Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 29 - Untuk Nyawa yang Terenggut


"Berhenti di sana kalian pecundang!"


Teriakan Xue Zhan didengar oleh seorang di antara mereka. Lelaki bertopeng aneh memberhentikan langkahnya mendadak hingga kepulan debu muncul di kedua tapak kakinya. Jubah besarnya berterbangan mengikuti arus angin kencang. Sementara itu sosok lain yang menggunakan Jubah Hitam tetap berlari. Sebuah keranjang dengan segel milik mereka disangkutnya di punggung dan berlari tanpa menoleh ke belakang lagi.


"Jadi kau Sang Perantara itu?"


Xue Zhan tidak punya pilihan, mengejar musuhnya yang lari rasanya tidak mungkin. Temannya menghalangi Xue Zhan dari mengejar yang satunya lagi.


"Kau memiliki mata yang sangat tajam, anak muda."


Pujian itu sama sekali tidak digubris oleh Xue Zhan, dia segera menarik pedang tanpa ragu-ragu.


"Maaf, tapi aku tidak punya waktu lagi untuk meladenimu. Aku harus menghentikan temanmu itu."


"Coba saja kalau bisa," tantang musuhnya yang membuat Xue Zhan tak lagi ragu untuk maju. Pertarungan satu lawan satu terjadi, Xue Zhan menghentakkan serangan lurus.


Ketika berpikir musuh telah membuang senjatanya, Xue Zhan salah besar.


Tangan Hong Yen-Sang Perantara itu sendiri adalah senjatanya. Di lengan kanan dan kirinya terdapat sebuah besi memanjang yang sangat tajam. Bisa untuk bertahan atau menyerang. Akan berbahaya jika Xue Zhan terkena sekali saja, jeruji dengan sepuluh mata tajam itu mampu merobek dagingnya tanpa ampun.


Tangan kiri Hong Yen menerjang, tinju lewat di depan mata Xue Zhan. Di jarak itu dia mampu melihat ujung senjata tajam di tangan Hong Yen, tak sampai di sana Hong Yen masih tidak mundur dan langsung menyepaknya dari arah tidak terduga.


Hal itu memaksa Xue Zhan mundur, tubuhnya terdorong cukup jauh. Terdengar tawa mengejek setelahnya, Hong Yen bukanlah orang sembarangan. Dia sudah pasti merupakan satu dari sekian banyak petarung dari desa yang dipimpin Mu Rong dan berkhianat untuk mendapatkan sesuatu. Pantas saja sebelumnya Xue Zhan melihat banyaknya noda darah di tapak sepatunya. Dia bisa membunuh lebih banyak.


"Bagaimana dengan kekuatanku? Kau pasti terkejut kan? Tidak ada yang akan membantumu di sini. Percayalah, kau akan mati sebentar lagi di tanganku."


Xue Zhan tidak akan goyah hanya dengan ancaman tersebut.


Dia menatap pedang yang dia angkat lurus, sejajar dengan tubuh Hong Yen yang berdiri di hadapannya.


Pedang itu membawa arti yang amat besar, bagi semua korban yang telah jatuh di tanah tersebut. Nyawa yang telah direnggut dan korban yang mati sia-sia membutuhkan pembalasan yang setimpal. Untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Xue Zhan mengeratkan pegangannya sambil menggeram.


Hong Yen yang tadi sangat percaya diri mulai kebingungan. Melihat sesuatu sedang bangkit dari dalam diri musuhnya. Dia menarik senyum dingin di balik topeng.


"Bagus, dengan begini aku bisa membawa dua target, walaupun kehilangan banyak sampah ..."


Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangan terangkat memperlihatkan lengan bergerigi yang siap menangkis dan menikam lawan kapan saja. Bisa dikatakan, Hong Yen sudah sangat ahli dalam menggunakan senjata yang seolah-olah telah menyatu dengan tubuhnya.


Sejak kecil lagi dia telah dilatih oleh Mu Rong dan organisasi pembunuh rahasia di desa tersebut dalam menggunakan senjata tersebut. Membuatnya tak segan membunuh manusia bahkan ketika baru menginjak umur 10 tahun.


Xue Zhan datang, serangannya sangat mudah ditebak. Hong Yen bahkan tanpa ragu menangkap pedang itu dan membalikkan serangan fatal yang mengenai perut Xue Zhan.


Dia tidak langsung mundur meski kedua bahunya ditancap oleh senjata bergerigi Hong Yen. Lelaki itu sempat tercekik melihat tatap mata iblis yang memang semengerikan kabarnya. Hawa iblis terasa begitu kejam dibandingkan manusia. Sebelah tangan Xue Zhan memegang balik tangan Hong Yen, sementara yang satunya lagi menggenggam pedang.


"Kitab Phoenix Surgawi - Tarian Pedang Angin."


"A-apa?! Kitab Phoenix Surgawi-?!"


Terlambat sudah, sebuah lingkaran angin berputar di sekitar mereka berdua. Begitu tajam dan tanpa celah. Hong Yen melemparkan pandangan ke seluruh penjuru dalam kepanikan yang makin menggerogoti. Xue Zhan menahannya. Kekuatan Xue Zhan mengalir dalam setiap inci bilah pedang.


