Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 30 - Kembali ke Istana


Deru angin seakan membawa sebuah kabar, menyapu halaman istana megah bernuansa hijau di mana seorang wanita menengadah ke langit lepas dengan perasaan was-was. Ada cemas tak berkesudahan yang semenjak beberapa hari terakhir mengusik ketenangannya.


Seorang prajurit datang menghadap dari belakangnya, Li Jia Xing tidak langsung menoleh meski tahu kabar yang dinantikannya telah datang.


Tangannya terangkat pertanda prajurit itu dapat berbicara, terdengar suara penuh kepatuhan setelahnya, "Rombongan Ma Shu dan Kang Jian telah datang untuk menghadap Yang Mulia ..."


"Kebetulan aku sudah tidak sabar mendengar apa yang telah dilakukan anak iblis itu, apakah dia hanya menjadi seekor iblis tidak berguna? Atau justru sebaliknya," gumamnya yang masih dapat didengar laki-laki tersebut, wanita itu berjalan anggun di jalan berbatu putih yang begitu menawan saat cahaya bulan malam purnama memantul di atasnya. Sekelompok prajurit membawa masuk tiga orang tersebut.


Sementara ini Kaisar Li mengirimkan sejumlah pasukan untuk membentengi wilayah Sungai Ning demi menghindari bentrok setelahnya. Tentu saja penjagaan insentif diberikan agar Batu Elemen Penguasa Bumi tetap aman berada di sana, dia mengirimkan sejumlah petarung hebat yang menyamar sebagai penduduk biasa-dengan catatan tak akan ada lagi pengkhianat lagi seperti Hong Yen.


Mata Kaisar Li terpaku pada sesuatu yang ditutup oleh kain dengan noda merah darah di tangan Xue Zhan. Tercium bau amis yang amat menyengat dari sana. Mungkin proses pembusukan mulai terjadi terhadap sesuatu yang dipegang oleh Xue Zhan dalam perjalanan beberapa hari ini.


Sementara itu Ma Shu yang bertugas untuk menyelidiki kasus dan mengorek informasi di tempat itu hanya perlu memberikan semua data yang didapatkannya.


Mata Kaisar Li terkunci pada tiga utusan dari Kekaisaran Diqiu. Mereka masuk ke dalam istana untuk membicarakannya dalam ruangan lebih tertutup.


"Bagaimana dengan hasilnya?" tanya wanita itu sesampainya di dalam ruangan. Kang Jian mulai menjelaskan, "Bukan hanya satu pengkhianat, Sang Perantara, Hong Yen berhasil kami tangkap dan ini adalah kepalanya yang berhasil dipenggal oleh Xue Zhan."


Kaisar Li memasang wajah tidak percaya, dia kembali mendengar perkataan Kang Jian.


"Sebuah kelompok berisi sepuluh orang itu adalah bawahan dari Taring Merah yang diutus untuk mencuri Batu Elemen Penguasa Bumi, mereka tidak meninggalkan identitas sedikit pun. Tapi mungkin Xue Zhan bisa menjelaskan apa yang dia tahu saat menyusup ke markas mereka."


Kaisar Li tampak sangsi, "Bagaimana bisa? Anak ini datang ke markas musuh sendirian tanpamu sehingga kau tidak tahu semua tentang musuh kita?"


"Benar Yang Mulia, Xue Zhan sempat menyusup ke markas musuh sebelum penyerangan terakhir terjadi. Dia mungkin lebih tahu tentang apa yang terjadi."


Tatap dinginnya kembali mengarah kepada Xue Zhan. Caranya menatap Xue Zhan mulai berubah, mata yang biasanya meremehkan itu tampak sedikit segan.


"Jelaskan apa yang kau ketahui."


Xue Zhan mengangguk, "Aku sempat masuk ke dalam markas mereka yang hanya dijaga oleh beberapa orang. Tersembunyi di dalam hutan bambu. Tidak begitu banyak peralatan di dalam tempat itu selain persediaan makanan. Namun kemungkinan besar mereka memang berencana mengumpulkan semua Batu Elemen Penguasa Bumi untuk satu tujuan besar."


