
Xian Shen mengeluarkan sebuah petasan dari balik lengan jubahnya dan menyalakannya tak jauh dari lokasi di mana Jiazhen Yan dan Lan Shuiyang bertarung, ini bertujuan untuk memanggil petugas panitia dalam situasi darurat di luar kendali. Tidak tentu kapan bantuan akan datang tapi Xian Shen mengambil petasan berwarna merah yang menjadi pertanda bahwa sinyal itu berisi pesan darurat tingkat A.
Mungkin saat ini Jiazhen Yan masih sanggup unggul melawan musuh sekelas Para Cahaya dari Taring Merah, tapi Xian Shen sudah lebih dulu tahu bahwa orang sekelas mereka suka mempermainkan lawan. Buktinya sekarang sudah terlihat, Lan Shuiyang melepaskan diri dari penjara Neraka Api Murni milik Jiazhen Yan sembari tertawa terbahak-bahak.
"Kau kira segitu saja mampu membakarku? Kau sungguh naif!" soraknya penuh ambisi, kini terlihat sudah laki-laki itu memperlihatkan jenis kekuatan asli yang bersemayam di dalam dirinya yang disebut sebagai anugerah dari Sang Pemilik Cahaya.
Xue Zhan tersadar dan melihat ke arah Lan Shuiyang, matanya menatap kilas balik ketika pertarungan melawan gadis misterius. Persis sama, kini di tubuh Lan Shuiyang terdapat tato cahaya yang bersinar terang. Dapat dia rasakan kekuatan besar jauh lebih berkali-kali lipat dari sebelumnya dan itu adalah pertanda bahaya bagi Jiazhen Yan.
"Mundur ..." Xue Zhan berusaha berbicara tapi percuma saja Jiazhen Yan tidak akan mendengar dan justru bersiap bertarung satu lawan satu dengan Lan Shuiyang. Xiao Rong membaca kegentingan itu dan segera mengulurkan tangan begitu pun Xian Shen yang mau tidak mau harus maju daripada harus sendirian di hutan ini.
Lan Shuiyang bersiap dengan serangan dari tiga arah, kedua tangannya terangkat disertai tarikan napas dalam, dalam waktu singkat kekuatan tenaga dalamnya terkumpul kembali dan satu guncangan besar menghempas ketiga pemuda yang mendekatinya sampai terlempar jauh.
Xue Zhan bangun sempoyongan tiba-tiba memuntahkan darah, dia harus segera menyelamatkan ketiga temannya atau mereka berempat akan dimusnahkan oleh musuh.
'Ingat, kau mungkin bisa menguasai satu jurus. Tapi belum tentu kau mampu menyempurnakan jurus itu dengan kekuatanmu sendiri.'
Kilas balik muncul, ucapan Zhao Xuyang mantan Dewan Sembilan tiba-tiba kembali di ingatannya. Tiga bulan adalah waktu yang cukup singkat bertemu dengan orang hebat seperti Zhao Xuyang tapi Xue Zhan bisa memastikan semua perkataan lelaki itu akan abadi di dalam ingatannya.
Selama ini Xue Zhan berusaha mempelajari satu jurus di lembar terakhir tahap ke satu, angin. Namun entah mengapa jurus itu tidak semaksimal yang diharapkannya.
Ada satu keping hilang yang tidak dapat Xue Zhan temukan di dalam dirinya sehingga dirinya tidak mampu menguasai jurus itu dengan baik.
Pemahaman, latihan, kerja keras, semua telah dimilikinya. Dia memfokuskan latihannya untuk jurus tersebut sampai tiga bulan lamanya, bahkan hingga detik ini pun Xue Zhan masih belum menemukan satu keping yang tersisa untuk menguasai teknik itu dengan sempurna.
"Semangat saja tidak cukup, Xue Zhan," ucap lelaki renta itu ketika menatap Patung Pedang Suci di depannya, angin dari lembah terbang ke atas dan menerbangkan jenggot putih panjangnya. Xue Zhan kala itu duduk bersila sambil mendengarkan kata demi kata berharga dari sosok itu.
"Apa yang kurang dariku?"
Lelaki itu membalikkan badan, "Bukan hanya kerja keras, latihan dan semangat yang membuatmu kuat ...."
Kata-katanya menggantung begitu saja membiarkan deru angin mengisi kekosongan di antara mereka berdua, tak sabar mendapatkan jawaban Xue Zhan mendesak.
"Lalu? Apa yang tidak kumiliki, aku benar-benar ingin mengetahuinya," keluhnya sambil melihat kedua tangan sendiri secara bergantian, tidak dapat menemukan jawaban ketika seseorang bertanya padanya, "Apa yang kau tidak kau miliki?"
Zhao Xuyang benar-benar melontarkan pertanyaan itu, membuatnya terdiam frustrasi tanpa mendapatkan jawaban.
"Hanya kau yang dapat menjawabnya."
