
Yin Jiao dikabarkan sedang dalam kondisi kritis dan tak sadarkan diri selama dua minggu lamanya, Ziran Zhao memanggil semua ahli obat dari Kekaisaran mana pun untuk menyembuhkannya. Salah seorang tabib dari Kekaisaran Guang datang jauh-jauh atas permintaan Ziran Zhao untuk menyelamatkan nyawa gadis itu.
Beruntungnya dalam pengobatan selama dua minggu lamanya Yin Jiao berhasil diselamatkan meskipun dia tak kunjung sadarkan diri. Karena tubuh dan obat tersebut membutuhkan waktu hingga beberapa bulan agar bisa pulih total.
Tabib dari Kekaisaran Guang, Chang Bei memindahkan wadah keramik berisi darah Yin Jiao yang bercampur dengan serbuk racun berwarna merah. Dia berniat meneliti terlebih dahulu kandungan di dalam racun tersebut yang membuatnya sulit dikendalikan dan tak butuh waktu lama langsung menggerogoti tubuh mangsanya.
"Ini adalah Racun Kembang Seribu, tak salah lagi," ungkapnya, setelah mencium amis darah bercampur darah itu terasa bau bunga paling beracun yang hanya tumbuh di sebuah gunung bekas pertempuran di Kekaisaran Guang. Tak banyak mampu menangani jenis racun ini karena begitu prosesnya begitu rumit dan memakan waktu, salah satu hal saja nyawa Yin Jiao tidak akan terselamatkan.
Gadis itu beruntung masih hidup meski kemungkinan selamanya hanya lima puluh banding lima puluh. Ziran Zhao menghela napas panjang, perjuangannya menyelematkan gadis itu tak sia-sia. Kedua orang tua Yin Jiao mencarikan orang yang tepat untuk menangani permasalahan tersebut ini.
Sisanya dia perlu membereskan beberapa masalah yang timbul usai kematian iblis pembawa Dosa itu. Di satu sisi banyak orang mengaku lebih tenang setelah iblis itu dimusnahkan.
Namun tidak disangka dalam rapat yang digelar bersama keempat Kaisar dari berbagai negara, ada dua suara yang menyayangkan tindakan yang dilakukan Ziran Zhao.
Kaisar Li dari Kekaisaran Feng dan Kaisar Mo dari Kekaisaran Bing mengaku tindakan itu membuat mereka kecewa. Sampai detik di mana Xue Zhan dibunuh oleh tiga ratus orang lebih, tidak ada yang bisa membuktikan pemuda itu bersalah atau tidak. Kabar terakhir yang terdengar dari Lembah Abadi, di dinding ruangan Aula Leluhur Abadi terdapat sebuah jarum merah setipis jaring laba-laba menancap tepat di titik di mana Tetua ke-45 duduk. Jarum itu langsung membunuh seorang murid yang menyentuhnya.
Kematian Kang Jian sendiri belum bisa dipastikan karena tidak ada saksi mata yang melihat langsung bagaimana laki-laki itu terjun ke sungai, juga tidak ada sumber pasti dari mana rumor tentang kematian lelaki terhormat itu berasal. Kang Jian adalah pendekar lurus, melakukan tindakan ceroboh tanpa alasan bukanlah jati dirinya. Andai pun memang Kang Jian tak sanggup menahan rasa malunya, dia pasti akan datang ke halaman istana dan memenggal kepalanya sendiri di hadapan Kaisar Ziran.
Kepingan misteri masih belum terpecahkan walau satu bulan sudah berlalu.
"Sangat disayangkan, sangat disayangkan."
Entah sudah berapa kalinya Ziran Zhao mendengar kalimat tersebut, seorang pendekar yang mengawal kedatangan tabib Chong Bei, Tao Guixang menggelengkan kepalanya. Ziran Zhao yang sejak tadi berusaha menenangkan pikiran dengan secangkir minuman hangat terganggu. Napas dia tarik dalam-dalam. Tamu dari Kekaisaran Guang itu sedang beristirahat usai berhasil menyembuhkan racun Yin Jiao.
Tentu kewajiban Ziran Zhao adalah melayani dua tamunya itu.
"Menurut Yang Mulia apakah iblis itu benar-benar pantas mendapatkan perlakuan ini?"
"Apa yang Anda maksud, Tabib Chong?" Ziran Zhao masih menampakkan wajah ramahnya. Dia tersenyum, "Pendekar Muda Zhan telah melakukan kesalahan fatal yang melibatkan dua pendekar hebat dari Lembah Abadi dan mencelakai Nona Yin. Ini adalah perbuatan jahat yang tidak bisa dimaafkan."
Pendekar pengawal Chong Bei mengeluarkan suara, "Maaf menyela. Namun akhir-akhir terdengar berita bahwa pelaku sebenarnya bukanlah Pendekar Muda Zhan, dan juga dia sendiri yang mengatakan dirinya difitnah. Tapi pendekar dari Kekaisaran Diqiu tak mau mendengar suaranya. Apakah itu benar?"