Hong Yen tidak peduli lagi, dia segera mengeluarkan serangan mematikan sebelum menjadi korban. Xue Zhan lengah, Hong Yen berhasil kabur sebelum pedang tersebut mengenai bahunya.


Hong Yen tertawa-tawa mengejek hingga suaranya menggema keras. "Orang bodoh! Mengayunkan pedang saja tidak tahu! Mati saja sana, beritahu pada leluhurmu kalau kau adalah keturunannya yang paling payah di antara semua manusia payah!!"


Dia kabur begitu saja. Xue Zhan tidak mengejarnya. Andai Hong Yen tahu cara bekerja Tarian Pedang Angin, dia tidak akan banyak bicara detik itu.


Benar saja, cipratan darah memancar seperti air terjun di depan Xue Zhan hingga menodai wajahnya. Menatap hampa pada tubuh Hong Yen yang tergelepar terpisah dengan kepalanya, mata lelaki itu seperti seseorang yang disambar petir. Kaget dan langsung dimatikan seketika. Topengnya telah terlepas dari muka. Menampakkan wajahnya yang sesungguhnya.


Tarian Pedang Angin adalah sebuah jurus kamuflase yang mampu menipu lawan dalam sebuah pertarungan satu lawan satu dan juga memberikan keuntungan lebih dalam pertarungan jarak dekat. Jurus itu biasanya dilakukan secara diam-diam saat musuh lengah. Bukan jurus yang paling berbahaya dalam Kitab Phoenix Surgawi. Tapi tetap saja, mampu membunuh lawan jika penggunanya mampu menguasainya dengan sempurna.


Dalam setahun terakhir Xue Zhan berhasil menguasai teknik Tarian Pedang Angin, tapi dia tidak menyangka seharusnya serangannya tadi meleset cukup jauh dari lawan yang telah kabur. Namun serangan itu bahkan mampu menebas lehernya dengan sangat rapi.


Hong Yen tidak bersuara lagi. Dia mengeluarkan kain dari dalam saku jubahnya. Mengambil kepala lelaki itu. Mencari jejak musuhnya yang satunya lagi.


Ketika Xue Zhan hendak melangkahkan kaki pundaknya ditahan seseorang. Dia menoleh ke belakang, mendapati Gurunya sudah berdiri di sana.


"Tidak perlu lagi, Zhan'er."


"Kenapa?" Xue Zhan kaget.


Sesaat Kang Jian menatap bola mata Xue Zhan, mata itu sama persis seperti saat Xue Zhan mengatakan ingin membunuh orang-orang dari Taring Merah.


Kebencian Xue Zhan terhadap mereka semakin membesar. Kang Jian tidak tahu apakah ini adalah hal baik atau buruk. Dia mengeluarkan suara, "Batu Elemen Penguasa Bumi tidak dicuri."


Sontak Xue Zhan kaget dan lega di waktu bersamaan.


Mu Rong yang ditopang oleh Wen Tian datang.


"Ketika tahu rumahmu akan kemalingan, kau tak akan menaruh hartamu di tempat yang mudah dijangkau apalagi sudah diketahui musuh. Kaisar Li pernah mengatakan demikian."


Senyum di wajah Xue Zhan merekah. "Benar juga!"


"Terima kasih telah menyelamatkan kami. Aku tidak menyangka akan mendapatkan bantuan langsung dari Kaisar Ziran yang terkenal sangat berwibawa. Dan juga bertemu dengan utusannya yang sangat baik hati."


Sesaat Mu Rong menatap Xue Zhan tulus. "Kami sangat berterima kasih pada kalian. Tolong terimalah beberapa hadiah dari kami ..."


Seorang wanita membawakan sebuah benda yang dilapisi dengan kain putih. Hanya sebuah benda antik, tapi jika dijual harganya bisa melambung tinggi.


Xue Zhan mundur, tidak sampai hati menerimanya. Kang Jian juga menolak dengan halus. Mereka juga mendapatkan uang misi dari Kaisar Ziran, belum lagi nanti dari Kaisar Li.


Xue Zhan tersenyum, "Terima kasih, tapi pemberian ini sedikit berlebihan, kami tidak melakukan banyak hal. Tolong simpan saja-"


"Tidak apa-apa kalau mereka tidak mau. Buatku saja. Dibuang sayang." Jiazhen Yan merebut antik itu tanpa berdosa. Kang Jian melotot, Xue Zhan hampir menimpuk pemuda itu dengan kepala mayat Hong Yen.


"Si mata duitan ini, sopan sedikit. Minimal tunjukkan rasa seganmu." Xue Zhan berbisik kesal, langsung dibalas oleh Jiazhen Yan.


"Segan, segan, bicara sama pantat sana."


Tentu saja. Keduanya kembali ribut. Membuat Kang Jian berulang kali menepuk jidatnya. Antara malu dan gemas. Mu Rong dan yang lain tertawa sembari mengantarkan kepulangan mereka bertiga. Ketiganya harus segera melapor pada Kaisar Li dengan membawa informasi dan kepala Hong Yen. Sang Perantara yang telah gugur bersama sepuluh temannya utusan Taring Merah.