
Kobaran api membesar. Musuh menghentakkan kedua tinju ke tanah dan dalam seketika api mencuat ke permukaan disertai getaran yang lumayan kencang, Xue Zhan buru-buru menyelamatkan seorang anak gadis kecil yang terperangkap dalam keramaian dan hampir jatuh terinjak-injak.
Ketika Xue Zhan melihat lebih jelas, enam orang yang dibunuh laki-laki dengan topeng iblis itu adalah kepala prajurit dan beberapa orang penting lainnya. Selain itu di antara semua musuh yang terlihat, hanya dia satu-satunya yang memakai topeng iblis.
Giginya menggeram, ratusan nyawa telah melayang hanya dalam hitungan kurang dari satu jam. Para topeng silang menghujani seluruh penjuru kota. Ini pasti adalah penyerangan yang telah direncanakan dengan matang.
Namun apa yang sebenarnya mereka incar?
Xue Zhan menatap lurus ke depan. Jawabannya hanya ada pada laki-laki yang kini menjadi musuhnya itu. Dia menurunkan gadis kecil dalam gendongannya yang langsung diambil oleh ibunya. Menatap penuh waspada ke arah lawan yang masih mengikuti.
Dalam kobaran api keduanya bertarung cepat, bunyi tangkisan pedang terus terdengar berkali-kali tanpa jeda, abu beterbangan menghadang pandangan serta percikan api menyelimuti seisi jalan yang menjadi arena pertarungan saat itu.
Sang Topeng Iblis menghujam lurus dari atas kepala Xue Zhan, pemuda itu menahannya sekuat tenaga dan sempat hampir termundur ke belakang karena begitu kuatnya tekanan yang diberikan musuh. Sejenak keduanya terkunci di posisi yang sama tanpa ada yang mau mengalah. Kedua pedang saling beradu, pantulan wajah topeng kedua pemuda itu saling terpantul di bilah pedang lawan.
Xue Zhan menarik pedang dari bawah dengan sangat cepat, memutar balik serangan yang mengancam leher musuh. Lawannya berputar di atas udara disusul oleh serangan tebasan belasan kali, Xue Zhan berusaha mengenainya dengan semua teknik yang diajarkan Xiang Yi Bai namun tak ada satu pun yang berhasil mengenai musuh. Dia mendecakkan lidah kesal. Selalu saja serangannya nyaris mengenai lawan tapi tak ada satu pun yang memberikan luka fatal.
Untuk saat ini mereka masih imbang, Xue Zhan mendapatkan luka sayatan di perutnya dan musuh terluka di bagian tangan kiri. Meskipun telah bertarung mati-matian, lawannya sama sekali tidak kelelahan dan kecepatan bertarungnya masih tetap seperti semula.
Ini akan menjadi gawat jika Xue Zhan tidak segera mengalahkan pemuda itu. Serangan dalam skala besarnya bisa membunuh penduduk yang tidak bersalah. Saat Xue Zhan berusaha mencari tahu apa yang terjadi di sekitar, keadaannya tak jauh buruknya dari yang sekarang dia hadapi. Dua ratus lebih pasukan topeng silang membanjiri kota dan menghabisi para penduduk. Dia sempat melihat beberapa Pedang Suci turun dan bertarung.
Xue Zhan kabur ke tempat yang lebih aman selagi para Pedang Suci mengamankan kota. Musuh mengejarnya sesuai dugaan dan ketika mereka tiba di bagian yang lebih sepi, Xue Zhan yang berlari-lari tiba-tiba memutar balik dan mengejar musuh di belakang. Sontak pergerakan tipuan itu menghancurkan fokus lawan dan berakibat buruk. Xue Zhan melepaskan satu serangan yang mengenai topeng lawan.