Xue Zhan terlalu larut dalam kekacauan pikiran sampai dia tidak menyimak ucapan selanjutnya dari lelaki itu.
Namun kini di hadapan Lan Shuiyang dia mendapatkan kembali apa yang telah hilang dari ingatannya.
Xue Zhan membuka matanya perlahan-lahan, melihat apa keteguhan hati yang dimaksud oleh Zhao Xuyang.
Melihat tujuan yang sejak awal menjadi pegangannya, dia ingin menjadi seorang pahlawan yang melindungi orang lain dan membuktikan bahwa iblis bukanlah ancaman bagi manusia.
Dia merasakannya, hati yang sekeras baja, prinsip dan keteguhan hati yang dimaksud Zhao Xuyang, itu semua adalah alasannya bertarung.
"Oh satu orang telah terbangun dari tidur nyenyaknya, apakah kami terlalu berisik?" Lan Shuiyang menancapkan Tombak Suci ke atas tanah dan tergelak saat mendapati Jiazhen Yan seakan menyuruh temannya berhenti. Dia baru merasakan kekuatan asli milik Lan Shuiyang dan seharusnya paham ini bukan zona bermain bagi mereka.
Musuh sekelas Para Cahaya dari Taring Merah adalah lawan para Pedang Suci, bukan pendekar tingkat pemula seperti mereka.
Mata merah itu bercahaya indah, membuat Lan Shuiyang sempat terhenti sejenak dan mencerna apa yang sedang terjadi. Xue Zhan tampak berbeda dari sebelumnya, bukan hanya tatapan matanya namun juga kekuatan di dalam tubuhnya yang perlahan berubah serupa gejolak api yang dilalap kobaran raksasa.
"Sepertinya aku baru saja membangunkan seorang iblis dari tidurnya heh?"
Tubuhnya setengah berjongkok dengan Tombak Suci berputar-putar di depan tubuhnya kembali menciptakan jurus yang sama, berapa kali pun digunakan jurus itu tetap memiliki serangan tingkat tinggi yang sulit ditangkis atau pun dihindari. Angin berderu kencang di sekitarnya, dengan mata Xue Zhan kini dia dapat melihat sekumpulan kekuatan berpusat pada ujung tombak. Cahaya di tubuh Lan Shuiyang mengeluarkan kekuatan cahaya yang menggandakan kekuatan tersebut.
Serangan kali ini dua kali lipat-tidak, tiga kali lipat lebih tertenaga dari sebelumnya. Itu membuat ketiga temannya panik dan berniat menghentikan Xue Zhan sebelum semuanya terlambat.
Xue Zhan memejamkan mata tanpa terinterupsi oleh kebisingan di sekitarnya. Hati di bawah pedang. Emosinya-ketakutan, kekhawatiran, gelisah dan semua perasaan pesimistis perlahan menepi digantikan oleh kekuatan besar di dalam hatinya, menjadikannya seteguh baja dan berkobar layaknya bara. Xue Zhan adalah pedang itu sendiri.
Mata itu kian menyala hebat, dia berjalan pelan menyusul Lan Shuiyang yang juga mendekat ke arahnya seraya menenteng pedang tanpa keraguan. Langkah kakinya cepat dan semakin cepat di setiap langkahnya, giginya menyatu rapat, Xue Zhan berlari kencang begitu pun Lan Shuiyang hingga keduanya saling bertemu di satu titik.
Sepuluh cakram dilempar ke arah Lan Shuiyang, laki-laki itu menangkis mudah dan mengeluarkan jurus andalannya.
"Tombak Suci - 12 Tebasan Menggetarkan Langit!"
Dia mengeluarkan jurus itu, tapi Xue Zhan tak melakukan hal yang sama. Dia justru berputar dengan sudut sempurna sehingga tidak terkena sedikit pun serangan dari jurus tersebut. Bisa disebut nyaris tipis.
Pedangnya menebas melingkar 360 derajat, Lan Shuiyang berbalik badan dan tiba-tiba sayatan muncul di kulit lehernya mencipratkan darah. Dia memegang lehernya dengan raut muka tidak terima.
"Sialan-"
"Kitab Phoenix Surgawi - Cakar Phoenix Petir!"
Lan Shuiyang kaget mendapatkan serangan tak diduga, dari jarak sejauh itu kekuatan angin merambat di udara menuju ke arahnya. Sekilas Lan Shuiyang melihat petir bercahaya membentuk wujud burung Phoenix hijau, burung itu melesat tajam dan menghantamnya hingga jatuh telentang.
Sekujur tubuhnya seperti disengat. Namun laki-laki itu masih bisa berdiri, kali ini wajahnya seribu kali lebih mengerikan dari sebelumnya dan Xue Zhan yang masih memiliki akal sehat segera menyeru ketiga temannya. Mereka tidak mempunyai kesempatan menang melawan lelaki itu.
"LARI ATAU MATI!"