Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 27 - Membunuh Dalam Satu Jam


Kang Jian menelan ludah berat, keringat mengalir dari pelipis hingga ke dagunya. Matanya fokus menatap ke arah depan yang juga memberikan perhatian sama tajamnya. Mereka berdua imbang, Kang Jian memang tidak mendapatkan luka sebanyak musuhnya tapi orang itu sangat sulit dijangkau. Setiap kali dia menyerang musuhnya langsung mundur mengambil jarak teraman.


Namun satu hal yang Kang Jian tidak ketahui, musuhnya itu menyimpan hal menakutkan. Dia tidak menunjukkan kekuatan aslinya. Kini keduanya saling beradu jurus, melepaskan serangan bertubi-tubi sehingga membuat tanah tempat berpijak retak berkeping-keping.


Musuh melompat dari atas, menarik pedang dari samping atas ke arah leher Kang Jian yang sedikit menunduk. Matanya terbuka lebar. Sekilas getaran kuat menghampiri tubuhnya yang seketika membuat Kang Jian tersentak, kakinya seakan-akan ditarik oleh tanah tanpa membiarkannya kabur ke mana pun. Sementara itu serangan dari samping atas semakin mendekat, Kang Jian terpaksa bertahan dengan pedangnya.


Tak diduga pedang Kang Jian hancur berkeping-keping dalam sekali hantaman itu. Dia beralih menggunakan lengannya, darah mulai menetes di tempatnya berpijak. Kang Jian mengeraskan rahangnya, kakinya membatu enggan bergerak dari sana. Ingin melepaskan diri pun rasanya sangat sulit, Kang Jian yang dalam posisi bertahan semakin terpojokkan.


Pedang lawan mendorong tangannya kian kuat. Lelaki itu mencoba memahami apa yang sedang terjadi, aroma obat tercium dari arah lain. Ketika dia melihat sebuah botol penambah kekuatan tergeletak begitu saja di atas tanah.


Semuanya mulai terasa masuk akal. Kang Jian sempat-sempatnya menoleh ke arah lain. Beruntungnya musuh yang lain tidak melakukan hal yang sama. Tapi tetap saja, posisi mereka tidak lebih unggul dari musuh.


Empat musuh masih bertarung, sisanya mulai beranjak pergi ke arah di mana para warga diselamatkan. Hal itu menimbulkan kepanikan di wajah Kang Jian. Lelaki itu memegang bilah pedang lawan dengan tangan kosong hingga tangannya berdarah. Tidak peduli dengan rasa sakit itu, Kang Jian membalaskan serangan lawan tiga kali lebih besar.


Petir Merah bersinar amat terang, setruman mematikan mengarah ke wajah musuh dalam sekali tarikan napas. Menghancurkan topengnya hingga retak menjadi serpihan, menembus kulit wajah dan menghancurkan tulang hidungnya.


Kang Jian terus menekan kepala musuhnya hingga dia terbanting di atas tanah. Lawannya sempat memuntahkan darah, matanya melotot kuat.


"Meski menggunakan pil penambah kekuatan tetap saja aku kalah darimu ..."


Kang Jian sempat menatap musuhnya yang hampir remuk dengan hidung serta mulut mengeluarkan darah, seperti mengingat orang itu. Orang yang merupakan mantan pendekar menengah dari Kekaisarannya yang berubah jadi buronan setelah meninggalkan wilayahnya tanpa sebab jelas. Tentu saja itu membuatnya terkejut. "Kau ..."


"Benar."


Terdengar tawa lirih dari mulutnya, "Aku begitu mengingat wajahmu setelah perang itu berlalu ..."


"Aku tidak membunuhnya. Saat itu semuanya terjadi begitu cepat dan-"


Dadanya naik turun tak beraturan, matanya menatap hampa ke langit luas.


"Perang hanya akan merenggut banyak hal dari kita. Sama sepertimu ... Aku juga kehilangan kakak yang sangat kusayangi. Kau membiarkannya terbunuh tanpa ampun, aku terus mengingat namamu. Bahkan hingga aku mati pun ..."


Kang Jian mengepalkan tangan erat.


Orang itu mengembuskan napas terakhir, "Aku akan tetap membencimu."