Dia melakukannya karena ingin mengetahui wajah di balik topeng tersebut, namun mengejutkannya topeng itu sama sekali tidak hancur. Hanya retak di beberapa sisi. Padahal Jurus Tarian Pedang Angin miliknya cukuplah kuat untuk menghancurkan benda itu. Hanya ada satu kemungkinan, entah topeng itu adalah pusaka atau memang dibuat sedemikian kuat agar tak mudah pecah.
Musuh terhenyak beberapa detik. Topengnya memang tidak hancur tapi serangan barusan tembus di balik topeng dan menggores pipinya cukup dalam. Tetesan darah mengalir hingga ke dagu dan menetes satu per satu.
Orang itu menarik senyum seringai di balik topeng, senyum tertantang yang disertai pelototan mata penuh amarah.
Xue Zhan yang baru saja mendarat merendahkan tubuhnya ke belakang, melihat pedang tipis dan tajam lewat di atas dadanya dengan sangat cepat. Tak habis sampai di sana, serangan lain mengincar di kaki yang saat ini menjadi titik terlemahnya. Xue Zhan masih belum menyeimbangkan diri dan kini musuh membaca celah begitu cepat.
Kontan terjangan fatal menghampiri kakinya. Serangan kejutan itu membuat Xue Zhan kehilangan konsentrasi dan tak disangka di detik berikutnya tinju berapi muncul di dalam kegelapan dan mengenai wajahnya. Xue Zhan terhempas menghantam satu bangunan batu yang langsung hancur berserakan hingga ke dalam ruangan. Kepulan debu dan asap menghambur di sekitar dan menutupi pandangan.
Di dalam kabut yang tebal pertarungan masih berlanjut lebih mematikan. Topeng iblis bergerak bagaikan cahaya kilat, menebaskan pedang yang mengenai Xue Zhan mentah-mentah. Sayatan dalam menembus kulit bahu, wajah, kaki, perut dan sekujur tubuhnya. Xue Zhan bersimbah darah hingga di bawah kakinya tercipta genangan darah besar.
Tubuhnya yang bersandar pada dinding tembok batu kehilangan daya, Xue Zhan menunduk, mulutnya meneteskan darah kental dan sesekali terdengar erangan kesakitan dari sana. Keningnya terkena benturan keras yang membuat darah terus mengalir dari kepalanya tanpa henti. Serangan bertubi-tubi masih berlanjut.
Ketika akhirnya kabut mulai menipis, samar-samar terlihat seseorang menghunuskan pedang ke leher lawan yang jatuh di antara timbunan batu.
"Kau sudah kalah. Kematianmu sudah jelas."
Dia menarik pedang ke samping, dalam beberapa saat setelah dia menarik pedangnya sudah dapat dipastikan kepala pemuda itu akan terlepas dari badannya.
Xiang Yi Bai yang melihat kekalahan muridnya bukannya khawatir malah tertawa sambil menggeleng-geleng, tentu tanpa melupakan kacang polong yang dikunyahnya dengan khidmat. Tak disangka dia menemukan satu kendi arak yang telah ditinggal penjual dan segera menenggaknya sampai habis.
"Kau salah," timpal Xiang Yi Bai dari kejauhan, "Pecundang idiot itu ... Semakin kau kalahkan, semakin kuat dia melawan."
Asap tipis keluar dari mulutnya, sang iblis mulai merasakan gejolak di dalam tubuhnya yang kini membuat aliran darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Matanya terbuka dengan nyalang dan segera menyerbu lawan yang berdiri di depannya.
"... Kau tahu mengapa aku terkejut saat melihat enam mayat yang kau bunuh itu?" suaranya pelan dan juga dingin.
Musuh mengangkat wajah tanpa mengeluarkan kata-kata, dia merasakan aura yang berbeda dan segera. melangkahkan kaki ke belakang untuk berjaga-jaga. Xue Zhan tiba-tiba menangkis pedangnya dengan mudah.
"Aku bukan takut pada mayatnya. Namun pada tatapan mata mereka yang seolah-olah memintaku untuk menghabisimu dengan cara yang sama."