Detik itu wajah Kaisar Li berubah amat serius, Xue Zhan mengungkit satu hal yang seharusnya tidak dibicarakan.


"Satu kekuatan Batu Elemen Penguasa Bumi yang sangat besar bisa memusnahkan nyawa ratusan ribu jiwa. Jika memang ada suatu cara untuk menyatukan semua Batu Elemen Penguasa Bumi dan menciptakan senjata yang dahsyat, aku yakin Taring Merah akan langsung mengincar semua batu itu. "


Untuk saat ini mencari informasi tentang Taring Merah adalah satu hal penting. Ma Shu berhasil mengambil beberapa bilah pedang dari musuh, tetesan darah mereka, botol bekas pil penambah kekuatan dan pakaian yang mereka kenakan untuk diinvestigasi. Kang Jian sendiri masih berbicara dengan Kaisar Li di sebuah gazebo yang menghadap ke kolam dengan air berwarna hijau berkilau.


"Sekarang aku baru mengerti mengapa kau mengangkatnya menjadi muridmu," Akhirnya Kaisar Li tidak bisa lagi menahan diri untuk membahas anak itu. Dia membuang napas gusar.


"Aku melihat dua hal yang saling bertolak belakang dari dirinya. Seorang iblis dan seorang manusia. Dua kepribadian seperti dua sisi mata logam. Dia berdiri di ambang batas antara baik atau buruk."


"Dan Yang Mulia berpikir bahwa dia sudah pasti berada di sisi buruk itu?"


"Aku berpikir demikian bukan tanpa sebab. Dia datang ke sini dengan mata memburu. Ada hasrat membunuh besar dalam jiwanya yang polos. Kurasa kau memahami hal itu. Dia memiliki darah pembunuh alami dan akan mengikuti nalurinya untuk membunuh sadar atau tidak."


Kaisar Li menatap ke arahnya, "Ini mengingatkanku pada dirimu yang dulu, penuh ambisi untuk membunuh. Namun kau juga memiliki Guru hebat yang berhasil menempamu menjadi salah satu pendekar terhebat di Kekaisaran Diqiu. Menuntunmu untuk tetap berjalan di jalan kebenaran."


Kang Jian sesaat melemparkan pandangan ke kolam luas.


"Aku tidak begitu yakin. Xue Zhan memiliki sesuatu yang lebih besar dibandingkan diriku yang dulu ..."


Dia menoleh ke arah Kaisar Li dengan tatapan getir. "Sebenarnya Xue Zhan tidak hanya membunuh satu orang dalam misi rahasia ini."


Hening menjeda.


"Dia meracuni delapan orang musuh. Meski beberapa mati sebelum racun itu bereaksi. Tapi andai pun aku dan Jiazhen Yan hanya mengulur waktu aku yakin kedelapan orang itu sudah tewas di tangannya."


Delapan orang, Kaisar Li sedikit merinding. Di umur yang masih semuda itu Xue Zhan melakukan hal yang bahkan murid jenius sendiri pun belum tentu dapat melakukannya. Mungkin ini baru satu misi saja, Kang Jian belum bisa memastikan apakah di misi-misi sebelumnya Xue Zhan tidak membunuh musuhnya.


"Seperti yang Yang Mulia katakan, dia memiliki naluri alami seorang pembunuh. Kehadirannya menjadi ancaman untuk kekaisaran lain. Tapi aku akan menegaskannya secara langsung, aku mampu membimbingnya. Untuk itu anda tidak perlu khawatir terhadapnya."


Kaisar Li mengembangkan senyum. Wajahnya yang begitu rupawan semakin terlihat cantik saat dia tersenyum dengan anggun. "Tentu saja tidak. Tapi untuk seterusnya jangan salahkan aku jika aku mencari tahu informasi tentang muridmu ini. Kau tahu, aku benar-benar tertarik dengannya sekarang."


Terdengar dia berbisik kecil, "Aku teringat dengan sesosok lelaki muda yang begitu mirip dengannya. Apakah dia akan mengikuti jejak laki-laki itu?" ucapnya sembari tertawa kecil menutup mulutnya dengan kipas.


"Tidak kusangka Yang Mulia juga sudah menyadarinya."