangan dan konflik di antara para perguruan dan kelompok-kelompok kekuatan. Banyak yang ingin menguasai batu ini untuk memperoleh kekuatan tak terbendung dalam pertempuran atau bahkan untuk menguasai Kekaisaran Diqiu secara keseluruhan.
Perebutan Batu Tanah tidak hanya melibatkan kekuatan fisik, tetapi juga kecerdikan dan strategi. Banyak pendekar terkenal dan kelompok persilatan terlibat dalam pertarungan sengit demi mendapatkan kekuatan dari batu tersebut. Akibatnya, pertumpahan darah dan pertempuran berkecamuk di berbagai sudut Kekaisaran Diqiu, menyisakan keruntuhan dan kerusakan.
Namun, kekuatan Batu Tanah Kekaisaran Diqiu juga menjadi ancaman bagi stabilitas dan keselamatan. Bila jatuh ke tangan yang salah, kekuatan yang terkandung di dalamnya dapat digunakan untuk tujuan jahat dan mengancam kehidupan. Oleh karena itu, penting bagi para pendekar yang bertujuan menjaga keseimbangan dan kedamaian dunia persilatan untuk melindungi Batu Tanah dari penggunaan yang salah.
"Orang sepertimu tak akan memberikan pusaka itu secara cuma-cuma," sergah yang lain. Lalu puluhan lainnya bersorak. Ling Baoyi menatap intens ke depannya sembari membaca apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Batara Pedang Suci.
"Antara aku yang memenangkan pertarungan ini atau kalian, semua sama saja. Aku tetap tidak mendapatkan apa-apa."
Xiang Yi Bai menatap pedang Bai Ye sesaat, memalingkan wajahnya. "Ambil jika berani."
Dia mengeluarkan sebuah pusaka berwarna cokelat muda yang begitu indah. Ukurannya hanya satu genggaman tangan namun kekuatan yang begitu besar tersimpan di dalamnya. Mata Ling Baoyi berbinar di balik topeng.
"Itu dia! Ambil batu itu darinya!"
serunya. Ratusan pendekar Topeng Silang Hitam berteriak sambil mengangkat pedang ke atas udara.
Namun sebelum mereka dapat menyentuh Xiang Yi Bai, laki-laki mengepalkan tangannya mencengkram batu dengan erat. Pecahan debu cahaya keluar dari sela-sela jarinya.
Ribuan orang membeku tanpa suara.
"Ka-kau ..." Ling Baoyi mencerna apa yang baru saja terjadi. Langkahnya terhenti. Xiang Yi Bai masih menatap padanya dengan tangan yang mengeluarkan serpihan Batu Elemen Penguasa Bumi milik Kekaisaran Diqiu yang telah dia hancurkan.
"Kau menghancurkannya?!" teriakannya menggema.
"Kita sama-sama tidak mendapatkan apa pun," jawab Xiang Yi Bai. Dia telah kehilangan Bai Ye, ini adalah balasannya.
Ling Baoyi menggertak serius, "Percuma saja kau menyelamatkan batu itu. Kau tetap tak akan kehilangan semua yang kau punya."
Xiang Yi Bai awalnya tak begitu menanggapinya sampai Ling Baoyi memberitahunya sesuatu. "Termasuk murid kesayanganmu itu. Mungkin dia sudah mati sekarang? Kau lupa dia adalah target kami?"
Ling Baoyi tiba-tiba berada tepat di samping Xiang Yi Bai dan berbisik di telinganya.
"Dia adalah bagian utama dari rencana kami."