Kang Jian berbalik badan, menepis emosinya yang hanya akan membuatnya terjebak dalam situasi yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Melihat Xue Zhan dan Jiazhen Yan masih bertarung dengan musuh. Dibandingkan muridnya ada yang lebih sekarat dari mereka.


Wen Tian dan Wen Qing, diserang dua orang sekaligus. Kang Jian tidak bisa mengabaikan mereka. Dia juga tahu tiga musuh lagi sedang mengejar ke kaki gunung-yang mungkin juga adalah tempat Batu Elemen Penguasa Bumi disembunyikan. Waktu yang semakin singkat itu membuatnya khawatir mereka tidak akan sempat menyelamatkan yang tersisa.


Kini bukan hanya Batu Elemen Penguasa Bumi, nyawa orang-orang dan muridnya juga menjadi taruhan. Kang Jian segera bertarung melawan dua musuh sekaligus.


Di tempat lain Jiazhen Yan mendecak berulang kali, matanya melebar bengis dengan kedua tangan di sisi tubuh. Berkobar api di tangan dan seluruh tubuhnya, dia benar-benar kesal.


Lawannya memiliki tinggi tubuh yang hampir sama seperti Jiazhen Yan, akan tetapi pemuda itu lebih curiga bahwa sebenarnya orang itu lebih muda dari yang terlihat.


Setiap kali Jiazhen Yan melepaskan serangan akan selalu disambut oleh terjangan air yang tiba-tiba mencuat dari tanah kosong. Kekuatan hebat itu adalah anugerah, jumlah kekuatannya sendiri juga tidak masuk akal untuk anak seusianya.


Jiazhen Yan menarik senyum miring, "Ternyata begini rasanya bertemu musuh yang seimbang. Cukup seru juga."


Kedua sisi berlari cepat, lima detik hantaman besar terjadi saat keduanya bertumbukan.


Guncangan itu tiba di tempat Xue Zhan yang kini mulai mengerti gerakan lawannya. Kang Jian selalu mengatakan bahwa setiap musuh punya gerakan khas yang menjadi identitasnya. Dan dia membaca Qiao Qiao memilikinya. Dia akan bergerak sangat cepat setelah berpikir paling lama tiga detik dan paling sering dari atas atau samping. Sebelum kakinya benar-benar menyentuh tanah, Qiao Qiao pasti akan melepaskan serangan susulan yang harus Xue Zhan waspadai.


Kini setiap Qiao Qiao melepaskan serangan semuanya dapat dihindarinya dengan mudah. Membuat suara Qiao Qiao terdengar kelam setiap kali dia berucap, "Sepertinya kau semakin mahir, huh? Atau sengaja menyembunyikan kekuatan aslimu?"


"Daripada mengkhawatirkanku lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri."


Qiao Qiao menurunkan pedangnya, menanggapi ucapan Xue Zhan dengan serius. Dia memperhatikan sekeliling tapi tak menemukan satu pun ancaman seperti yang Xue Zhan siratkan dalam Kata-katanya barusan.


"Bocah omong besar," gusarnya masih dengan kekhawatiran.


"Aku tidak bilang aku akan menyerang. Tapi sebaiknya perhatikan dirimu sendiri."


"Peduli setan! Kalau mau meracau di depan kakek buyutmu sana!"


seru Qiao Qiao menerjang lurus dari arah depan, sangat jarang dia melakukannya. Xue Zhan menangkis pedang itu ke atas.


Terdengar suara terkejut dari bibirnya.


Bilah besi milik kedua pedangnya terlempar jauh menancap di atas tanah. Padahal Xue Zhan hanya menangkisnya dengan cara biasa.


"A-apa yang-"


Qiao Qiao sempat ingin mundur, di tangannya dia hanya menggenggam gagang pedang.


"Sudah kukatakan agar kau mengkhawatirkan dirimu sendiri ..."


Xue Zhan menanggapi kembali, "Sebelum kalian datang aku sudah lebih dulu melihat markas kalian dan memberikan sedikit hadiah. Sebuah cairan ku teteskan dalam sarung pedang dan gagang senjata. Sehingga ketika kalian mulai bertarung cairan itu akan mengalir mengenai kulit kalian walau sedikit. Itu sangat berbahaya, walau hanya setetes. Bisa membuat barang-barang rusak dan meleleh."


Kalimat terakhirnya membuat Qiao Qiao pucat pasi di balik topengnya.


"Dan membunuh manusia dalam satu jam."