Tabib Chong Bei memperingati Tao Guixang. "Jaga bicaramu, kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa? Yang sudah terjadi, terjadilah. Semua keputusan memiliki baik buruknya."
Tao Guixang belum puas sebelum mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Jika seandainya yang melakukan perbuatan ini adalah Nona Yin, apakah Yang Mulia juga akan melakukan hal yang sama? Justru mungkin Anda dan semua orang akan mencari pembenaran agar Nona Yin bisa selamat. Tapi iblis malang itu, dia tidak melakukan apa-apa dan semua orang menyudutkannya. Aish. Memang sangat kasihan."
"Sebaiknya Anda berjalan-jalan dulu, Pendekar Tao. Ada banyak pemandangan indah di kota kami." Sikap sopan yang dia tunjukkan berbanding terbalik dengan tatapan mata tajamnya. Ziran Zhao mengibaskan lengan jubahnya, tiba-tiba kepanasan. Chong Bei tersenyum canggung,
"Maafkan kelancangan pengawalku, dia harus belajar sopan santun terlebih dahulu sebelum bertemu orang besar seperti Anda, Yang Mulia. Tapi sepertinya saya harus pamit dulu."
Dia menunduk hormat pada Ziran Zhao dan pamit setelahnya. Kini hanya tersisa Ziran Zhao beserta pengawal dan pelayannya. Menimbang situasi di luar yang masih panas setelah satu bulan berlalu.
Akhir-akhir ini cuaca pusat Kekaisaran Diqiu sedikit aneh, hujan deras tanpa henti lalu esoknya dilanda kemarau berhari-hari. Udara bisa sangat dingin dan satu jam kemudian begitu kering. Ziran Zhao berjalan pelan ke jendela dan memperhatikan langit mendung di atas sana.
Badai datang membuat jubah emas bercorak putihnya berterbangan, mata yang telah menua itu mencoba mencari sesuatu di dalam gumpalan awan yang mirip dengan langit saat peristiwa itu terjadi. Teka-teki yang ditinggalkan iblis itu tak memiliki ujung, seperti sebuah benang yang kusut. Dia bisa saja merenggangkan benang itu, tapi pada akhirnya masih kesulitan menemukan ujungnya.
Raut wajah gelisah terus terpampang di muka Ziran Zhao yang berwibawa. Seseorang mengetuk pintu ruangan dan masuk setelah diizinkan, dia setengah berlutut saat menyampaikan berita.
"Yang Mulia, Anda harus tahu ini-"
Napas prajurit itu tersengal-sengal, ketika membalikkan badan Ziran Zhao baru sadar lelaki itu berlumuran darah dan lengannya robek oleh sayatan. Wajahnya pun hancur setengah seperti melepuh dimakan api.
"Katakan," balas Ziran Zhao cepat. Prajurit itu mengangkat wajahnya yang amat ketakutan.
"Seorang pembunuh datang dan menghancurkan kediaman Tuan Muda Kedua, Yin Xumei."
"Apa-?!" Ziran Zhao kaget setengah mati. Yin Xumei adalah bagian dari keluarga dekatnya, seharusnya penjagaan di tempat itu sangat ketat dan kuat. Apalagi di tengah situasi tak menentu ini semua orang serba waspada.
"Siapa pelakunya? Dan bagaimana keadaan di sana?"
"Tuan Muda Kedua mengalami luka serius dan saat ini dirawat di kediaman mertuanya. Sedangkan pelaku penyerangan itu belum diketahui, dia membunuh semua pelayan dan pengawal serta anak Yin Xumei. Ada sebelas orang tewas dalam pembantaian itu."
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Ziran Zhao langsung bergegas untuk mendatangi kediaman Yin Xumei. Di sepanjang perjalanan prajurit itu menjelaskan bahwa pendekar misterius itu menggunakan jenis kekuatan api. Cukup untuk menjelaskan siapa yang telah menghancurkan keluarga itu.
"Jangan-jangan itu kau, Tuan Muda Jiazhen," bisiknya kecil, Jiazhen Yan dikabarkan menghilang dari perguruannya. Jiazhen Wu telah melakukan pencarian untuk menemukan putranya itu namun hasilnya nihil. Dia menghilang tanpa jejak. Selama satu bulan ini Jiazhen Wu telah berulang kali secara pribadi mendatangi Ziran Zhao. Untuk membantunya menemukan putranya itu.
Bahkan seratus prajurit pun tak akan bisa menemukan ke mana pemuda itu pergi. Semua orang tahu, Xue Zhan dan Jiazhen Yan sangat dekat seperti kakak-beradik. Kehilangan Xue Zhan membuatnya terpukul dan mungkin itu alasannya menghilang selama ini. Namun berita ini membuat Ziran Zhao mulai cemas.
Jika Jiazhen Yan berbalik menjadi musuh Kekaisaran Diqiu untuk membalaskan dendam, dia takut pemuda itu akan bergabung dengan kelompok seperti Menara Giok Hantu atau Taring Merah untuk menghancurkan mereka semua, orang-orang yang telah membuatnya kehilangan temannya.
*